
"Kulihat juga sepertinya kelompok Druid Botanikal Nona Ellian berhasil menghijaukan kota ini," ucap Aksa kemudian seraya menutup buku ketiga yang baru saja selesai ia baca itu.
Hampir 45 menit lebih Aksa membaca buku-buku itu tanpa jedah. Sedang yang lain tampak berbincang sendiri, membiarkan Aksa dan tidak mengganggu apa yang sedang ia lakukan.
"Sekarang kelompok Druid Botanikal itu tidak lagi di bawah kepemimpinan Nona Ellian. Sekarang mereka berdiri sendiri dengan nama Botanikal Rhapsodia." Amanda menjelaskan. "Tapi memang benar mereka berhasil melakukan penghijauan di Kota Selatan ini. Syukurlah, sekarang tempat ini sudah tidak terlalu berdebu. Meski masih tetap saja panas dan kering," lanjutnya lagi.
"Ya, kurasa aku punya masukan untuk masalah kelembaban wilayah ini." Aksa terlihat meregangkan tubuh dan melemaskan tengkuknya yang lumayan kaku setelah menunduk cukup lama untuk membaca tiga buku besar tadi.
"Benarkah?" Kali ini Diana yang menyahut, terlihat sangat antusias.
"Ya, nanti akan kubicarakan langsung dengan para Druid itu, juga Nona Ellian," jawab Aksa kemudian. "Dan setelah membaca seluruh catatan itu tadi, bisa dibilang wilayah ini telah berkembang dengan sangat bagus," lanjutnya seraya mengambil potongan roti berwarna kuning yang sudah sedari tadi disajikan dalam piring kecil di atas meja ketika ia masih sibuk membaca.
"Penghasilan dari pajak wilayah ini meningkat delapan puluh perseratus dalam kurun waktu lima tahun itu sesuatu yang cukup luar biasa. Mungkin yang belum benar-benar dikembangkan adalah barang buatan suku-suku di kota ini." Aksa berucap lagi saraya menyuapkan potongan roti ke dalam mulutnya.
"Mungkin pemerintah harus lebih campur tangan dalam pengembangan usaha kecil di wilayah ini. Karena menurut yang kulihat saat berkeliling tadi, setiap suku memiliki keahlian mereka masing-masing dalam membuat barang," jedah Aksa yang kembali menyuapkan potongan roti ke dalam mulutnya.
"Padahal sebenarnya, barang buatan mereka itu masih bisa digabung lagi menjadi bentuk barang yang lebih baik dan bernilai lebih tinggi," tutupnya kemudian setelah meneguk habis sisa minuman dalam gelasnya.
"Anda benar-benar membaca semua buku-buku itu hanya dalam beberapa waktu tadi? Catatan dalam kurun waktu lima tahun itu?" Kandis terlihat tidak percaya Aksa mengerti seluruh isi buku-buku besar tadi hanya dengan membacanya selama kurang dari 45 menit saja.
"Aku itu Utusan Dewa, jadi Anda tidak perlu terkejut. Tapi kalau kagum sih, boleh," ucap Aksa sembari meletakan piring yang sudah kosong di atas meja.
"Tapi sepertinya akan sulit membuat mereka saling bekerja sama, karena gugus-gugus itu membuat mereka hidup secara berkelompok-kelompok. Tidak dapat benar-benar membaur." Amanda berucap. "Apakah Anda memiliki cara untuk menghapus kelompok-kelompok tersebut? Apakah sistem gugus tidak cocok untuk diterapkan di wilayah ini?" tanyanya kemudian.
"Tidak perlu sampai harus menghapus kelompok-kelompok tersebut. Karena itu adalah identitas diri mereka. Pemerintahlah yang mestinya memfasilitasi mereka." Aksa menjawab.
"Bukankan akan jauh lebih baik bila kita menghilangkan kelompok-kelompok itu? Wilayah ini berhasil menghilangkan status bangsawan dan rakyat biasa, tapi sama saja bila kemudian digantikan dengan kelompok-kelompok yang tidak dapat membaur seperti itu." Amanda mengungkapkan pendapatnya.
"Kelompok atau golongan dalam masyarakat memang akan selalu ada. Tidak harus selalu membaur juga, selama Social mobility nya masih bersifat terbuka sih, akan baik-baik saja." Aksa menjawab.
"Sosial mobiliti? Apa itu, Tuan Aksa?"
"Kesempatan yang diberikan setiap orang untuk bisa memasuki atau meninggalkan sebuah strata sosial tertentu."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Jadi tiap orang memiliki setidaknya kesempatan yang sama untuk berpindah keluar-masuk dalam sebuah kelompok atau golongan tertentu. Bukan seperti status Bangsawan di wilayah lain. Yang mungkin lebih tepatnya disebut sebagai sistem Kasta. Status yang mereka dapat sejak mereka lahir."
"Oh, seperti itu." Amanda terlihat mengangguk paham. "Berarti tidak apa-apa memiliki banyak kelompok dan golongan dalam sebuah kerajaan?"
"Kemunculan sebuah kelompok dan golongan tidak dapat dicegah. Mereka adalah hasil dari Hirarki Pengelolaan. Melarang pertumbuhan mereka malah akan menimbulkan sebuah pemberontakan." Aksa menjedah ucapannya. "Jadi yang perlu kita lakukan hanya mengawasi dan membatasi gerakannya bila terlihat mulai membahayakan."
"Hirarki Pengelolaan?" Amanda menemukan lagi hal yang tidak ia pahami.
"Beberapa kelompok tercipta berdasar dari bagaimana pengelolaan kebutuhan dalam sebuah wilayah berjalan. Kelompok seperti prajurit dan petani terbentuk karena kebutuhan pangan dan keamanan pada sebuah wilayah. Atau contoh yang lebih kecil lagi adalah grup Penyemai, Pengurus, dan Pemanen itu terbentuk berdasar dari pembagian kerja dalam sebuah lahan atau sawah. Dan seterusnya.
"Hal-hal seperti itu tidak dapat dihindarkan. Tapi seperti istilah Mobilitas Sosial yang aku sebut sebelumnya, bila tidak menutup kemungkinan untuk seorang petani menjadi prajurit, atau seorang Penyemai menjadi seorang Pengurus atau Pemanen, maka kelompok dan golongan itu masih cukup sehat untuk dipertahankan," jelas Aksa yang terdengar tidak masuk akal bagi sebagian besar orang yang mendengarkannya.
"Berarti penerapan kasta yang tidak baik untuk pemerintahan sebuah kerajaan?" Amanda terlihat semakin kritis.
"Tidak ada yang baik atau buruk dalam penerapannya ke sebuah kerajaan. Karena baik kasta maupun golongan terbentuk dari sebuah kebudayaan secara alami. Bahkan memungkinkan untuk menerapkan keduanya secara sekaligus dalam sebuah wilayah, asal sistem tersebut hanya berlaku sebagai sebuah status belaka. Tidak ada kekuatan di dalamnya.
"Jadi pada akhirnya semua tergantung dari hendak dibawa kemana peradaban tersebut. Bila kita ingin sebuah sistem yang lebih mudah untuk diatur tanpa memperdulikan hal lain, kita bisa menggunakan Kasta, atau dalam hal ini adalah status Narva sebagai seorang Bangsawan yang memiliki kekuatan di atas kaum lainnya." Aksa mengakhiri penjelasannya.
"Saya mengerti." Amanda mengangguk serius.
"Aku juga." Diana menambahi sambil menggeleng mantap.
"Tapi apakah sistem kasta seperti status bangsawan kaum Narva itu bisa dihapuskan?" Amanda masih menambahkan pertanyaan kepada Aksa.
"Kasta bisa dirubah dengan mengatur ulang masyarakat seperti yang dilakukan sebuah kerajaan ketika menjajah kerajaan lain."
"Jadi harus melalui penaklukan wilayah?"
"Itu cara gampangnya," jawab Aksa kemudian dengan santai.
"Kalau boleh saya tahu, berapa sebenarnya usia Anda, Tuan Aksa?" Amanda tidak tahan untuk menanyakannya.
"Sembilan belas tahun." Aksa mynjawab cepat. "Baiklah kalau begitu, sekarang aku ingin melihat ke gerbang selatan."
"Baiklah, akan kami antar." Thomas menawarkan diri.
__ADS_1
"Tapi lebih baik kita makan siang dulu," sahut Amanda memberi tawaran yang lain.
"Ide yang brilian."
-
Dan setelah selesai makan siang bersama Amanda di kediaman Amithy, rombongan Aksa segera menuju ke pangkalan militer yang berada tepat di pintu Gerbang Selatan.
Tampak bangunan yang dulu hanya berupa pos jaga kecil di kiri dan kanan pintu gerbang itu, sekarang menjelma menjadi tempat dimana keputusan militer dibuat.
Terlihat Yllgarian Burung Hantu yang mengenakan pakaian seorang kesatria keluar dari dalam bangunan itu saat mengetahui kedatangan Aksa dan rombongan.
"Oh, Tuan Aksa? Anda kemari?" Evora yang datang menghampiri.
"Oh, Tuan Evora. Iya, saya ingin melihat situasi di balik gerbang. Apakah bisa?" ucap Aksa tanpa basa-basi.
"Kita bisa melihatnya dari atas tembok tebing bila Anda mau," jawab Evora yang juga tanpa basa-basi.
"Baiklah," sahut Aksa cepat.
Aksa menatap jauh ke depan melalui teropongnya. Dan tampak sebuah benteng tebing berdiri di selatan pintu gerbang sejauh 10 kali jarak tembakan anak panah. Terlihat beberapa prajurit tampak sedang berjaga.
"Oh, jadi itu pos jaga mereka?" Aksa menurunkan teropongnya.
Kini mereka berdelapan ditambah Evora sudah berdiri di atas tebing benteng Gerbang Selatan, mengamati wilayah di sisi luar.
"Benar. Mereka membangunnya setahun yang lalu saat mereka mulai berhenti melakukan serangan," ujar Evora menjelaskan.
"Mereka membangunnya dengan bantuan penyihir?" tanya Aksa seraya mengangkat tangannya membentuk topi di atas mata untuk melindunginya dari sinar matahari.
"Benar. Tebing itu dibuat oleh penyihir," jawab Yllgarian itu kemudian.
"Hm... menark." Terlihat Aksa tersenyum kecil. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuannyanya, Tuan Evora. Tapi karena hari sudah siang, maka saya permisi dulu," ucapnnya menambahi.
-
__ADS_1