
"Tampaknya kabar tentang Kota Ulry dan Kota Meso yang berhasil kita kuasai itu sudah sampai ke telinga para pemimpin wilayah yang sedang melakukan penyerangan ke wilayah Margrace," ucap Helen di tengah acara makan di kantin pertambangan siang harinya.
Hanya berjedah beberapa jam setelah ia, Pasukan Elit, dan Wedge tiba di pertambangan tersebut. Setelah memastikan bahwa Pasukan Augra benar-benar telah mundur.
"Dan kini mereka sudah mulai bergerak mundur, kembali ke kota mereka masing-masing," lanjut Helen lagi.
"Berarti setelah persiapan selesai, Anda dan Pasukan Elit akan segera bertolak menuju ke Kota Ulry?" tanya Aksa merespon ucapan Helen.
"Iya benar. Sementara itu, saat ini pasukan Vossler yang berada di Kota Mara sedang mengejar pasukan Feymarch menuju Kota Meso." Helen kembali berucap.
"Itu berarti saatnya bagi kita untuk kembali ke Kota Varun," sahut Nata kemudian. "Saatnya untuk melakukan serangan ke Kota Dios, dan mengakhiri peperangan dengan Vistralle," lanjutnya.
"Benar. Sudah saatnya bagiku untuk kembali menikmati kehidupan damai dan menyelesaikan proyek pemandian air panas di lereng Sekai," ucap Aksa menimpali.
"Lalu apa rencana kalian setelah ini?" Tidak memperdulikan ucapan Aksa, Nata melempar pertanyaan ke Yvvone.
"Kami akan menuju wilayah pusat Rhapsodia, sambil menunggu kabar Kanna dari wilayah Azuar." Yvvone menjawab. "Sekaligus untuk bertemu Primaval, juga melihat hal-hal baru yang telah kalian buat," tambahnya lagi.
"Baguslah kalau begitu. Kau bisa menitipkan Smartphone itu kepada Tuan Couran. Aku akan memperbaikinya begitu tiba di sana," sahut Aksa yang dengan segera dibalas Yvvone dengan senyuman lebar.
.
Sore harinya, Aksa dan Nata kembali memastikan bahwa segala urusan mereka di pertambangan tersebut telah selesai, sebelum mereka pergi meninggalkan tempat itu. Mereka juga memberikan arahan secara merinci kepada Go dan trio pemburu, serta memastikan bahwa jalur pengiriman bahan material menuju ke pusat Rhapsodia berjalan dengan baik dan lancar.
-
Kemudian di pagi berikutnya, rombongan Aksa dan Nata, bersama rombongan Yvvone, bertolak menuju Kota Varun. Dan alih-alih menggunakan kereta seperti sebelumnya, kali ini mereka menggunakan Berunda sebagai sarana transportasi. Untuk mempersingakat waktu.
Sementara itu, Helen dan Pasukan Elit juga mulai bergerak menuju ke barat, ke wilayah Saronia. Kali ini dengan membawa Kereta Tempur dan Kereta Penghancur. Mereka berencana untuk menghadang pasukan Dux Eul yang baru saja kembali dari penyerangannya ke wilayah Margrace, di tengah jalan sebelum Kota Ulry.
Sedang Wedge dan pasukannya juga mulai bergerak kembali ke kota Araz. Untuk bersiap akan serangan Pasukan Augra yang mungkin dilakukan dari sisi timur wilayah Ravus dan Lighthill.
Dan itu berarti hanya prajurit penjaga saja yang tinggal di pertambangan tersebut. Prajurit yang sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
-
Setelah 2 jam dalam Kapal Udara, akhirnya rombongan Aksa dan Nata pun tiba di Kota Varun. Dan tampak Lucia sudah menunggu kedatangan mereka di alun-alun kota. Tempat dimana mereka akan diturunkan dari Kapal Udara.
"Nona Yvvone? Bagaimana anda bisa datang bersamaan mereka?" sapa Lucia saat melihat Yvvone turun dari atas Kapal Udara mendahului yang lain.
"Lama tidak bertemu, Yang Mulia Ratu," ucap Yvvone seraya membungkuk kecil memberi hormat kepada Lucia. "Kami bertemu saat mereka sedang berada di Kota Araz. Kemudian tanpa sengaja ikut terseret dalam peperangan dengan Pasukan Augra," tambahnya kemudian.
"Oh, benarkah? Bagaimana bisa?" Terlihat Lucia terkejut dan penasaran mendengar sepenggal cerita dari Yvvone tersebut.
"Maaf menyela, Ratu. Sebelum anda mendengarkan cerita Yvvone lebih lanjut, akan jauh lebih baik bila kita makan dulu," potong Aksa sebegitu ia menginjakan kakinya di atas tanah. "Aku lapar," tambahnya.
"Tabiat bocah ini tidak pernah berubah sama sekali," timpal Jean yang berdiri di sebelah Lucia dengan wajah jengkel.
"Oh, maafkan aku. Kalian semua pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Ayo kita makan siang terlebih dahulu," ucap Lucia seraya berjalan mendahului yang lain menuju ke Kereta Besi di pinggiran alun-alun kota tersebut.
Mereka menggunakan Kereta Besi milik Lucia yang panjang untuk menuju ke kediaman Mateus yang lama. Tempat tinggal Lucia saat berada di Kota Varun.
Tampak Kereta Besi itu sesak dipenuhi oleh tamu dadakan Lucia. Meski Lily, Murrel, Morgana, dan 4 Getzja Azorgia sudah menggunakan Kereta Besi terpisah.
"Sudah. Tiga hari yang lalu, bibi Zanda dan Eureka akhirnya dapat mengunjungi makam paman Mateus." Lucia menjawab dengan senyuman kecil. Terlihat kebahagiaan dalam matanya.
"Oh, syukurlah. Senang mendengarnya," ucap Nata seraya ikut tersenyum. Ia merasa ikut gembira mendengar hal tersebut.
"Namun sepertinya, bibi Zanda tidak ingin tinggal di Kota Varun ini. Beliau tidak ingin mengambil kembali tanah dan kediaman Ignus di kota ini," lanjut Lucia seraya menatap ke arah perumahan yang bergerak cepat di luar jendela.
"Menurut saya itu lebih baik untuk Eureka," ucap Nata menanggapi. "Ya, meski nantinya wilayah ini juga akan dibangun sama dengan wilayah pusat," tambahnya lagi.
"Aku juga setuju. Lagi pula, sekarang Eureka sudah memiliki teman di wilayah pusat," balas Lucia saat Kereta Besi mereka memasuki pekarangan kediaman keluarga Ignus.
.
Lucia mempersilahkan para tamunya untuk beristirahat, setelah mereka selesai dengan acara makan siang bersama, yang sekaligus digunakan oleh Lucia untuk mendengarkan cerita dan juga berkenalan dengan anggota dari rombongan Yvvone yang lain.
__ADS_1
Sementara ia dan beberapa petinggi militer mengadakan pertemuan dengan Aksa dan Nata.
"Jadi Pasukan Augra sudah mengetahui tentang keberadaan Kapal Udara kita?" tanya Lucia dengan nada yang terdengar sedikit risau.
"Benar, Yang Mulia. Sayangnya kita sudah tidak bisa menggunakan tipuan Berunda untuk menakut-nakuti mereka lagi." Nata menjawab.
"Mau bagaimana lagi, mereka memiliki Senjata Mistik buatan Val yang dapat menembakan peluru sihir dari jarak yang sangat jauh. Untung saja penggunanya tidak cukup pintar untuk membidik balon udaranya," sahut Aksa ikut menimpali.
"Benar. Saya tidak memperhitungkan hal tersebut. Mungkin lain kali saya akan meminta saran kepada Val mengenai Senjata Mistik untuk melakukan antisipasi saat hendak membuat sesuatu. Maafkan saya," ucap Nata kemudian.
"Tidak perlu meminta maaf, Nat. Aku tidak melihat hal itu sebagai sebuah kesalahan atau kelemahan." Lucia membalas. "Malah yang menjadi perhatianku saat ini adalah, setelah mengetahui bahwa Berunda hanyalah tipuan, maka Pasukan Augra mungkin akan kembali menyerang wilayah kita lagi dalam waktu dekat," lanjutnya lagi mengungkapkan kekuatiran dalam benaknya.
"Kekuatiran saya juga seperti itu, Yang Mulia." Nata tampak sependapat dengan Lucia.
"Berarti kita harus segera menyelesaikan peperangan di wilayah selatan ini," ucap Lucia lagi dengan pendapatnya.
"Benar, Yang Mulia." Kembali Nata menyetujui pendapat Lucia. "Dan saya rasa sudah saatnya untuk kita melakukan serangan penuh ke wilayah Tyrion setelah kita berhasil menguasai wilayah Dios," tambahnya kemudian memberikan pendapat.
"Aku juga sepemikiran denganmu." Giliran Lucia yang setuju dengan pendapat Nata.
"Menurut kabar dari Tuan Matyas, Kapal Udara kita yang ketiga akan selesai dalam waktu 3 hari lagi." Nata kembali berucap.
"Apa mungkin yang kau maksud dengan serangan penuh tadi adalah serangan dengan Kapal Udara?" Lucia bertanya memastikan.
"Benar, Yang Mulia. Karena akan sangat efisien dan menyingkat waktu, bila kita melakukan serangan udara ke wilayah lawan. Disamping kita sudah tidak perlu lagi menutup-nutupi tentang keberadaan Kapal Udara tersebut, kan?" ucap Nata mencoba memberi penjelasan tentang rencananya tersebut.
"Ya, kurasa kau benar. Tapi kita akan bahas masalah itu lagi, nanti setelah kita berhasil menyingkirkan Vistralle," ucap Lucia kemudian. Yang tampak disetujui oleh semua orang yang ada di tempat itu.
"Saya mengerti, Yang Mulia," balas Nata seraya mengangguk paham.
-
Dan sehari kemudian rombongan Yvvone pun mulai berangkat meninggalkan Kota Varun menuju wilayah pusat Rhapsodia dengan menggunakan Kereta Besi.
__ADS_1
Sementara di saat yang bersamaan, Pasukan Rhapsodia di bawah pimpinan Caspian mulai berarak memasuki wilayah Ceodore menuju ke arah Kota Dios.
.