
"Untuk melawan mereka yang menggunakan cara seperti itu, kita juga harus menggunakan cara yang sama."
Nata tampak sedang berbincang dengan Aksa di dalam kamar mereka.
Sudah lewat sehari semenjak Nata tiba kembali di Hutan Azuar. Saat ini mereka tengah membicarakan tentang rencana lanjutan, sementara menunggu pertemuan dengan para Marga Elf lainnya besok pagi.
"Maksudmu menyerang lawan dari belakang garis pertahanan dengan menggunakan Batu Arcane?" Aksa bertanya memastikan maksud dari ucapan sahabatnya itu.
"Benar. Tapi dengan sekala yang lebih besar," jawab Nata.
"Ya, aku mengerti maksud dari keinginanmu itu. Hanya saja bila kita mau membuat Formasi Sihir dengan kapasitas yang lebih besar dari Batu Arcane, maka kita perlu penyetabil." Aksa membalas.
"Karena pada dasarnya cara kerja Formasi Sihir dalam kristal Marga Aeron itu adalah menggunakan kendali pikiran untuk menentukan tujuannya," lanjutnya menjelaskan.
"Dan itu jelas tidak mungkin digunakan dalam sekala besar. Karena tidak akan ada mahluk hidup yang mampu menahan tekanan balik dari Aliran Jiwa yang dikeluarkan alat tersebut saat menggunakannya."
Aksa menutup dengan menyebutkan resiko yang mungkin akan terjadi.
"Hm... bagaimana kalau kita mengindahkan bagian navigasinya? Kita hanya perlu membuatnya Fix. Atau membuat semacam target untuk tujuannya?" Nata terlihat masih belum menyerah dengan menawarkan gagasan lain.
"Hm.. maksudmu seperti lorong yang sudah pasti posisi kedua ujungnya?" Aksa memastikan.
Yang dijawab Nata dengan anggukan kecil.
"Itu berarti kita tidak bisa melakukan serangan kejutan seperti yang dilakukan orang-orang Bruixeria itu, dong?" tanya Aksa seraya mengeryitkan dahi mempertanyakan keseriusan temannya itu.
"Bagaimana kalau membawa semacam relay penanda? Jadi posisi pintu keluarnya mengikuti posisi alat yang berfungsi sebagai relay itu. Seperti cara kita menemukan posisi Arcdux." Kembali Nata menyampaikan gagasannya.
"Hm... Kalau yang itu mungkin saja bisa." Tampak Aksa mempertimbangkan masukan dari sahabatnya itu.
"Baguslah kalau memang bisa. Karena meski tidak memiliki unsur surprise, setidaknya kita masih diunggulkan dengan kecepatan," ujar Nata kemudian.
Setelah itu pembicaraan mereka mulai membahas tentang pembuatan alat pemindah masal tadi dari sisi teknik. Hingga mereka kelelahan dan tertidur.
.
Pagi harinya Aksa dan Nata bersama yang lain menghadiri pertemuan yang disebut sebelumnya akan membicarakan tentang peralatan sihir buatan Aksa dengan para Elf dari semua Marga.
Pertemuan itu juga rencananya akan Nata gunakan untuk membicarakan tentang senjata mistik bila memang para Elf terkesan dengan peralatan sihir buatan Aksa tersebut.
Dan setelah melakukan perbincangan kecil di dalam balairung sambil menunggu semua Marga tiba, para Elf pun kemudian dibawa menuju ruang terbuka di halaman belakang kediaman Moor.
Di tempat itu terdapat sebuah meja kayu yang cukup panjang dengan berbagai jenis benda aneh tergeletak di atasnya.
Di bagian belakang meja tersebut juga terdapat bermacam benda dengan ukuran yang jauh lebih besar dan bentuk lebih aneh yang nyaris seluruhnya belum pernah dilihat oleh para Elf seumur hidup mereka.
"Itu semua buatanmu selama berada di tempat ini?" Xorzio, pemimpin Marga Aeron bertanya kepada Aksa dengan sedikit kagum.
"Rafa, Luque, Yvvone, dan yang lain juga ikut membantuku membuatnya." Aksa menjawab.
"Tapi semua rancangan dan cara kerjanya bocah itu yang membuatnya," sahut Yvvone menimpali.
"Ya, kau pikir siapa lagi yang bisa merancang peralatan ini selain aku?" balas Aksa dengan lagaknya yang sok angkuh.
"Oke-oke tuan perancang, sekarang saatnya presentasi," sahut Nata seraya menepuk pundak Aksa sambil lalu.
Dan tak lama setelah semua Elf sudah bersiap di hadapan meja penuh alat aneh itu, Aksa pun mulai melangkah maju ke depan.
"Ya, semua peralatan yang ku buat ini, meski bentuknya badass dan mengintimidasi, namun semua itu adalah peralatan untuk membangun. Tapi ingat, tidak menutup kemungkinan akan digunkan sebagai senjata oleh orang yang berniat," ucap pemuda itu kemudian.
"Baiklah, mari kita mulai exhibitions nya."
Dan Aksa memulainya dari benda yang paling dekat dengannya. Sebuah alat yang bentuknya menyerupai Senjata Api.
__ADS_1
"Jangan salah ya, ini bukan Senjata Api. Ini adalah alat untuk memasang paku atau pasak secara otomatis agar tidak perlu repot-repot memalu."
Kemudian tanpa diminta Rafa mengangkat benda seperti Senjata Api itu dan memperagakan cara pemakaiannya seolah asisten Aksa.
"Ah, jadi begitu cara kerjanya," ucap Elf dari Marga Realn setelah mengetahui fungsi dari alat tersebut.
"Kurasa akan berguna untuk mereka yang tidak terlalu ahli dalam sihir logam," tambah Elf itu kemudian.
"Atau untuk mereka yang tidak terlalu ahli dalam pengendalian Aliran Jiwa secara umum," sahut Aksa mencoba mengkoreksi.
"Karena peralatan kali ini, edisi Set Pertukangan ini, target pasarnya memang orang-orang yang asal punya Aliran Jiwa tapi tidak ahli menggunakannya," lanjut pemuda itu menjelaskan.
Terlihat para Elf mengangguk paham. Beberapa juga mulai membahas tentang kemungkinan penggunaannya secara nyata.
"Baiklah, untuk menghemat waktu, mari kita lanjutkan ke alat berikutnya." Aksa meminta perhatian dari penontonnya.
"Ya, sekali lagi kuingatkan tidak ada senjata di Set Pertukangan ini. Jadi jangan sampai salah mengira ini adalah pedang penghancur," lanjutnya menunjuk ke sebuah benda serupa pedang dengan bilah pipih besar bergerigi.
"Alat ini adalah gergaji mesin. Jadi mempermudahkan kita biar ga perlu ribet gesek-gesek saat mau motong pohon," jelasnya kemudian
"Tapi ya, arguably bisa juga dijadiin senjata buat ngelawan Undead," susulnya lagi.
Kali ini Ares, suami Ymone, yang menggantikan Rafa memperagakan cara penggunaan Gergaji Mesin itu.
Terlihat para Elf terkejut saat alat tersebut dinyalakan untuk pertama kalinya. Menggerung tak nyaman didengar.
Kemudian Ares mencoba memotong dahan pohon yang sudah disiapkan sebelumnya sebagai alat peraganya.
Kali ini para Elf memiliki reaksi yang lebih beragam dari sebelumnya. Beberapa menganggap alat ini berguna, beberapa beranggapan perlu adanya pengamanan tambahan bila ingin menggunakannya.
Selepas itu Aksa melanjutkan pengenalannya pada peralatan yang lain.
"Lalu yang ini bukan alat penyangga atau sejenisnya." Aksa memberdirikan benda yang berbentuk seperti tonggak logam setinggi dada, dengan beberapa lingkaran mengulir di bagian tengahnya, dan logam pipih persegi yang menjadi alasnya.
Sedang di bagian atasnya terdapat pegangan untuk tangan.
"Tapi kita tidak bisa memperagakannya di tempat ini. Kita akan mencobanya nanti di tempat lain," lanjut pemuda itu lagi.
"Begitu pula alat ini."
Aksa mengangkat benda lain yang serupa dengan bentuk Stamper sebelumnya, hanya saja memiliki mata bor di bagian bawahnya.
"Ini bor buat gali sumur. Lengkap dengan pompa airnya. Jadi bukan senjata, ya?" Pemuda itu seolah sedang mengingatkan kembali bahwa dia tidak sedang membuat senjata.
Para Elf terlihat mengangguk kecil. Cukup terkesan dengan peralatan yang ditunjukan Aksa sejauh ini.
"Dan itulah tadi Set Pertukangan." Aksa berucap.
"Peralatan-peralatan itu tadi memang ditujukan untuk membuka lahan dan membangun tempat tinggal," lanjutnya menjelaskan tema dari peralatan yang baru saja ia kenalkan itu.
"Kemudian kita akan beralih ke Set Alat Beratnya," lanjutnya seraya berjalan ke belakang meja.
Yang kemudian diikuti oleh para Elf dengan penasaran dan cukup antusias.
"Yang pertama." Aksa berucap. "Yang bentuknya kaya bagian kaki dari Devestator abal-abal ini adalah Forklift," lanjutnya sambil berjalan mendekati benda yang berbentuk seperti Kereta Besi namun berukuran lebih kecil dan memiliki seperti garpu besi di bagian moncongnya.
"Alat ini berfungsi untuk mengangkat dan membawa barang atau material berat. Akan aku tunjukan cara kerjanya."
Aksa bersama Rafa memasuki benda bernama Forklift itu.
Rafa bertugas untuk menyalakannya, sedang Aksa bertugas untuk mengemudikannya.
Dan kemudian seru kekaguman mulai terdengar ketika Forklift tersebut mulai bergerak, dan dengan garpu di bagian moncongnya yang dapat naik-turun itu, mengangkat sebuah tumpukan balok kayu yang sudah disiapkan di ujung area.
__ADS_1
"Tapi sepertinya akan sulit untuk mengendalikan benda itu." Symmré, kepala Marga Rhafie merasa sedikit kuatir.
"Benar, Nona Symmré. Memang butuh pelatihan khusus agar dapat mengendalikan alat tersebut dengan baik." Nata yang berdiri di sebelah perempuan Elf itu menjawab.
"Tapi tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Asal kita sudah mengerti bagaimana cara kerjanya, maka yang diperlukan setelah itu hanya membiasakannya saja," sambung Nata lagi mencoba menghilangkan kekuatiran pemimpin marga Rhafie itu.
Dan terlihat Symmré hanya mengangguk kecil merespon.
Setelah itu Aksa melanjutkan pengenalan peralatannya yang lain.
"Kemudian yang di sebelahnya, yang merupakan barang paling sci-fi di lingkungan fantasy ini adalah Platform Anti-Gravitasi," ucap pemuda itu sambil menunjuk ke sebuah papan kayu berbingkai logam berukuran satu kereta kuda dengan empat kaki penyangga yang berbentuk seperti setengah lingkaran di bagian bawahnya.
Terdapat pula sebuah alat di salah satu sudutnya, yang berbentuk seperti papan dengan penyangga di bagian tengahnya.
Terlihat Rafa menaiki papan kayu tersebut ketika Aksa tengah memperkenalkannya.
Kemudian gadis Seithr itu memasukan Aliran Jiwa ke alat yang berada di salah satu sudutnya tadi, dan secara perlahan papan kayu itu mulai melayang naik ke atas.
"Untuk saat ini masih kita gunakan sebagai pengganti scaffolding saat membangun. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk dibuat menjadi elevator, dan benda melayang lainnya." Aksa kembali memberi penjelasan.
"Seperti barang dari Set yang berikut ini," lanjut pemuda itu seraya menunjuk ke sebuah benda lain di sebelah papan kayu melayang tadi.
"Drone surveillance camera security." Aksa mengangkat sebuah benda yang serupa dengan Drone miliknya.
Hanya saja yang ini jauh lebih kecil dan tidak memiliki baling-baling di bagian sayapnya. Juga berwana putih susu agar tidak disadari saat melayang di angkasa.
"Apa superfilen?" tanya pemimpin Marga Shuuran yang tidak paham akan ucapan Aksa.
"Alat pemantau dari udara." Aksa mencoba untuk menjelaskan.
"Pemantau? Bagaimana cara kita tahu apa yang sedang dipantau benda itu?" Pemimpin Marga Shuuran itu kembali bertanya.
"Pertanyaan cerdas." Aksa menjentikan jarinya dan menunjuk ke arah Elf pemimpin itu dengan bersemangat.
"Maka dari itu, bersiaplah kalian semua dengan penemuan paling revolusioner dari utusan dewa yang satu ini," lanjutnya kemudian dengan ucapan yang sedikit didramatisasi.
"Ta-da! LED Magic!" ucap pemuda itu seraya menunjuk ke sebuah papan kaca berwarna hitam di sebelahnya lagi.
Yang punya tinggi setengah tubuh pria dewasa dan lebar 1 rentang tangan pria dewasa. Tampak bersandar pada sebuah kaki penyangga yang terbuat dari logam.
"Ya-ya kalian pasti sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata," ucap Aksa kemudian setelah tak mendapat reaksi apapun dari para Elf.
"Itu karena mereka tidak tahu apa itu LED dasar bodoh," timpal Nata kemudian.
"Anda sekalian tidak tahu apa itu LED?" Aksa bertanya sambil menggelengkan kepalanya terlihat kecewa.
"Baiklah kalau begitu akan aku tunjukan saja supaya kalian yang belum memiliki pemahaman mengenai teori dibaliknya tetap dapat mengerti apa fungsinya," lanjut pemuda itu kemudian.
"Coba nyalakan, nona Rafa," lanjutnya dengan perintah kepada Rafa yang kini sudah turun dari atas papan melayang tadi.
Terlihat Rafa memasukan Aliran Jiwanya pada sebuah tonjolan kecil di kiri bawah bingkai papan kaca tersebut.
Dan secara perlahan papan aneh dengan banyak sekali potongan kaca berpola itu mulai bersinar.
Semua Elf yang hadir dibuat tercengang saat melihatnya. Karena dari puluhan cahaya tersebut kini menampakan sebuah pemandangan seolah papan kaca itu adalah sebuah kaca jendela.
"Ini sihir apa? Bagaimana dasaran kerjanya?" Galvatr yang terlihat paling tertarik dan paling antusias dibanding Elf lainnya.
"Apa kau bisa menjelaskan cara kerjanya pada kami setelah ini?" Tama, pemimpin marga Vaelum, yang kali ini bertanya.
"Ya, tentu saja. Tapi untuk mengetahui cara kerjanya anda sekalian harus mempelajari tentang jenis-jenis sinyal terlebih dahulu. Seperti AM, Luminan, Krominan, dan masih banyak lagi." Aksa menjawab dengan penjelasan yang tidak dapat dipahami oleh yang lain.
"Sebenarnya apa yang dimaksud dengan sinyal itu?" Xorzio bertanya pada Yvvone yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Entahlah? Karena seringnya aku juga tidak memahami ucapan bocah itu." Yvvone menjawab dengan jujur.
-