
Pagi berikutnya Nata dan Lily bersama Trio Pemburu menuju ke tempat penampungan pengungsi di Timur Laut wilayah Ignus dengan beberapa Kereta Besi yang membawa peralatan dan keperluan untuk perjalanan mereka nantinya.
Lucia tidak ikut mengantar karena hari ini ia harus bertolak ke wilayah perbatasan Joren untuk menyelesaikan sesuatu bersama Caspian.
.
Hanya perlu waktu 2 jam dari Wilayah Pusat untuk mereka sampai di pemukiman para pengungsi. Dibangun tak jauh dari Dermaga tempat berlabuhnya Kapal Besi yang hendak digunakan rombongan Nata untuk berlayar ke Utara.
"Benar kata Lucia. Tempat ini seperti sebuah kota baru," ucap Nata sembari turun dar Kereta Besi nya.
Rombongan Nata menghentikan Kereta Besi nya tepat di depan gerbang kayu sebesar Kereta Tempur yang tengah dalam posisi terbuka.
Di samping kiri dan kanan gerbang tersebut membentang pagar besi memanjang nyaris tak terpihat ujungnya.
Dari tempat itu barang-barang serta peralatan yang dibawa Nata akan dipindahkan dengan troli-troli khusus untuk langsung diangkut ke dermaga seperti pada Kota Pelabuhan di pesisir barat.
"Dari yang saya dengar sudah hampir 200 orang tinggal di tempat ini," sahut Louzje dari Kereta Besi di belakangnya.
"Apa menurutmu mereka akan menetap di tempat ini?" sahut Deuxter dari belakang Loujze.
"Entahlah." Loujze menjawab sambil lalu. "Tapi aku merasa kasihan pada mereka. Meski keberadaan mereka cukup menjadi beban bagi Kerajaan ini," tambahnya kemudian seraya mulai membantu Huebert membongkar bawaan mereka.
"Caramu bicara sekarang sudah seperti anggota Parlemen dan Cendikia saja, Lu," sahut Huebert seraya mengeleng kepala.
"Ya, meski begitu kita masih beruntung. Bisa berada pada posisi membantu, dan bukan yang terbantu." Nata ikut menambahi.
"Ya, kami semua bersyukur karena beruntung memiliki anda dan tuan Aksa di wilayah ini," balas Loujze dengan sedikit tertawa.
-
Tak lama kemudian terlihat sesosok perempuan datang menghampiri rombongan Nata di depan gerbang.
Tampak perempuan itu adalah Versica.
"Anda sekalian sudah tiba?" tanya perempuan itu tanpa menyapa.
"Oh, selamat pagi Nona Versica." Sedangkan Nata menjawab dengan sapaan.
"Sekarang sudah cukup siang bagi kami disini, Tuan Nata," balas Versica seraya melihat alroji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, yang sudah menunjukan pukul 10 pagi.
"Oh, benar. Maaf, kurasa aku belum sepenuhnya terbangun dari tidur singkatku di perjalanan tadi," balas Nata dengan gurauan.
"Itu berarti anda harus segera mempersiapkan jasa angkutan udara untuk seluruh wilayah ini agar anda tidak merasa bosan sampai tertidur di perjalanan lagi, Tuan Nata," balas Versica juga dengan gurauan.
"Wah, sekarang cara berpikir anda sudah seperti seorang Cendikia saja, Nona Versica," sahut Loujze menanggapi jawaban Versica. Dan semua orang pun tertawa.
__ADS_1
.
"Tempat ini sudah tidak bisa disebut sebagai penampungan pengungsi lagi sekarang," ucap Nata seraya berjalan memasuki penampungan tersebut lebih dalam bersama Lily dan Versica.
Sementara Trio Pemburu mengawal pengangkutan barang langsung menuju dermaga.
"Benar. Hanya dalam kurun waktu 2 bulan saja semua ini terjadi." Versica menanggapi ucapan Nata dengan wajah sedikit pasrah.
"Apa dengan adanya penampungan ini membuat pekerjaan anda membangun wilayah perbatasan jadi terganggu?" tanya Nata menduga sikap sedikit tak nyaman dari Versica.
"Yah, saya menganggap semua ini adalah bagian dari kesulitan membuka lahan baru," jawab Versica kembali dengan nada pasrahnya.
"Bila saja semua orang yang berada di penampungan ini adalah orang-orang yang tahu diri dan tahu berterima kasih, mungkin saya akan bersikap lain," lanjut perempuan itu kemudian yang tampak tidak kuat lagi untuk menahan diri.
"Apa maksud anda para bangsawan dari utara itu?" Nata kembali bertanya.
"Benar. Mereka masih seperti... yang anda tahu sendirilah. Sangat... Kolot." Versica terlihat sedikit geregetan.
"Oh, begitukah? Jadi kita disini orang-orang dengan pemikiran terkini?" Nata bertanya dengan sedikit tertawa.
"Jelas," balas Versica cepat. "Tapi sisi baiknya, kami para pekerja di sini jadi tidak terlalu kesepian. Karena meskipun begitu masih ada beberapa orang baik yang paham dan mau berinisiatif untuk membantu." Versica tertawa dengan sedikit canggung. Tak dapat ditebak ia benar-benar senang atau hanya sarkas belaka.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang dulu anda pekerjakan. Yang dari desa Hagar itu. Apa mereka masih bertahan?" Nata merubah tema percakapan.
"Syukurlah kalau memang begitu."
"Dari yang saya dengar Tuan Aksa, Primaval, dan Nona Rafa masih berada di Hutan Azuar?" Kali ini Versica yang memulai tema pembicaraan baru.
"Benar. Mereka sedang melakukan sesuatu disana," jawab Nata.
"Jadi anda hanya bersama Nona Lily saja pergi ke utara?"
"Bersama Trio Pemburu juga."
"Oh, benar. Mereka berasal dari wilayah Estrinx. Jadi cukup menjanjikan membawa mereka sebagai penunjuk arah." Versica mengangguk kecil.
"Dan juga bersama Tuan Axel, Tuan Sigurd, dan Nona Ende," tambah Nata lagi.
"Ya, mereka memang penanggung jawab Kapal Besi yang akan berlayar itu." Versica mengangguk paham. "Baguslah, dengan begitu keselamatan anda benar-benar terjamin sekarang," lanjutnya dengan senyum mengembang.
"Ya, benar saja," balas Nata juga dengan senyum mengembang.
Mereka bertiga melanjutkan berjalan ke beberapa wilayah dalam penampungan tersebut sampai hampir setengah jam lamanya. Dengan Versica yang sesekali menjelaskan sesuatu yang ditemui di sekitar mereka dan bertndak seperti seorang pemandu.
-
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka menjumpai Orland saat melewati sebuah tenda yang cukup besar tak jauh dari dermaga.
"Selamat... siang?" Nata menyapa Orland dan beberapa orang yang ada bersamanya.
"Oh, Tuan Nata, Nona Lily, dan Nona Versica." Orland tampak sedikit terkejut.
Dan kemudian saling mengangguk antara Nata dan beberapa orang yang ada bersama Orland.
"Kenalkan ini Tuan Hericus dari keluarga Ghaltia dan tuan Daniel dari keluarga bangsawan Voryn." Orland dengan segera memperkenalkan Nata dengan orang-orang tersebut.
"Beliau adalah adik dari Yang Mulia Ratu Deisy," tambah Orland memaksudkan pada Hericus.
"Akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan anda, Tuan Nata, Nona Lily," ucap Hericus yang kemudian menjabat tangan Nata dengan tiba-tiba. Terlihat sedikit agresif dan sok akrab.
Tangan pria Narva dengan rambut kuning kemerahan yang di sisir rapi kebelakang itu terasa berminyak, yang membuat Nata merasa sedikit tidak nyaman.
"Senang bisa bertemu dengan anda berdua secara langsung." Kali ini Daniel yang berucap.
Pria Narva dengan wajah tegas, dan rambut lebih panjang dari Hericus itu berprilaku lebih sopan. Dengan membungkuk kecil kepada Lily.
"Kami sangat berterima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan pada kami," lanjut pria bangsawan itu kemudian.
"Saya tidak melakukan apapun, tuan-tuan. Jadi tak perlu sungkan," balas Nata dengan berbasa-basi.
Dan terlihat semua tertawa kecil.
"Anda baru saja berkeliling? Pantas aku hanya melihat Trio Pemburu saja di dermaga sana," ucap Oraland kemudian.
"Benar, Tuan Orland. Nona Versica berbaik hati mengantar saya berkeliling tempat ini," balas Nata.
"Ya, penampungan ini terus saja berkembang." Orland menanggapi.
"Benar, tempat ini sudah seperti kota saja sekarang," sahut Hericus menimpali percakapan.
"Apa anda tidak merasa perlu untuk membangun fasilitas yang lebih layak seperti yang ada di kota-kota lain di wilayah ini?" lanjut pria Narva itu dengan sebuah saran.
Terlihat Versica memutar mata membuang pandangan dengan ekspresi wajah seperti mau muntah.
Nata mulai paham maksud Versica tentang orang-orang tak tahu diri dan tak tahu terima kasih tadi.
"Ya, saya rasa anda benar tuan Hericus," balas Nata berbasa-basi. "Saya akan coba meminta kepada Yang Mulia Ratu langsung untuk mempertimbangkan tentang hal tersebut."
"Ah, tidak perlu terburu-buru juga Tuan Nata. Kami disini tahu wilayah ini juga memiliki masalahnya sendiri," balas Hericus yang menganggap ucapan Nata serius.
-
__ADS_1