
Aksa bersama Orland, Amithy, Matyas, Dirk, Selene, Ellian, Rafa, dan Luque mengadakan pertemuan khusus untuk membahas tentang pembangunan wilayah selatan di ruang pertemuan Kota Tengah.
Sementara Nata mengurus masalah dengan Kerajaan Joren dan Augra bersama Lucia dan pihak militer di kediaman Lucia.
"Prioritas kita sekarang adalah menghetikan wabah di wilayah Cirrus dengan segera," ucap Orland membuka pertemuan. "Hingga saat ini wabah sudah menjangkiti 8 desa dan telah membunuh penduduk di 2 desa tanpa menyisakan seorang pun." Perkataan pria dengan rambut jarang itu dijedah.
"Tapi untungnya, atau ironisnya, pemimpin wilayah mereka yang lama sudah membuat pembatas agar wabah tersebut tidak menyebar lebih luas.
"Namun kemudian pasrah membiarkan 6 desa yang sudah terjangkit dengan begitu saja. Menunggu ajal tanpa penanganan apapun," lanjut Orland dengan wajah yang terlihat tidak nyaman.
"Dari gejala yang aku lihat, para penduduk itu terjangkit Muntaber." Aksa menyahut. "Entah disebabkan oleh Bakteri, Parasit, atau Virus, tapi yang jelas itu karena sanitasi lingkungan dan kebiasaan menjaga kebersihan yang buruk."
"Muntaber?" Orland bertanya.
"Gastroenteritis. Atau Flu Perut," jawab Aksa dengan istilah yang lebih susah dipahami oleh yang lain. "Penyakit ini biasanya berupa penyakit akut yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan. Namun dampak dari muntah dan diare yang terus menerus, dapat menyebabkan dehirasi dan Electrolyte imbalance yang berujung pada kematian."
Semua orang mencoba terlihat paham mendengar perkataan asing tersebut.
"Sedang untuk mencegah hal tersebut, caranya relatif mudah sebenarnya. Yaitu dengan pemberian Antibiotik dan Oral Rehydration Therapy. Meminum air dengan kandungan Sodium dan Potasium, atau garam yang dicampur dengan gula." Aksa melanjutkan penjelasannya.
Semua orang hanya terdiam mendengarkan penjelasan Aksa dengan seksama. Masih terlihat seolah paham akan semua ucapan pemuda itu.
"Pasokan Air bersih, antibiotik, gula dan garam, semua sudah mulai disiapkan seperti permintaan anda sebelumnya." Rafa menyahut tanpa ditanya.
"Ya, semakin cepat akan semakin baik," ucap Aksa menanggapi.
"Jalur kereta dari Kota Varun yang langsung menuju wilayah Cirrus, saat ini juga sudah dapat digunakan. Jadi kita tidak perlu terlalu mengandalkan Kapal Udara untuk melakukan pengiriman hal-hal penting seperti itu." Kali ini Matyas yang berucap.
"Semoga sempat tertolong." Amithy terlihat benar-benar berharap.
"Tapi setelah semua itu, kita masih punya banyak pe-er untuk merombak ulang tata kota di wilayah Cirrus tersebut," lanjut Aksa. "Terutama Kota Jarg dan Baha."
__ADS_1
"Apa itu pe-er?" Amithy kembali mempertanyakan ucapan asing dari Aksa.
"Kita perlu membuat jalur pembuangan air kotor dan merombak kamar mandi umum di seluruh kota di wilayah itu." Aksa melanjutkan penjelasannya tanpa memperdulikan pertanyaan Amithy. "Dan pindahkan semua penduduk yang sekarang tinggal di tepian sungai."
"Baik. Aku mengerti. Kita akan bahas tentang hal tersebut secara rinci ketika penanganan wabah sudah mulai berjalan," jawab Orland seolah menutup tema pembicaraan tersebut.
"Kemudian perhatian kedua kita adalah, tentang kelaparan dan kekeringan yang melanda di beberapa wilayah selatan," lanjut pria baya itu memberikan tema bahasan yang baru.
"Kelaparan di wilayah Eblan itu karena pemerintah di tempat itu saja yang terlalu bodoh. Dan juga serakah," sahut Aksa nyaris tanpa jedah setelah Orland terdiam.
"Apa anda juga sudah memeriksa tentang masalah ini?" Kali ini Dirk yang bertanya.
"Ya, saat aku dan Lily berkeliling wilayah selatan seminggu sebelum penyerangan Kota Hui kemarin," jawab Aksa kemudian. "Setelah selesai memeriksa wilayah Saronia dan Cirrus," tambahnya lagi.
"Oh, begitu rupanya." Dirk mengangguk kecil.
"Seluruh lahan dan ladang di wilayah Eblan itu ditanami dengan pohon Kapas dan pohon Karet." Aksa memulai penjelasan tentang pernyataan yang ia lontarkan sebelumnya.
"Tapi masalah akan timbul setelah semua orang mengisi lahan mereka dengan pohon-pohon tersebut. Karena jelas harga akan turun sebab komoditi menjadi umum.
"Dan ujung-ujungnya, saat komoditi itu tidak lagi menghasilkan cukup uang, banyak petani akan jatuh miskin dan tidak mampu lagi membeli bahan makanan.
"Sedang harga makanan akan jadi lebih mahal, sebab mereka tidak menghasilnya sendiri dan harus membelinya dari wilayah lain.
"Dan diperburuk lagi oleh pemerintah setempat yang tidak turun tangan memberikan bantuan atau subsidi untuk menurunkan harga." Aksa menjedah sebentar untuk menghela nafas.
"Ya, kurang lebih itulah penyebab terjadinya kelaparan di wilayah Eblan menurut pengamatanku," susulnya kemudian menutup penjelasan panjang tersebut.
"Berarti kita harus mulai menyusun rencana untuk melakukan perombakan dan penggunaan ulang lahan-lahan di wilayah tersebut." Ellian menyuarakan usulannya.
"Benar, Nona Ellian. Disamping kita juga harus bersiap untuk menyediakan bahan makanan selama proses itu dilakukan," jawab Aksa.
__ADS_1
Ellian terlihat mengangguk seraya mencatat sesuatu dalam buku kecilnya. "Berarti kita harus menghitung ulang simpanan bahan makanan di lumbung Desa Timur. Karena saat ini kita masih mengirim beberapa untuk perkemahan orang-orang Elbrasta di luar Gerbang Utara."
"Ya, itu benar. Belum lagi gagal panen di wilayah Feymarch itu tampaknya juga perlu bantuan bahan pangan." Amithy menambahi.
"Bicara tentang kekeringan dan gagal panen di timur perbatasan Feymarch itu, aku yakin 90 persen pasti karena sungai yang mereka gunakan untuk mengairi lahan itu," sahut Aksa mengomentari tema pembicaraan yang lain.
"Sungai? Memang ada yang salah dengan sungai yang mengalir di wilayah itu, Tuan Aksa?" tanya Ellian yang tampak tidak mengerti dengan maksud ucapan Aksa. "Tia yang ku utus untuk memeriksa wilayah itu beberapa hari yang lalu tidak menyinggung apapun tentang sungai atau airnya."
"Memang sungai itu terlihat bersih dan jernih. Tapi sungai itu melewati perbukitan batu kapur di bagian utara. Yang secara tidak sadar akan membawa sebagian kecil garam dalam aliran airnya." Aksa kembali memberikan penjelasan.
"Dan ketika air itu digunakan untuk mengairi ladang, maka panas matahari akan menyisakan muatan garam dalam air tersebut. Kemudian didukung dengan kurangnya curah air hujan, membuat garam itu akan tetap tinggal dan akan semakin menumpuk hingga kemudian mengeringkan ladang tersebut," jelas pemuda itu.
"Oh, begitukah? Saya tidak menyadarinya." Ellian terlihat sedikit terkejut dan juga kagum mendengar penjelasan Aksa tersebut.
"Aku sudah memeriksa tanah ladang itu sebelumnya. Dan aku mendapati adanya kandungan kapur di dalamnya," ucap Aksa lagi.
"Ya, Tia juga menyebutkan tentang adanya serbuk kapur di permukaan ladang tersebut. Tapi saya tidak menyangkan itu dikarenakan sungainya." Ellian kembali terlihat menulis sesuatu dalam buku kecilnya.
"Jadi bila kita mau menggunakan sungai itu untuk mengairi ladang, maka kita harus membuat waduk kecil dan memasang semcam saringan sebelum mengalirkannya ke ladang dan sawah." Aksa kembali melanjutkan, yang kali ini sebuah solusi.
"Sedang untuk mengembalikan kesuburan lahan-lahan itu, kita bisa menggunakan cara yang dulu kita gunakan untuk mengolah tanah di sekitar wilayah bukit Waduk. Tapi ya, akan memakan banyak waktu, sih," ucap Aksa kemudian. "Hanya saja setimpal untuk jangka panjangnya."
"Ya, saya juga berpikir bahwa itu adalah cara terbaik untuk mengembalikan sektor pertanian di wilayah Feymarch." Ellian tampak sependapat dengan solusi yang diberikan oleh Aksa.
"Tolong siapkan rencana kerja untuk hal ini, Nona Ellian. Kita akan membahasnya lagi setelah itu," ucap Orland menutup tema pembicaraan.
"Baik, Tuan Orland." Ellian menjawab.
"Kalau begitu, sekarang kita akan membahas tentang perekonomian di wilayah selatan," lanjut Orland membuka topik pembicaraan yang baru.
Dan pertemuan itupun berlangsung hingga jam makan siang. Dan masih disambung setelahnya. Hingga menjelang sore.
__ADS_1
-