Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
04. Mengirim Surat III


__ADS_3

"Saya kagum, Jendral. Anda luar biasa bisa menganalisa situasi dengan begitu tajam padahal baru sebentar saja tiba di tempat ini," ucap Helen memuji pengamatan Farnir.


"Dan memang benar seperti itu. Kalau boleh dibilang, Aliran Jiwa dalam ruangan ini sudah kami 'amankan'. Dan benar juga bahwa titik merah itu adalah tanda dari para penembak jarak jauh kami yang sudah mengepung tempat ini," lanjut kesatria perempuan itu menjelaskan.


"Ternyata hal ini memang sudah lama kalian rencanakan. Melihat bagaimana kalian memilih tempat dan menghadang setiap pergerakan dari prajurit dengan sangat baik." Farnir membalas.


"Kami sudah berada dalam istana ini sejak 2 hari yang lalu," ucap Helen kemudian.


Terlihat beberapa kesatria dan prajurit tampak terkejut. Mereka tidak menyangka istana mereka berhasil disusupi lawan dari 2 hari sebelumnya.


"Aku akui ini memang kekalahan kami. Jadi kalau sudah seperti ini maka aku akan menerima surat tersebut mewakili Yang Mulia Raja Solum ke tiga belas." Farnir menjawab tanpa punya pilihan lain.


"Oh, itu akan memperingan tugas saya. Terima kasih, Jendral," balas Helen yang mulai berjalan ke arah Farnir dengan cukup santai. Meski ujung dari tatapan setiap orang Augra tertuju padanya.


"Berarti setelah ku terima surat ini, kalian akan pergi dari tempat ini, bukan?" tanya sang Jendral setelah menerima surat bersegel lilin dengan lambang kerajaan Rhapsodia dari Helen.


"Benar. Terima kasih atas pengertiannya," balas Helen seraya membungkuk kecil memberi hormat. Sebelum kemudian berjalan kembali ke tempat rekannya berada.


"Dan bagaimana rencana kalian untuk keluar dari tempat ini?" tanya Farnir kemudian setelah Helen sudah tiba di antara anggota timnya.


Helen terlihat sedikit mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Farnir tersebut. Karena ia tahu sang Jendral tidak hanya sekedar bertanya. Ia sedang mengancam bahwa mereka tidak akan bisa keluar dari tempat itu hidup-hidup.


"Mungkin orang-orang Augra memang orang yang penuh perhatian. Sebelum ini Yang Mulia Raja juga mencemaskan keselamatan kami keluar dari tempat ini," ucap Helen menjawab dengan sarkas.


"Ya, kami mengerti benar meskipun sekarang kami bisa keluar dari istana ini, puluhan, bahkan mungkin malah ratusan prajurit akan mengejar dan berusaha menghentikan kami meninggalkan wilayah kerajaan ini," lanjut Helen tertahan.


"Jadi kalian memang tidak berniat keluar dari tempat ini hidup-hidup?" sahut Farnir melontarkan dugaannya.


"Oh, bukan begitu. Anda salah sangka, Jendral. Ratu kami sangat menyayangi nyawa pengikutinya. Jadi tepis anggapan bahwa kami sengaja 'dikorbankan' untuk melakukan tugas ini," jawab Helen mencoba memberi penjelasan.


"Mungkin harus saya ingatkan kembali kepada anda. Bahwa kami memiliki Kapal Udara," lanjutnya kemudian seraya menunjuk ke atas.


Dan seperti baru menyadari sesuatu, Farnir segera memasang kuda-kuda bertahannya, saat tak lama setelahnya sesuatu terjatuh menembus atap ruang baca tersebut tak jauh dari posisi Helen dan timnya berdiri.

__ADS_1


Suara benda hancur terdengar mengejutkan semua orang Augra dalam ruangan itu. Dan kemudian terlihat lubang besar menganga di langit-langitnya.


Orang-orang Augra tidak mengantisipasi hal tersebut. Beberapa terlihat mencoba menghindar dari potongan kayu dan pecahan atap yang jatuh di atas mereka.


"Apa itu?!" Sang raja bertanya dengan gemetar karena terkejut. Beberapa prajurit penjaga segera berdiri di sekeliling sang raja untuk melindunginya.


Farnir menatap ke sebuah bola meriam dari logam yang menancap hampir separuh bagiannya ke dalam tembok dekat pintu masuk.


"Meriam berimbuh sihir," ucapnya dengan sedikit geram. Karena ia tahu meriam itu adalah senjata andalan dari Kapal Udara Rhapsodia.


"Ya, seperti ini. Jadi kami akan keluar dari tempat ini menggunakan Kapal Udara," jawab Helen kemudian.


"Dan kuharap jangan ada dari anda sekalian yang mencoba bertindak bodoh dengan berusaha menjadi seorang pahlawan. Karena jujur, dalam situasi sekarang ini hal tersebut tidaklah diperlukan. Jadi bertindaklah dengan bijak," tambahnya dengan senyum mengembang.


Semua orang Augra terlihat lebih geram mendengar ucapan Helen tersebut. Terlebih mengetahui bahwa lawan mereka memiliki rencana yang cukup aman untuk keluar dari tempat tersebut.


Dan tak lama kemudian, seolah muncul dengan tiba-tiba, beberapa prajurit Yllgarian Burung Hantu meluncur turun dari lubang yang menganga di langit-langit tadi dengan cepat dan mendarat tepat di sekitar Helen dan anggota timnya berdiri.


Jumlah keseluruhan dari mereka ada 5 Yllgarian. Pas dengan Helen dan empat anggota Timnya.


Dan bersamaan dengan itu, lebih banyak titik merah yang terlihat di badan sang raja. Tampak dari berbagai sudut jendela yang mengelilingi ruangan tersebut.


"Saya tahu anda pasti sudah menebak dari mana titik merah itu berasal kan, Tuan Jendral?" ucap Helen kepada Farnir.


"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa anda hanya punya satu tubuh untuk anda jadikan perisai menghadang satu tembakan peluru.


"Jadi ada kemungkinan sisa peluru lainnya berhasil menembus tubuh Yang Mulia Raja bila anda tidak berhati-hati," lanjut kesatria perempuan itu menambahi.


Ucapan Helen tersebut kembali mengelitik emosi para kesatria dan prajurit yang ada di tempat itu.


"Saran saya pada anda sekalian. Alangkah baiknya bila anda sekalian tidak mendorong para Penembak Jarak Jauh kami untuk menarik pelatuk senjata mereka. Demi keuntungan kita bersama. Setuju?" tambah Helen dengan nada bicara ceria.


Farnir dan para bawahannya hanya terdiam dengan wajah kesal dan tidak terima. Mereka tidak bisa menjawab ucapan yang menyinggung dari Helen itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, kami permisi dulu," ucap Helen lagi, yang kemudian mendekap Yllgarian Burung Hantu yang berdiri di sebelahnya.


Dan setelah yang lain bersiap, dengan segera ke lima Yllgarian beserta Pasukan Elit itu melesat naik menuju ke Berunda yang melayang cukup tinggi di atas menara istana tempat ruang Baca Raja tersebut berada.


Meninggalkan kemarahan dan rasa malu dari sang raja dan juga para bawahannya tanpa bisa berbuat apapun.


Bersamaan dengan itu beberapa prajurit Yllgarian Burung Hantu yang lain juga mulai menjemput sisa anggota Pasukan Elit dari posisi mereka masing-masing.


Suara lonceng tanda bahaya menggaung di seluruh penjuru Kotaraja Kerajaan Augra di saat Berunda mulai bergerak menjauh ke arah utara.


Usaha pasukan Augra untuk mengejar Berunda pun tidak menghasilkan apa-apa dan berujung pada kesia-siaan belaka.


.


"Kerja yang bagus semua," ucap Evora memberikan selamat atas keberhasilan Helen dan para anggota Pasukan Elit, sesaat setelah Berunda mulai bergerak meninggalkan wilayah Kotaraja Augra


"Terima kasih, Evora," balas Helen kemudian. "Dan kira-kira kapan kita bisa menghubungi wilayah pusat?" lanjutnya dengan pertanyaan.


"Mungkin sekitar 3 sampai 4 jam lagi," jawab Evora. "Karena kita baru bisa menggunakan Radio Komunikasi untuk menghubungi wilayah pusat setelah sampai di wilayah Kota Nezarad. Saat kita telah memasuki jangkauan gelombang Antena Komunikasi di wilayah Raygod," lanjutnya menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu. Aku serahkan semuanya padamu. Beritahu aku bila kita sudah bisa menghubungi wilayah pusat," jawab Helen kemudian.


"Jangan kuatir. Sekarang beristirahatlah kalian semua." Evora membalas.


"Baik. Ayo semua, kita beristirahat," ucap Helen memberikan perintah pada Pasukan Elit.


Dan kemudian Helen dan Pasukan Elit pun menuju ke geladak tingkat dua untuk beristirahat.


.


Empat jam kemudia, saat Berunda sudah berada di atas wilayah Kota Nezarad, Helen melaporkan keberhasilan tugasnya kepada Lucia dan Nata.


Yang kemudian Lucia memerintahkan Helen dan Pasukan Elit untuk datang ke wilayah pusat dan memberikan mereka libur selama satu pekan penuh. Yang meski awalnya ditolak, namun akhirnya diterima juga oleh mereka.

__ADS_1


-


__ADS_2