Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
01. Membuat Peta


__ADS_3

Terlihat Nata dan Caspian sudah berada dalam balai pertemuan tak jauh dari alun-alun Kota Tengah. Mereka kembali mengadakan pertemuan dengan Versica.


"Oh, saya sudah bertanya-tanya semenjak melihat peta besar yang ada di ruang pertemuan Kediaman Yang Mulia Ratu, kapan peta untuk wilayah selatan akan anda keluarkan. Ternyata tiba juga waktunya untuk saya melihatnya," ucap Versica setelah melihat lembaran besar yang digelar Nata dan Caspian di atas meja besar di tengah ruangan.


"Ya, memang sedikit terlambat karena lebih sulit membuat peta Wilayah Selatan dibanding wilayah dalam Kerajaan ini,'" jawab Nata sambil memutar lembaran peta itu sesuai dengan petunjuk arah yang tergambar di bagian ujungnya.


Peta itu terbuat dari lembaran-lembaran kertas yang direkatkan di atas lembaran kayu tipis persis seperti Peta Rhapsodia yang ada di kediaman Lucia. Hanya saja karena tidak langsung dipasang menjadi satu dan membentuk peta yang lengkap, peta berupa bagian-bagian kecil ini jauh lebih mudah untuk disimpan dan dibawa-bawa dalam bentuk tumpukan lembar kayu. Hal itu juga sangat membantu karena ukuran Peta Wilayah Selatan itu nyaris 4 kali besar peta wilayah Rhapsodia.


"Saya pikir saya sudah cukup terkejut hari ini, saat melihat balon raksasa di dasar Jurang Besar itu saat hendak menuju kemari." Terlihat perempuan Narva itu mengamati lembar peta di hadapannya dengan seksama. "Tapi sepertinya saya salah," tambahnya terdengar kagum.


"Ini hanya sebagiannya saja. Hanya peta untuk wilayah Provinsi Timur yang di kuasai oleh Vistralle." Caspian memberikan informasi lain.


"Peta ini begitu detail dan akurat, bahkan jalan dan bangunan ini secara posisi dan bentuknya sama persis seperti yang saya ingat. Itu karena ini adalah kediaman saya di pinggiran Kota Meso," ucap Versica kemudian sambil menunjuk gambar di atas lembar peta tersebut. "Bagaimana anda membuatnya? Apa menggunakan balon raksasa itu?"


"Bukan. Kami menggunakan, kalau kata Aksa; benda mistik atau sejenisnya dari dunia kami." Nata menjawab dengan tersenyum.


"Oh, tentu saja. Tidak diragukan lagi," balas Versica dengan cepat sambil menggangguk berulang kali, seperti baru saja mendapat jawaban yang seharusnya sudah ia ketahui.


"Jadi sekarang berdasar dari peta ini, apakah anda bisa memberi tahukan saya, mulai dari tempat-tempat dimana para prajurit dan serikat petarung berada, daerah-daerah yang lengang dari penjagaan, dan bangunan-banguna penting seperti gudang bahan makanan, persenjataan, atau tempat penyimpanan harta para bangsawan?" Nata bertanya sambil bejalan memutari meja dan berhenti di sebelah Versica.


"Anda akan melakukan serangan ke tempat-tempat itu secara sembunyi-sembunyi seperti saat mereka menyerang Kota Tengah ini 5 tahun yang lalu?" Versica memastikan tebakannya.


"Benar. Setidaknya sampai kita yakin bisa memenangkan peperangn secara langsung," jawab Nata menjelaskan. "Karena sekarang ini kita berada dalam posisi yang memungkinkan untuk diserang oleh banyak kerajaan secara sekaligus," tambahnya kemudian.


"Benar. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat saya putus asa," balas Versica mengeleng pelan. "Baiklah kalau begitu. Kita akan mulai dari sini," ucapnya kemudian sambil menunjuk gambar dengan tulisan Kota Meso di bagian atasnya.

__ADS_1


Dan setelah itu mereka menghabiskan waktu 2 jam untuk membuat tanda dan memberi keterangan pada peta wilayah selatan tersebut, berdasar atas penjelasan dari Versica.


Dan meski belum lengkap seluruhnya, karena Versica yang masih belum mendapatkan kabar terbaru mengenai hal tersebut dari anggota jaringan informasi miliknya, namun delapan per sepuluh bagian dari peta itu sudah memiliki tanda dan keterangan. Terutama jalur menuju pegunungan Trava.


"Saya rasa ini sudah cukup untuk sekarang," ucap Nata mengamati kembali semua potongan kertas yang berisi keterangan yang sengaja ia dan Caspian tempel di atas lembar peta tersebut sebagai penanda.


"Saya akan coba untuk menghubungi mereka lagi setelah ini. Untuk memastikan wilayah yang belum kita tandai," ucap Versica yang terlihat sedikit kecewa atas hasil kerjanya yang tidak sempurna itu.


"Terima kasih, Nona Versica. Itu akan sangat membantu," ucap Nata kemudian. "Lalu apakah ada perkembangan mengenai para pemberontak?" tanya pemuda itu kemudian saat ia sudah duduk di sebelah Versica.


"Hal ini juga yang ingin saya bicarakan pada anda, Tuan Nata," balas Versica yang ikut duduk menghadap ke arah Nata. "Sebelum ini saya sempat bertemu dengan mantan dari mata-mata kerajaan Urbar dulu," ucapnya kemudian.


"Lalu?" Nata terlihat menegakan tubuhnya, tertarik dengan perubahan sikap Versica yang menjadi lebih serius itu.


"Untuk memperjelas tentang hal ini, pertama-tama saya akan bercerita tentang orang itu terlebih dahulu," Vesica menjedah sebentar untuk menyibak poninya ke samping.


"Penyusup yang waktu itu?" sahut Caspian yang mengingat tentang orang yang sedang diceritakan oleh Versica tersebut.


"Meski sangat mencurigakan, namun perempuan itu memiliki banyak informasi berharga tentang Tyrion, dan bahkan jaringan pemberontak yang menentang kekuasaanTyrion." Versica melanjutkan. Tanpa menghiraukan ucapan Caspian.


"Dan apa anda berniat untuk bekerja sama dengan perempuan itu?" Nata bertanya tenang kepada Versica.


"Benar. Dan juga, Joan ingin bertemu langsung dengan anda," jawab Versica kemudian.


"Apa kau mempercayainya, Ve?" Caspian bertanya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mempercayainya secara penuh, juga menjamin bahwa dia tidak akan berkhianat." Versica menjawab. "Namun sejauh ini, hampir dua bulan ini, ia terbukti jujur dan berguna untuk membantuku dalam mengumpulkan informasi dan melakukan hubungan dengan para pemberontak," lanjutnya menjelaskan.


"Tapi hal itu bisa saja sebuah tipuan." Caspian masih terlihat curiga terhadap perempuan yang diceritakan oleh Versica itu.


"Benar. Tapi alasan ia membantu kita dan ingin bertemu dengan anda, tuan Nata, adalah karena ia perlu menyelamatkan putranya bila kelak terjadi perang di wilayah tempat ia tinggal," jelas Versica kemudian.


"Begitukah?" Nata terlihat mengetuk-ketuk meja dengan ujung jarinya. Tampak sedang memikirkan sesuatu.


Sementara Versica hanya mengangguk samar tanpa berkata apapun.


"Bila memang perempuan itu ingin bertemu saya secara langsung, minta untuk menunggu sampai kita berhasil mengambil alih wilayah Vistralle, Nona Versica," ucap Nata kemudian. "Dan selama itu minta dia untuk terus membantu anda seperti yang sudah ia lakukan. Kita bisa memberikan perlindungan untuk putranya saat ini juga bila memang hal itu diperlukan," lanjutnya kemudian yang membuat Versica mulai memasang senyuman di wajah.


"Baik, Tuan Nata. Akan saya sampaikan kepadanya," jawab perempuan Narva itu cepat.


"Dan pastikan supaya perempuan itu paham bahwa kita tidak akan membawa perang ke tempat tinggalnya bila memang tidak diperlukan. Dan semisal hal itu terjadi, ia akan jadi yang pertama tahu. Dan dapat bersiap untuk menyelamatkan diri," tambah Nata lagi.


"Saya mengerti, Tuan Nata. Saya akan meminta ia bekerja sama agar perang tidak menyentuh tempat tinggalnya." Versica terlihat sedikit lega sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang.


"Jangan kuatir, Nona Versica. Saya juga akan sekuat tenaga mengusahakan agar perang, atau lebih tepatnya penghancuran, tidak terjadi ke semua wilayah bila memungkinkan," balas Nata. "Karena kita memiliki tugas untuk membangun dan mengelola wilayah tersebut setelah kita berhasil mengambil alih. Dan akan jadi pekerjaan yang cukup merepotkan bila kita menghancurkannya dengan peperangan."


"Anda benar, Tuan Nata," ucap Versica yang terlihat memikirkan ucapan Nata tersebut sebelum kemudian menghembuskan nafas panjang. "Baiklah kalau begitu, di kesempatan kali ini ijinkan saya mentraktir Anda minum di bar Nona Luna, setelah ini," ucapnya sambil berdiri dari kursi.


"Tidak perlu, Ve. Tuan Nata bebas memesan apapun dengan gratis di bar itu," sahut Caspian mengagalkan rencana Versica.


"Kalau begitu saya akan mentraktir anda minuman terenak di kota Meso, saat anda berkunjung kesana nanti," ucap Versica kemudian.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona Versica. Saya menantikannya."


-


__ADS_2