Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
23. Menyarankan Bantuan


__ADS_3

Keesokan harinya Nata bersama Lily mengadakan pertemuan pertama mereka hanya dengan Lugwin dan Matiu saja setelah selesai sarapan.


Nata terlihat melipat tangan di depan dada memperhatikan dengan seksama peta di atas meja dengan segala informasi di atasnya.


"Sepertinya ini tidak baik, tuan Matiu," ujar Nata menganalisa.


"Benar, tuan Nata. Semua ini memang tidak baik." Matiu membenarkan.


"Sebentar, tuan Nata. Kita disini tidak untuk membicarakan masalah yang tengah terjadi di kerajaan ini." Tiba-tiba Lugwin memotong.


"Anda baru sehari tiba di tempat ini. Bahkan kami tidak bisa menjamu anda dengan baik karena anda meminta bertemu di desa ini alih-alih di Kotaraja.


"Dan sekarang aku tidak bisa membiarkan anda langsung mencari tahu tentang masalah kerajaan ini," lanjut perempuan itu terlihat cukup jengkel.


"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk merepotkan Yang Mulia," sahut Nata buru-buru. Ia merasa bersalah karena meminta bertemu di desa terpencil yang jauh dari pusat pemerintahan seperti ini.


"Meski pada kenyataannya aku sadar rencana kedatangan anda berkunjung sebenarnya hanya sekedar alasan untuk membantu kami dari kesulitan ini, tapi tetap aku akan merasa bersalah bila secara sadar membiarkannya." Lugwin masih belum selesai dengan kejengkelannya yang tak dapat ia luapkan itu.


"Yang Mulia tidak perlu merasa seperti itu. Seperti bukan kami saja bila datang tanpa sesuatu yang menguntungkan, bukan?" ucap Nata kemudian. Mencoba membuat Lugwin tenang.


"Seperti yang mungkin sudah Yang Mulia Arcdux perkirakan sebelumnya. Saya kemari memang dengan maksud untuk membantu melawan pasukan Elbrasta. Atau lebih tepatnya pasukan Sefier," lanjut pemuda itu.


"Karena bila mereka berhasil menguasai wilayah ini, maka wilayah Rhapsodia lah yang akan menjadi sasaran selanjutnya.


"Sedang saat ini seperti Yang Mulia ketahui Rhapsodia sedang disibukan oleh masalah di perbatasan sisi selatan," tutur Nata.


Terlihat Lugwin mengangguk kecil. Paham akan hal tersebut.


"Dan sebagai pertimbangan Yang Mulia, bahwa dengan niatan yang saling menguntungkan tersebut lah saya melakukan semua ini.


"Jadi Yang Mulia tidak perlu lagi merasa tidak enak hati karenanya." Nata menutup penjelasannya dan berharap Lugwin mau mengerti.


Mendengar penjelasan Nata membuat Lugwin tersenyum kecil. Kemudian dengan tatapan hangatnya pemimpin perempuan itu menjawab,


"Ya, ini adalah diri anda yang saya kenal dulu, tuan Nata. Saya mengerti. Dan mulai sekarang saya akan mencoba untuk tidak merasa sungkan pada anda."


Dan Nata pun tersenyum lebar menatap Lugwin.


.


"Pertama kami dikejutkan dengan serangan mendadak yang terjadi secara serentak dari berbagai sisi perbatasan. Kemudian adanya gelombang pengungsi dari wilayah perbatasan mulai membebani logistik wilayah lainnya," ucap Matiu menjelaskan.


Mereka sudah berbicang selama lebih dari setengah jam.


"Dan sepertinya anda sudah mengetahui tentang hal tersebut. Hingga datang dengan membawa bantuan sebanyak itu," tambah Lugwin memaksudkan ke 'hadiah' yang Nata bawa untuknya.


"Saya hanya memperkirakannya saja." Nata menjawab.


"Ya, itu terdengar seperti anda, tuan Nata." Matiu menyahut.


Dan setelah itu terlihat Nata menegakkan posisi duduknya. Bersikap lebih serius menghadap Lugwin.


"Setelah mendengar semuanya, saya akan bicara langsung ke intinya, Yang Mulia," ucap Nata kemudian.

__ADS_1


"Silahkan."


"Perang ini sebenarnya akan lebih cepat diselesaikan bila mendapat bantuan dari Rhapsodia secara langsung."


Nata menjedah.


"Namun pihak Rhapsodia tidak bisa membantu secara terang-terangan dengan menempatkan pasukan di wilayah strategis kerajaan ini tanpa disebut sebagai penjajahan secara terselubung.


"Saya yakin Yang Mulia Arcdux pasti juga paham tentang hal ini. Karena itu akan berdampak buruk pada politik dalam kerajaan ini, dan juga akan mencoreng nama Rhapsodia. Yang Mulia Ratu Lucia tidak akan menyukai hal tersebut," tutup penjelasan pemuda itu kemudian.


Lugwin menatap Nata sejenak sebelum mulai menanggapi.


"Ya, aku paham. Banyak juga keluarga bangsawan yang vokal terhadap kemungkinan akan tindakan tersebut. Itulah kenapa aku tidak pernah meminta bantuan kekuatan kepada Lucia." Lugwin menjawab.


"Ah! Apa jangan-jangan itu pula alasan kenapa anda tidak ingin bertemu di Kotaraja? Untuk menghindari prasangka dari para bangsawan?" susul perempuan itu dengan pertanyaan yang baru saja terpikir olehnya itu.


"Ya, perkiraan saya para bangsawan akan bertindak seperti itu bila saya bertemu anda di Kotaraja." Nata membenarkan dugaan Lugwin.


"Sudah ku duga."


"Tapi kembali ke masalah kita. Bila hanya dengan kekuatan kerajaan ini saja, meski menggunakan rencana saya, hanya cukup untuk mengulur waktu sampai pasukan Sefier berhasil mengambil alih wilayah ini." Nata mengembalikan tema pembicaraan.


"Dan menurut kabar mereka sedang menyiapkan puluhan kristal Arcane saat ini," lanjut pemuda itu lagi.


"Aku juga sadar akan hal itu." Lugwin melepaskan nafas berat. Ia paham akan situasi yang sedang terjadi. Namun tidak mampu untuk melakukan sesuatu.


"Sebenarnya saya punya cara untuk mengakali situasi sekarang ini dengan cukup mudah," ucap Nata kemudian. Yang seolah membawa cahaya di tengah remang situasi saat ini.


"Benarkah? Dan apa itu?" tanya Lugwin bergegas.


"Coba sebutkan. Mungkin bisa jadi pertimbangan kami," balas Lugwin cepat.


"Mengajukan perjanjian dengan Rhapsodia," ucap Nata kemudian.


"Perjanjian? Seperti aliansi?" Kali ini Matiu yang berucap.


"Tidak juga. Lebih ke perjanjian dagang." Nata memperjelas maksud ucapannya.


"Penjanjian dagang?" Lugwin mengulangi perkataan Nata untuk memastikan.


"Jadi menurut saya kerajaan ini tidak sedang kekurangan prajurit. Malahan Rhapsodia lah yang sekarang kekurangan prajurit. Karena harus menjaga perbatasan sisi selatan." Nata menahan penjelasannya.


"Jadi maksud anda?" Lugwin masih belum paham hubungan antara penjelasan Nata barusan dengan Perjanjian Dagang yang ia maksud.


"Intinya wilayah ini membutuhkan peralatan pendukung perang dan persenjataan dari Rhapsodia. Dan bukan bantuan kekuatan seperti prajurit." Nata mencoba menyederhanakan penjelasannya.


"Peralatan perang dan persenjataan? Apakah Rhapsodia mau memberikannya kepada kami?" Lugwin bertanya ragu. Dahinya mengeryit.


"Maka dari itu Yang Mulia bisa mengajukan Perjanjian Dagang," sahut Nata kemudian. "Menukar peralatan dan persenjataan itu dengan jaminan perizinan dagang atau semacamnya."


"Tapi bukankah itu hampir sama dengan yang ditakutkan para bangsawan sebelumnya? Rhapsodia akan mengambil kesempatan dari peperangan ini." Lugwin menjawab.


"Sebenarnya kita hanya perlu mencari alasan untuk membantu tanpa terlalu dicurigai," ucap Nata menanggapi.

__ADS_1


"Mungkin dengan menambahkan aturan dan batasan dalam perjanjian tersebut?" usul pemuda itu kemudian.


"Dengan begitu Yang Mulia juga memiliki jaminan yang cukup kuat untuk meyakinkan para bangsawan yang masih kuatir."


"Dan kira-kira seperti apa aturan dan batasan itu, tuan Nata?" Lugwin belum dapat membayangkan usulan Nata tersebut.


"Sebentar, saya akan ambilkan terlebih dahulu."


Nata dengan segera mengambil sesuatu dari dalam tas pundaknya.


"Oh, kenapa aku tidak terkejut anda sudah menyiapkannya," ucap Lugwin setengah tertawa melihat Nata mengambil sesuatu yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Dan merasa bahwa semua percakapan mereka tadi sudah direncanakan untuk mengarah ke hal ini.


"Ya, seperti itulah saya, Yang Mulia." Nata tidak menyangkal dugaan Lugwin.


"Apa jangan-jangan usaha anda sampai datang kemari sekarang ini karena Lucia tidak dapat anda bujuk?" tanya Lugwin lagi yang baru saja terpikir tentang hal tersebut. "Maka dari itu anda merubah sasaran padaku?"


"Jangan bicara seperti itu, Yang Mulia. Saya tidak akan pernah menjadikan anda sebagai sasaran saya," sahut Nata menyangkal.


"Tapi yang tentang Yang Mulia Lucia itu memang benar," lanjutnya dengan pengakuan. "Yang Mulia tahu sendiri kan, tabiat keras kepala beliau. Selalu merasa kuatir, tapi tidak mau bertindak dengan tegas."


"Hei, berani-beraninya berkata buruk terhadap Ratu sendiri." Lugwin menegur dengan bercanda.


"Oh, benar. Maaf saya kelepasan," balas Nata seraya menyerahkan sebuah buku kecil kepada Lugwin.


Sedang Lugwin masih tertawa kecil saat mulai membuka buku yang diberikan oleh Nata tersebut.


.


"Kurasa semua aturan dan batasannya cukup menguntungkan kedua belah pihak." Matiu mengangguk kecil setelah selesai membaca perjanjian buatan Nata itu setelah Lugwin.


"Baiklah, aku akan coba membawa perjanjian ini ke pertemuan kerajaan untuk dibahas dengan para bangsawan dan Pejabat." Lugwin berucap.


"Jadi mungkin aku akan kembali kemari sekitar semingguan lagi," lanjutnya kemudian.


"Saya mengerti," balas Nata.


"Tapi jangan kuatir, semua kebutuhan anda dan rombongan telah kami siapkan di desa ini," ucap Lugwin menambahi.


"Dan jangan sungkan untuk meminta sesuatu yang anda perlukan kepada pengurus desa ini," susul pemimpin wanita itu.


"Baik Yang Mulia. Akan saya lakukan." Nata memjawab.


"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu," ucap Lugwin kemudian.


"Yang Mulia akan langsung menuju Kotaraja sekarang?" tanya Nata yang sedikit terkejut.


"Kita tidak boleh mengulur waktu lebih lama lagi, kan?" jawab Lugwin dengan senyuman menatap Nata.


"Yang Mulia benar. Kalau begitu hati-hati di jalan, dan semoga perjanjian itu disetujui."


.

__ADS_1


Dan siang harinya Lugwin beserta rombongan segera bertolak dari desa Dyms menuju Kotaraja Kerajaan Estrinx.


-


__ADS_2