
"Pemandangan yang luar biasa," ucap Corvette si Yllgarian kelelawar saat melihat pengaktifan Gerbang Teleportasi itu dari balik jendela ruang anjungan Kapal Udara Lucia.
"Kejadian ini akan tercatat dalam sejarah," tambahnya lagi dengan perasaan bangga karena menjadi saksi sebuah kejadian bersejarah.
Corvette ikut serta dalam penyerangan kali ini memang karena dia bertugas sebagai pemimpin divisi udara pasukan Lucia.
"Benar. Dengan Gerbang Teleportasi ini peperangan tidak akan pernah sama lagi." Lucia menjawab dari belakang Yllgarian kelelawar itu.
"Yang Mulia?" Tiba-tiba terdengar suara Nata dari Radio Komunikasi dalam ruang Anjungan tersebut.
"Ya, Nat?" balas Lucia.
"Gerbang sudah siap digunakan," ucap Nata kemudian. "Dan kami akan memantau situasi secara langsung dari Drone yang juga akan diikut sertakan, Yang Mulia," lanjutnya lagi menambahkan.
"Ya, aku mengerti. Baiklah kalau begitu." Lucia menutup panggilan dan kemudian berjalan keluar menuju geladak. Diikuti Corvette di belakangnya.
"Rhapsodia, berangkat!" seru ratu muda itu kemudian memberi perintah dari ujung depan haluan Kapal Udara nya.
Dan Kapal Udara yang membawa 80 prajurit dan empat Kereta Melayang yang sengaja diatur agar dapat melayang sejajar dengan lingkaran Sihir Pemindah dari Gerbang Teleportasi itu mulai bergerak memasuki cahaya ungu di hadapan mereka. Bersiap untuk berperang.
\=
Sementara itu di wilayah perbukitan Cilum, di salah satu kaki bukit tempat pos penjagaan pertambangan Arcane, terlihat dua penjaga dari kerajaan Bruixeria tengah melakukan patroli harian di sekitar tempat itu.
"Berjaga di perbukitan seperti ini benar-benar membosankan," keluh pria Morra dengan tubuh kurus tinggi kepada rekan di sebelahnya.
Seorang Narva berbadan gempal sedikit berisi yang terlihat tengah mengunyah sesuatu.
"Bagi seorang penjaga seperti kita, lebih baik mendapat pekerjaan yang membosankan seperti ini." Pria Narva tadi membalas disela kunyahannya.
"Ya, kurasa kau ada benarnya," jawab si Morra setelah memikirkannya lagi.
"Tapi ngomong-ngomong, menara apa itu?" Si Narva bertanya saat pandangannya menangkap sebuah benda menyerupai menara yang berada sedikit lebih jauh di antara sebuah celah pada tebing.
"Yang mana?" Rekannya menoleh mencoba mencari tahu.
"Itu yang mencuat dengan bentuk yang aneh itu. Sebelumnya kan tidak ada apa-apa di tempat itu."
"Oh, benar juga. Ayo kita periksa," ajak si Morra.
Namun belum sempat kedua orang tadi bergerak tiba-tiba saja terlihat cahaya ungu terang muncul di depan benda aneh yang terlihat seperti menara itu.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Bukankah bentuknya seperti Sihir Pemindah?" Si Morra merasa mengenali ciri-ciri dari sihir tersebut.
"Ya benar. Tapi itu besar sekali. Setahuku tidak pernah ada Sihir Pemindah sebesar itu." Si Narva terlihat sedikit sangsi.
Namun belum kering ludah para penjaga itu, tiba-tiba lagi keluar dari dalam lingkaran tersebut sebuah Kapal Layar dengan balon besar di atasnya, dan empat Kereta aneh yang melayang di sebelahnya.
"A-apa itu?" Si Narva nyaris saja terjatuh karena terkejut.
"Ada benda yang keluar. Berarti benar itu Sihir Pemindah." Sedang si Morra tampak sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Itu... Lambang burung merah itu bukankah lambang kerajaan Rhapsodia?" Si Narva tampak mengenali pemilik dari Kapal Udara tersebut.
"Kerajaan Rhapsodia? Apa mereka hendak melakukan serangan ke tempat ini?" Si Morra bertanya dengan wajah yang mulai terlihat ketakutan.
"Gawat, kita harus segera membunyikan tanda peringatan."
Namun terlambat. Belum sempat dua penjaga itu tiba di pos jaga mereka, puluhan Yllgarian kelelawar dengan pakaian serba hitam meluncur cepat dari Kapal berbalon tadi dan menyerang para penjaga tembok pelindung tambang tersebut.
Karena ketidaksiapan serta strategi menempatkan pasukan penjaga di benteng-benteng kecil di sekitaran pertambangan, membuat pengambil alihan pertambangan Arcane itu berjalan dengan cukup mudah dan tanpa korban yang berarti.
.
Pasukan Makari bersama pasukan Vossler bergabung ke dalam pertambangan setelah penyerbuan selesai.
Kemudian dengan memanfaatkan ketidak tahuan lawan akan serangan tersebut, serangan lanjutan ke markas pasukan Bruixeria pun dilakukan. Yang kali ini dipimpin oleh Vossler dan Makari.
Pasukan Bruixeria yang tidak mengira akan adanya serangan dengan kekuatan penuh dari arah belakang itu tidak dapat mempertahankan benteng serta markas mereka lebih lama lagi. Dan mereka pun dikalahkan dengan cukup mudah.
Hanya dalam waktu 3 hari semenjak penyerangan, wilayah perbukitan tempat pertambangan Arcane berada telah berhasil direbut kembali dari tangan Bruixeria.
Dan pasukan Makari diberi tanggung jawab untuk menjaga pertambangan tersebut sekaligus memotong jalur pengiriman mineral Arcane untuk Sefier.
Sedang setelah itu Lucia dan Vossler kembali ke markas Rhapsodia di sekitaran Gerbang Teleportasi.
.
Sementara disaat yang bersamaan, ketika pasukan Rhapsodia masih dalam proses penaklukan dan pengambilan alih pertambangan Arcane tersebut, Nata dan rombongan Yvvone mengadakan pertemuan sekali lagi dengan para pemimpin Marga Elf. Kali ini untuk membicarakan tentang Altar Pengganda.
Pertemuan itu cukup darurat, karena Nata melalui Yvvone baru mengundang para pemimpin untuk mengadakan pertemuan sehari sebelumnya.
Namun karena mendengar tema yang akan dibicarakan, tidak ada satu pun pemimpin Marga yang absen.
.
__ADS_1
"Bukankah tempat itu adalah tempat dimana Arus Jiwa berada?" Galvatr bertanya memastikan setelah Nata menunjuk ke sebuah tempat pada peta di atas meja.
Saat ini Nata dan para pemimpin kaum Elf tengah berada dalam balairung kediaman Moor di Hutan Azuar.
"Apa kau yakin Altar itu dibangun di tempat itu?" Moor juga mencoba untuk memastikan ulang.
"Benar. Menurut saksi mata, Sefier tengah membangun Altar Pengganda itu di tempat yang baru saja saya tunjuk." Nata menjawab yakin.
"Membangun Altar Pengganda saja sudah cukup merepotkan. Tapi ini membangunnya di tempat dimana Aliran Jiwa berkumpul secara alami." Symmré terlihat cukup terganggu.
"Apa dia ingin menguasai setiap tempat yang ada di daratan Elder ini?" Yama yang kini berucap.
"Alta Larma dengan Altar Pengganda itu berarti jangkauan serangnya mencapai sisi selatan dari Hutan Tua. Dan kekuatannya dapat menembus sihir pelindung berlapis sekalipun," lanjutnya dengan hal yang ia takuti.
"Aku merasa tidak nyaman mendengar hal tersebut." Symmré menimpali.
"Siapa sebenarnya Seithr itu?" Xorzio mulai terlihat penasaran.
"Dia bisa mengetahui posisi dari Arus Jiwa dan membuat Altar Pengganda di atasnya," lanjut pemimpin Marga Aeron itu kemudian.
"Itu juga mengesampingkan kenyataan bahwa dia mengetahui cara membangun Rangakaian Formasi Sihir penguat itu." Galvatr menimpali.
"Dari mana sebenarnya dia mengetahui semua itu?" Xorzio kembali bertanya. Terlihat semakin tidak mengerti.
"Benar. Bahkan sebelum ini dia juga mengetahui informasi tentang posisi gelang-gelang Alta Larma." Tama ikut menambahi.
"Kemudian tehnik Sihir Pengendali yang sangat langka itu. Bahkan menjadikannya sebagai Formula Sihir Aktif pada sebuah peralatan mistik," lanjutnya lagi.
"Apa jangan-jangan masih ada orang lain di belakangnya? Yang menjadi dalang dari semua ini?" ucap Xorzio mencoba menebak.
"Aku rasa bila memang ada, kemungkinan besarnya adalah Elf." Moor membalas. Memberikan dugaannya.
"Kurasa... Tapi siapa?" Xorzio kembali bertanya.
"Apa mungkin Elf yang masih merasa sakit hati karena perselisihan marga 300 tahun lalu?" Symmré mencoba membuat tebakan.
"Meski harus kita akui bahwa memang masih ada sedikit ketidak akuran di antara kita walau sudah hampir 300 tahun berlalu, namun aku tetap tidak bisa melihat adanya kemungkinan Elf mencoba membantu manusia untuk melakukan semua kekacauan ini hanya demi membalas dendam atau semacamnya," balas Tama mengemukakan pemikirannya.
"Aku juga sependapat," sahut Xorzio.
"Sepertinya Seithr itu memang sangat berambisi," ucap Moor kemudian.
-
__ADS_1