Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
30. Project Sihir IV


__ADS_3

"Benarkah?" Para Elf kembali terdengar riuh ketika mendengar ucapan Yvvone barusan.


"Benar. Mereka berkata senjata itu khusus dibuat untuk hanya bisa digunakan oleh mereka berdua saja." Yvvone menjawab seperti yang pernah ia dengar sebelumnya.


"Apa itu benar? Kalian membuat senjata yang hanya bisa dipakai oleh kalian berdua saja?" Symmré bertanya paling pertama.


"Ya, benar." Aksa menjawab ringan.


"Lalu kenapa tidak kau katakan pada kami? Apa kau berniat menyembunyikannya?" tanya Elf perempuan itu penuh curiga.


"Untuk apa? Kan hanya kami yang bisa menggunakannya. Jadi tidak bakal digunakan oleh orang lain untuk membahayakan kaum kalian atau daratan ini.


"Kecuali kalian kuatir kami berencana untuk menyerang kalian dan menguasai daratan ini." Aksa membalas dengan sedikit asal.


"Kalau memang seperti itu, maka coba tunjukan pada kami. Agar kami yakin bahwa hanya kalian berdua lah yang dapat menggunakannya," tuntut Symmré.


"Ribet banget sih kalian ini. Apa sebegitu penasarannya dengan senjata Ultimate miliki utusan dewa ini?" Kembali Aksa membalas asal.


Hampir separuh Elf yang ada di tempat itu menganggukkan kepala.


"Sepertinya kita perlu menunjukan alat itu untuk menghilangkan kecurigaan, Aks." Nata berucap.


Dan kemudian Aksa melepas nafas panjang. Berlaga jual mahal.


"Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar."


Pemuda itu bergegas memasuki kediaman Moor untuk mengambil senjata yang ia simpan dalam kamarnya.


Dan tak berapa lama kemudian pemuda itu keluar dengan sebuah kotak pipih di tangannya.


"Senjata ini dibuat dengan bantuan Val, Rafa, dan Nona Luque. Sebuah maha karaya unik yang hanya satu du dunia ini."


Aksa mengeluarkan sebuah gagang pedang berwarna hitam logam dari dalam kotak kayu pipih tersebut.


Bentuknya nyaris menyerupai huruf 'T' dengan bagian atas tengah yang sedikit menonjol.


Bagian pegangan dilapisi kulit yang terlihat tidak simetris dengan bentuk seperti lekukan untuk meletakan jari.


Sedang di posor pertemuan bagian 'T' nya terdapat seperti siku yang dapat diputar.


Bentuk dari seperti sayap di bagian 'T' nya itu serupa silinder dengan beberapa tombol aneh tepat di bagian tengah di kedua sisinya.


"Saksikanlah kehebatan senjata tanpa tanding ini. The Omnipotence," ucap Aksa seraya mengangkat gagang pedang itu ke atas.


"Omni-apa?" sahut salah satu Elf setelah mendengarnya.


"Bukannya itu gagang pedang?" Yvvone bertanya dengan wajah tidak mengerti.

__ADS_1


"Benar. Ini memang gagang pedang. Tapi gagang tidak sembarang gagang," balas pemuda itu berlagak.


"Lalu apa keunggulannya?" Solas segera menyahut bertanya. Terlihat sama antusiasnya dengan Galvatr pemimpin Marga Nautua.


"Senjata ini adalah percampuran dari senjata-senjata legendaris dari pop culture Sci-Fi." Aksa menjawab dengan istilah yang tak dapat dimengerti oleh pendengarnya.


"Tapi mundurlah anda sekalian. Efek senjata ini sangatlah berbahaya," susulnya sambil membuat gerakan tangan mendorong.


Mendengarkan perkataan pemuda itu, para Elf pun melangkah mundur. Apa lagi saat melihat Lily, Val, dan juga Rafa yang benar-benar melangkah mundur cukup jauh.


"Baiklah kita akan mulai peragaannya." Aksa memulai setelah para Elf sudah berada cukup jauh darinya.


"Yang pertama jelas, desain gagang pedang tanpa bilah ini sengaja kupilih agar bisa jadi seperti ini."


Aksa menekan salah satu tombol dari tiga tombol yang terlihat berjajar di tengah-tengah bagian 'T' dari senjata yang ia pegang itu.


Dan kemudia muncul secara tiba-tiba lidah api di atas bagian 'T' nya yang sedikit menonjol.


Semua yang hadir kecuali mereka yang sudah mengetahuinya tampak terkejut mendapati bahwa alat itu benar-benar dapat mengeluarkan sihir. Meski Aksa yang memegangnya.


"Ya, karena baru pertama jadi perlu di-tuning terlebih dahulu. Tunggu sebentar, ya," ucap Aksa kemudian.


Lalu terlihat Aksa memutar sebuah knop yang berada di pangkal bagian gagangnya. Dan bersamaan dengan gerak jari pemuda itu, lidah api tadi secara cepat mulai membentuk seperti pilar api kecil yang lama kelamaan berubah warna dari merah ke biru, dan kemudian ke putih.


"Bagaimana, kalian sudah terkesan? Jangan dulu. Masih perlu satu langkah lagi," ucap pemuda itu seperti sedang menggoda.


Kemudian Aksa menekan sebuah tombol berbentuk seperti pemicu yang berada di sisi belakang di tengah bagian 'T' nya.


"Ta-ra! Lightsaber!" seru Aksa seraya mengangkat gagang pedang, yang kini sudah berupa pedang dengan bilah cahaya itu ke atas.


Meski para Elf tidak mengengerti maksud dari perkataan pemuda itu, namun mereka tetap terlihat kagum dengan kemampuan benda sihir tersebut.


"Bagaimana? Meski plasma nya ini tidak keras seperti bilah pedang sungguhan, tapi masih tetap terlihat keren, kan? Dan masih tetap bisa membakar."


Kemudian Aksa menyabetkan pedang cahayanya itu ke dahan pohon bekas alat peraga sebelumnya. Dan dengan cepat dahan itu terbakar saat bilah cahaya itu menyentuhnya. Meski hanya sedikit.


"Lalu juga bisa dirubah menjadi Seismic Strike."


Kembali Aksa menekan tombol di bagian depan yang berjejer tiga tadi dengan urutan tertentu. Dan bilah cahaya tadi tiba-tiba menghilang.


"No Saber, No Problem," ucap Aksa seraya menyabetkan gagang tanpa bilahnya itu ke arah tanah di hadapannya seraya menekan tombol pemicu di bagian belakan


Dan dengan tiba-tiba tanah dimana gagang pedang Aksa tadi terarah mulai bergetar. Seolah sedang terjadi gempa bumi lokal.


"Apa-apaan ini?" Symmré tampak terkejut saat merasakan getaran di bawah kakinya itu.


"Apa ini sihir Tanah? Apa senjatamu itu dapat menciptakan lebih dari 1 jenis sihir?" Gavaltr bertanya dengan antisias.

__ADS_1


"Berapa banyak Formasi Sihir yang kau pasang dalam gagang pedang itu?" Tama menyahut dengan pertanyaan.


"Benar. Ada banyak sekali Formasi Sihir yang kupasang dalam senjata pamungkas ini. Kurasa hampir semua jenis sihir," jawab Aksa yang kemudian melanjutkan acara pamernya.


Dan dengan kombinasi tombol yang lain lagi, bilah pedangnya dari senjatanya itu berubah dari kristal es, sampai ke kilatan petir.


Semua Elf yang hadir masih tak habis merasa takjub melihatnya.


"Lalu disamping sihir serangan, senjata ini juga berfungsi sebagai semacam Holtzman Shield."


Dan setelah menekan kombinasi yang lain tiba-tiba muncul sebuah sihir pelindung berbentuk bola di sekelilingnya.


Kembali para Elf dibuat menahan nafas saat melihat kemampuan yang dimiliki senjata buatan pemuda itu.


"Dan bila bagian pelindungnya diputar seperti ini, dan gagangnya ditekuk ke bawah, maka akan berubah menjadi Raygun."


Aksa menekuk sayap bagian 'T' nya ke atas hingga mengapit silinder yang sebelumnya mengeluarkan bilah pedang, kemudian memutar bagian pegangan searah jatum jam yang membuat posisinya kini jadi sedikit menekuk ke bawah.


Dan kini bentuk dari senjata yang dipegang Aksa itu tidak lagi seperti sebuah gagang pedang. Melainkan sebuah pistol dengan tiga lubang peluru dengan tombol di sisi belakang tadi berfunsi sebagai pengganti pelatuk.


"Keren kan? Senjata ini tidak mesti digunakan dengan cara ditebaskan atau diayunkan. Tapi juga bisa digunakan seperti senjata api."


Aksa mencoba membidikan senjatanya itu ke sebuah pohon di seberang area.


"Phaser Gun," ucap pemuda itu sambil menekan tombol pelatuk.


Dan peluru cahaya meluncur dari ujung senjata itu kemudian menghantam pohon yang dibidik Aksa. Penampakan peluru serta dampak serangannya serupa dengan saat Senjata Api ditingkatkan dengan sihir. Hanya saja yang ini hampir tak bersuara.


"Ada berapa banyak kemampuan dari senjata itu?" Solas terlihat terkagum-kagum.


"Dalam mode ini juga bisa jadi Ice Gun, atau bahkan Flamethrower," jawab Aksa yang kemudian terlihat sangat menikmati memperagakan kemampuan senjata miliknya itu dengan membuatnya menjadi alat pembeku, dan kemudian menjadi senjata penyembur api.


"Dengan sebegitu banyak Formasi Sihir yang kau pasang, bagaimana kau mengakali masalah tenaga dan tekanan baliknya?" Tama bertanya. Tampak benar-benar penasaran.


"Oh, sebentar. Masih ada lagi. Ini adalah fitur terakhir dalam mode Gun nya," potong Aksa tiba-tiba.


Dan mulai pemuda itu menekan kombinasi lain pada jajaran tombol pada senjatanya, sebelum mengarahkan ke sisi kanannya dimana tidak ada orang di tempat itu.


"Perkenalkan ASHPD alias Portal Gun," ucapnya sebelum kemudian menekan pelatuk.


Secara cepat sebuah lingkaran cahaya berwarna ungu terbentuk tepat di hadapan senjata tersebut.


"Sihir Pemindah?" Xorzio tidak menduga bahwa senjata buatan Aksa itu juga mengikut sertakan Formula Sihir dari sihir pemindah di dalamnya.


"Tanpa Kristal Arcane? Jadi inikah konsep yang ingin kau gunakan dalam pembuatan Gerbang Teleportasi nantinya?" Pemimpin Marga Aeron itu bertanya memastikan.


"Bukan. Konsep yang kuterapkan pada senjata ini tidaklah aman untuk digunakan." Aksa menjawab setelah menghilangkan lingkaran sihir pemindah tadi.

__ADS_1


"Tidak aman?" Xorzio terlihat benar-benar penasaran.


-


__ADS_2