
Terlihat Aksa sedang meringkuk menggigil di belakang roda kemudi dengan baju tebal dan selimut membungkus tubuhnya.
Saat ini ia sedang berada di dalam Kapal Udara yang tengah melintasi wilayah selatan menuju pegunungan Trava di barat Saronia. Dan karena melewati wilayah lawan, mereka harus terbang tinggi di balik awan agar tidak terlihat.
Namun meski begitu, pemuda itu masih tetap serius menatap papan monitor kecil di atas pengendali Drone di tangannya.
"Benar kata Nata untuk tidak membuatnya berdasar dari model yang ada di dalam game. Tahu dingin begini, mending aku design Kapal ini seperti Gerbong Kereta tertutup dari pada model Kapal Layar terbuka seperti ini," gerutunya bukan kepada siapa-siapa.
"Bagaimana, Tuan Aksa? Ada yang anda perlukan?" Mendengar Aksa berucap tidak jelas, Nikolai yang bertugas sebagai Kapten Kapal tersebut, menggantikan Anna yang tidak dapat melakukannya karena harus mengurusi permasalahan Kota Barat, tampak mendekat dan berinisiatif menawarkan bantuan.
"Tidak, Tuan Nikolai, terima kasih. Teh herbal hangat ini sudah lebih dari cukup," jawab Aksa menolak tawaran Nikolai dengan sopan.
Dan meskipun saat ini mereka bersama 30 prajurit baru, 20 penyihir, dan beberapa kompi pasukan Yllgarian Burung Hantu di dalam Kapal Udara itu, namun mereka bukan hendak melakukan serangan.
Mereka sedang melakukan pengambilan Gambar Udara di sepanjang wilayah tersebut, untuk membuat peta dan merencanakan serangan. Sekaligus untuk membiasakan para prajurit dengan Kapal Udara dan penerbangan.
Selain itu juga untuk melatih para penyihir menggunakan sihir pelindung mereka. Baik itu pelindung untuk para penumpang dari hembusan angin kencang saat Kapal Udara melaju cepat, juga pelindung dari serangan yang di arahkan ke Kapal Udara tersebut.
Kapal Udara itu mereka terbangkan di ketinggian yang cukup untuk tidak disadari oleh orang-orang secara mata telanjang. Sementara itu, Aksa menerbangkan Drone nya yang lebih kecil dan lebih mudah untuk tersamar itu, di ketinggian yang lebih rendah lagi. Agar mempermudahkan saat mengambil gambar daratan.
Selain mereka tadi, tidak ketinggalan Rafa, Luque, dan juga Lily ikut serta dalam penerbangan itu.
Luque yang awalnya sangat antusias untuk melakukan penerbangan, sekarang mulai terlihat sedikit kecewa, karena sejauh yang dapat ia lihat hanyalah awan.
Meski masih cukup indah di bawah sinar matahari yang cerah, namun setelah melihatnya lebih dari 4 jam terus menerus, Gadis Suci itu mulai bosan.
"Berapa lama lagi kita akan melakukan perjalanan ini? Aku bosan," ucap Luque dari pinggiran geladak kapal sebelah kanan. Expresinya malas menatap ke arah bawah.
__ADS_1
Rafa yang berdiri di sebelah Luque juga sedang melihat ke lautan awan di bawah geladak, sementara Lily terlihat duduk di atas peti peralatan perkapalan tak jauh dari Rafa, sedang sibuk membersihkan tongkat sihirnya.
Semua orang tampak mengenakan baju tebal yang sama seperti yang dikenakan Aksa. Namun hanya pemuda itu saja yang terlihat menggigil kedinginan. Yang lain terlihat biasa saja melakukan kegiatan mereka.
"Kita baru saja melewati tembok perbatasan Augra di barat wilayah Ravos," sahut Aksa masih menatap serius ke papan monitor di pengendali yang ia pegang. "Dan setelah sampai di pegunungan Trava dan kemudian kembali, mungkin masih sekitar 10 jam lagi," tambahnya kemudian.
"Lama sekali. Aku sudah bosan hanya melihat awan-awan ini saja. Kenapa kapal ini berjalan lambat sekali? Apa memang Kapal Udara di tempatmu juga bergerak lambat seperti ini?" ucap Luque yang terlihat menendang-nendang kecil gentong berisi air yang berada di sebelahnya.
"Terasa lambat karena kau hanya bisa melihat awan-awan itu saja. Bayangkan, kita hanya butuh waktu 8 jam untuk tiba di pegunungan Trava yang biasanya memakan waktu satu setengah hari perjalanan," balas Aksa.
Tampak Luque masih memasang muka kesal. "Tetap saja," gerutunya.
"Coba saja minta para penyihir itu untuk berhenti memasang sihir pelindung, kita pasti akan kesulitan melakukan apapun karena hembusan anginnya akan terasa seperti badai." Tambah Aksa sambil menunjuk ke salah satu dari 5 penyihir yang berdiri di ujung geladak memasang sihir pelindung.
Para penyihir itu melakukan giliran untuk memasang sihir pelindung. 5 penyihir di setiap 1 jam sekali. Yang berarti masing-masing penyihir mendapat giliran menggunakan sihir selama 1 jam dan beristirahat selama 3 jam. Begitu seterusnya.
"Sampai setinggi bintang-bintang di sana," jawab Aksa sambil menunjuk ke atas. Meski pandangannya tetap menghadap ke bawah, ke arah papan monitor di tangannya yang lain.
"Benarkah?" Terdengar Luque mulai terpancing.
"Hanya saja kita akan kehabisan nafas sebelum menyentuh ketinggian 8 Kilo," tambah Aksa kemudian.
"Lalu seberapa tinggi kita terbang sekarang ini?" Rafa kembali mengajukan pertanyaan.
"Empat kilo dari permukaan tanah. Ini adalah ketinggian ideal untuk Kapal Udara ini terbang menghindar dari perhatian orang di bawah sana." Aksa menjawab lagi.
"Menghindar dari perhatian? Maksud anda bersembunyi di balik awan-awan ini?" Rafa tampak memastikan ucapan Aksa.
__ADS_1
"Benar. Karena umumnya awan terbentuk di ketinggian sekitar 10 ribu kaki sampai 60 ribu kaki, yang berarti sekitar 3 sampai 18 kilometer. Dan melebihi ketinggian 5 kilometer, udara akan menipis, dan kita akan mulai kesulitan untuk bernafas," jawab Aksa dengan penjelasan yang beberapa tidak dapat dipahami oleh orang yang mendengarnya. "Belum lagi tempertur nya yang akan terus menurun," tambahnya lagi seraya merapatkan kembali selimutnya yang sedikit terbuka. "Sial! Aku harus merombak ulang kapal ini."
"Kilometer? Apa itu panjang dari tenda kita ke stasiun gondola itu?" Rafa kembali memastikan.
"Ya, kurang lebih." Aksa mengangguk tanpa menatap Rafa.
"Dan untuk kecepatannya, apakah sekarang ini adalah kecepatan maksimal dari Kapal Udara ini?" Rafa masih memberi pertanyaan kepada Aksa.
"Benar. Karena bentuknya yang tidak Aerodinamis, juga bagian balonnya yang tidak cukup kuat untuk menahan kecepatan tinggi, jadi kecepatan sekarang ini adalah kecepatan maksimal yang masih tergolong aman untuk Kapal Udara ini," jawab Aksa dengan penjelasan.
"Berarti bila bentuk dan ukurannya dirubah, Kapal Udara bisa bergerak lebih cepat lagi?"
"Sebenarnya ada yang namanya Pesawat yang jauh lebih kecil dan dapat bergerak dengan cepat. Namun di samping suaranya yang sangat berisik, yang jelas akan menarik perhatian orang-orang, juga karena pesawat itu butuh tempat yang cukup luas dan datar untuk naik dan turunnya. Jadi untuk saat ini peawat itu bukanlah sebuah pilihan." Kembali Aksa memberi penjelasan panjang tanpa memindah pandangannya.
"Berarti kelak anda juga akan membuatnya?" Sela Nikolai yang sedari tadi menyimak perbincangan mereka.
"Ya, kita lihat nanti. Kalau memang diperlukan, aku akan membuatnya. Namun bila alat transportasi sudah cukup dengan menggunakan Kapal Udara seperti ini, ya sudah," jawab Aksa seraya mengangkat pandangannya dari papan monitor. "Sebentar lagi kau akan melihat sesuatu yang menarik, Luq," ucap pemuda itu kemudian sambil tersenyum kecil menatap Luque.
"Menarik mananya? Perjalanan 8 jam ini lebih membosankan dibanding penantianku selama 300 tahun di Nezarad." Terlihat Luque menekuk wajah dan kemudian duduk meneluk lututnya di sebelah Aksa. Yang hanya diikuti Rafa dengan tatapan dan senyuman kecil.
"Kapten, ada daratan di depan sana!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari awak kapal yang bertugas mengawasi situasi di depan dengan teropong.
"Daratan? Di atas awan?" Dengan cepat Luque kembali berdiri dan menajamkan pandangannya ke arah depan. Berusaha mencari sosok asing di antara lautan awan.
"Bukan. itu adalah gunung Trava. Sebentar lagi kita akan tiba di tempat tujuan kita," jawab Aksa yang juga ikut berdiri.
-
__ADS_1