Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
17. Kota Randon


__ADS_3

"Jadi besok kau akan berangkat menuju ke kota Randon?" Lucia bertanya kepada Nata ketika mereka baru saja selesai berkeliling perkemahan untuk melakukan pemeriksaan, setelah pertemuan dengan para pemimpin sebelumnya selesai dilakukan.


Malam sudah semakin larut, saat mereka berdiri di depan tenda tempat Aksa, Nata, Lily, dan Val tidur malam ini. Lucia tengah menunggu Jean dan para prajurit yang sedang mengemas beberapa peralatan untuk dibawa ke kediaman keluarga Ignus. Tempat Lucia tinggal saat berada di Kota Varun.


"Benar, Yang Mulia. Kami perlu melihat secara langsung kondisi kota itu agar dapat melakukan pembangunan kembali dengan cepat," jawab Nata menjelaskan. "Karena kemungkinan besar, wilayah itu akan menjadi garis depan pertempuran kita dengan kerajaan Augra."


"Ya, aku tahu itu." Lucia membalas cepat.


"Oh, iya. Sekalian saya ingin bertanya tentang hal yang sudah pernah saya beri tahukan kepada Yang Mulia sebelum ini. Mengenai kerajaan Augra. Apa keputusan yang akan Yang Mulia ambil?" Nata kemudian menanyakan hal yang terdengar cukup serius kepada Lucia.


"Apa itu tentang penyerangan ke wilayah Augra?" Lucia memastikan.


"Benar. Karena tidak bisa dihindari, kita pasti akan menyulut perang dengan mereka. Maka dari itu, agar wilayah perbatasan kita aman, kita harus mendorong peperangan menjauh dari garis perbatasan ke wilayah mereka." Nata menjawab dengan penjelasan.


"Ya, aku sudah memikirkannya. Para pemimpin juga menyetujui rencana tersebut. Jadi setelah semua rencana ini berjalan dengan lancar, kita akan melakukan serangan ke wilayah Augra di sepanjang perbatasan wilayah kita." Lucia berucap dengan wajah yang seperti enggan melakukannya.


Nata yang menyadari adanya keengganan dalam keputusan yang diambil Lucia itu, tampak kembali bertanya. "Apa Yang Mulia kuatir akan dipandang sebagai seorang penjajah di daratan selatan ini?"


"Bukan, Nat. Aku tidak perduli dengan sebutan-sebutan semacam itu." Lucia menyanggah dengan cepat. "Aku hanya tidak ingin membawa peperangan lain di wilayah yang sudah damai dari awalnya," jelasnya kemudian.


"Tapi Yang Mulia pasti sadar benar bahwa pemikiran para pemimpin kerajaan yang lain tidak akan sama dengan pemikiran Anda, bukan?"


"Ya, aku sadar benar akan hal itu. Maka dari itu, meski aku merasa enggan, namun itu adalah keputusan yang harus diambil demi melindungi rakyat kerajaan ini." Lucia menjawab dengan nada yang terdengar lebih tegas dari sebelumnya.


Namun kemudian perbincangan mereka dipotong oleh Jean yang sudah selesai dengan pekerjaannya dan siap untuk kembali ke kediaman keluarga Ignus.


"Kalau begitu, aku pergi dulu, Nat. Selamat malam." Lucia pamit sebelum berjalan meninggalakan kawasan perkemahan tersebut.


"Selamat malam, Yang Mulia," jawab Nata yang masih tetap berdiri menatap ke arah Lucia yang berjalan menjauh.


"Kurasa lima tahun telah memaksa gadis itu menjadi dewasa," ucap Aksa lirih dari atas tempat tidurnya di dalam tenda. Ia mendengar semua perbincangan Lucia dan Nata dari dalam tenda dengan diam-diam.


-


Esok paginya rombongan Aksa dan Nata mulai bersiap untuk menuju ke Kota Randon di wilayah Lighthill. Mereka berangkat bersama 30 puluh pekerja dan 20 Penyihir Pembangun.


Dan sama seperti rombongan Matyas, mereka juga menggunakan Kereta Uap dengan banyak gerbong, karena harus membawa serta peralatan dan juga material untuk membangun ulang kota tersebut.

__ADS_1


Sementara di Kota Mara, Matyas dan para pekerjanya mulai membangun kembali tembok gerbang. Juga sarana seperti Generator Listrik, Lampu penerangan, serta Menara Komunikasi yang lebih layak.


-


Setengah hari kemudian rombongan Aksa dan Nata akhirnya tiba di Kota Randon. Dan masih butuh satu jam lagi untuk membongkar seluruh bawaan mereka, sebelum Kereta Uap kembali menuju Kota Varun.


.


"Kurasa Anda terlalu berlebih, Tuan Wedge. Menghancurkan benteng sampai seperti itu," ucap Aksa di depan tendanya menatap ke arah utara. Dimana terlihat tumpukan puing-puing sisa tembok benteng kota tersebut.


Aksa, Nata, Lily, Val, dan para pemimpin militer mengadakan pertemuan singkat setelah mereka selesai makan siang. Rombongan Aksa dan Nata membuat tenda di perkemahan para prajurit yang dibangun secara darurat di alun-alun kota.


"Saya tidak bermaksud seperti itu, Tuan Aksa." Kesatria Narva dengan wajah penuh berewok itu segera menjawab. "Itu karena menurut informasi, tembok benteng kota ini adalah buatan Elf yang memiliki semacam Formasi Sihir Pelindung. Jadi saya berpikir untuk mengerahkan seluruh kekuatan dalam melakukan pengempuran. Setidaknya agar bisa membuat lubang pada temboknya."


"Dan saya tidak menyangka tembok itu akan runtuh. Karena pada saat itu, penyerangan kami berlangsung di malam hari. Kami baru tahu kalau tembok itu runtuh setelah menghentikan serangan." Wedge mencoba menjelaskan alasan dibalik tidakannya tersebut.


"Ya, meski begitu, tembok benteng itu kan dibangun dari ratusan tahun yang lalu," balas Aksa yang terlihat sedikit menyayangkan.


"Ya, saya merasa bersalah telah menggempurnya terlalu berlebih." Wedge terlihat menyesal.


"Lalu bagaimana dengan korban-korbannya, tuan Wedge?" tanya Nata menyambung.


"Semuanya sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memberikan mereka perawatan dan membantu keluarga yang ditinggal," ucap Nata mencoba meringankan rasa bersalah Wedge.


"Meski saat ini kita tidak memiliki banyak Penyembuh, namun tidak sedikit dari prajurit yang sudah mengerti tentang pertabiban. Jadi penduduk yang terluka sudah kita rawat sejak kemarin." Wedge memberikan informasi.


"Syukurlah," balas Nata. "Lalu bagaimana dengan pemimpin wilayah ini?"


"Sayangnya kami tidak berhasil menangkapnya. Kemungkinan ia melarikan diri bersama sisa pasukan mereka menuju ke Ravus atau bila tidak, kembali ke wilayah Augra." Wedge kembali terlihat kecewa dengan dirinya sendiri.


"Tidak ada keluarga bangsawan yang tersisa di kota ini?" Nata bertanya lagi.


"Tidak ada, Tuan Nata. Sepertinya, mereka meninggalkan wilayah ini begitu Ignus berhasil kita ambil alih," jawab Wedge dengan dugaan.


"Begitu ternyata," ucap Nata seraya mengangguk kecil. "Lalu bagaimana dengan kondisi wilayah perbatasan sekarang?" lanjutnya dengan pertanyaan baru.


"Pasukan Augra dari wilayah Xube di selatan Lighthill masih berusaha untuk melakukan serangan. Namun sampai saat ini Kereta Penghancur kita masih dapat menanganinya." Wedge menjawab.

__ADS_1


"Kurasa tidak lama lagi pasukan bantuan mereka akan segera datang," ucap Nata yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Baiklah, berarti sekarang saatnya untuk membangun ulang kota ini," sahut Aksa tiba-tiba.


-


"Ada masalah apa, Lily? Ku perhatikan setibanya di kota ini, kau terlihat seperti tidak tenang?" tanya Aksa kepada Lily saat mereka berada di antara reruntuhan benteng kota setelah selesai memberi arahan kepada para pekerja.


Jam tangan Aksa menunjukan pukul setengah delapan malam. Setengah jam sebelum waktu makan malam.


"Aku merasakan pergerakan Aliran Jiwa yang aneh dari arah timur," jawab kelinci itu seraya menunjuk ke arah kegelapan di hadapannya.


"Msksudmu dari arah Tanah Bebas Azure?" Aksa bertanya memastikan. Yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Lily.


"Apa itu semacam Senjata Mistik? Sampai kau bisa merasakannya dari kejauhan. Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan Formasi Sihir benteng ini?" Aksa terlihat antara penasaran, bersemangat, tapi juga sekaligus kuatir.


"Tidak. Itu bukan Senjata Mistik. Aliran Jiwa yang kurasakan lebih seperti milik seseorang. Atau lebih tepatnya Elf."


"Apa Aliran Jiwa Elf memang dapat dirasakan dari jarak sejauh itu? Apa itu Marga Azuar? Bagaimana menurut Val?" Aksa menghujani Lily dengan pertanyaan.


"Tidak ada Aliran Jiwa mahluk hidup yang dapat dirasakan lebih jauh dari 50 langkah." Lily menjawab. "Dan aku juga sudah bertanya kepada Val. Ia juga merasakannya semenjak tiba di kota ini. Namun ia juga tidak bisa memastikan.


"Menurut dugaannya, kemungkinan Aliran Jiwa ini adalah semancam dampak dari peralatan sihir Marga Azuar yang tidak ia ketahui. Karena selama ratusan tahun Marga itu memang menyembunyikan beberapa perlatan dan metode sihir dari Marga Elf yang lain." Kelinci itu memberi penjelasan.


"Coba kau tanyakan hal ini kepada Luque. Mungkin dia mengetahui sesuatu mengenai hal tersebut." Aksa memberikan saran.


"Ya, aku akan bertanya pada Primaval setelah ini." Lily menerima saran Aksa tersebut.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali ke tenda. Aku sudah lapar," ajak Aksa seraya mendahuli berjalan meninggalkan tempat itu.


"Hal ini membuatku merasa tidak nyaman," ucap Lily pelan sebelum memalingkan tubuhnya mengikuti Aksa menuju ke tengah kota.


-


Di saat yang hampir bersamaan, Nata yang sedang berada di tenda bersama Val mendapat panggilan Radio Komunikasi dari Helen.


Helen mengabarkan, bahwa beberapa ratus pasukan Augra mulai bergerak meninggalkan Kotaraja menuju ke perbatasan Lighthill dan Ravus. Dan kemungkinan akan tiba dalam waktu tiga hari lagi.

__ADS_1


-


__ADS_2