
Setelah semalaman begadang membuat sebuah alat sihir bersama Rafa, akhirnya bahan percobaan Aksa itu pun selesai.
Berbentuk seperti batang logam selebar satu ruas jari pria dewasa, dengan panjang nyaris segenggaman tangan.
Alat itu memiliki beberapa lubang di bagian atasnya. Yang ukuran dan bentuknya serupa dengan kabel karet yang biasa untuk mengisi daya dari Smartphone.
"Ini. Coba pasangkan ke Smartphone mu," ucap Aksa menyerahkan logam persegi panjang itu kepada Yvvone pagi harinya.
"Kemudian alirkan... salurkan... pokoknya pindahkan Aliran Jiwa mu ke kotak logam itu," perintahnya lagi setelah Yvvone dengan bingung menerima alat aneh tersebut.
Namun tanpa pertanyaan lagi Yvvone segera mengikuti perintah Aksa dengan menggenggam logam persegi itu setelah menyambungkan ujung kabelnya dengan Smartphone. Dan kemudian mulai menyalurkan Aliran Jiwa nya ke dalam benda aneh tersebut.
Tak lama berselang tanda pengisian batrei pun terlihat pada layar Smartphone milik Yvvone itu.
"Oh!? Tenaganya terisi! Apa ini alat untuk mengisi tenaga Smartphone menggunakan Aliran Jiwa?" Gadis Elf itu terlihat kaget dan juga girang mendapatkan benda seperti itu dari Aksa.
"Bingo! Tepat sekali. Jadi setelah ini kau tidak perlu bolak-balik wilayah pusat untuk mengisi batrei Smartphone mu." Aksa menjawab dengan membusungkan dadanya. Terlihat bangga akan dirinya sendiri.
"Wah! Ini luar biasa sekali, Aks. Terima kasih." Yvvone segera tenggelam dalam kesenangannya sendiri setelah itu.
"Benar-benar sulit dipercaya. Anda berhasil membuat peralatan mistik sendiri setelah baru sehari mempelajari tentang Runic. Terlebih anda tidak dapat menggunakan sihir." Solas berucap dengan kagum kepada Aksa.
"Ini hanya percobaan saja, tuan Solas. Aku hanya merubah sumber tenaga dari yang seharusnya listrik menjadi Aliran Jiwa." Aksa menjawab.
"Jenis material dan cara penyusunan simbolnya lah yang menentukan perubahan Aliran Jiwa. Dan dengan campuran serbuk granit dalam tinta untuk mengambar simbol ini, maka Aliran Jiwa akan dirubah menjadi energi setara dengan listrik," lanjut pemuda itu mencoba menerangkan apa yang telah ia lakukan untuk membuat alat mistik pengisi daya Smartphone tersebut.
"Oh, itu metode yang sama seperti yang kami gunakan untuk membuat mantra rapalan pada Grimore." Solas terlihat semakin terkesima setelah mendengar penjelasan Aksa.
"Entah siapa orang-orang berdedikasi tinggi yang mencoba semua material dan simbol-simbol ini dulunya," ucap Aksa kemudian.
"Apa? Ini buatan tuan Aksa? Baru beberapa hari di pemukiman Elf dan anda sudah dapat membuat peralatan mistik sendiri? Anda benar-benar luar biasa, tuan Aksa," seru Murrel yang baru saja tiba dan bertanya tentang alat mistik yang dibawa-bawa oleh Yvvone.
"Itu belum apa-apa. Setelah ini aku mau membuat sesuatu yang lebih essensial." Aksa menjawab cepat.
"Dan sebagai ucapan terima kasih, bisakah kau bawakan beberapa hal yang aku perlukan, Nona Yvvone?" lanjut pemuda itu kemudian meminta kepada Yvvone.
"Tentu saja. Kau tinggal sebutkan." Gadis Elf itu menjawab dengan cepat. Yang kemudian dibalas Aksa dengan senyuman lebar.
__ADS_1
-
Dua hari kemudian acara pertemuan para Pemimpin Marga Elf pun diadakan. Terlihat 8 pemimpin dari Marga yang lain tiba di pemukiman Azuar nyaris bersamaan dengan menggunakan kristal Arcane Ruang dan Waktu yang dibuat khusus agar dapat menembus pelindung pemukiman tersebut.
Para pemimpin itu mengadakan pertemuan di balairung utama yang berada tepat di atas bangunan tempat Aksa & Nata menginap.
.
"Apa kau sudah kehilangan akal memberikan pengetahuan tentang Runic itu kepada manusia?" tanya seorang pria Elf berbadan jangkung berambut kuning kehijauan dengan sedikit tidak terima.
Elf itu adalah Xorzio, pemimpin Marga Aeron.
"Mereka bukanlah manusia biasa." Moor menjawab dengan mencoba untuk tetap tenang. Tidak terpancing emosi.
Para Pemimpin Marga itu duduk dengan posisi melingkar meski tidak ada meja di tengah-tengahnya.
Hanya 9 Pemimpin Marga yang menghadiri pertemuan kali ini. Marga Ghorea tidak hadir karena pemimpin mereka tewas saat Noel dan rekan-rekannya mengambil bagian dari Alta Larma dan membekukan seluruh hutan mereka. Dan sejak saat itu, Pemimpin Marga Ghorea belum dipilih lagi.
Selain para pemimpin, beberapa Elf dari beberapa Marga juga terlihat dalam pertemuan tersebut. Berdiri di belakang para Pemimpin.
"Namun meski demikian, tetap saja mereka Manusia. Bagaimana kau akan bertanggung jawab bila mereka itu tidak dapat menanggung pengetahuan tersebut dan membawa hal buruk pada daratan ini?" Xorzio masih belum bisa menerima alasan yang diberikan Moor.
"Hal itu sudah terjadi sekarang ini. Alta Larma hanya tinggal menunggu waktu untuk digunakan secara penuh," balas Moor kemudian.
"Dan satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan membuat senjata tandingan." Pemimpin Marga Azuar itu kembali mencoba memberi penjelasan atas keputusannya tersebut.
"Apa kau mendengar ucapanmu sendiri, Moor? Senjata tandingan? Alta Larma saja sudah cukup membawa masalah untuk daratan ini." Kali ini perempuan Elf di seberang ruangan yang berucap.
"Itulah alasan kenapa Stelar memecah dan menyembunyikannya," lanjut Elf berkulit pucat, berambut hitam dengan tiara perak di kepalanya itu kemudian.
Elf itu adalah Reiré. Pemimpin Marga Realn.
"Lalu apa kau punya solusi lain tentang masalah yang tengah terjadi sekarang, Rei?" tanya Moor membalas ucapan Reiré.
Perempuan Realn itu tidak menjawab. Sama seperti Pemimpin Marga yang lain, ia tidak memiliki solusi lain.
"Baiklah. Aku setuju denganmu, Moor," sahut pria Elf bermata perak, berkulit pucat dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Pria Elf itu adalah Tama. Pemimpin Marga Vaelum.
Mendengar ucapan Tama yang setuju dengan rencana Moor itu membuat para Pemimpin Marga yang lain terlihat sedikit tidak terima.
"Kalau memang menurut Azuar itu adalah satu-satunya cara, maka aku akan mengikutinya. Karena jujur aku tidak memiliki solusi apapun saat ini." Tama melanjut ucapannya.
"Tapi dengan syarat," imbuh pria Vaelum itu kemudian. "Bahwa mereka tidak diperbolehkan untuk menyebarkan pengetahuan ini. Mereka mempelajari Runic murni hanya untuk menciptakan senjata untuk menandingi Alta Larma."
"Jadi apa kau menyarankan untuk memberi tahukan pengetahuan Runic, namun meminta mereka merahasiakan pengetahuan tersebut?" Xorzio bertanya memastikan.
"Benar." Tama menjawab cepat.
"Kurasa bila memang bisa demikian, maka akan lebih baik." Reiré ikut berucap. "Kurasa ini jalan tengah terbaik kita sekarang."
"Ya, aku setuju dengan Tama," sahut Pemimpin Marga Shuuran.
"Ya, aku juga setuju," susul Pemimpin Marga Briefir.
Sedangkan Moor hanya terdiam. Seolah ragu untuk berucap.
"Manusia-manusia itu yang menulis Mahan Gyaan. Apa kau kira pengetahuan yang tertulis dalam buku itu tidak berbahaya? Lihat bagaimana tanah Rhapsodia hancur karena manusia menggunakannya." Tiba-tiba Elf lain berucap disaat Moor masih dalam keraguannya.
Seorang perempuan anggun dengan hiasan telinga dari ukiran kayu bertatah safir yang terlihat serasi dengan warna biru langit pada matanya.
Perempuan Elf itu adalah Galvatr. Pemimpin Marga Nautua.
"Jadi kupikir tidak apa bila hanya mereka saja yang tahu. Karena mereka mampu menahan godaan dari pengetahuan itu," lanjut Elf anggun itu kemudian.
"Tapi tetap, bila akhirnya jatuh ke tangan manusia biasa maka kemungkinan besar akan menimbulkan kehancuran. Bukan hanya untuk kaum mereka sendiri. Tapi juga seluruh Elder. Apa kau tidak memikirkan kemungkinan tersebut?" tambah Galvatr mencoba mempengaruhi Moor.
"Baiklah, aku mengerti." Akhirnya Moor pun angkat bicara.
Wajah-wajah cerah para Pemimpin Marga mulai terlihat saat mendengar ucapan Moor tersebut.
"Sekarang aku akan bertanya, bagaimana pendapat kalian setelah melihat yang ini. Ambilkan alat itu, Nona Yvvone," perintah pria Elf berambut perak itu kepada Yvvone.
-
__ADS_1