
"Jadi sama dengan persenjataan tadi. Tidak banyak yang berubah dari seragam dan pelindung-pelindung ini. Hanya saja kini kita berhasil membuat bahan yang jauh lebih ringan dan kuat," ucap Nata membuka pengenalan terhadap perlengkapan yang selanjutnya.
Kini disamping seragam dan pelindung yang diletakan di atas meja, para pengerajin juga mengeluarkan sebuah boneka kayu yang lebih mirip dengan proporsi tubuh manisia dibanding boneka kayu untuk uji coba tadi. Dan memakaikan seragam dan pelindung yang sama untuk memberi gambaran seperti apa ketika perlengkapan itu dikenakan.
Beberapa orang terlihat sedikit mengeryitkan dahi karena bentuk yang benar-benar berbeda dari seragam yang dikenakan para prajurit sebelumnya. Seragam ini lebih sedikit mengenakan pelindung.
"Apa ini yang akan dikenakan oleh prajurit-prajurit baru itu nantinya, Nat?" tanya Lucia setelah memperhatikan seragam yang dikenakan boneka kayu itu dengan seksama.
"Benar, Yang Mulia." Nata mengangguk.
"Bukankah pelindungnya terlalu sedikit. Hanya beberapa plat berbentuk tempurung, dan pelindung kepala yang tampak terlalu kecil. Apa semua ini benar-benar bisa melindungi pada prajurit itu?"
"Ya saya mengerti maksud dan kekuatiran Yang Mulia Ratu. Pelindung-pelindung ini memang ditujukan bukan untuk melindungi seluruh tubuh. Namun beberapa tempat pada tubuh yang cukup rawan." Nata mencoba menjelaskan.
Lucia terlihat bingung. "Rawan?" tanya nya kemudian.
"Benar Yang Mulia Ratu. Seperti siku, lutut, tulang kering, lengan belakang, dada, dan kepala." Nata menjelaskan sambil menunjuk ke bagian-bagian tersebut.
"Bagian rawan dalam tubuh itu bukannya leher, perut, atau pundak?" Jean menyela dengan pertanyaan.
"Saya mengerti, mungkin sebagian besar dari anda sekalian tidak mengerti kenapa pelindungnya hanya dibagian-bagian itu saja," ucap Nata yang siap memberikan penjelasan.
"Itu karena prajurit baru kita nanti akan bertarung dengan cara yang berbeda dari prajurit kebanyakan. Mereka tidak akan melakukan duel pedang satu lawan satu, atau pertarungan secara langsung bila memang tidak dibutuhkan. Mereka akan menghindar bila dirasa pertarungan tersebut tidak dapat dimenangkan. Atau menyerang dari tempat yang aman secara sembunyi-sembunyi." Nata menjedah ucapannya. "Terdengar tidak ksatria? Tapi pola pikir itulah yang akan kita tanamkan pada prajurit-prajurit baru itu," lanjutnya kemudian.
Terlihat beberapa orang tampak tidak sependapat Nata menerapkan pola pikir tersebut pada prajurit baru. Mereka tampak menggeleng pelan dan memasang wajah tidak puas. Namun sebagian besarnya tampak menerima rencana tersebut. Termasuk Lucia dan para petinggi militer.
__ADS_1
"Jadi karena faktor itulah mereka memerlukan mobiltas yang tinggi. Dan untuk mengakomodasi hal tersebut, maka pakaian yang mereka kenakan tidak boleh membatasi pergerakan. Dan pilihan terbaiknya adalah mengurangi keberadaan plat pelindung tubuh," jelas Nata lagi.
Tampak orang-orang mulai sedikit banyak paham dengan maksud Nata. Beberapa terlihat mengangguk kecil.
"Dan kenapa memasang pelindung di bagian-bagian itu saja? Karena bagian-bagian itulah yang sering mengalami luka. Bahkan saat kita tidak dalam peperangan atau pertarungan pun, kita masih kadang terluka di bagian-bagian tersebut." Nata melanjutkan penjelasannya.
"Seperti ketika kita terjatuh saat berlari. Terantuk meja saat sedang berjalan." Aksa menyela dengan memberikan contoh. "Tulang kering, lengan, dan semua persendian itu rawan. Geser sedikit saja sakitnya minta ampun."
"Ya, seperti yang dikatakan Aksa." Nata kembali mengambil alih pembicaraan. "Lalu bagaimana dengan bagian lainnya? Apa bagian seperti pundak, perut, leher itu tidak akan kita lindungi? Jawabannya tidak dan iya. Kita tidak akan memasang apapun dalam bentuk apapun di bagian-bagian tadi. Tapi sebagai gantinya kita akan mengajarkan mereka cara untuk bertahan dan memperkecil resiko luka bila memang, 'sial'nya, terkena serangan yang tidak mereka duga." Nata menjedah ucapannya untuk mengambil nafas. "Namun selama itu bukan tembakan senapan dari belakang, saya percaya mereka pasti bisa menanganinya."
"Apa cara memperkecil resiko luka itu termasuk latihan cara jatuh dan merangkak?" Jean bertanya, yang hanya dijawab Nata dengan anggukan kepala.
"Jadi kau berharap banyak pada kemampuan mereka?" Lucia bertanya dengan tatapan menilai ke arah Nata.
"Setidaknya saya percaya dengan rencana saya sendiri, Yang Mulia," jawab Nata seraya membalas tatapan Lucia dengan wajah penuh percaya diri. "Dan lagi para penenun suku Tempest telah berhasil membuat kain dari serat logam Dracz dan surai Binatang Mistik Falofnir dari penangkaran tuan Selene. Jadi bila hanya menahan tebasan dan tusukan dari pedang biasa sih, seragam ini masih bisa mengatasinya," tambahnya seraya menyentuh seragam yang dikenakan boneka kayu itu.
"Benar, Yang Mulia. Kemungkinan besar para prajurit itu akan sering telungkup dan merangkak. Jadi akan susah untuk melihat ke depan dalam posisi tersebut bila bagian belakang pelindung kepala ini terlalu panjang menutupi tengkuk." Nata menjawab.
"Lagi pula helm gaya Sparta itu membatasi pandangan dan juga gerak kepala. Membuat penggunanya sulit untuk mengamati sekitar." Aksa kembali menyahut dengan tambahan penjelasan.
"Solusi lain untuk melindungi diri saat terjadi serangan tidak terduga dari belakang, disamping koordinasi dan pergerakan secara berkelompok adalah, dengan memasang plat tipis di bagian atas ransel mereka'," ucap Nata memberikan pilihan solusi yang lain.
"Apa itu ransel?" Lucia belum mengenal istilah itu.
"Oh, maaf. Maksud saya tas punggung yang itu." Nata menunjuk ke sebuah tas berwarna hitam yang sepintas terlihat umum itu.
__ADS_1
"Tas punggung?"
"Ya, tas ini juga bagian dari seragam prajurit."
"Prajurit-prajurit itu akan membawa tas punggung?" Lucia terdengar terkejut, tak ubahnya yang lain.
"Apa kau mau membuat prajurit-prajurit itu menjadi porter keperluan mereka sendiri?" Kali ini Jean yang terlihat tidak percaya.
"Benar. Karena konsepnya, mereka adalah prajurit yang mandiri. Jadi tas itu nantinya akan berisi peralatan medis, maksud saya perlengkapan untuk menangani luka dan juga obat-obatan," jelas Nata. "Ditambah dengan alat komunikasi yang seperti telephone kemarin, dan juga ransum makanan dan air," tambahnya kemudian.
"Apakah tidak berlebihan untuk prajurit membawa hal-hal seperti itu?" Lucia mempertanyakan rencana Nata.
"Seperti sedang berpiknik, kan? Kubilang juga apa, Nat," celetuk Aksa yang tidak dihiraukan oleh yang lain.
"Tidak di setiap tugas mereka akan membawa barang-barang tersebut. Namun nantinya, mereka akan sering melakukan tugas hingga berhari-hari lamanya," jawab Nata.
"Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu, dan apa rencana yang akan kau buat, Nat. Tapi aku tetap tidak bisa membayangkan prajurit menjalankan tugas selama berhari-hari. Apa tugas mereka bukan untuk berperang? Karena perang apa yang sampai memakan waktu hingga berhari-hari lamanya?" Lucia kembali bertaya.
"Bila yang Yang Mulia maksud sebagai perang adalah pertarungan secara langsung antar prajurit, atau menyerang sebuah benteng, berarti anggapan Yang Mulia salah. Mereka malah akan menghindari pertarungan yang seperti itu." Nata menjawab. "Dan oleh karena hal tersebut tadi, mereka akan memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk menyelesaikan tugas mereka," tambahnya.
"Jadi maksud Anda seperti melakukan sabotase?" tanya Caspian memastikan.
"Bisa dibilang seperti itu," jawab Nata dengan nada sedikit menimbang-nimbang.
"Hm... Jadi kita tidak bisa benar-benar bergantung pada prajurit baru itu, berarti. Kita tetap harus memperkuat pasukan lama kita untuk melakukan penyerangan." Lucia terlihat seperti sedang bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ya... lebih amannya bila Yang Mulia Ratu berpikir seperti itu. Meski nantinya prajurit-prajurit baru itu yang akan menentukan jalannya peperangan." Nata menanggapi.
-