Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
22. Penyergapan Lawan III


__ADS_3

"Apa itu sebuah kapal?" ucap seorang kesatria Augra tidak percaya dari balik teropong di mulut lembah.


"Kapal melayang di udara?" sahut kesatria yang lain yang juga sama tidak percayanya dengan apa yang ia lihat.


"Apapun benda itu, yang jelas bukanlah seekor burung." Kali ini sang Jendral yang berucap. Tampak ia juga sedang mengamati benda melayang itu melalui teropong. "Jatuhkan benda itu, Lanar," perintahnya kemudian setelah menurunkan teropong dari hadapananya.


Dan tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab, kembali kesatria perempuan itu mengangkat busurnya dan mulai membidik.


Sementara di atas Berunda, para prajurit Yllgarian dan penyihr mulai terlihat sibuk dan bersiap di geladak kedua. Sedang para awak kapal mulai sibuk memeriksa kerusakan yang diterima kapal tersebut.


"Para penyihir sudah siap membuat sihir pelindung." Terdengar suara melapor dari balik corong besi di sebelah roda kemudi di dalam anjungan.


"Percumah saja. Panah Epirus tetap akan menembusnya." Val menyanggah.


"Benar. Kita perlu Sihir Pelindung berlapis. Atau setidaknya buatan sebuah Formasi Sihir untuk menahan serangan Senjata Mistik itu." Solas ikut membagikan pendapatnya.


"Tak ku sangka Epirus berada di tangan manusia." Ymone terlihat menggeleng pelan menatap ke arah Val.


"Aku yakin meninggalkannya dengan aman di pemukiman Yllgarian di ujung barat dua ratus tahun yang lalu." Val memberi penjelasan seolah sedang membela diri.


"Apa senjata itu termasuk dalam tier dewa seperti Oboros atau Vajra? Bagaimana kekuatannya?" Aksa tampak penasaran sekaligus bersemangat.


"Kekuatan serangan sihir Epirus adalah berbanding lurus dengan jarak sasarannya." Val menjawab.


"Wow, itu briliant. Bagaimana kau bisa mendapat ide membuat senjata seperti itu?" balas Aksa dengan nada sarkas.


"Tapi saat ini aku benci mengakui bahwa kau memang pembuat senjata yang hebat, Val," imbuh Nata.


"Apa kau tidak bisa mematikan senjata itu dengan semacam sihir EMP Aliran Jiwa seperti waktu itu, Val?" Aksa kembali bertanya dengan penuh harapan.


"Terlalu jauh, dan akan memakan waktu lama untuk menggunakan sihir itu," jawab Val menghancurkan harapan Aksa.


"Bagaimana dengan senjata anti senjata itu? Kau pasti membuat senjata tandingannya, kan?" Aksa tampak belum menyerah dalam mencari jalan keluar untuk situasinya saat ini.


"Ya, Oshun. Tapi perisai itu tidak ada di tanganku sekarang." Dan sekali lagi Val mematahkan harapan Aksa.


"Apa kau memang suka membuat sesuatu lalu meninggalkannya begitu saja di suatu tempat, Val?" ucap Aksa kesal.


Dan belum Val sempat membalas, suara teriakan salah satu prajurit Yllgarian memotong percakapan mereka.


"Serangan datang lagi. Bersiap!"


Para penyihir sudah mulai membuat Sihir Pelindung dari balik dinding lambung bagian dalam, di lantai kedua tepat di bawah geladak atas. Dan hanya mengandalkan jendela kecil untuk memastikan posisi sihir mereka di luar kapal.

__ADS_1


Hal itu dilakukan agar mereka tetap aman dari sambaran kilat di geladak atas.


Namun meskipun begitu beberapa panah jingga itu tetap berhasil menghujani sisi kapal. Mengoyak Sihir Pelindung yang terpasang di depan dinding lambung dengan sangat mudah, dan meninggalkan bekas lubang yang cukup besar.


"Kalau begini, lama-lama mereka akan mengincar balonnya. Kita harus naik untuk menghindar." Aksa terlihat semakin kuatir.


"Bukan, bukan naik," sergah Nata. "Tapi maju," tambahnya kemudian.


"Apa kau sudah..." Aksa menghentikan ucapannya saat menatap Nata yang sedang tersenyum. "Oh, benar juga,'" lanjutnya ketika ia baru saja mengerti maksud dari ucapan sahabatnya itu.


"Kalian yakin?" Kali ini Morgana yang bertanya kuatir.


"Cara untuk menghadapi Epirus memang dengan memperpendek jarak." Val membenarkan keputusan yang diambil Nata.


"Tapi, itu berarti kita akan menerima serangan mereka secara langsung."


"Meski mungkin tidak banyak membantu, tapi kita akan mengerahkan para penyihir untuk membuat Sihir Pelindung secara berlapis di bagian depan kapal. Tehnik yang dulu pernah digunakan oleh pasukan Urbar untuk menghadapi tembakan harpun." Nata mencoba memberi penjelasan akan rencananya. "Ya, setidaknya itu akan memberi kita sedikit perlindungan dalam memperpendek jarak," tambahnya lagi.


"Lagi pula bila kita mengarahkan kapal ke depan, berarti hanya bagian kecil saja yang perlu kita lindungi." Aksa ikut memberikan tanggapannya.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi?!" seru Murrel kemudian.


Dan setelah menerima perintah dan arahan dari Nata, dengan cekatan Nakhoda segera memutar posisi Kapal Udara tersebut, dan mulai menjalankan baling-baling pendorongnya dengan lebih cepat. Sementara para penyihir di geladak kedua mulai merapal untuk membuat sihir pelindung berlapis.


.


"Kurasa mereka sudah tahu tentang Epirus." Lanar tampak tersenyum kecil menatap sosok Kapal Udara yang terlihat mungil karena posisi itu. "Mendekat dengan memasang pelindung berlapis di bagian depan? Mudah ditebak," ucapnya kemudian.


Dan setelah kembali menarik busurnya, kesatria perempuan itu mulai merapal sesuatu.


Kini sinar jingga dari anak panah sihirnya mulai terlihat semakin terang bersinar. Bersamaan dengan itu ukurannya juga bertambah semakin besar.


Dan ketika dirasa cukup, Lanar segera melepaskan anak panah sihir tersebut ke arah Kapal Udara yang tengah mendekat dengan cukup cepat itu.


Yang kemudian secara tiba-tiba anak panah sihir tadi terpecah menjadi ratusan anak panah serupa saat berada di udara. Meski masih melaju secara bergerombol menuju sasarannya.


.


"Bersiap, serangan datang lagi. Dan kali ini tampaknya cukup kuat," ucap Murrel saat melihat kumpulan cahaya jingga di antara langit gelap di hadapannya.


"Apa kau bercanda? Apa itu misil sihir?" Aksa tampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Sihir Pelindung tak akan bisa menahan serangan yang kali ini."

__ADS_1


"Tak kusangka kita akan berada dalam bahaya sekarang. Melihat bahwa kita berada jauh dari medan peperangan." Yvvone terlihat menggeleng dengan raut sedikit kecewa.


"Apa kalian para Elf tidak punya rasa takut dan kuatir? Cepat lakukan sesuatu sebelum misil sihir itu menghantam kita." Aksa sudah terlihat sangat panik dan takut.


Namun sebelum yang lain sempat bertindak, dengan cekatan Lily melompat keluar dari Anjungan. Bergerak gesit menghindari kilatan listrik dari Tesla Coil, dan menuju ke ujung haluan.


Kemudian tanpa ragu kelinci mungil itu melompat maju dari ujung haluan dengan tongkat sihir terarah ke depan. Terlihat lingkaran sihir berwarna putih terang mulai terbentuk di ujung tongkat sihirnya. Sebelum kemudian mengeluarkan cahaya putih berkilauan yang terlihat seperti sebuah pilar marmer dari kuil Gadis Suci.


Sihir cahaya itu sengaja ditembakan oleh Lily untuk menghadang serangan anak panah sihir yang mengarah ke Kapal Udara tersebut.


Dan berhasil, kedua sihir itu meledak di angkasa ketika saling beradu. Yang membuat suara ledakan yang dasyat hingga mengguncang kedua sisi tebing. Mengejutkan semua orang yang berada di bawahnya.


Tekanan udara karena ledakan tersebut mendorong tubuh mungil Lily kembali ke atas geladak. Terlihat gadis kelinci itu berguling beberapa kali sebelum kemudian kembali berdiri dalam posisinya bersiap.


Menyadari hal tersebut, Aksa segera meraih saklar generator listrik di ujung ruangan untuk mematikan Tesla Coil. Agar listrik tidak menyambar Lily yang tengah berdiri di dekatnya.


"Oh, itu tadi nyaris sekali."


"Yvvone, demi kebaikan bersama, tolong gunakan sihir angin milik mu dan kakakmu untuk mendorong kapal ini agar bergerak lebih cepat lagi." Nata segera bertidak cepat untuk mengatasi situasi mereka saat ini.


"Ya, kurasa itu ide yang bagus. Ayo, Ymone, Ares," ucap Yvvone mengajak kakak dan kakak iparnya sebelum kemudian berlari keluar dari ruang anjungan.


"Aku bantu," ucap Talos mengikuti Yvvone keluar. Yang kemudian diekor oleh Solas di belakangnya.


-


"Tak kusangka aku akan menyaksikan ledakan sihir seperti itu," ujar Wedge yang sudah berdiri dan mengambil kembali senjatanya yang sempat terlepas saat ia terdorong oleh tekanan udara dari ledakan sihir Lily sebelumnya.


"Ya, aku juga tidak menyangka akan melihat kekuatan Sihir Cahaya dalam skala seperti tadi," balas Helen yang juga sudah kembali memasang kuda-kudanya, meski tampak beberapa pasukan lawan masih belum semuanya berdiri dari sapuan angin hasil dari ledakan sebelumnya.


Helen, Wedge, dan beberapa anggota dari Pasukan Elit, juga beberapa prajurit Augra, sempat terhempas karena berada tak jauh di bawah ledakan Sihir Cahaya tersebut.


"Baiklah, kalau begitu. Kurasa sudah saatnya kita menyelesaikan peperangan ini. Sebelum semuanya bertambah parah," ucap Wedge kemudian memberi ide. Tangannya kembali menggenggam erat-erat pegangan senjatanya.


"Kau benar. Dengan terbongkarnya wujud Berunda saat ini, kemungkinan semangat juang lawan akan bertambah. Kita harus segera mengakhiri perang ini." Helen setuju dengan usulan Wedge.


Kemudian dengan cepat kesatria perempuan itu memutar pandangannya mengamati situasi sekitar, sebelum mulai berteriak dengan lantang.


"Dengar Pasukan Rhapsodia! Kilat Putih ada bersama kita sekarang. Kemenangan ada di pihak kita. Jadi, kerahkan kekuatan kalian untuk memukul mundur pasukan lawan!"


Dan ucapan Helen tersebut dibalas dengan gemuruh teriakan dari Pasukan Rhapsodia yang mulai kembali menekan mundur Pasukan Augra.


-

__ADS_1


__ADS_2