
"Lewat sini, Yang Mulia."
Seorang prajurit memberikan arahan kepada Lugwin yang tengah berlari dengan tergopoh menyusuri lorong lusuh berdinding batu usang dengan cahaya redup.
"Siapa disana?" Tiba-tiba terdengar suara dari salah satu lorong di persimpangan depan.
"Hans? kau kah itu?"Tampaknya Lugwin mengenali suara tersebut.
"Yang Mulia?!" Tiba-tiba terdengar suara lain berseru dari arah belakang Lugwin.
"Paman Matiu?" Lugwin juga mengenali suara itu. "Piere?" ucapnya setelah tampak Piere muncul dari naungan bayang-bayang bersama Matiu dan 2 orang prajurit.
"Syukurlah Yang Mulia selamat," Terlihat kelegaan dalam wajah letih Matiu saat mendapati Lugwin.
"Syukurlah semua selamat." Kali ini Hans yang terlihat mendekat dari arah yang berlawanan.
"Kalau begitu ayo, kita harus segera pergi dari tempat ini. Kita tidak punya banyak waktu," ajaknya kemudian.
"Benar, ayo." Lugwin menyetujuinya.
Lugwin terpaksa harus melarikan diri dari komplek istana melalui jaringan lorong rahasia karena serangan mendadak dari pasukan lawan berhasil menembus pertahanan benteng Kotaraja.
Saat ini prioritas Lugwin dan sisa dari para pengikutnya adalah menyelamatkan diri terlebih dahulu. Sebelum kemudian mengatur ulang kekuatan dan membuat rencana untuk serangan balasan.
.
Tak lama kemudian rombongan Lugwin pun berhasil keluar dari jaringan lorong rahasia. Mereka kini berada di pinggiran timur Kotaraja.
Namun tampaknya mereka masih belum terlepas dari bahaya. Terlihat puluhan prajurit berjajar menghadang tepat di depan pintu keluar lorong rahasia tersebut.
Merespon hal itu dengan cepat Hans dan 3 prajurit yang lain menarik pedang mereka dan segera memasang kuda-kuda bertarung.
Lugwin sadar bahwa kesatria terlatih pun tidak akan menang melawan puluhan prajurit seorang diri. Atau hanya dengan berempat saja. Namun mereka tidak memiliki pilihan lain selain bertarung.
"Pasukan, serang!" Kepala pasukan lawan berteriak memberikan perintah. "Bunuh perempuan itu!"
"Lindungi Yang Mulia!" seru Hans memerintah 3 prajurit lainnya.
Dan nyaris bersamaan puluhan prajurit dengan lambang seperti siluet pohon berwarna biru muda di pelindung dada mereka, bergerak maju dengan cepat.
Jelas pertarungan tidak seimbang itu tidak akan bertahan lama.
Dan benar saja. Baru sebentar bentrokan terjadi, dua dari tiga prajurit Lugwin sudah tewas oleh tebasan pedang lawan. Sedang yang satu tampak terdesak mundur dengan luka yang cukup fatal.
Hanya Hans yang mampu bertahan meski tampak kualahan.
Dan karenanya, kini Lugwin beserta beberapa orang yang tidak memiliki kemampuan bertarung pun mulai terancam. Sisa prajurit lawan yang berhasil melewati Hans sudah bersiap mengayunkan pedang ke arah Lugwin.
"Tak akan kubiarkan semua berakhir seperti ini," sahut Lugwin seraya mengarahkan pedang yang sedari tadi ia genggam ke lawan di hadapannya. Terlihat tak segan memotong semua yang berani melangkah maju mendekatinya.
Namun semangat Lugwin itu tidak mengintimidasi para prajurit lawan. Mereka tanpa gentar melompat maju sambil menebaskan pedangnya ke arah Lugwin.
Namun secara tiba-tiba melesat cepat dari dalam lorong jalan rahasia, sesosok putih yang kemudian menangkis tebasan pedang yang diarahkan pada Lugwin.
__ADS_1
Semua orang terkejut dengan kejadian tersebut. Terlebih saat mendapati sesosok itu adalah Yllgarian kelinci dengan topi kerucut seorang penyihir, yang mereka kenal sebagai legenda perang.
"Nona Lily?!"
Dan sebelum yang lain sempat bereaksi, kelinci mungil itu mulai merapal sesuatu dan mengarahkan tongkat sihirnya ke depan. Ke arah prajurit lawan berada.
Dan bersama dengan kilatan-kilatan yang menyilaukan, puluhan cahaya putih keluar dari ujung tongkat sihir tersebut, meluncur cepat menghantam para prajurit lawan secara sekaligus dan nyaris bersamaan.
Kemudian terdengar suara tapak orang berlari dari dalam lorong. Dan terlihat Nata dan Val keluar setelah Lily sudah berhasil menjatuhkan semua prajurit lawan tanpa sisa.
"Untunglah kita belum terlambat," ucap Nata tampak lega setelah mengetahui situasinya.
"Tuan Nata?"
"Tidak aman berada disini, bagaimana kalau kita ke tempat yang lebih aman terlebih dahulu," sahut Nata memberi saran.
"Benar. Ayo ikuti saya." Hans menyahut setuju.
Dan mereka ber tujuh pun segera bergegas meninggalkan tempat itu.
-
Mereka bersembunyi di salah satu Rumah Persembunyian yang dibangun di dalam hutan di sekitar pintu lorong rahasia tadi.
Sebuah rumah kayu sederhana yang memiliki ruang tersembunyi di bawah tanahnya.
.
"Tidak saya sangka anda sekalian akan datang kemari," ucap Piere yang terlihat tidak percaya sekaligus bersyukur.
"Benar. Terlebih lagi muncul dari dalam lorong rahasia," susul Hans yang terlihat tidak percaya.
"Itu karena ini." Nata mengeluarkan Telepon Sihir dari dalam tas punggungnya.
"Oh, bukankah itu Telepon Sihir ku?" Lugwin mengambil alat komunikasi sihir tersebut dari Nata.
"Saya menemukannya di dalam lorong." Nata menjelaskan.
"Apa benda ini terjatuh saat aku sedang berlari tadi?" Lugwin terlihat sedih dan sedikit menyesal melihat beberapa goresan pada benda sihir berharganya itu.
"Saya meminta Aksa untuk melacak keberadaan Telepon Sihir tersebut dan melakukan pemindahan menggunakan Batu Arcane yang dirancang khusus oleh nona Yvvone." Nata kembali memberikan informasi.
"Tuan Aksa? Itu berarti anda kemari dari Hutan Azuar?" Piere menyahut. Ia kembali terkejut.
"Benar."
"Kalian sampai melakukan hal seperti itu?"
"Tapi jangan salah sangka. Kami memberikan Telepon Sihir ini bukan bermaksud untuk memantau keberadaan Yang Mulia. Ini hanya karena sedang dalam situasi genting saja." Nata buru-buru menjelaskan sebelum Lugwin mungkin merasa tak nyaman karena merasa dimata-matai.
"Dan anda masih memikirkan tentang hal itu? Anda berdua memang benar-benar orang baik," balas Lugwin dengan senyum lembut ciri khasnya.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Karena anda, untuk kesekian kalinya telah menyelamatkan nyawa kami," lanjut perempuan itu kemudian.
__ADS_1
"Tak perlu merasa sungkan. Karena saya berpikir saya bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa bila saya berhasil menyelamatkan Yang Mulia." Nata menjawab ucapan terima kasih Lugwin.
"Itu ucapan yang sangat berlebih. Tapi saya akan coba untuk memenuhi harapan itu," balas sang Arcdux yang mulai terlihat kembali bersemangat.
"Baiklah kalau begitu. Untuk sekarang apa yang akan Yang Mulia lakukan?" Nata bertanya.
Dan mereka pun mulai membahas tentang rencana Lugwin selanjutnya.
-
Sehari setelahnya, nyaris dua ribu pasukan Bruixeria yang berada di perbatasan bergerak menuju Kotaraja Kerajaan Estrinx untuk menduduki Istana.
Sementara Lugwin masih berusaha untuk kembali menyusun pasukannya yang sempat terpencar karena kejadian sebelumnya.
-
Bersamaan dengan itu di Gerbang Utara wilayah Rhapsodia, terlihat 200 prajurit dengan 80 Kereta Penghancur pimpinan Vossler berjajar siap untuk bergerak.
Sedang regu khusus bentukan Caspian yang beranggotakan 25 prajurit dari berbagai ras, yang dipilih berdasarkan kemampuan mereka, juga telah bersiap di sekitaran pelabuhan Mado. Menunggu perintah untuk bergerak.
.
"Menurut informasi dari jaringan mata-mata Estrinx, saat ini kekuatan besar Bruixeria sedang berarak menuju Kotaraja." Nata membuka percakapannya dengan Lucia melalui Telepon Sihir tepat setelah ia mendapatkan informasi tersebut.
"Dan menurut saya inilah kesempatan kita untuk mulai bergerak Yang Mulia," lanjutnya kemudian.
"Kau ini. Apa hanya itu pembicaraan yang penting buatmu?" Lucia mengeluh.
"Vossler dengan pasukan utama sudah bersiap di Gerbang Utara sekarang ini. Dan regu khusus pimpinan Caspian juga telah bersiap di pelabuhan Mado," ucap pemimpin muda itu kemudian ganti membagikan informasi.
"Berarti kita bisa mulai mengambil alih setidaknya wilayah yang memiliki kemungkinan besar untuk memihak kita, Yang Mulia," ucap Nata menanggapi.
"Seperti Lembah Kabut, bekas wilayah milik tuan Cornelius, kota Albas, sampai kota Esta di timur laut. Tempat-tempat itu punya hubungan baik dengan kita. Jadi saya rasa akan lebih baik bila kita mengambil alih wilayah-wilayah tersebut," lanjut pemuda itu memberikan usulan.
"Ya, aku juga sempat berpikir seperti itu. Wilayah keluarga Bartholomew itu cukup dekat dengan dinding perbukitan utara. Disamping untuk memastikan pasukan Sefier tidak menggunakan jalur tersebut untuk menyerang Wilayah Pusat, kita juga dapat mengawasi pergerakan pasukannya di pesisir barat," ujar Lucia panjang lebar. Tampak sependapat dengan usulan Nata.
"Benar. Dan wilayah timur laut seperti Kota Esta, kampung halaman pengerajin Bintang Timur itu, akan mempermudahkan kita untuk melakukan serangan gabungan bersama pasukan Estrinx bila kita berhasil menguasainya." Nata menambahi.
"Ya, aku akan menugaskan regu pimpinan Caspian untuk menduduki wilayah itu. Tapi sebelum itu, bagaimana keadaan Lugwin sekarang?" balas Lucia yang disabung dengan pertanyaan. Ia merasa kuatir terhadap sahabatnya itu.
"Oh, maafkan saya terlalu fokus dengan rencana penyerangan ini. Saat ini Arcdux Lugwin sedang berusaha menghubungi kembali para pengikutnya yang sempat terpisah. Beliau baik-baik saja. Dan rencananya beliau akan bergerak ke selatan dan membangun markas baru di sekitaran wilayah perbatasan." Nata bercerita.
"Syukurlah kalau memang begitu. Kau juga berhati-hatilah, Nat. Kabari aku lagi bila ada hal penting lainnya. Aku akan mulai memerintahkan pasukan untuk bergerak," ucap Lucia yang terdengar lebih lega.
"Baik Yang Mulia, akan saya lakukan," balas Nata kemudian.
-
Dan di hari yang sama di saat kerajaan Bruixeria menggerakan pasukannya untuk mengambil alih pusat pemerintahan kerajaan Estrinx, pasukan Rhapsodia mulai bergerak mengambil alih bagian selatan dari wilayah lama Kerajaan Elbrasta.
-
Kelak kejadian ini akan dikenal dengan sebutan 'Deklarasi Perang Suci'. Kejadian pemicu sebuah perang besar di daratan utara, yang juga landasan terbentuknya sebuah kekaisar agung. Kekaisaran Rhapsodia.
__ADS_1
-