Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
30. Project Sihir III


__ADS_3

"Itu yang kau maksud dengan peralatan perang?" tanya Symmré mencoba menyembunyikan rasa kagumnya melihat benda melayang tersebut.


"Benar alat transportasi udara. Aku menyebutnya Airship. Hanya saja hasil akhirnya nanti akan jauh lebih besar dari yang ini. Mungkin untuk kapasitas seribu prajurit?" Aksa menjawab.


"Tapi bukankah itu juga bisa kita gunakan sebagai alat angkut biasa? Kenapa kau mengolongkannya dalam peralatan perang?" Kali ini Tama yang bertanya.


"Karena benda itu juga memiliki perlengkapan untuk melakukan serangan," jawab Aksa tanpa beban.


"Kereta terbang itu dilengkapi dengan senjata?" Xorzio yang kali ini bertanya.


"Benar. Tapi bukan seperti senjata pada umumnya. Mungkin bisa disebut sebagai Peralatan Pengacau ketimbang sebuah senjata," timpal Nata mencoba menjelaskan ucapan dari sahabatnya tadi.


"Peralatan Pengacau?" Xorzio masih belum mengerti dengan ucapan pemuda itu.


"Ya, karena kemampuan alat itu adalah mengacaukan Aliran Jiwa," lanjut Nata menjawab.


"Mengacaukan Aliran Jiwa?" tanya Xorzio terlihat lebih kebingungan.


"Jadi begini." Aksa mencoba mengambil alih.


"Bersamaan dengan Airship itu, aku juga mengembangkan sebuah meriam yang memiliki fungsi sebaliknya. Aku menyebutnya Nega-Cannon," ucapnya kemudian mencoba untuk memberi penjelasan.


"Apa maksudmu 'memiliki fungsi yang sebaliknya' itu?" Terlihat Xorzio tidak terbantu sama sekali meski sekarang Aksa yang melakukan penjelasan.


"Ya, seperti yang anda dengar. Nega-Cannon. Singkatan dari Negative Cannon," balas Aksa yang tidak membuatnya menjadi lebih jelas.


"Karena meriam yang menembakan energi dari Aliran Jiwa itu terlalu ketinggalan jaman dan ga keren buat utusan dewa sepertiku. Jadi kuciptakanlah meriam yang akan menghilangkan semua Aliran Jiwa dalam laju jalurnya," lanjutnya sambil kembali berlagak di depan banyak orang.


"Menghilangkan Aliran Jiwa?"


Kali ini pemimpin Elf lain yang bertanya hampir bersamaan karena merasa tertarik.


"Benar. Fitur ini terinspirasi dari kemampuan menyegel Aliran Jiwa yang dimiliki Val." Aksa menjawab. "Hanya saja aku sempurnakan lagi agar bisa diarahkan, dan tidak perlu repot-repot berdiri diam lama dulu buat mengeluarkannya," lanjutnya kemudian.


"Dan meskipun alat ini dapat mematikan puluhan senjata mistik, membungkam puluhan pengguna Aliran Jiwa tanpa disadari, karena tidak terlihat dan tidak terdengar, tapi tetap aman untuk mahluk hidup." Nata menyambung penjelasan.


"Apa hal itu mungkin untuk dilakukan?" Tama terdengar sangsi.


"Bagaimana? Ingin mencobanya?" tanya Aksa tiba-tiba.


"Mencoba apa?" Pemimpin Marga Vaelum itu terkejut dengan pertanyaan pemuda itu.


"Nona Luque, coba tembakan Nega-Cannon nya kemari." Aksa meminta kepada Luque yang masih melayang dalam gerbong bernama Airship itu tanpa memperdulikan ucapan Tama.


"Baik!" seru Luque sambil mengangkat ibu jarinya ke arah Aksa pertanda ia paham.


Kemudian terlihat benda dengan bentuk seperti kuali penggorengan yang menempel pada sebuah tongkat besi di bagian bawah kereta melayang itu mulai bergerak menghadap ke arah para pemimpin Elf berada.


Dan tiba-tiba saja para pemimpin Elf terlihat seperti terkejut sendiri tanpa alasan atau penyebab.

__ADS_1


"Apa yang baru saja tadi?" Symmré bertanya terlihat kebingungan.


"Apa anda sekalian merasakannya?  Itu dampak dari Nega-Cannon." Aksa berucap.


"Memang sesaat tadi Aliran Jiwa di sekitar jadi terasa samar sebelum kemudian muncul kembali dan menjadi kacau." Xorzio berucap.


"Nega-Cannon itu juga dapat digunakan untuk membatalkan atau melubangi sihir pelindung yang tidak dapat diserang dengan serangan fisik maupun sihir." Nata menambahi.


"Mengerikan sekali bila senjata itu sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab." Symmré terlihat ketakutan dengan bayangannya sendiri.


"Karena itulah seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kita perlu membicarakan tentang hal-hal sepeti, bagaimana nasib meriam itu setelah perang selesai, atau apa yang harus dihilangkan agar kereta terbang itu bisa kita gunakan secara umum, bersama dengan perwakilan semua kaum." Nata merespon.


"Kurasa kita memang harus melakukannya," ucap Rene yang terdengar seperti sedang bergumam.


"Oh, dan masih ada satu lagi peralatan yang masih dalam proses perancangan." Aksa berucap.


"Masih ada lagi?"


"Ya. Kami belum membuatnya. Jadi tenang saja." Aksa menjawab tanpa beban.


"Dan peralatan apa lagi itu? Apa kemampuannya?" Symmré bertanya kembali terlihat kuatir.


"Itu adalah gerbang teleportasi." Aksa menjawab.


"Gerbang teleportasi?" Kini rombongan Yvvone yang terdengar kebingungan.


"Itu yang sihir pemindah. Masak kalian tidak tahu?" balas Aksa seolah itu adalah hal yang umum diketahui semua orang.


"Kau tidak mengetahui tentang hal ini, Von?" Xorzio bertanya.


"Tidak pemimpin. Aku juga baru mendengarnya sekarang," jawab Yvvone.


"Ya karena baru semalam kami membicarakan dan merancangnya." Aksa menjawab.


"Kalian baru merancangnya semalam?" Solas bertanya. Wajahnya terlihat sangsi namun juga terlihat kagum secara bersamaan.


"Dan seperti apa Gerbang Teleportasi itu? Apa yang membedakannya dari Kristal Marga Aeron bila konsepnya sama," lanjut Elf Marga Rhafie itu terlihat sangat penasaran.


"Seperti namanya, bentuknya adalah sebuah gerbang ysng dibangun secara permanen." Aksa menjawab.


"Permanen?" Kali ini Yvvone yang bertanya.


"Ya, jadi dapat dibuka kapanpun kita mau, dan tidak perlu dibuat ulang karena tidak perlu dibanting seperti ketidak efisienan Kristal Arcane." Aksa kembali menjawab.


"Ketidak efektifan?" Xorzio merasa tersinggung mendengar ucapan Aksa tersebut.


"Dan juga bisa digunakan untuk memindahkan puluhan bahkan ratusan orang disaat yang hampir bersamaan," lanjut pemuda itu tidak memperdulikan sekitarnya.


"Sebentar? Kau berencana membuat sihir pemindah yang dapat dibuka dan ditutup sekehendak hati tanpa memperdulikan durasi aktifnya?" Xorzio kembali terpancing dengan ucapan Aksa tersebut.

__ADS_1


"Benar," jawab pemuda itu santai.


"Apa kau sudah memahami cara kerja Formasi Sihir dari Sihir Pemindah?" Xorzio bertanya memastikan.


"Ya, sudah." Aksa mengangguk.


"Berarti kau pasti juga tahu bahwa hal itu mustahil dilakukan, karena tidak ada mahluk hidup yang akan selamat begitu mengaktifkannya, kan?" tanya pemimpin Marga Aeron itu kembali memastikan.


"Ya. Aku juga sudah mengetahui tentang hal tersebut. Karenanya aku akan membuat gerbang yang tidak memerlukan mahluk hidup sebagai pengaktifnya." Aksa kembali menjawab.


"Apa hal itu mungkin?" Xorzio terlihat semakin sangsi mendengar jawaban dari Aksa yang terkesan seperti sedang mengada-ngada.


"Ya, 'Mungkin' adalah hasil dari pekerjaanku. Aku akan membuat 'mungkin' hal yang tidak mungkin," sombong Aksa sambil sengaja membusungkan dadanya.


"Sudah berhentilah berkata omong kosong. Sekarang beri tahu bagaimana cara kerjanya?" Kali ini Yvvone yang menyahut terlihat lelah menanggapi lelucon garing pemuda itu.


"Dengan membuat penanda pada tujuannya." Aksa menjawab meski dengan wajah yang terlihat tidak terima atas ucapan Yvvone barusan.


Semua orang masih diam menanti penjelasan lebih lanjut dari pemuda itu.


"Sebenarnya gerang itu nantinya tidak akan diisi dengan Formasi Sihir yang murni untuk mengaktifkan Sihir Pemindah seperti pada Kristal Arcane." Aksa lanjut menjelaskan.


"Akan ada Formasi Sihir aktif yang secara terus menerus mengumpulkan Aliran Jiwa agar pintu masuk dari Sihir Pemindah tetap terjaga saat gerbang dibuka.


"Kemudian ditambah juga dengan Formasi Sihir untuk Sihir Penanda yang terhubung dengan sebuah alat yang berfungsi sebagai penentu tujuan dari pintu keluar Sihir Pemindahnya."


Aksa menutup penjelasan tekniknya.


"Berarti gerbang itu nantinya tidak akan menggunakan kristal Arcane?" Ymmone bertanya memastikan.


"Masih tetap menggunakan kristal Arcane, hanya saja tidak perlu dipecahkah seperti sebelumnya." Aksa menjawab.


"Gerbang itu bisa merubah tatanan kehidupan di seluruh daratan Elder," ucap Moor setelah memahami dampak dari alat yang akan dibuat oleh Aksa dan Nata itu.


"Ya, saya tahu ini juga akan jadi penemuan yang berpotensi merusak keseimbangan dan ekosistem daratan Elder ini. Dan karenanya gerbang ini juga akan kita bicarakan nasib kedepannya dalam pertemuan dengan para perwakilan kaum," ucap Nata kemudian.


"Karena menurut saya bila digunakan dengan aturan dan batasan tertentu, teknologi ini akan sangat membantu penduduk daratan ini," lanjutnya menambahi.


"Ya. Aku mengerti apa maksudmu." Xorzio menjawab. Tampak sependapat dengan Nata. Begitu pula para pemimpin Elf lainnya.


"Sepertinya kita harus mendiskusikan hal ini terlebih dahulu. Disamping kita juga akan membentuk aliansi dengan para Yllgarian dari Hutan Tua." Moor berucap. Yang tampaknya di setujui oleh pemimpin marga yang lain.


"Ya, saya mengerti. Kami akan menunggu jawaban dari anda sekalian. Tapi jangan kuatir, pengetahuan tentang peralatan yang sudah ditunjukan Aksa sebelum ini tetap akan kami bagikan." Nata kembali berucap.


"Baiklah kami mengerti." Moor menjawab.


"Eh, tapi tunggu dulu," ucap Yvvone tiba-tiba saat mereka hendak kembali masuk kedalam kediaman Moor.


"Ada apa, nona Yvvone?" Nata bertanya penasaran.

__ADS_1


"Bukankah kalian masih memiliki satu senjata yang bahkan aku saja tidak mengetahuinya?" Yvvone melanjutkan dengan pertanyaan.


-


__ADS_2