Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Antology Story : Yvvone


__ADS_3

Di desa pemukiman Yllgarian di tenggara Hutan Tua. Terlihat Yvvone sedang berada dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh Yllgarian, beberapa Elf, dan juga Getzja.


Mereka tampak duduk mengapit meja panjang dengan tetua desa duduk di depan meja lain di dalam balai pertemuan pemukiman tersebut.


Tampak 5 Elf duduk berjajar di samping Yvvone di salah satu sisi meja, menghadap 2 Yllgarian dan 4 Getzja. Sementara beberapa Yllgarian lain tampak duduk di belakang mereka.


"Aku yakin Grimore Svargee lah yang telah mereka curi dari perpustakaan besar di Bukit Mara," ucap pria Elf berkulit putih, berambut lurus sedagu berwarna kuning kemerahan, dengan bola mata berwarna kuning kehijauan mirip dengan warna mata Marga Aeron. Ciri fisik dari Marga Rhafie.


"Dan mengenai apakah, Grimore itu?" Pria Yllgarian berwujud manusia Elang yang duduk dihadapan Elf tadi bertanya.


"Grimore itu berisi pengetahuan tentang pergerakan bintang dan benda langit," jawab pria Marga Rhafie itu kemudian.


"Lalu, apa motivasi mereka mencuri Grimore tersebut? Apa dalam buku itu juga menuliskan tentang Alta Larma?" Kali ini ganti Yvvone yang bertanya.


"Tidak ada. Grimore itu hanya menulis tentang siklus benda-benda langit. Hanya itu saja." Pria Rhafie itu menjawab dengan yakin.


"Lalu untuk apa mereka membahayakan diri mencuri Grimore tersebut? Ini tidak masuk akal," sahut perempuan Elf yang memiliki perawakan seperti Yvvone, hanya saja terlihat lebih dewasa.


"Mana ku tahu, Ymone," jawab pria Rhafie itu dengan sedikit kesal.


"Lagi pula bagaimana mereka bisa tahu dimana Grimore itu disimpan? Bahkan keberadaan benda itu saja tidak diketahui oleh orang luar." Pria Elang tadi terlihat tidak habis pikir.


"Itu masih belum seberapa dibanding dengan bagaimana mereka bisa mengumpulkan bagian-bagian dari gelang Scion itu dalam waktu kurang dari 10 tahun." Perempuan Elf berkulit putih, berambut hitam sepanjang punggung yang kali ini angkat berbicara. Matanya yang berwarna perak, yang merupakan ciri fisik Marga Vaelum itu terlihat mengintimidasi lawan bicaranya.


"Benar sekali, dan meski aku tidak ingin mempercayainya, tapi kurasa mereka mendapatkan bantuan dari seseorang yang benar-benar memahami tentang hal-hal tersebut," ucap Yvvone mengungkapkan prasangkanya.


"Maksudmu ada Elf yang membantu mereka?" tanya si Pria Elang memastikan dugaannya.


"Benar. Aku curiga seperti itu." Yvvone menjawab sambil mengangguk pendek.


"Tapi jadi masuk akal juga melihat bagaimana mereka dapat melakukan rapalan-rapalan kuno yang beberapa bahkan hanya di ketahui oleh para tetua Marga," ucap Elf yang terlihat mirip dengan Yvvone yang dipanggil Ymone itu kemudian.

__ADS_1


"Tapi bukankah semua gelang dan permata sudah mereka dapatkan. Lalu, apa lagi yang sekarang mereka incar?" Kali ini perempuan Getzja yang duduk di sebelah pria Elang, yang bertanya.


"Terlebih lagi, apa yang hendak mereka lakukan dengan gelang-gelang Scion itu? Hal ini membuat ku merasa tidak nyaman." Terdengar pria Elang itu menambahi.


"Sebenarnya masih ada 1 permata yang belum mereka dapatkan," ucap Yvvone kemudian.


"Maksud mu yang disimpan di pemukiman Marga Azuar?" tanya perempuan Elf bermata perak memastikan.


"Benar."


"Jadi mereka berencana menyerang pemukiman Azuar? Apa kita perlu memperingatkan para Azuar tentang hal ini?" Pria Elf Marga Rhafie tadi memberikan usulan.


"Tidak perlu. Aku rasa sekarang mereka pasti juga sudah menyadari akan hal ini dan mulai bersiap-siap," jawab Yvvone kemudian. "Lalu bagaimana dengan jejak para pencuri itu sekarang ini, Mor?" tanya gadis Aeron itu kepada perempuan Yllgarian Rubah yang duduk tepat di hadapannya.


"Sepertinya mereka masih belum bergerak dari Daratan Utara. Mereka bersembunyi dengan sangat baik," jawab perempuan Rubah itu kemudian.


"Apakah kau bisa melacak keberadaan mereka di Daratan Utara sana?" Yvvone bertanya yang sekaligus adalah sebuah permintaan kepada perempuan Rubah itu.


"Serahkan semuanya pada Morgana ini," jawab perempuan Rubah yang menyebut dirinya sebagai Morgana itu sambil memukul ringan ke arah dada. "Tapi, mungkin akan sedikit memakan waktu."


"Tapi ngomong-ngomong, mengapa Nona Lilian tidak hadir di pertemuan kali ini? Apa terjadi masalah di pemukiman Yllgarian hutan Sekai?" tanya si pria Elang merubah topik pembicaraan.


"Tidak terjadi apa-apa di Hutan Sekai." Morgana menjawab. "Beberapa pekan kemarin aku mendapat kabar yang sedikit aneh dari Nona Lilian. Yang mengatakan bahwa beliau tidak akan bisa datang kemari dalam beberapa waktu kedepan, karena Tuan beliau telah... kembali?"


"Tuan Nona Lilian?" Pria Elang itu terlihat bingung.


"Entahlah, aku juga tidak tahu tentang hal itu." Morgana menjawab dengan wajah yang terlihat sama tidak mengertinya dengan pria Elang itu.


"Apa? Jadi kedua pemuda itu sudah kembali?" Kali ini giliran Yvvone yang terlihat terkejut tak percaya.


"Apa kau tahu bahwa Nona Lilian memiliki Tuan? Aku belum pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya." Morgana segera menegakan tubuhnya dengan antusias setelah mendengar ucapan Yvvone tersebut.

__ADS_1


"Benar, Nona Lily memiliki Tuan. Benda Mistik ini adalah pemberian mereka," jawab Yvvone seraya mengeluarkan Smartphone yang ia dapatkan dari Nata, dan menunjukannya pada yang lain. "Sayangnya tiga tahun yang lalu benda ini tiba-tiba saja jadi tidak bekerja," ucapnya kemudian yang terlihat lesu.


"Sebentar-sebentar. Mereka?" Morgana kembali bertanya.


"Oh, itu. Nona Lily memiliki dua Tuan. Dua pemuda Morra," jawab Yvvone lagi yang kali ini tidak hanya mengejutkan Morgana saja, tapi juga semua yang hadir dalam balai pertemuan itu.


"Morra? Maksudnya seorang Manusia?" Pertanyaan terdengar dari salah satu Yllgarian yang duduk di belakang Morgana.


"Nona Lilian bersumpah setia kepada seorang manusia?" celetukan lain kembali terdengar yang kali ini dari belakang Yvvone.


"Tapi dua pemuda itu ditunjuk langsung oleh Sang Oracle," ucap Yvvone memberikan tambahan informasi.


"Ditunjuk oleh Sang Oracle?" Pria Elang tadi terlihat lebih terkejut.


"Dan juga, mereka bukan dari dunia ini," tambah Yvvone sekali lagi.


"Bukan dari du... Sebentar-sebentar. Bagaimana bisa kau tidak menceritakan tentang hal sebesar ini pada kami semua?" Si pria Elang itu tampak tidak terima dengan tindakan Yvvone tersebut.


"Hei, Murrel. Mana aku tahu. Kupikir Nona Lily sudah bercerita kepada kalian." Yvvone menjawab dengan santai.


"Beliau tidak pernah bercerita tentang hal ini kepada kami." Pria Elang yang dipanggil Murrel itu berucap dengan wajah kecewa.


"Dan apa maksudnya dengan kembali? Apa Tuan beliau baru saja melakukan perjalanan?" Morgana bertanya lagi. Terlihat sangat penasaran.


"Entahlah. Mereka berdua tiba-tiba saja menghilang lima tahun yang lalu," jawab Yvvone kemudian.


"Lima tahun yang lalu? Pantas saja Nona Lilian tiba-tiba datang kemari. Kulikir sangat janggal untuk Yllgarian seperti beliau kembali dalam pergolakan jaman secara begitu saja tanpa adanya alasan yang mendesak." Morgana mengungkapkan suara hatinya.


"Baiklah kalau begitu. Kalau kita sudah selesai disini, aku mau ijin pamit dahulu," ucap Yvvone yang mulai berdiri dari kursinya.


"Hendak kemana, Von? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Ymone sambil ikut berdiri dari kursinya mengikuti Yvvone.

__ADS_1


"Benar. Ada hal penting yang harus ku lakukan," jawab Yvvone kemudian. "Aku akan pergi ke Rhapsodia untuk bertemu kedua pemuda itu. Dan meminta mereka menghidupkan Smartphone ini lagi."


-


__ADS_2