
"Ah, memang menyenangkan bersantai di hari terik seperti ini." Terlihat Katarina dan adiknya Ellian sedang berebah di kursi santai di bawah payung di depan rumah mereka.
Udara basah yang bertiup dari air terjun di utara bangunan kayu artistik itu terasa nikmat di bawah cuaca yang cukup menyengat.
"Wah-wah, kalian masih bisa bersantai di tengah perang seperti ini?" Tiba-tiba terdengar Couran dari arah jalan utama.
"Hei, kami sudah bekerja sedari kemarin untuk membantu mengumpulkan tumbuhan herbal guna kebutuhan obat yang ningkat tinggi." Katarina merasa tidak terima mendengar ucapan Couran tersebut.
"Ada urusan apa kau kemari? Apa kau membawa tugas dari Yang Mulia Ratu? Atau mungkin dari Tuan Aksa dan Tuan Nata?" Ellian bertanya tanpa basa-basi.
"Tidak. Saat ini Yang Mulia Ratu dan kedua pemuda itu sedang sangat sibuk. Mereka berada di perbatasan timur daratan selatan." Couran menjawab.
"Lalu kenapa kau kemari? Kau belum menjawab," timpal Katarina sedikit ketus.
"Oh, benar. Apa Andela ada?" balas Couran kemudian.
"Sebentar." Ellian berdiri dari kursi sabtainya dan berjalan menuju ke belakang.
"Gadis itu sedang membuat kebunnya sendiri di belakang sana," ucap Katarina.
"Ah, pantas saja," balas Couran saat kemudian gadis nomad itu muncul bersama Ellian dan Rubah Ekor Belahnya.
"Anda sudah datang tuan Couran?" seru Andele seolah sudah menunggu Couran sejak lama.
"Ini titipan Haldin." Couran menyerahkan tas yang sedari tadi ditentengnya itu kepada Andele.
"Terima kasih, tuan Couran. Saat ini saya sangat memerlukan pompa baru untuk penyiram air otomatis," girang Andele.
"Kau hanya kemari untuk mengantarkan barang itu? Apa kau kurir si tua bangka itu sekarang?" Katarina bertanya.
"Tidak juga. Kebetulan aku memang ingin kemari. Bersantai di bawah air terjun di hari yang terik seperti sekarang," balas Couran sembari duduk di kursi kayu di sebelah Ellian.
"Benar, siang ini memang sangat terik," ucap Ellian sependapat.
"Apa itu karena mataharinya ada lebih dari satu sekarang?" Andela seperti sedang mengoceh sambil menunjuk ke langit di atas tebing air terjun.
"Matahari lebih... A-apa itu?" seru Couran terkejut saat ikut menatap langit yang ditunjuk Andele.
Terlihat dua buah bola pijar yang sangat besar melintas dengan cukup cepat di atas kepala mereka, saat mereka menyadarinya.
Dan kemudian disusul dengan ledakan dasyat ketika bola pijar tersebut menghantam sihir pelindung tak kasat mata milik Wilayah Pusat.
Cahaya ledakannya menerangi seluruh wilayah seperti kilatan petir yang menyilaukan selama beberapa saat.
Suara ledakannya tidak hanya memekakan telingan seluruh penduduk Wilayah Pusat, namun juga mampu memecahkan beberapa kaca jendela rumah yang berada dekat dengan ledakan.
Dan saking dasyatnya ledakan tersebut sampai terlihat dari wilayah selatan.
-
__ADS_1
Sementara itu di sebuah kedai minum di selatan kota Mara bekas ibukota Estat Margrace.
"Aku harus meminta untuk dibuatkan senjata mistik kepada pemuda itu setelah semua ini berakhir." Ende seperti tengah meneguhkan hati berucap kepada Maeve di hadapannya.
"Siapa? Tuan Aksa?" tanya Maeve setelah meneguk minuman dalam gelasnya.
Ende hanya mengangguk.
Mereka berdua bersama beberapa anggota Bintang Api tengah berkumpul untuk sekedar makan siang bersama. Karena akhir-akhir ini kesibukan mereka membuat mereka jarang untuk bertemu di luar pekerjaan.
"Memang harus buatan tuan Aksa?" Shuri bertanya dari meja di sebelahnya.
"Harus lah. Pemuda itu biar kalau ngomong seringnya tidak jelas, tapi aku akui dia adalah seorang yang jenius." Ende menjawab.
"Apa kau sedang memu-"
Ucapan Shuri terpotong oleh suara ledakan yang sangat dasyat terdengar dari arah Wilayah Pusat. Mengelegar keras hingga menggetarkan permukaan tanah.
"Apa yang barusan itu?"
Mereka semua bergegas berlarian keluar dari kedai tersebut.
"Dari arah utara?" ucap Sigurd saat terlihat asap tebal membumbung tinggi terlihat dari langit di kejauhan.
"Apa baru saja ada yang hendak menyerang Wilayah Pusat?" Ende mencoba menduga-duga.
"Apa karena hal seperti ini alat pelindung Wilayah Pusat diperbarui dua minggu lalu?" Maeve terdengar sedikit merinding karenanya.
Dan kemudian sisa anggota Bintang Api yang ada di tempat itu, bersama Maeve, ikut berlari mengikuti Shuri.
-
Lucia baru saja tiba di tanah bebas Azure dari wilayah pertambangan dengan menggunakan Gerbang Teleportasi, saat bola pijar itu meledak.
Bahkan dari posisi Gerbang Teleportasi, suara ledakannya masih samar terdengar.
Dan setelah mendapatkan berita tentang apa yang baru saja terjadi di Wilayah Pusat, Lucia segera mengadakan pertemuan darurat dengan para pejabatnya di wilayah Ignus.
.
"Jadi bagaimana, Aks?" Lucia bertanya kepada Aksa. Membuka pertemuan darurat tersebut.
Mereka sedang berada di dalam ruang pertemuan keluarga Ignus malam harinya.
Kecuali mereka yang berada di garis depan, dan juga Nata yang masih belum kembali dari Hutan Azuar, semua pemimpin militer dan pejabat kerajaan hadir dalam pertemuan dadakan tersebut.
"Ya, kekuatan serangan sihir itu tidak main-main. Untung kita sudah mengantisipasinya dengan memperkuat alat pembuat Sihir Pelindung sebelum ini." Aksa menjawab.
Setelah beberapa waktu sebelumnya, bersama Rafa, Luque, Val, dan beberapa anggota Bintang Api, ia memerisa semua peralatan sihir yang mendukung untuk membuat Sihir Pelindung di Wilayah Pusat.
__ADS_1
"Tapi tetap peralatan Formasi Sihir Pelindung Wilayah Pusat rusak dan tidak dapat digunakan lagi." Pemuda itu melanjutkan. "Dan melihat kekuatan serang dari sihir itu, disamping memperbaikinya, kita juga harus membuatnya menjadi jauh lebih kuat," tambahnya lagi.
"Apa kau bisa membuat alat itu menjadi lebih kuat, Aks?" Lucia bertanya.
"Serahkan saja padaku, Yang Mulia," balas Aksa tanpa berpikir dua kali.
"Kira-kira butuh berapa lama? Kita tidak bisa membiarkan Wilayah Pusat tidak terlindungi." Kali ini Cornelius yang bertanya. Terlihat sangat kuatir.
"Mungkin dalam beberapa minggu. Tapi menurut saya untuk berjaga-jaga anda ungsikan secara bertahap saja penduduk Wilayah Pusat ke dataran selatan," jawab Aksa yang disambung dengan memberi masukan.
"Mau diungsikan kemana? Wilayah di daratan selatan juga tidak terlindung. Yang kemungkinan besar malah serangan setelah ini bakal mengincar wilayah selatan." Kali ini Amithy yang terlihat mulai panik.
"Sepertinya belum, Nyonya Amithy." Tiba-tiba Nata masuk ke dalam ruang pertemuan bersama rombongan Yvvone.
"Menurut pengamatan dari para Elf, sepertinya kemampuan lawan menyerang hanya sampai sebatas Wilayah Pusat saja," ucap Nata lagi. "Ya, setidaknya untuk saat ini."
"Saat ini?" Beberapa orang bertanya hampir bersamaan. Terutama mereka yang tidak berkecimpung di bidang militer.
"Benar. Kabar dari mata-mata Elbrasta, Sefier memang sedang membangun Atlar Pengganda." Lucia yang kali ini menjawab.
"Benar, dengan adanya Altar tersebut jarak sihir yang dikeluarkan akan lebih jauh, dan kekuatan serangnya akan lebih besar." Nata menambahi.
"Lebih besar dari yang baru saja menyerang?" Orland bertanya tidak percaya.
"Benar." Nata menjawab singkat.
"Berarti ada kemungkinan jarak dari serangan mereka belum sampai wilayah selatan sekarang ini?" Cornelius memastikan.
"Benar. Saya yakin seperti itu." Nata kembali menjawab.
"Berarti solusi paling baik untuk saat ini adalah mengungsikan warga ke wilayah selatan?" Kali ini Lucia yang bertanya memastikan.
"Bila kita melakukannya secara langsung maka akan menimbulkan kepanikan. Dan juga kita akan kesulitan mengatur dan memfasilitasi mereka." Nata menjawab dengan penjelasan.
"Dan menurut perhitungan setelah mengamatinya selama ini, jedah dari sihir yang dikeluarkan Sefier itu sekitar 3 sampai 4 minggu." Pemuda itu melanjutkan.
"Jadi dalam waktu tiga minggu ini kita harus mulai mengungsikan warga secara bertahap ke perbatasan timur.
"Sementara disaat yang bersamaan kita juga harus melakukan serangan sebelum mereka memiliki amunisi untuk kembali menyerang terlebih dahulu."
"Kalau memang begitu, mari kita segera diskusikan rencana untuk hal-hal tersebut secara rinci," sahut Lucia tanpa mempertanyakan lagi tentang rencana tersebut.
Dan pertemuan pun berlanjut hingga sangat larut.
.
Beberapa minggu kemudian dibantu oleh pasukan Elf dan Yllgarian, pasukan Rhapsodia mulai menjalankan rencana mereka melakukan serangan penuh ke jantung Kerajaan Bruixeria. Yang kini bukan lagi di Kotaraja bekas kerajaan Elbrasta, melainkan di utara bekas wilayah Estrinx.
Namun sebelum itu pasukan Alexander dan Lugwin melakukan serangan terlebih dahulu untuk memasang peralatan penanda sedekat mungkin dengan posisi Altar Pengganda berada. Agar pasukan utama Rhapsodia dapat melakukan lompatan langsung ke tempat tersebut.
__ADS_1
Sementara disaat yang bersamaan Aksa dan timnya memulai pengerjaan peralatan Sihir Pelindung. Sedang rencana pembuatan tempat dan pengungsian warga Wilayah Pusat ke perbatasan timur pun dimulai.
-