
Terlihat sebuah kereta kuda bangsawan memasuki pekarangan rumah Joan saat perempuan Narva itu sedang menggantungkan cucian basahnya ke tali jemuran. Tampak Joan mengenal lambang yang tertoreh di sisi pintu kereta kuda tersebut. Keluarga Bangsawan Raygod.
Joan menghentikan pekerjaannya dan berjalan mendekati kereta kuda tersebut. Terlihat Xiggaz keluar sambil melambai kecil ke arah Joan.
"Pekerjaan rumah tangga tidaklah cocok untuk mu, Jo," ucap Xiggaz kemudian.
Joan hanya tersenyum kecil menatap sahabat lamanya itu berjalan mendekat. "Ada perlu apa kau datang kemari, Xig?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Jelas aku ingin menjenguk Arthur kecil, lah," jawab Xiggaz kemudian. "Dimana dia sekarang?"
"Sudahlah, tidak perlu berbasa-basi. Ayo, masuk," ajak Joan yang berjalan mendahului Xiggaz memasuki rumah.
.
"Jadi ada perlu apa, Xig?" Kembali Joan bertanya tanpa basa-basi begitu mereka berdua sudah duduk di ruang tamu.
"Tuan Tyrion yang memerlukanmu," jawab Xiggaz setelah menyeruput teh hangat yang telah disuguhkan oleh tuan rumah.
"Memerlukan untuk apa? Aku sudah tidak berkerja sebagai mata-mata dan pengumpul informasi lagi sekarang, Xig." Joan segera memperjelas posisinya sebelum mendengar permintaan itu lebih lanjut.
"Aku tahu. Dan Tuan Tyrion juga tahu tentang itu. Beliau hanya ingin meminta bantuanmu kali ini saja. Anggap saja pekerjaan lepas. Beliau tidak meminta mu untuk kembali." Pria Narva itu kembali berucap.
"Tetap saja aku tidak bisa, Xig. Sekarang aku sudah punya Arthur. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri dalam waktu lama." Joan mencoba untuk menolak permintaan sahabatnya itu dengan halus.
"Aku bisa membantumu mengurus Arthur." Tampak Xiggaz masih belum menyerah.
"Terima kasih, tapi aku tidak memerlukannya," jawab Joan tegas.
"Tolonglah, Jo. Sekarang ini hanya kau saja orang yang kukenal, yang dapat menyelesaikan tugas ini," ucap Xiggaz memohon.
Joan terdiam, terlihat perempuan itu sedang menilai. "Sepenting apa tugas ini sampai kau harus memohon seperti itu?" tanyanya kemudian.
"Cukup penting. Ini mengenai sebuah rumor yang perlu dipastikan kebenarannya."
"Dan rumor apa yang bisa jadi sebegitu pentingnya untuk tuan Tyrion pastikan?" Terlihat Joan semakin penasaran.
"Ini rumor tentang kembalinya dua pemuda yang berhasil mengambil alih Tanah Suci, kau ingat, kan?" jawab Xiggaz kemudian.
"Apa kau bilang? Maksudmu dua pemuda dari wilayah Rhapsodia itu?" tanya Joan memastikan ucapan Xiggaz.
"Benar. Rumor tersebut baru beredar beberpa bulan terakhir ini."
__ADS_1
Joan kembali terdiam. Wajahnya mulai terlihat ragu dan kuatir. Seolah sedang memikirkan sebuah jawaban, pandangan perempuan itu terlihat nanar ke arah dinding di belakang Xiggaz.
"Bagaimana, Jo?" tanya Xiggaz yang tampak mengejutkan Joan.
"Beri aku waktu untuk berfikir. Akan ku kabari bila aku sudah memutuskannya," jawab Joan yang terlihat sedikit tidak fokus. Ia terlihat masih memikirkan hal lain.
Dan meski Xiggaz menyadari hal tersebut, namun pria itu memilih untuk tidak menanyakannya, dan menghargai jawaban dari sahabatnya itu. "Baiklah, aku akan memberimu waktu. Tapi jangan terlalu lama. Karena bila kita terlambat memastikan rumor itu, peperangan mungkin akan kembali terjadi," ucapnya kemudian.
"Ya, itulah yang aku takutkan," jawab Joan lirih seraya mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan mengganggu pekerjaan rumah tangga mu terlalu lama," ujar Xiggaz kemudian seraya bangkit berdiri. "Ini hadiah untuk Arthur." Yang kemudian meletakan sebuah peti kayu yang sedari tadi ia bawa itu ke atas meja. "Aku permisi," ucapnya kemudian seraya berjalan keluar.
Joan mengantar sahabatnya itu sampai memasuki kereta kuda. Dan setelah kereta kuda itu menjauh, dengan segera ia memasuki rumahnya dan mulai bersiap-siap untuk melakukan perjalanan.
-
Dua hari kemudian Joan terlihat mendatangi Versica saat sedang berada di sebuah bar di kota Jarg di wilayah utara Cirrus.
"Nona, Versica," sapa Joan seraya duduk dengan santai di sebelah tempat duduk Versica, seolah mereka adalah teman akrab.
"Oh anda, Nona Joan. Apa yang membuat anda jauh-jauh datang ke wilyah kumuh seperti ini?" tanya Versica yang terlihat tak acuh sambil melirik ke arah Joan.
"Ya, saya memang dilahirkan selalu berprilaku seperti ini terhadap beberapa orang tertentu." Versica menjawab tanpa berpaling ke arah Joan. Kemudian meneguk minuman dalam gelas bambunya.
"Anda jangan salah paham, Nona Versica. Saya bukanlah bagian dari beberapa orang tersebut," jawab Joan saat menerima segelas minuman dari pelayan.
"Benarkah?" Versica terdengar sinis.
"Anda tidak perlu meragukan saya. Saya berkata jujur sekarang," ucap Joan setelah meneguk minumannya.
"Lalu ada keperluan apa, anda dengan saya?" tanya Versica kemudian tanpa basa-basi. "Atau jangan-jangan pertemuan ini hanya sebuah kebetulan saja?" tambahnya dengan nada terkejut yang dibuat-buat.
"Tidak perlu menyindir seperti itu. Saya memang ada keperluan dengan anda, Nona Versica," balas Joan juga tanpa basa-basi.
"Dan apa itu?"
"Jelas berhubungan dengan informasi," ucap Joan seraya menyibak poni panjangnya ke sampin. "Saya hanya ingin memastikan, tentang kembalinya dua pemuda yang berhasil mengambil alih Kota Nezarad," ucapnya kemudian.
Dan meski ia coba untuk sembunyikan, namun masih terlihat bahwa Versica terkejut dengan pertanyaan tersebut.
"Anda menanyakan sesuatu yang aneh kepada saya. Mana mungkin saya mengetahui hal-hal seperti itu?" jawab Versica yang mencoba untuk tetap tenang. "Bukankah seharusnya anda yang lebih tahu tentang hal tersebut? Karena informasi dan kabar berita adalah keahlian anda, bukan?"
__ADS_1
"Justru karena saya ahli di bidang itu, maka sekarang saya bertanya kepada anda. Saya tahu anda berhubungan langsung dengan orang-orang Rhapsodia," ucap Joan yang mengungkap rahasia Versica seperti bukan hal penting.
Kini terlihat raut wajah Versica mulai berubah. Ia seperti sudah siap untuk menebas Joan demi untuk melindungi rahasia tersebut.
"Tidak perlu kuatir, Nona Versica. Saya tidak perduli dengan hal tersebut. Karena sekarang saya sudah tidak lagi bekerja untuk Bangsawan Penguasa," ucap Joan mengantisipasi niatan Versica.
Masih dalam diam, Versica menatap mata Joan dengan penuh selidik. Bukan karena curiga, namun lebih karena rasa penasaran. Apa yang sebenarnya perempuan itu inginkan.
"Saya hanya ingin memastikan kebenaran kabar tersebut," ucap Joan kemudian, yang seolah menjawab pertanyaan dalam benak Versica. "Karena dari semua orang yang tinggal di wilayah selatan ini, hanya anda lah satu-satunya orang yang dapat keluar masuk wilayah itu dengan leluasa," lanjutnya lagi.
"Lalu untuk siapa informasi yang anda tanyakan ini?" tanya Versica kemudian.
"Untuk saya sendiri," jawab Joan singkat.
"Konyol sekali. Dan kenapa anda tertarik dengan mereka, bila anda sudah tidak lagi berhubungan dengan para bangswan penguasa itu?" Terlihat Versica tidak bisa percaya begitu saja dengan jawaban singkat dari Joan tersebut.
"Saya hanya ingin memastikn keselamatan saya," ucap Joan kemudian setelah menghabiskan sisa minumannya dalam sekali teguk.
"Apa hubungnnya keselamatan anda dengan dua pemuda itu?"
"Anda tidak perlu berpura-pura bodoh di hadapan saya, Nona Versica. Jelas dengan munculnya kembali dua pemuda itu akan membawa perang di atas daratan ini. Dan saya tidak ingin terjebak di tengah-tengah perang tersebut," jawab Joan.
"Jadi anda berniat untuk pegi dari daratan selatan ini bila memang berita itu dipastikan benar?" Versica memastikan dugaannya.
"Tidak. Bila memang benar dua pemuda itu sudah kembali, saya ingin anda mempertemukan saya dengan mereka," jawab Joan yang kembali mengejutkan Versica.
"Percayalah, saya punya alasan kuat untuk tidak berbohong atau menghianati anda," ucap Joan kemudian mencoba meyakinkan Versica. "Atau anda perlu informasi sebagai gantinya?" Kali ini perempuan itu menawarkan pertukaran.
Versica kembali menatap mata peremuan itu dengan penuh penilaian.
"Baiklah, Nona Joan. Mari kita bicarakan hal ini di tempat lain," ucap Versica kemudian yang tampak menyetujui tawaran dari Joan.
"Baiklah. Tapi, tidak perlu memanggil saya 'Nona'. Karena saya seorang ibu sekarang," balas Joan saat hendak berjalan keluar bar.
"Oh, begitu rupanya." Versica mulai mengerti mengapa Joan bertidak seperti itu. Bukan karena perempuan itu ingin menyelamatkan dirinya sendiri, namun karena ia tidak ingin anaknya terjebak dalam peperangan yang akan terjadi. Dan itulah maksud dari "Alasan kuat untuk tidak berbohong dan berkianat' yang telah diucapkan Joan sebelumnya.
"Kalau begitu, silahkan, Nyonya Joan," ujar Versica kemudian mempersilahkan Joan berjalan lebih dulu.
Dan dua perempuan itu pun pergi meninggalkan bar.
-
__ADS_1