
"Apa yang baru saja itu Sihir Cahaya?" Terlihat Jendral Pasukan Augra mulai menampakan kekuatirannya kali ini.
"Kalau apa yang saya dengar benar, berarti si Kilat Putih kemungkinan besar ada bersama mereka sekarang ini," ucap kesatria di sebelah sang Jendral.
"Kilat Putih... Ini di luar perhitungan kita, Jendral. Akan sangat berbahaya, bila dia ikut turun dalam medan perang," sahut kesatria yang lain.
"Ya, aku tahu. Sekarang saja bila bukan karena jumlah, pasukan kita tidak akan bisa bertahan menandingi mereka." Sang Jendral terlihat menatap nanar ke arah langit gelap bekas ledakan terjadi. Kembali memperhitungkan kemungkinan dan startegi berikutnya.
"Lalu sekarang bagaimana, Jendral?"
Belum sempat sang Jendral menjawab, seorang kesatria lain memotong.
"Lihat, kapal itu tiba-tiba bergerak dengan cepat."
Namun tanpa adanya perintah dan aba-aba, Lanar yang berdiri di atas dataran yang lebih tinggi di belakang sang Jendral kembali meluncurkan tembakan panah sihirnya.
Dan tak beda dari sebelumnya, sihir berbentuk pilar berkilau kembali ditembakan untuk menghadang serangan anak panah tersebut.
.
"Kurasa kau tidak akan bisa menembusnya, Lan," ucap seorang kesatria yang sedang melipat tangan di sebelah Lanar. Tampak sebuah tongkat sihir berukuran sedang berada dalam genggaman tangan kanannya.
"Ck..." Lanar berdecak kesal seraya menurunkan busurnya. "Tak kusangka akan ada Kilat Putih di dalam benda terbang itu," ucapnya kemudian sambil menggelengkan kepala tidak terima.
"Kurasa bukan hanya Kilat Putih saja. Lihat pergerakan kapal aneh itu. Berubah semakin cepat, seolah angin berpihak pada mereka sekarang." Kesatria dengan tongkat sihir itu kembali berucap. Menunjukan hal yang tidak disadari oleh Lanar.
"Apa maksudmu mereka menggunakan sihir angin untuk mendorong benda itu?" tanya Lanar yang mulai sadar akan hal tersebut.
"Kemungkinan besarnya. Dengan bantuan Senjata Mistik ini, aku dapat merasakan pergerakan Aliran Jiwa yang cukup besar dari kapal itu." Kesatria itu mengangkat tongkat sihir dengan batu kristal berwarna hijau di bagian ujungnya, untuk menunjukannya kepada Lanar.
"Apa mungkin ada Aeron juga dalam benda terbang tersebut?" Lanar terlihat kuatir akan dugaannya sendiri.
"Kau pasti juga pernah mendengar tentang adanya Elf yang membantu kerajaan itu, kan? Bahkan mereka membuat alat untuk mematikan kekuatan Kristal Arcane di wilayah pusat kerajaan mereka," jawab kesatria itu dengan penjelasan.
"Ya, jelas aku pernah mendengarnya."
"Dan siapa lagi yang mampu membuat perlatan seperti itu kecuali Aeron," tambah kesatria itu lagi.
Lanar terlihat tertegun menatap kapal yang disebut dengan Berunda, yang dengan cepat memperpendek jarak itu. Ia mencoba mencerna perkataan kesatria bertongkat sihir itu.
__ADS_1
"Oh, itu berarti kita dalam bahaya sekarang," ucap Lanar kemudian yang baru saja sadar akan bahaya yang mungkin akan menimpanya dan seluruh pasukannya.
Kemudian dengan segera kesatria perempuan itu bergegas turun, kemudian berlari untuk melaporkan dugaannya kepada sang Jendral.
"Jendral," seru Lanar begitu tiba di sebelah sang Jendral.
"Ya, Lanar. Aku tahu. Pasti ada lebih dari Kilat Putih di dalam kapal itu," sahut sang Jendral sebelum Lanar sempat untuk berbicara.
"Menurut Portas, kemungkinan ada Aeron juga dalam benda terbang tersebut, Jendral," ucap Lanar memberikan dugaannya.
"Aeron?" Kesatria di sebelah sang Jendral terlihat terkejut mendengar ucapan Lanar barusan. "Ya, aku pernah mendengar tentang beberapa Elf yang memihak kerajaan itu. Tapi tidak ku sangka mereka akan benar-benar ikut terjun ke medan perang juga," tambahnya yang terdengar tidak percaya.
"Memang tidak disangka-sangka Kilat Putih dan Aeron akan benar-benar memihak mereka. Terlebih lagi, mereka memiliki benda yang dapat terbang seperti itu." Sang Jendral berucap seraya menatap situasi pasukan di hadapannya. "Perintahkan pasukan untuk mundur," ucapnya kemudian setelah mempertimbangkan dengan masak.
"Siap, Jendral!" sahut tegas dari kesatria yang berada di sebelah sang Jendral itu sebelum kemudian berlari menuju ke depan untuk melanjutkan perintah.
"Kita tidak akan bertahan dari serangan udara, bila mereka berniat untuk melakukan serangan menggunakan kapal terbang itu," ucap sang Jendral seraya menaiki kudanya. "Kita akan menuju Kota Marad untuk mengatur ulang strategi kita menghadapi Kilat Putih dan benda terbang itu," tambahnya yang kemudian menarik kekang kudanya untuk berputar arah.
"Bagaimana kalau mereka mengejar kita sampai Kota Marad, Jendral?" tanya salah satu kesatria yang juga sudah duduk di atas pelana kudanya.
"Mereka tidak akan melakukannya." Sang Jendral menjawab. "Pada dasarnya mereka tidak berniat untuk melakukan serangan. Mereka hanya menahan kita melakukan serangan ke wilayah mereka, karena sekarang mereka sedang berperang dengan Vistralle dan Tyrion. Jadi kemungkinan mereka mengejar kita, kecil," tambahnya lagi memberi penjelasan.
"Menjatuhkan benda terbang itu dengan alat penggempur benteng? Peralatan yang umum seperti itu? Apa kau pikir mereka tidak memikirkan hal semacam itu sebelumnya, dan mempersiapkan cara untuk mengantisipasinya?" Sang Jendral bertanya balik kepada kesatria tersebut. Yang membuat kesatria itu terdiam tak dapat menjawab.
"Kita memiliki Senjata Mistik untuk menyerang benda terbang itu saja adalah hal yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya. Dan meski begitu mereka berhasil mengatasinya tak lebih dari 4 kali tembakan," ucap sang Jendral lagi. "Dan serangan mereka tadi adalah semata untuk bertahan. Lalu menurutmu apa jadinya bila kita memprovokasi mereka untuk benar-benar menyerang?" tanyanya kemudian yang masih tetap tidak mendapatkan jawaban.
Sementara beberapa kesatria yang mendengar ucapan sang Jendral hanya bisa mengangguk. Mereka cukup sadar dengan situasi yang disebutkan oleh sang Jendral.
-
Dan setelah itu secara perlahan dan bertahap, Pasukan Augra pun mulai mundur teratur dari jalur yang diapit oleh dua tebing tinggi itu. Sementara Pasukan Rhapsodia masih terus mendesak lawan mereka sampai benar-benar keluar dari mulut lembah.
-
"Pasukan Augra mulai bergerak mundur. Seluruh pasukan tetap dalam formasi untuk mendorong mereka ke mulut lembah." Terdengar suara Helen dari pengeras suara Radio Komunikasi dalam anjungan Kapal Udara.
"Oh, akhirnya." Terdengar kelegaan dalam ucapan Aksa. "Apa mereka takut terhadap kekuatan Lily? Kenapa mereka tiba-tiba saja mundur?" tanyanya kemudian.
"Kurasa mereka sadar bahwa tidak hanya ada Lily saja dalam Kapal Udara ini. Keputusan bijak. Mereka memiliki pemimpin yang bisa menilai situasi yang mungkin akan terjadi," ucap Nata menjawab.
__ADS_1
Kini hanya ada Aksa, Nata, Val, dan nahkoda kapal tersebut dalam ruang anjungan.
Tampak Lily dan kedua teman Yllgariannya berada di geladak depan, masih bersiaga dari kemungkinan serangan yang bisa datang sewaktu-waktu.
Sementara Yvvone dan para Elf lainnya berada di bagian belakang kapal, masih menggunakan sihir angin untuk mendorong kapal tersebut agar bergerak lebih cepat.
"Ya, apapun itu. Bersyukur semuanya sudah selesai sekarang," ucap Aksa kemudian. "Aku akan ke tempat Yvvone untuk memberitahunya agar berhenti mendorong kapal ini lagi," tambahnya seraya berlari keluar.
"Baiklah. Aku juga harus menghubungi Nona Helen," balas Nata seraya meraih gagang Microfon dari Radio Komunikasi.
-
Tak lama kemudian terdengar sorakan gembira dari pasukan Rhapsodia saat lawan mereka sudah benar-benar hilang dari pandangan. Yang sekaligus memberi tanda bahwa perang sudah selesai, dan mereka telah menang.
Setelah itu Pasukan Rhapsodia membuat perkemahan di mulut lembah dan bermalam sebelum esok paginya kembali berarak menuju benteng Pertambangan Trava.
Sedang di atas Berunda, Aksa dan Nata tidak berencana untuk ikut bermalam. Mereka akan kembali ke pertambangan saat itu juga.
"Rencananya Nona Helen dan yang lain akan kembali ke pertambangan besok siang. Satelah memastikan bahwa pasukan lawan tidak sedang bersembunyi di sekitaran tempat ini." Evora melapor kepada Nata dari atas geladak Berunda.
"Kalau begitu ayo segera kembali. Rasanya aku butuh istirahat setelah guncangan Adrenaline barusan," sahut Aksa kemudian.
"Baik, Tuan Aksa," jawab Evora yang kemudian mengambil alih kapal dengan memberi perintah ke beberapa awak kapal untuk bersiap.
"Tak kusangka mereka akan menyerah dengan begitu saja. Melihat bagaimana gigihnya mereka saat menghadapi serangan dari para Yllgarian tadi," ucap Murrel saat mereka hendak kembali memasuki ruang anjungan.
"Kurasa dalam sebuah peperangan yang tidak bisa dimenangkan, menyerah adalah sebuah peluang. Dan pemimpin Pasukan Augra mengambil peluang tersebut." Nata menjawab.
"Kurasa anda benar. Mundur dan menghindar juga merupakan sebuah strategi."
"Tapi ngomong-ngomong, berapa banyak sebenarnya senjata yang telah kau buat, Val? Dan kenapa kau bisa membiarkannya terpencar ke pelosok dunia? Apa ini semacam obsesimu?" sahut Aksa dengan pertanyaan yang mengganggunya selama beberapa jam terakhir.
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan itu," balas Val dengan acuh tak acuh.
"Bagaimana kalau setelah semua ini berakhir, kita mengadakan Quest mengumpulkan senjata-senjata buatan Val?" ucap Aksa yang tiba-tiba kembali terlihat bersemangat.
"Apa kau sudah menyerah untuk kembali ke bumi? Kita tidak punya waktu untuk hal konyol seperti itu," balas Nata dengan sedikit ketus. "Kita masih harus menyelesaikan masalah pada Alat Pemecah Partikel, kau ingat?"
"Oh, benar juga."
__ADS_1
-