Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
18. Wilayah Ravus


__ADS_3

"Itu berarti saatnya kita menjalankan rencana pengambil alihan wilayah Ravus." Nata berucap melalui Radio Komunikasi kepada Lucia dan yang lain, pagi berikutnya.


Mereka sedang membahas perihal kabar dari Helen mengenai pasukan Augra yang mulai bergerak.


"Apa tidak terlambat untuk melakukan persiapan menghadapi pasukan Augra, bila kita mengambil alih wilayah Ravus sekarang? Sementara kita juga harus bertahan dan melakukan penyerangan ke wilayah lainnya?" Lucia bertanya dari Pengeras Suara Radio Komunikasi Nata.


"Tidak perlu kuatir, Yang Mulia. Pasukan Augra berjumlah ratusan orang. Mereka tidak akan dapat bergerak cepat saat melalui Pegunungan Trava."


"Memang benar sih, Pegunungan Trava memang akan sedikit susah untuk dilalui bersama rombongan besar," ujar Lucia terdengar sependapat dengan Nata. "Baiklah, Nat. Jalankan rencanamu," ucapnya kemudian memberikan ijin.


"Baik, Yang Mulia." Nata membalas.


Selepas pembicaraan tersebut, Nata segera menghubungi Helen untuk memberikan perintah menyerang Kota Araz. Kota pemerintahan wilayah Ravus.


Rencananya; selama Helen dan Pasukan Elit menyerang kota, pasukan Wedge di perbatasan wilayah Ravus juga akan melakukan penyerangan untuk membagi kekuatan pasukan Ravus.


.


Sedangkan di kota Mara pembangunan gerbang kota telah selesai seluruhnya. Kini sebagian dari para pekerja bersama prajurit dibawah pimpinan Versica mulai menuju ke kota-kota kecil, dan desa-desa di pinggiran wilayah Margrace.


Mereka hendak membangun jalan dan prasarana menuju ke tempat-tempat tersebut, supaya di kedepannya akan jauh lebih mudah ketika mereka harus mengirimkan pasukan atau bantuan untuk penduduk yang tinggal di sana.


Dan mereka juga harus sebisa mungkin menyelesaikannya sebelum pasukan dari wilayah lawan tiba.


-


Malam harinya di sebuah perkemahan kecil di dalam hutan di pinggiran Kota Araz, wilayah Ravus. Helen dan Pasukan Elit sudah terlihat mulai bersiap untuk melakukan serangan.


Mereka akan melakukan penyerangan sesuai dengan rencana, yaitu pukul 11 malam. Dan hanya tinggal 30 menit lagi.


Meskipun mereka tidak memiliki mata-mata di wilayah itu, namun karena sudah berada di sekitaran kota hampir sepekan lamanya, jadi mereka sudah cukup paham dengan rotasi jadwal penjagaan, tempat-tempat penting militer, dan juga jalur untuk keluar-masuk di setiap sudut kota tersebut. Dan informasi itu lebih dari cukup untuk mereka.

__ADS_1


.


Begitu waktu pada jam tangan menunjukan pukul 11 malam tepat, mereka pun segera bergerak menuju Kota Araz. Berbarengan dengan pasukan Wedge dan Kereta Penghancur yang juga mulai bergerak maju menuju benteng pertahanan di perbatasan utara Ravus.


Sementara dengan cara berperang yang unik dan khas, Helen dan Pasukan Elit berhasil menyusup ke dalam kota tanpa menarik perhatian.


Kemudian dengan memanfaatkan situasi di mana separuh prajurit kota itu dikerahkan ke wilayah perbatasan untuk membantu menghadapi serangan dari pasukan Wedge, Pasukan Elit yang telah melumpuhkan para penjaga secara diam-diam dan menyelinap masuk tadi, mulai menghabisi sisa prajurit yang ada.


.


Di salah satu barak prajurit di sisi utara Kota Araz. Tampak dua prajurit sedang berjaga di dalam pos di gerbang depannya.


"Apa kau sudah mendengar kabar tentang Kereta Besi mereka yang dapat menghancurkan tembok benteng Kota Randon itu?" tanya seorang prajurit Morra berambut ikal kepada rekannya yang terlihat melipat tangan di depan dada sambil menyandarkan tubuh dan memejamkan mata.


"Sudah," jawab rekannya itu masih dengan memejamkan mata. "Mereka benar-benar kerajaan yang mengerikan. Aku berharap pasukan dari pusat segera tiba sebelum Kereta Besi itu sampai kemari," lanjutnya kemudian masih tanpa merubah posisi.


"Tapi kabarnya kerajaan itu juga memiliki seorang Kesatria Cahaya yang mampu memanggil burung legenda di Pegunungan Trava sana. Kuharap pasukan dari pusat tidak tertahan oleh Kesatria itu." Prajurit Morra tadi terlihat benar-benar herharap.


"Benar juga ucapanmu. Harusnya mereka sudah menyerang wilayah ini menggunakan kekuatan burung legenda itu dari selatan." Prajurit Morra yang dipanggil Finn itu terlihat mengangguk kecil. Tampak ia baru saja memahami sesuatu.


"Makanya jangan terlalu percaya dengan kabar yang belum jelas kenyataannya seperti itu." Rekan prajurit itu berdiri kemudian menggangkat tangan untuk meregangkan ototnya. "Bila benar mereka memiliki burung legenda, mungkin sekarang ini kita sudah tidak lagi bernyawa." Dan tepat setelah selesai berkata-kata, prajurit itu tiba-tiba saja jatuh ke belakang ke atas meja diiringi suara pecahan gelas dan guci tembikar yang ikut terjatuh.


"Ray! Apa yang terjadi?" Finn segera meraih tubuh rekannya yang tergeletak lemas di antara pecahan gelas dan tembikar dalam pos jaga itu. "Darah? Jangan-jangan peluru ini?" ucapnya setelah mendapati darah mulai menggenang dari bagian kepala rekannya tersebut.


"Sial, kita diserang. Kota ini tengah diserang," ucap Finn terlihat mulai panik.


Dan begitu prajurit Morra itu melangkah keluar dari pos jaga, sebuah peluru besi pun bersarang tepat di kepalanya. Dan seketika merenggut nyawa prajurit tersebut.


.


Dua tim dari Pasukan Elit, Altair dan Deneb memang melakukan serangan pertama mereka langsung ke Garnisun dan barak prajurit di utara kota, dimana kebanyakan prajurit sedang beristirahat dan tidak siap.

__ADS_1


Dan oleh karenanya, para prajurit Ravus dapat dihabisi dengan cepat dan tanpa adanya perlawanan yang berarti.


Sementara bersamaan dengan itu, tim Vega melakukan penyerangan ke kediaman pemimpin kota dan menangkapnya. Baru setelah itu mereka melakukan pembersihan sisa prajurit di seluruh kota.


Kemudian setelah situasi di dalam kota berhasil dikendalikan, yang hanya memakan waktu tidak lebih dari 1 jam saja, Tim Altair dan Vega segera melanjutkan serangan mereka ke Pasukan Ravus yang sedang bertempur di perbatasan wilayah Lighthill, sementara Tim Deneb menjaga kota.


.


Dan karena mendapat serangan kejutan dari arah belakang, membuat Pasukan Ravus yang harus mengadapi lawan dari kedua arah itu, tidak dapat bertahan lagi, dan mulai tercerai-berai. Sebagian dari mereka melarikan diri ke wilayah Saronia, sementara sisanya menyerah.


Setelah itu pasukan Wedge dan Kereta Penghancur yang berada di perbatasan Ravus pun segera bergerak maju menuju kota Araz. Dan sekitar 2 jam kemudian, pasukan besar Rhapsodia dibawah pimpinan Wedge tiba dan menduduki Kota Araz.


--



--


Esok paginya, kabar tentang berhasilnya penyerangan ke wilayah Ravus itu dilaporkan kepada Lucia dan ke kota-kota yang lain. Yang berarti pekerjaan selanjutnya untuk Matyas dan kelompoknya adalah membangun jalur Kereta Uap dari Kota Mara ke Kota Araz.


Yang kemudian siang harinya, dimulailah tugas pembersihan prajurit dan bangsawan kerajaan Augra dari kota-kota kecil dan desa-desa di sekitar wilayah Lighthill dan Ravus. Mengusul tugas pembersihan pasukan Vistralle dari wilayah Ignus dan Margrace yang sudah dimulai dari sehari sebelumnya.


.


Sementara kini jalur kereta yang menghubungkan ketiga kota; Kota Varun, Kota Mara, dan Kota Randon, pun sudah mulai benar-benar digunakan. Yang membuat pengiriman segala hal dari wilayah pusat Rhapsodia untuk melakukan pembangunan di wilayah selatan itu menjadi jauh lebih cepat dan mudah.


Dan bersamaan dengan itu pula pasukan dari Saronia dan Feymarch pun tiba di perbatasan wilayah Margrace.


-


-

__ADS_1


__ADS_2