Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Antology Story : Gerakan Selanjutnya


__ADS_3

Keesokan harinya di perbatasan wilayah Feymarch dan Eblan, Versica mengadakan pertemuan rahasia dengan Joan dan dua temannya mantan Juara, Karka dan Guanna, di sebuah kedai minum kecil di luar kota.


"Rhapsodia tidak menggunakan tenaga para pemberontak untuk menjaga wilayah sisi timur yang sekarang sudah mereka kuasai," ucap Versica setelah meneguk minuman keras dari gelas kalengnya.


"Malah mereka berencana membubarkan kelompok pemberontak tersebut dan menempatkan anggota-anggotanya ke bagian yang jauh lebih membutuhkan. Seperti di bidang pembangunan dan sarana penunjang kebutuhan hidup lainnya," timpal Karka dari meja di belakang Versica.


"Ya, aku bisa mengerti. Rhapsodia pasti berusaha menekan munculnya pemberontakan baru yang mungkin akan mencoba memerdekaan wilayah-wilayah mereka dan memisahkan diri dari kerajaan." Joan yang duduk di sebelah Versica dan membelakangi Karka itu menanggapi.


"Benar. Yang ku tangkap juga seperti itu," ucap Versica sependapat.


"Aku secara pribadi tidak masalah dengan hal tersebut, tapi beberapa pemimpin pemberontak pasti tidak akan senang dengan hal itu," ucap Joan lagi mengutarakan pendapatnya.


"Ya, itu sudah pasti. Beberapa pemimpin kelompok pemberontak di wilayah Saronia dan Ravus sudah menunjukan gelagat tersebut," sahut Karka membenarkan ucapan Joan.


"Namun tetap saja mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa melawan kekuatan militer kerajaan," timpal Guanna ikut masuk dalam percakapan.


"Semoga mereka tidak menimbulkan masalah dikemudian harinya," balas Joan sebelum kemudian menegak habis minuman dalam gelasnya.


"Lalu bagaimana dengan para pemberontak di wilayah barat?" Kini giliran Versica yang bertanya.


"Ya, kabar tersebut juga sudah sampai ke telinga mereka. Dan sepertinya beberapa pemimpin pemberontak tidak senang dengan hal itu," ucap Joan menjawab. "Namun tetap saja mereka tidak punya pilihan lain, selain berada di sisi kerajaan besar itu, kan?" tambahnya lagi.


Versica mengangguk kecil. "Memang, mereka harus bijak dalam menentukan pilihan," ucapnya kemudian. "Lalu, apa Tyrion akan kembali mengumpulkan mantan Juara untuk menghadapi peperangan yang akan datang?" tambahnya lagi dengan pertanyaan.


"Ya. Agoros dan Pollux sudah berhasil meyakinkan Urgula dan Kanya. Mungkin total 6 orang sudah," jawab Joan serya mengisi ulang gelas kosongnya.


"Ya, aku yakin Pollux akan melakukan hal tersebut," celetuk Versica menimpali.


"Dan meski mereka tidak memiliki Senjata Mistik mereka yang dulu, tapi entah bagaimana Tyrion berhasil menyediakannya yang baru untuk mereka. Sama seperti dahulu," ucap Joan lagi memberikan tambahan informasi.


"Pria tua itu memang punya banyak muslihat di balik kemeja mewahnya." Kali ini Karka yang menyelutuk.


"Mungkin pertarungan setelah ini akan sedikit lebih sulit bagi kalian," ucap Joan lagi.


"Semoga dua pemuda itu memiliki cara untuk mengakhiri semua ini dengan cepat dan tanpa menimbulkan banyak kerusakan." Terdengar Guanna berharap.


"Ya, kita berharap hal yang sama," balas Versica.


"Oh iya. Ngomong-ngomong tentang dua pemuda itu, kemarin Tuan Nata menghubungiku. Dan sepertinya beliau sedang mengatur tempat dan waktu untuk bertemu denganmu," ucap Versica yang baru saja teringat. "Dia akan menghubungiku lagi begitu semuanya sudah ditentukan."


"Ya, kurasa pertemuan kami sudah tidak terlalu dibutuhkan lagi," ucap Joan menanggapi. "Karena setelah melihat bagaimana rencana dan tindakan mereka dalam mengambil alih wilayah sisi timur, aku sudah tidak kuatir lagi tentang pengambil alihan wilayah Eblan," tambahnya kemudian.

__ADS_1


"Ya, kau benar. Mereka berdua memang bisa diandalkan." Versica sependapat. "Karena selain merencanakan penyerangan, mereka juga tengah sibuk melakukan pembangunan kembali wilayah yang berhasil diambil alih," tambahnya.


"Apa Rhapsodia sedang melakukan pembangunan ulang di tengah peperangan yang masih berlangsung?" Tampak Joan sedikit terkejut.


Versica kembali mengangguk. "Benar. Bahkan sekarang jalur antara Kota Mara ke Kota Meso dan Kota Ulry sedang dibangun," jawabnya.


"Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi," ucap Joan mengeleng pelan. "Kuharap mereka segera mengambil alih wilayah ini dan Cirrus untuk segera menyelesaikan masalah kelaparan dan wabah penyakit yang sedang terjadi."


"Ya, kami semua juga berharap hal yang sama," balas Versica.


\=


Sementara di kediaman Tyrion di Kota Hui di perbatasan wilayah Damcyan, terlihat Vistralle dan beberapa anak buahnya mengadakan pertemuan dengan Tyrion.


"Kau memang tidak becuh, Vis," ucap Tyrion seraya menggeleng pelan membuka pertemuan tersebut.


Ucapan tersebut tidak terlalu menyinggung Vistralle. Namun beberapa anak buahnya terlihat mulai merubah raut wajah mereka karena tidak terima.


"Ya, aku akui itu, Ty," balas Vistralle dengan tenang. "Tapi kuharap kau tidak melakukan kesalahan yang sama seperti ku," tambahnya.


"Ck." Tyrion terlihat jengkel mendengar ucapan Vistralle tersebut.


"Segeralah bergerak untuk melakukan perlawanan penuh terhadap kerajaan itu sebelum terlambat," ucap Vistralle lagi. "Dan buatlah aliansi dengan kerajaan Joren dan Augra," tambahnya dengan nasehat.


"Ya, bila hanya kekuatanmu saja tidak akan dapat menandingin mereka," jawab Vistralle dengan tenang seraya melipat tangannya di depan dada.


"Kau!" Terpihat Tyrion menunjuk liar ke arah Vistralle.


Kali ini giliran anak buah Tyrion yang terlihat geram. Sementara anak buah Vistralle mulai tersenyum meremehkan.


"Kau sendiri tahukan? Lycan yang kau bangga-bangga kan itu dihabisi tanpa sisa di serangan pertama mereka. Apa kau masih berfikir bahwa para Mugger itu berbeda?" ucap Vistralle lagi masih dengan sikap tenangnya.


Dan Tyrion pun tidak dapat menjawab perkataan dari tamunya itu. Pria tambun itu kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan kasar.


"Dan untuk kembali mengingatkanmu, kerajaan itu baru mengunakan sebagian dari kekuatannya untuk melawanku." Vistralle kembali berucap. "Entah senjata apa lagi yang masih mereka simpan untuk menyerang wilayah ini nantinya.


"Bahkan pasukan Augra yang jauh lebih besar dalam hitungan jumlah prajurit itu saja dapat mereka pukul mundur saat hendak melakukan penyerangan di pertambangan Trava." Pria Narva dengan rambut dikuncir kuda itu menjedah ucapannya untuk membenahi posisi duduknya.


"Dan apa kau pikir pasukan di wilayah pertambangan itu cukup besar hingga dapat memukul mundur pasukan inti Augra yang berjumlah seratus prajurit lebih itu?" ucap Vistralle lagi menambahkan.


Wajah-wajah paham dan mengerti pun mulai terlihat pada beberapa orang yang ada di tempat itu.

__ADS_1


"Saat ini kita butuh kekuatan lebih dari dari sebelum-sebelumnya. Karena bila kita gagal mengalahkan kerajaan itu sekarang, maka mereka tidak akan dapat dijatuhkan lagi," ucap Vistralle seperti sedang memberikan sebuah peringatan kepada Tyrion.


Sementara Tyrion hanya terdiam tidak menjawab. Terlihat dari tatapannya yang menerawang, pria setengah baya itu sedang melakukan perhitungan dalam kepalanya.


"Lalu apa rencanamu untuk meyakinkan Joren dan Augra?" tanya Tyrion kemudian. Yang segera disambut dengan senyuman oleh Vistralle.


\=


Beralih ke Kota Eridu, kota pertambangan Kerajaan Augra di selatan Pegunungan Trava.


Tampak Jendral yang memimpin pasukan Augra melakukan penyerangan ke Pertambangan Trava beberapa hari sebelumnya, kini tengah mengadakan pertemuan dengan beberapa petinggi militer dan seorang Jarl pemimpin wilayah timur tersebut. Tepatnya Jarl yang melaporkan penyerangan terhadap Pertambangan Trava kepada sang Raja.


"Jadi itu bukan seekor burung, Dux?" Jarl yang dikenal dengan nama Ricard itu bertanya ulang kepada sang Jendral yang juga merupakan seorang Dux dengan nama Farnir.


Pertanyaan Ricard tersebut hanya sekedar untuk memastikan setelah ia selesai mendengarkan semua kisah yang tengah terjadi selama penyerangan.


"Benar. Yang kalian sebut sebagai Berunda itu sebenarnya adalah sebuah Kapal yang dapat melayang di udara." Sang Jendral menjawab.


"Tapi tetap saja hal itu masih terdengar tidak masuk akal," ucap Ricard dengan setengah mendesis.


"Tidak saya sangka mereka memiliki benda seperti itu. Dan benarkah kapal itu tidak mengunakan sihir?" Kali ini seorang Narva yang terlihat sedikit tua ikut bicara.


"Benar, Jarl Hendrix. Benda terbang itu tidak menggunakan sihir. Ada pun Aliran Jiwa yang terpancar dari benda itu adalah Aliran Jiwa dari para penyihir yang berada di atas Kapal tersebut." Kini seorang kesatria yang duduk di sebelah sang Jendral yang menjawab dan menjelaskan.


"Meski kita telah berhasil membongkar tipu muslihat mereka, tetap saja kita tidak bisa menghadapi benda terbang tersebut. Lalu bagaimana kalau mereka melakukan serangan ke kota ini?" Pria bernama Hendrix itu mulai terlihat panik dan kuatir.


"Bila benar mereka ingin melakukan serangan ke kota ini, maka mereka pasti sudah tiba di tempat ini dari dua hari yang lalu," jawab sang Jendral mencoba menengangkan. "Aku rasa mereka tidak berniat melakukan serangan ke kota ini."


"Ya, setidaknya belum," timpal Ricard cepat. "Lalu apa rencana anda setelah ini, Dux?" tanyanya kemudian kepada sang Jendral.


"Menyerang melalui Perbukitan Trava kini sudah tidak bisa dijadikan pilihan lagi," jawab sang Jendral. "Kini tinggal menyerangan secara langsung, entah ke perbatasan wilayah Lighthill atau perbatasan wilayah Saronia. Atau mungkin di kedua tempat itu secara bersamaan," jelasnya kemudian.


"Itu berarti anda harus kembali ke Kotaraja untuk melapor dan mengatur ulang pasukan?" Ricard bertanya untuk memastikan.


"Benar. Rencananya aku akan berangkat dari tempat ini besok subuh. Karena semakin cepat, akan semakin baik."


"Saya setuju. Karena kabarnya kemarin Kota Dios telah berhasil diambil alih oleh kerajaan itu. Dan itu menandakan bahwa wilayah di sisi timur kini sudah kembali seluruhnya ke dalam kekuasaan mereka," ucap Ricard mencoba membagi kabar dengan yang lain.


"Cukup mengesankan. Mereka bahkan berhasil mengalahkan Vistralle secara penuh." Hendrix ikut berucap.


"Tidak mengherankan lagi dengan benda terbang yang mereka miliki itu. Karena dengan benda tersebut, bukan hanya menguntungkan dalam segi serangan udara saja, tapi juga mempermudahkan mereka untuk mengirim pasukan dimanapun dan kapanpun tanpa disadari oleh para penjaga," ucap Ricard memberikan penilain dan analisanya.

__ADS_1


"Kurasa kita perlu mengerahkan pasukan dengan Senjata Mistik untuk menghadapi kapal terbang tersebut," ucap sang Jendral membalas. "Itu pun kalau mereka belum mempersiapkan sesuatu untuk mengantisipasinya," tambahnya kemudian.


-


__ADS_2