
Kapal Udara yang mengangkut Aksa tiba di wilayah pusat Rhapsodia saat puluhan prajurit sudah digerakan dari Garnisun Utara menuju ke gerbang Kota Selatan.
Sementara sebagian lainnya menuju ke Kota Pelabuhan barat, untuk bersiap melakukan pelayaran menuju ke perairan wilayah Tyrion.
Kemudian lewat tengah hari wilayah Gerbang Selatan sudah terlihat seperti sebuah Garnisun dadakan.
Baik para prajurit maupun para pemimpin militer tampak mulai membuat tenda-tenda di sekitaran tembok Tebing Selatan. Mereka bersiap untuk melakukan penyerangan langsung yang akan dilancarkan besok pagi.
Terlihat pula beberapa Kereta Tempur dengan bentuk yang baru berjajar di sekitar pintu gerbang. Kereta Tempur itu jauh lebih besar dan panjang dengan 6 roda terpasang di sisi kiri dan kanannya.
Terdapat sebuah tiang besi seperti Antena yang biasa ada pada Menara Komunikasi, terpasang di bagian atasnya. Tepat di belakang laras senjata yang terlihat seperti meriam dengan peluru peledak, serupa senjata yang dipasang pada Kereta Penghancur. Hanya saja yang ini berukuran sedikit lebih kecil.
Mereka juga menyiapkan Kereta Penghancur, namun tidak akan digunakan dalam penyerangan kali ini. Kereta tersebut akan dikirim ke perbatasan wilayah Augra setelah mereka berhasil mengambil alih wilayah Lighthill dan Ravus nantinya.
-
Sore harinya, beberapa kelompok pasukan, baik manusia maupun Yllgarian, di bawah pimpinan Vossler mulai diterbangkan ke tengah wilayah selatan untuk melakukan penyerangan tempat-tempat penting mengikuti arahan dari Versica.
Hanya sisa 200 prajurit yang tinggal di depan Gerbang Selatan tersebut. Prajurit yang besok rencananya akan melakukan penyerangan langsung ke arah kota Varun.
Memang dalam segi jumlah prajurit Rhapsodia tidak sebanyak prajurit Vistralle yang ditambah dengan Serikat Petarung Bayaran. Apa lagi nantinya pasukan itu akan dibagi menjadi dua untuk melakukan serangan secara sekaligus ke wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Augra.
Sebenarnya untuk ukuran sebuah wilayah sekelas kerajaan, idealnya Rhapsodia harus memiliki sedikitnya seribu prajurit, baik untuk menyerang maupun untuk bertahan. Namun karena kerajaan itu lebih mementingkan segi pembangunan dan pengembangan wilayah, maka mereka tidak memiliki cukup banyak prajurit.
Dan bila ditambah dengan jumlah prajurit Yllgarian, total prajurit Rhapsodia hanya sebanyak 800 orang saja. Dan 200 nya sendiri sudah digunakan untuk berjaga di keempat wilayah gerbangnya.
Jadi hanya tinggal 600 prajurit yang tidak memiliki tugas. Dan dengan membaginya untuk menjaga Pertambangan Trava, persiapan penyerangan ke perairan wilayah Tyrion, juga untuk melakukan penyerangan secara gerilya ke tempat-tempat penting wilayah Vistralle, maka sisanya hanya tinggal 200 prajurit itu saja.
Namun meski begitu, Nata merasa percaya diri bahwa kekuatan pasukan mereka tidak akan sebading dengan pasukan lawan. Setidaknya bila dibandingkan dengan pasukan Vistralle. Karena disamping pelatihan, peralatan, dan persenjataan yang baru, pasukan Rhapsodia juga memiliki semangat dan mental yang jauh lebih baik dibanding prajurit lain di luar kerajaan tersebut.
-
Kemudian malam harinya, setelah Nata selesai melakukan pemeriksaan terakhirnya, tanpa sengaja ia melihat sosok Lucia yang sedang duduk di sebuah kursi lipat di atas tembok tebing selatan, saat hendak kembali ke tendanya.
Tampak Lucia sedang menatap hamparan gelap di luar gerbang. Dan karena merasa penasaran, Nata pun menghampiri.
"Anda sedang melamun atau sedang merenung, Yang Mulia?" tanya Nata yang terlihat sedikit mengejutkan Lucia.
__ADS_1
"Oh, kau, Nat?" Lucia terlihat membenahi jubah yang merangkap pakaian malamnya. "Bicaralah seperti biasa saat hanya ada kita berdua," ucap perempuan itu kemudian.
"Dimana Jean dan prajurit penjaga Anda?" Nata terlihat celingak-celinguk menatap sekelilingnya.
"Aku keluar dari tendaku sembunyi-sembunyi," jawab Lucia kemudian.
"Begitu rupanya. Lalu sedang apa Yang Mulia berada di sini sendirian?" Nata berjalan mendekat ke sebelah kursi Lucia.
"Sudah kubilang jangan berbicara terlalu sopan seperti itu padaku kalau tidak ada orang lain." Lucia kembali memperingatkan Nata.
Sedangkan Nata tidak menjawab. Pemuda itu hanya mengikuti Lucia menatap ke arah kegelapan di luar gerbang.
"Aku hanya sedang beristirahat dan menikmati keheningan sebelum badai ini," ucap Lucia memecah kesunyian yang sempat terjadi.
"Apa Anda sedang memikirkan sesuatu?" tanya Nata tiba-tiba.
"Jelas bohong kalau ku bilang tidak. Sedang saat ini saja pasukan kita sudah memulai penyerangan," jawab Lucia dengan tawa kecil yang terdengar seperti tawa basa-basi.
"Anda harusnya membagi beban pikiran anda ke orang-orang di sekitar anda. Karena ini juga perjuangan mereka," ucap Nata kemudian.
"Lihat, orang yang memikirkan semuanya sendiri berbicara tentang membagi tugas untuk berpikir," balas Lucia masih dengan senyuman basa-basinya. "Jangan kuatir, Nat. Aku sudah membagikan semua tugas dan beban untuk memikirkan hal ini pada yang lain. Terutama kepadamu," tambahnya lagi.
"Sudah kubilang jangan memanggilku Yang Mulia sekarang ini." Lucia tampak mulai sedikit kesal karena perkataannya tidak dihiraukan oleh Nata.
Sedangkan Nata hanya terdiam tidak menjawab seperti sebelumnya.
"Tapi benar ucapanmu. Aku memang masih dipenuhi pemikiran yang tidak bisa ku bagikan," ucap Lucia kemudian. "Pemikiran yang hanya berlaku untuk seorang Pemimpin, mungkin?"
"Saya mengerti kekuatiran Anda. Tapi itu hal yang lazim terjadi. Jadi percumah untuk dipusingkan atau dijadikan beban." Nata kembali berucap dengan masih menatap ke kegelapan di hadapannya.
"Maksudmu?" Kali ini Lucia menatap ke arah Nata.
"Ketidakpastian," ucap Nata belum merubah arah pandangannya. "Menurut komik yang pernah saya baca, hidup itu baru pantas untuk dijalani saat tidak dapat diperkirakan," lanjutnya kemudian.
"Apa maksudnya?"
"Kita harus membuat rencana, menduga-duga, menentukan pilihan, menghindari halangan, mengatasi masalah, itu semua adalah hidup," ujar Nata yang kali ini baru menatap ke arah Lucia. "Kalau kata Aksa, kita akan mati bosan saat kita tahu dengan pasti apa yang akan terjadi esok hari."
__ADS_1
Tatapan mereka berdua saling bertemu. Cukup lama sampai kemudian Lucia mengalihkan pandangan ke kegelapan yang membentang di hadapannya.
"Ya, kurasa kalian memang benar. Kurasa aku sedang melakukan hal yang sia-sia selama ini," ucap Lucia kemudian. "Kurasa aku akan mulai mencoba untuk tidak terlalu memikirkan tentang masalah seperti ini lagi kedepannya."
"Benar. Mencoba jauh lebih baik dari pada tidak melakukan apapun," balas Nata.
"Lalu bagaimana dengan kalian sendiri?" Lucia merubah tema pembicaraan.
"Bagaimana dengan kami?" tanya Nata sedikit terlihat bingung.
"Apa rencana kalian sendiri?"
"Maksud Anda tentang kepulangan kami?"
"Benar. Bukankah rencana yang terkesan terburu-buru ini juga bagian dari rencana kalian untuk segera kembali ke dunia kalian, kan?"
"Ya, kurang lebih," jawab Nata seraya kembali menatap ke arah depan. "Bila kita bisa segera menyetabilkan wilayah kerajaan ini, maka kami berdua bisa segera memikirkan cara untuk menyalakan kembali Mesin Pemecah Partikel itu," jelasnya kemudian.
"Maafkan aku, Nat. Semua ini jadi seperti sebuah kewajiban buat kalian. Padahal ini semua adalah kewajibanku sebagai seorang pemimpin." Lucia berucap dengan tatapan yang biasa Nata lihat. Tatapan penuh rasa bersalah.
"Bukankah beberapa saat tadi Anda berkatakan akan berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal seperti ini di kedepannya?"
Lucia hanya terdiam dan kembali menatap ke depan. "Tapi yang kukatakan itu kebenaran," ucapnya kemudian.
"Jangan terlalu memikirkan tentang hal tersebut. Kami melakukan hal ini karena keinginan kami sendiri." Nata berucap. "Meski mungkin setelah mengatakan hal ini saya akan mendapatkan hukuman, tapi tetap akan saya katakan bahwa pada dasarnya kerajaan ini adalah buatan kami," tambahnya sambil tersenyum konyol.
"Hahaha... Kalian tidak akan dihukum hanya karena mengatakan sebuah fakta. Bahkan semua orang akan setuju saat mendengarnya," jawab Lucia dengan tawa lepas yang belum pernah dilihat Nata semenjak ia tiba di masa ini.
"Maka dari itu, kami juga merasa memiliki kerajaan ini. Dan tidak ingin melihat kerajaan ini hancur," lanjut Nata kemudian.
"Kau lucu sekali, Nat. Kalian merasa memiliki kerajaan ini tapi tidak pernah berniat untuk memilikinya," ucap Lucia masih dengan tawa yang terasa lebih alami dibanding sebelumnya.
"Kami memang orang-orang lucu, Yang Mulia," sahut Nata yang juga ikut tertawa.
Sementara tanpa disadari oleh Nata dan Lucia, Jean terlihat sedang duduk di salah satu undakan tangga, tak jauh dari tempat kedua orang itu berada. Mendengarkan semua percakapan mereka dalam diam.
Terlihat Kesatria peremuan itu tersenyum haru mendengar Lucia tertawa dengan lepas. Hal yang tidak pernah ia lihat selama lebih dari lima tahun terakhir.
__ADS_1
"Bocah itu bisa juga berlaku seperti seorang pria dewasa," ucap Jean kemudian.
-