Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
15. Rencana


__ADS_3

Kembali ke Kota Tengah bersama Nata dan pertemuan yang diadakannya.


"Bagaimana dengan menara jaga dan sistem komunikasi dengan morse.., maksud saya dengan menggunakan tanda kedipan lampu?" tanya Nata setelah meneguk habis sisa minumannya.


"Kami masih menggunakan cara berkomunikasi seperti itu antar menara jaga. Juga karena dengan cara berkomunikasi seperti itulah kami bisa cepat tanggap saat wilayah Kota Tengah diserang lima tahun yang lalu." Caspian menjawab.


"Apa jaringan kabel listrik sudah terpasang semua?" Nata bertanya lagi.


"Sebagian sudah. Namun jalur antar wilayah masih belum terpasang. Karena kami mulai kehabisan tembaga." Orland menjawab.


"Oh, apa kita tidak bisa mendapatkan tembaga dari tempat lain?"


"Untuk saat ini sangat susah. Mengingat jalur perdagangan kita sedang ditutup oleh kerajaan lain." Orland menjawab lagi. "Tapi bila hanya dalam jumlah kecil kita masih bisa memperolehnya dari wilayah utara," imbuhnya lagi.


"Seingatku dulu ada sebuah pertambangan di selatan wilayah Urbar, kan?" Nata menarik kursinya ke belakang kemudian berdiri dan beranjak untuk mengambil botol minum di ujung ruangan.


"Benar." Orland menjawab sambil mengangguk kecil. "Ada di wilayah pegunungan Trava di sebelah barat bekas Estat Saronia. Atau lebih tepatnya di selatan distrik Tiga yang sekarang berada dalam kekuasaan kerajaan Augra. Dulu wilayah itu merupakan wilayah penghasil tembaga terbesar saat masih di bawah kerajaan Urbar."


"Jadi wilayah itu sekarang berada dalam kekuasaan kerajaan Augra?" tanya Nata yang sudah kembali duduk dan mulai menuangkan minuman dari botol ke dalam gelasnya.


"Benar." Orland menjawab singkat.


"Lalu untuk jaringan kabel yang berada di luar wilayah pusat ini?"


"Sepertinya beberapa telah dibongkar oleh orang-orang Vistralle. Begitu pula beberapa generator yang kita bangun di kota Varun dan kota lain di distrik Satu." Caspian menjawab.


"Kurasa orang itu pasti sudah mulai paham bagaimana listrik dihasilkan setelah melihat isi dari generator-generator itu." Nata terlihat berpikir. "Untung itu hanya generator manual dan generator yang digerakan oleh kincir angin saja. Jadi tidak banyak informasi yang bocor."


"Mereka sepertinya masih belum mengerti bagaimana cara menyimpan tenaga listrik itu untuk digunakan tanpa sambungan langsung dari generator." Caspian menimpali. "Sekarang ini mereka hanya menggunakannya untuk menyalakan lampu-lampu jalanan, dan kebutuhan penerangan lainnya," tambahnya kemudian.


"Ya, tapi berani ku jamin tak lama lagi mereka pasti menemukan cara menggunakan listrik itu untuk hal yang lain." Nata berucap dengan yakin.

__ADS_1


"Saya juga berpikir demikian."


"Baiklah kalau begitu. Sekarang kita akan bicara tentang pasukan." Nata melanjutkan ke tema yang lain. "Berapa pasukan yang kita punya saat ini?"


"Sekarang ini kita memiliki sekitar dua ribu pasukan termasuk para Yllgarian." Caspian menjawab.


"Dan pasukan yang dimiliki Tyrion?"


"Menurut informasi, mereka memiliki enam ribu secara total. Namun itu tidak dijamin akurat."


"Berarti bila kita anggap itu akurat, maka perbandingannya adalah satu banding tiga," ujar Nata seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang. Terlihat ia sedang berpikir.


"Benar," jawab Caspian dengan enggan.


"Aku yakin mereka pasti sudah mengantisipasi serangan Kereta Tempur dan Kereta Penghancur kita dengan kemampuan mereka mengolah logam Dracz sekarang ini. Maka, kita harus mengganti taktik dan mulai meningkatkan kemampuan prajurit kita secara perorangan untuk dapat menghadapi jumlah dari prajurit lawan," ucap Nata kemudian.


"Dan seperti apa sebenarnya meningkatkan kemampuan yang Anda maksudkan?" Kali ini Helen yang bertanya. "Selama ini para prajurit sudah dilatih dengan sangat keras. Saya rasa bila harus berlatih lebih dari yang sekarang ini, mereka pasti tidak akan mampu menahannya. Dan hal tersebut dapat membahayakan diri mereka sendiri," ucapnya menyuarakan pendapat.


"Yang kau maksud dengan pengetahuan itu seperti yang di sekolahan?" Lucia menyela penasaran.


"Lebih tepatnya sih, kita akan mengajari mereka kemampuan untuk bertahan hidup. Dan beberapa strategi dasar mengenai pertempuran," jawab Nata kemudian.


"Bertahan hidup? Strategi dasar pertempuran?" Helen terlihat tidak mengerti maksud dari ucapan Nata tersebut.


"Dan juga kita harus memulainya secepat mungkin. Karena mereka harus mendapatkan pelatihan tentang hal-hal itu tadi setidaknya selama 6 bulan sebelum benar-benar bisa digunakan di medan perang," lanjut Nata.


"Kami bisa mengatur hal tersebut secepatnya. Tapi seperti apa kiranya pelatihan itu, Tuan Nata?" Helen masih tidak bisa membayangkan maksud ucapan Nata.


"Seperti misalnya mengajari mereka cara menangani luka seperti seorang tabib." Nata mencoba untuk memberi penjelasan.


"Tabib?" Kali ini hampir semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Benar. Jadi setiap prajurit setidaknya dapat menangani luka mereka sendiri atau membantu teman mereka yang terluka tanpa harus menunggu para Penyembuh," jelas Nata lagi.


"Seorang prajurit yang juga sekaligus seorang tabib?" Helen terlihat tidak yakin hal tersebut bisa benar-benar terwujud.


"Benar, kita akan membuat bukan hanya pasukan Penyembuh Petarung saja, tapi juga pasukan Tabib Petarung." Nata melanjutkan penjelasannya. "Kemarin saya sudah berbicara dengan Nona Ellian dan Tuan Selene untuk menyiapkan beberapa ramuan obat dan alat yang biasa digunakan oleh tabib."


"Sebentar, Tuan Nata. Tapi apa hal itu mungkin untuk dilakukan? Mengajarkan para prajurit itu untuk menjadi seorang tabib?" Helen masih terlihat pesimis.


"Tabib tidak memerlukan kemampuan sihir tertentu seperti Penyembuh atau Druid. Jadi sangat mungkin untuk dipelajari," jawab Nata mencoba meyakinkan Helen.


"Dan juga tidak harus sampai menjadi ahli seperti Aksa. Kita hanya perlu membuat mereka bisa melakukan penanganan pertama terhadap luka. Entah luka gores, tusuk, atau mungkin luka bakar.


"Setidaknya untuk menghindarkan mereka dari infeksi luka yang dapat menimbulkan penyakit atau sekedar mengurangi rasa sakit saat harus melarikan diri dari medan peperangan." Nata menutup penjelasannya.


"Secara ide hal tersebut memang terdengar sangat berguna. Tapi apakah mungkin para prajurit itu bisa melakukannya?" sahut Helen setelah Nata selesai berucap. "Mengingat beberapa prajurit memilih untuk menjadi prajurit karena kekurangan mereka dalam memahami pengetahuan lainnya," ungkdp kesatria perempuan itu.


"Ya, saya mengerti maksud Anda, Nona Helen. Maka dari itu kita juga harus mulai menyeleksi kemampuan para prajurit itu memahami sesuatu, dan mulai mengkelompokan mereka sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing," jawab Nata kemudian. "Karena nantinya kita akan membagi pasukan menjadi beberapa kelompok kecil, yang sekaligus memperkenalkan sistem hirarki yang baru di dalamnya."


"Hirarki baru?" Yang lain kembali dibuat semakin bingung dengan penjelasan Nata.


Namun terlihat Nata tidak terlalu perduli dan meneruskan penjelasannya. "Kita juga akan mengajari mereka cara membaca arah dan waktu. Kemudian mengenalkan cara berkomunikasi yang baru untuk bidang kemiliteran. Agar ketika berada di medan perang, perintah dan informasi bisa lebih mudah tersampaikan, dan tidak dapat dibaca oleh lawan."


"Dan yang terakhir, kita akan mengajari mereka untuk menyusup seperti seorang pencuri." Dan penjelasan Nata berakhir.


"Seperti seorang pencuri?" Lucia seperti sedang memastikan.


"Benar. Sebelumnya kita melakukan penyerangan secara langsung karena lawan tidak mengira, dan menganggap remeh kemampuan kita. Namun sekarang lawan sudah bersiap dan sangat waspada terhadap gerak-gerik kita. Serangan yang sama tidak akan berhasil." Nata menjelaskan.


"Apakah maksudmu kita akan melakukan pertempuran dengan cara menyerang dan sembunyi?" tanya Lucia lagi.


"Tergantung situasinya nanti, Yang Mulia. Namun setidaknya prajurit kita sudah siap bila memang cara tersebut dibutuhkan," jawab Nata kemudian. "Karena tujuan kita yang pertama adalah, merebut kembali pertambangan Trava dalam waktu enam bulan ini," tambahnya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


-


__ADS_2