Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
02. Percakapan Malam VI


__ADS_3

"Kurasa kita perlu membuat perubahan tehadap bentuk dari Kapal Udara itu, Aks," ucap Nata yang tampak sedang berebah di sofa-ranjang di ujung ruangan dalam tenda mereka.


Hanya ada Aksa, Nata, dan Lily di tenda tersebut. Dan mereka tampak sedang bersantai menunggu Rafa dan Luque kembali dari Desa Waduk.


"Iya-iya, aku tahu design nya memang tidak praktis untuk digunakan terbang dengan kecepatan dan ketinggian tertentu," sahut Aksa dari seberang ruangan. Tampak sedang menggosok senjata Gunblade miliknya itu dengan kain. Sedang di sampingnya tampak Lily yang sibuk di depan Laptop, melihat beberapa gambar yang baru saja diambil olehnya menggunakan Drone.


"Bukan itu yang aku maksud. Tapi ya, yang kau katakan itu memang benar. Hanya kau nya saja yang memaksa menggunakan design fantasi seperti itu," balas Nata kemudian.


"Tapi terlihat keren, kan? Romansa dari petualangan fantasi nya terasa sekali, kan?" jawab Aksa sambil menatap ke atap tenda seolah sedang membayangkan sebuah petualangan.


Nata tampak menoleh ke arah Aksa dan menatap sahabatnya itu dengan sinis tanpa kata-kata.


"Iya-iya, baiklah aku akan merubah design nya," sahut Aksa yang kembali menggosok Gunblade di tangannya. "Kapal Udara itu akan ku tambahi dengan pemanas ruangan dan formasi sihir untuk perlindungan otomatis dari terpaan angin," ucapnya kemudian.


"Kau ini masih saja." Nata kembali memejamkan matanya.


"Iya-iya. Lalu kau mau aku merubah bentuknya jadi seperti apa? Gerbong kereta? Atau kereta gondola?" tanya Aksa dengan nada malas tanpa menatap ke arah Nata. "Oh, aku tahu. Kita buat bergaya Victorian Steam Punk saja," ucapnya kemudian terlihat kembali bersemangat.


"Bukan. Buat seperti seekor burung," ucap Nata kemudian.


"Sebentar. Apa aku tidak salah dengar?" Aksa menoleh cepat ke arah sahabatnya itu. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa kau ingin aku membuat Kapal Udara itu jadi seperti kendaraan hias untuk parade pas Karnaval Kemerdekaan?"


"Bukan begitu. Tidak harus seperti burung sungguhan. Tapi cukup seperti burung saja," jawab Nata yang masih terlihat memejamkan matanya.


"Apa kau mabuk, sekarang? Ucapanmu tidak masuk akal, Nat," sahut Aksa,


Nata menghembuskan nafas panjang, kemudian mengangkat tubuhnya ke posisi duduk. "Jadi yang aku maksud adalah, aku ingin membuat Kapal Udara itu menjadi semacam divine object, Myth, Legend, pokoknya semacam itu," jelasnya kemudian.


"Maksudmu?" Aksa menelengkan kepalanya menatap Nata dengan wajah bingung.


"Karena Kapal tersebut adalah hal baru di dunia ini, maka aku ingin membuatnya menjadi simbol secara mental, baik untuk menaikan semangat prajurit kerajaan ini, juga untuk membuat kerajaan lain berpikir ulang saat hendak menyerang kita." Nata yang sudah dalam posisi bersila itu kembali menjelaskan.


"Apa kau mau menyebarkan semacam rumor tentang Kapal Udara itu adalah Utusan Dewa atau samacamnya, seperti yang pernah kau lakukan kepada Lugwin?"


"Benar. Aku ingin membangun rumor bahwa kerajaan ini punya burung cahaya yang legendaris itu." Nata menjawab.

__ADS_1


"Maksudmu Bherunda?" Lily yang sedari tadi hanya menyimak, tiba-tiba saja bertanya.


"Benar," jawab Nata singkat.


Sedang Lily terlihat mengangguk kecil seperti sedang menilai gagasan Nata tersebut dalam diam.


"Hm... menarik juga, sih. Berarti kita harus menambahkan sayap dan juga banyak sekali lampu. Dengan begitu, orang yang melihatnya dari bawah akan mengira itu seekor burung dan bukan sebuah kapal yang menggantung pada sebuah balon." Terlihat Aksa mulai berbicara sendiri.


"Iya, seperti itu. Apakah kau bisa membuatnya?" tanya Nata kemudian.


"Tapi model cosplay ini tidak untuk semua Kapal Udara, kan?"Aksa balik bertanya untuk memastikan.


"Tidak. Satu saja sudah cukup."


"Apa kau tahu seperti apa Burung Mistik legendaris itu, Lily?" Kali ini Aksa bertanya kepada Lily.


Lily mengangguk kecil. "Sepertinya Para Bijak memiliki gulungan tentang hewan-hewan mistik legenda. Biasanya juga dilengkapi dengan gambar dari sosok hewan tersebut," ucap gadis kelinci itu kemudian.


"Wah, aku tidak tahu The Wisemen Yllgarian itu punya buku-buku yang belum ku baca." Terlihat Aksa lebih tertarik pada gulungan-gulungan yang belum pernah ia baca sebelumnya itu. "Apakah aku boleh meminjamnya untuk dibaca?" tanyanya yang terlihat seperti memohon.


"Jadi bagaimana, Aks?" Nata kembali memastikan.


"Baiklah. Beri aku waktu tiga hari," balas Aksa dengan senyuman yang terlihat lebih seperti sebuah seringai.


.


"Lalu, bagaimana dengan Antena Pemancarnya? Apa kau sudah menyiapkannya, Aks?" Kali ini Nata bertanya setelah memastikan air dalam teko besi di tungku perapian sudah mendidih.


"Sudah di uji coba, dan tinggal tunggu Tuan Matyas menyelesaikan sisanya. Mungkin dalam 2 minggu ini," jawab Aksa yang sedang mengamati Gunblade nya dari segala arah dengan tatapan kagum dan bangga.


"Lalu Pengerak Generatornya?" Nata mengambil kaleng dari rak kayu di sebelah tungku perapian.


"Aku sudah membuat dua jenis pengerak. Satu dengan turbin angin vertikal, agar baling-balingnya tidak terlalu kentara dari kejauhan. Dan kedua dengan turbin air vertikal, juga supaya tidak ada yang melihat baling-balingnya dari kejauhan," jawab Aksa yang belum memalingkan pandangan kagumnya dari senjata di tangannya itu. "Hanya saja untuk yang turbin air vertikal itu butuh waktu untuk memasangnya, karena harus melakukan sodetan pada sungai," tambahnya kemudian.


"Lalu, untuk suara Generatornya?" Kali ini Nata sudah mulai memasukan beberapa kantong kasa ke dalam teko besi tadi.

__ADS_1


"Sudah ku pasangi peredam seperti yang kau minta. Kotak kayu dilapis dengan campuran kertas dan kapas di bagian dalamnya," jawab Aksa. "Tapi mungkin masih tetap akan terdengar mendengung dalam jarak 1 atau 2 meter."


"Bukan masalah. Rencana kita akan menjadikannya semacam antena relay dan menempatkannya di tempat-tempat tinggi yang jauh dari keramaian dan sulit untuk dijangkau baik orang maupun hewan," ucap Nata sambil meletakan teko besi tadi dan 3 buah gelas di atas meja di depan Aksa dan Lily duduk.


"Tapi meskipun transmitter-receiver nya sudah kubuatkan pelindung luar yang cukup kuat, tetap kau harus membangun tempat pelindungan lagi untuk meminimalis kerusaan. Apa lagi terhadap cuaca," ucap Aksa mengingatkan.


"Ya, aku sudah memikirkan untuk membawa beberapa tukang saat memasang Antena-Antena tersebut," jawab Nata sambil mulai menuangkan minuman dari teko besi tadi ke gelas-gelas.


"Hm, lalu berapa lama perkiraanmu untuk menyelesaikan pemasangan semua Antena itu... berapa? 18 Antena, kan?" Aksa menerima gelas yang ditawarkan Nata padanya.


"Estimasiku, sekitar 2 hari untuk pemasangan tiap Antenanya." Kali ini Nata menawarkan gelas pada Lily. Yang diterima dengan ucapan terima kasih.


"Kau juga harus menghitung pemasangan Generator dan alat Penggeraknya, Nat," ucap Aksa sebelum kemudian menyeruput minuman dalam gelasnya.


"Ya berarti anggap saja 2 hari juga, jadi total sekitar 4 hari pengerjaan," balas Nata yang kini kembali duduk di sofa-ranjang dengan gelas minum di tangan.


"Berarti selesai dalam 2 setengah bulan? Apa kau yakin selama itu tidak akan ada yang tanpa sengaja melihat Kapal Udara kita?"


"Ya, satu-satunya cara untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat adalah dengan mengerjakannya secara parallel. Jadi secara ekstrim bisa kita selesaikan dalam waktu 4 hari saja." Nata menjawab.


"Tapi itu berarti kau butuh banyak pekerja."


"Benar. Dan resiko lainnya adalah, ada orang yang akan curiga bila melihat ada beberapa orang di beberapa tempat secara bersamaan," jawab Nata lagi sambil meniup-niup kecil permukaan minumannya. "Tapi itu resiko yang harus kita ambil."


"Dan itu juga bila kita memiliki beberapa orang itu." Aksa kembali mengangkat senjatanya di bawah cahaya lampu, agar dapat dilihat lebih jelas.


"Anggap saja untuk 1 Antena, kita perlu 4 pekerja, 2 penyihir, 4 pengerajin, dan 8 prajurit untuk berjaga dan melindungi para pekerja." Nata mulai mencoba menjelaskan perkiraannya. "Jadi bila kita bisa mengerjakannya dalam 2 tahap, yang berarti 9 Antena pertahapnya. Itu berarti kita hanya perlu 36 pekerja, 36 pengerajin, 18 penyihir, dan 72 prajurit," lanjutnya kemudian. "Kurasa kita masih bisa mengusahakan jumlah sebanyak itu."


"Tapi akan menambah waktu pengerjaan," ucap Aksa kemudian.


"Kurasa 1 minggu masih tergolong cukup cepat, lah." Nata kembali menyeruput minumannya.


"Ya, kurasa kau benar," balas Aksa yang akhirnya memasukan senjatanya ke dalam wadah dan menyimpannya di atas rak kayu di belakang tempatnya duduk.


-

__ADS_1


__ADS_2