Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
35. Serangan Rahasia I


__ADS_3

Sementara di saat yang bersamaan di barisan belakang, Lily yang tengah berjaga di belakang Aksa, Nata, dan Lucia, tiba-tiba saja terlihat waspada.


Yllgarian kelinci itu menggenggam erat tongkat sihirnya seraya berjalan mendekati kedua tuannya. Mengedarkan pandangan ke segala arah dengan tajam.


"Ada apa Lily?" Nata bertanya saat menyadari tingkah laku Lily yang tidak biasa.


Namun belum sempat Lily menjawab, muncul secara tiba-tiba sesosok perempuan dari ketiadaan tepat di belakang Lucia dengan pedang terhunus.


Dan masih belum sempat Lily bereaksi, sesosok berjubah dan bertopeng serba putih muncul juga dengan tiba-tiba dan menangkis pedang perempuan tersebut sebelum sempat menyentuh punggung Lucia.


Perempuan penyerang yang terkejut mendapati sosok berjubah yang muncul secara mendadak di hadapannya itu, segera melompat mundur ke belakang, sebelum kemudian memasang kuda-kuda tempurnya.


Lucia yang terkejut dengan serangan itu segera menarik pedangnya dan ikut memasang kuda-kuda bertahan.


Sementara Lily yang mengutamakan keselamatan Aksa dan Nata segera membuat pelindung di depan kedua pemuda tersebut. Dinding sihir berwarna putih transparan.


"Siapa kau?" tanya Lucia terlihat siaga dari samping Nata. Dengan sesekali melirik sekitarnya untuk memastikan tidak ada penyerang lain.


Sementara Prajurit Penjaga Ratu yang sadar akan penyerangan tersebut, segera bersiap dan mengepung perempuan penyerang itu.


"Ternyata kabar tentang penjaga rahasia Ratu Rhapsodia itu bukan hanya hisapan jempol belaka," ucap perempuan penyerang itu masih terlihat waspada terhadap para prajurit yang mengepungnya. "Bahkan Jubah Ma'at tidak dapat mengelabuhi," tambahnya kemudian.


"Oh, bukannya kau Ikhties, perempuan yang ku lawan di atas kapal saat penyerangan Urbar pertama?" ucap Aksa saat mengenali siapa perempuan penyerang itu.


Terlihat Ikhties sedikit terkejut Aksa mengenalinya. "Oh, ternyata kau masih mengingatku, bocah," ucapnya kemudian.


"Jelaslah, aku tidak pernah bisa lupa," sahut Aksa dengan nada menyombongkan diri.


"Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku. Aku akan membunuhmu sekalian," ucap Ikhties sambil menyeringai lebar.


"Hei-hei, aku tidak membunuhmu waktu itu. Jadi tidak alasan untuk membunuhku sekarang, meski kau ingin membalaskan dendam padaku," ucap Aksa buru-buru.


"Itu kesalahanmu. Membiarkan lawanmu hidup. Bahkan melepaskannya," balas Ikhties tidak perduli dengan ucapan Aksa.


"Prajurit, segera tangkap perempuan itu!" perintah Lucia memotong.


Ikhties hanya tersenyum kecil melihat para prajurit penjaga mulai bergerak maju ke arahnya dengan pedang terhunus.


Terlihat perempuan itu melakukan rapalan pendek, sebelum secara cepat tubuhnya mulai memudar dan kemudian benar-benar menghilang. Tak kasat mata.


Hal tersebut cukup membuat para prajurit penjaga terkejut dan kebingungan. Sampai tak lama setelah itu terdengar salah seorang prajurit berteriak berbarengan dengan luka yang terbentuk di bagian leher mereka. Seperti sebuah sabetan pedang.

__ADS_1


Dan lalu prajurit penjaga tersebut mulai berjatuhan satu demi satu hingga tak tersisa lagi.


"Bagaimana? Apa kalian sudah siap untuk mati sekarang?" Suara Ikhties terdengar meski tanpa rupa.


Lily yang sedari tadi mengamati gerak gerik Ikhties, kini sudah mulai mengerti sebagian dari cara kerja dan pola Alat Sihir yang dimiliki perempuan itu. Dan oleh karenanya, sekarang kelinci mungil itu sudah siap untuk menghadapi serangan dari Ikhties.


Namun karena dirasa jauh lebih mudah, maka kali ini Ikhteis sengaja mengganti sasarannya dari Lucia ke Aksa yang terlihat tidak terlalu waspada.


Muncul secara tiba-tiba di samping kiri Aksa melewati pelindung buatan Lily, Ikhteis menyabetkan pedangnya dengan cepat tepat ke arah leher pemuda itu.


Namun dengan cekatan Lily menangkis pedang itu dengan tongkat sihirnya. Dan melakukan serang balik sebelum Ikhties sempat merapal sihir untuk membuatnya kembali menghilang.


Nyaris tanpa rapalan, gadis kelinci itu menembakan sihir cahaya dengan tangan kirinya yang bebas tepat ke perut Ikhties.


Dan meski Ikhties sempat menangkis serangan tersebut dengan pelindung yang dikenakan di tulang kering kaki kanannya, tetap saja dampak dari sihir cahaya Lily mendorong tubuh perempuan itu menjauh ke belakang.


Kemudian tanpa memberi waktu untuk Ikhties bernafas, Lily segera menyusul dengan menghunuskan sihir cahaya berbentuk pedang yang muncul di bagian atas tongkat sihirnya.


"Kau tidak apa-apa, Aks?" tanya Nata yang sudah kembali sadar setelah sempat terperanjat diam melihat kejadian tersebut.


"Oh, nyaris sekali," ucap Aksa menelan ludah sambil memegang lehernya yang baru saja terselamatkan dari tebasan. "Tubuhku terasa lemas semua," tambahnya yang nyaris jatuh terduduk.


"Jadi kau Sang Kilat Putih, legenda perang itu?" tanya Ikhties dengan terengah. Perempuan itu baru saja berhasil menghindari serangan beruntun dari Lily.


"Beruntung aku mengenakan banyak peralatan sihir. Bila tidak, aku pasti tidak akan bertahan dari serangan gila seperti itu tadi," tambah Ikhties yang masih terengah.


Saat ini Ikhties memang tidak hanya dilengkapi dengan Senjata Mistik saja. Ia juga mengenakan pakaian pelindung sihir, seperti jubah, pelindung lengan kanan, dan pelindung tulang kering di kedua kakinya.


"Sepertinya pembicaraan ini tidak menarik minatmu," ucap Ikhties sekali lagi. Nafasnya sudah terdengar sedikit lebih teratur. "Kalau begitu, kita langsung mulai saja," tambahnya kemudian sebelum kembali melakukan rapalan untuk menghilang.


Menyadari hal itu, Lily dengan cepat melesat maju untuk mengagalkan rapalan tesebut. Dan pertarungan sengit pun kembali terjadi.


Aksa, Nata, dan Lucia melangkah mundur untuk berlindung dari pertempuran tersebut, saat kemudian beberapa peluru es meluncur dari arah belakang ke tiga orang itu tanpa mereka sadari.


Untuk Lucia, peluru es yang meluncur ke arahnya berhasil ditangkis oleh sesosok berjubah yang muncul dan hilang dengan tiba-tiba itu, sedang yang meluncur ke arah Aksa dan Nata berhasil dihadang dengan gesit oleh Lily bahkan di tengah pertarungannya dengan Ikhties.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Lily singkat. Yang dibalas Aksa dan Nata dengan anggukan liar karena rasa takut.


"Lebih baik kita berlindung di dalam Kereta Besi agar tidak terlalu membebani Lily," ucap Nata memberi ide.


"Ya, ya, itu ide yang bagus. Ayo cepat, Lucia," ajak Aksa dengan terburu.

__ADS_1


Namun baru beberapa langkah dari tempat mereka menuju Kereta Besi, puluhan, bahkan nyaris ratusan peluru es terlihat memenuhi langit siap menghujani mereka.


Dan mengetahui hal tersebut, dengan cekatan Lily segera merapal sihir untuk menyelamatkan kedua tuannya.


Kelinci mungil itu melompat ke atas menghadang peluru-peluru es tersebut, sebelum kemudian dari ujung tongkat sihirnya muncul seperti kubah transparan yang ia gunakan untuk menghancurkan ratusan peluru es itu secara sekaligus.


Sementara melihat sebuah kesempatan, Ikhties tidak membuang waktu dan segera melancarkan serangannya ke arah Aksa. Dengan kekuatan Senjata Mistiknya yang baru, tubuh perempuan itu mulai terlihat diselimuti sinar berwarna ungu, sebelum kemudian berlari dengan sangat cepat menyerang Aksa dari arah belakang.


Namun dengan intuisi Lily yang tajam, gadis kelinci itu segera sadar akan rencana Ikhties tersebut. Dan dengan dorongan sihir yang ia keluarkan dari ujung tongkat sihirnya, Lily melesat turun dan menghadang tepat sebelum pedang Ikhties menyentuh punggung Aksa.


Aksa bahkan belum sempat menyadari keberadaan Ikhties di belakangnya dan bagaimana Lily mencoba untuk menghadang serangan perempuan itu, saat kemudian dari arah yang berlawanan, dengan sudut yang jauh lebih rendah, beberapa peluru es kembali melunjur yang kali ini hanya mengarah kepada Aksa dan Nata saja.


Namun karena Lucia menyadarinya, ia dengan segera mendorang tubuh Aksa dengan lengannya hingga terjatuh, dan meraih tangan Nata untuk menghindarkannya dari peluru tersebut.


Dua sosok berjubah muncul untuk menghadang dua peluru es yang kali ini meluncur ke arah Lucia. Dan kemudian Lucia dan Nata pun ikut terjatuh karena tidak dapat mempertahankan keseimbangan mereka.


Lily yang berhasil mendorong Ikhties mundur segera melompat mendekati tempat Lucia dan kedua tuannya terjatuh. Kemudian dengan cepat memasang Sihir Pelindung menggelilingi mereka.


Tampak Aksa dan Lucia mencoba untuk kembali berdiri dengan segera, sementara Nata terlihat masih tergeletak seraya mengerang menahan rasa sakit dari lengan kanannya yang berhasil tertembus oleh peluru es tersebut.


"Nata?!" seru Aksa dan Lucia nyaris bersamaan saat melihat kondisi pekuda itu.


Sementara Lily masih terlihat fokus mempertahankan Sihir Pelindungnya yang kini mulai digempur habis-habisan oleh lebih banyak lagi peluru es.


"Sihir Pembeku tingkat tinggi," ucap Lucia ketika menyadari jenis sihir yang berhasil menembus lengan Nata tersebut.


Dan tanpa bicara lagi, Lucia segera meraih dan mencengkeramkan tangannya ke bagian ujung dari peluru es yang berbentuk seperti stalaktit itu sebelum kemudian menariknya dengan paksa dari lengan Nata.


Nata berteriak mengerang saat peluru sihir itu perlahan bergerak keluar dari lengannya.


Sementara sarung tangan Lucia mulai terlihat membeku karena bersentuhan langsung dengan Sihir Pembeku tingkat tinggi dari peluru es tersebut.


Sedangkan Aksa hanya dapat melihat dengan perasaan ngeri apa yang sedang dialami sahabatnya itu, tanpa bisa berbuat apapun. Ia hanya mencengeram erat tangan kiri Nata yang tidak terluka.


Lucia segera melempar peluru es itu menjauh begitu berhasil mencabutnya. Dan bergegas melepas sarung tangannya yang sudah sepenuhnya membeku meski hanya menyetuh peluru tersebut tak lebih dari satu menit.


Terlihat tangan di balik sarung tangan ratu muda itu sudah mulai memerah, meski belum sampai membiru seperti lengan Nata.


Aksa dengan segera memeriksa lengan sahabatnya itu setelah peluru es tadi berhasil dicabut.


Sementara Nata sendiri sudah berhenti mengerang. Sekarang tubuhnya melemas dan nafasnya terdengar tidak beraturan.

__ADS_1


"Nat, kau mendengarku?" tanya Lucia menepuk kecil wajah Nata dengan kuatir.


-


__ADS_2