Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
16. Wilayah Timur II


__ADS_3

Setelah itu Aksa dan rombongan melanjutkan perjalanan mereka ke desa Sekai di pesisir timur. Mereka melewati jalan tembus baru mengelilingi kaki gunung sebelah selatan.


Melewati bibir hutan Sekai yang kini tampak sebuah pemukiman kecil Yllgarian baru saja berdiri. Tepat berseberangan dengan wilayah peternakan hewan hutan dan perkebunan karet juga sawit.


Hampir seluruh tempat itu dikelola oleh para Yllgarian. Beberapa tampak menyapa Trio Pemburu saat Kereta Besi mereka berjalan pelan melewati tempat tersebut.


Kemudian mereka harus melakukan perjalanan melewati hutan yang memakan cukup banyak waktu. Hampir 2 setengah jam sampai akhirnya tiba di daerah Pertambangan.


Daerah ini juga terlihat sangat ramai sekarang. Dan mulai dari tempat ini terus ke arah timur sampai desa Sekai dan pelabuhan, tampak di kiri dan kanan jalanannya di penuhi oleh bangunan-bangunan seperti kedai, toko, rumah makan, bar, bahkan penginapan dan juga Balai Pertukaran Jasa Bintang Api yang tampak berdiri rapi berjajar memanjang.


Jalan itu seperti area perdagangan dan hiburan yang ada di kota-kota di wilayah lain. Hanya saja bentuknya yang memanjang di pinggiran jajan yang mereka sebut dengan Jalan Raya Sekai itu.


"Oh, jadi itu klan Scrofa, si Yllgarian BabiHutan," ujar Aksa saat melihat manusia berkepala BabiHutan lengkap dengan siung yang menyembul dari dalam mulutnya. Perutnya terlihat gembul, dan tinggi rata-ratanya hanya sepundak orang dewasa.


Mereka terlihat berlalu lalang secara biasa di pinggir jalan. Cara berpakaian mereka masih terlihat seperti cara berpakaian Yllgarian yang lama. Masih dengan bahan kulit hewan dan anyaman kulit pohon yang tidak memperhatikan bentuk dan keindahan seperti baju-baju yang beredar luas di wilayah tersebut.


"Benar." Huebert menjawab cepat masih dari kursi kemudi di sebelah Aksa. "Kebanyakan dari mereka adalah penambang di tempat ini," tambahnya lagi.


"Banyak sekali Yllgarian di tempat ini. Jadi seperti desa mereka saja." Aksa terlihat sedikit kagum melihat pemandangan di sepanjang jalan tersebut.


"Tempat ini memang paling banyak dihuni oleh Yllgarian di banding wilayah lain di luar hutan. Mungkin karena dekat dengan hutan dan jauh dari kota-kota besar yang diisi banyak manusia." Deuxter menjawab.


"Dan apa kedai-kedai dan kios-kios di sepanjang jalan ini dibuka oleh para Yllgarian juga?" tanya Aksa lagi.


"Sebagian saja. Kebanyakan tetap dikelola oleh manusia. Karena pada dasarnya, para Yllgarian tidak terlalu suka berdagang," jawab Deuxter kemudian.


.


Dan kemudian merekapun memasuki lengkung gerbang Desa Sekai. Yang masih sama seperti Desa Timur, desa ini juga terlihat sangat ramai. Hanya saja dua pertiga nya adalah Yllgarian.


Tampak Fang dan Shyam yang pagi tadi berkunjung, sudah terlihat menanti kedatangan rombongan Aksa di depan kediaman Fang yang terletak di pusat desa.


"Selamat datang, Tuan Aksa," ujar sang Singa tua menyapa begitu Aksa mendekat. Terlihat surai di kepalanya masih dikepang kebelakang agar tidak terlihat mengintimidasi orang lain.

__ADS_1


Tampak Yllgarian itu juga mengenakan jubah kepala desa yang serupa dengan yang dikenakan oleh Fla.


"Apa kabar, Tuan Fang." Aksa melambai sambil masih terlihat kagum menatap sekitarnya.


Yllgarian Macan Kumbang, Burung Hantu, Banteng, Kekelawar, dan Beruang terlihat berlalu lalang melakukan aktifitas mereka sehari-hari.


"Anda pasti lelah telah melakukan perjalanan panjang menuju tempat ini," ucap Fang tampak perhatian.


"Benar. Jauh sekali untuk kemari meski sudah ada Kereta Besi." Aksa segera menyahut dengan nada sedikit kesal. "Setelah ini aku harus bilang ke Nata untuk membuat jalan menembus gunung agar jauh lebih cepat," tambahnya kemudian dengan terlihat bersemangat.


"Oh, sudah lama saya tidak mendengar ucapan yang menggelitik akal sehat seperti itu lagi setelah sekian lama," balas Fang yang di susul dengan tawa oleh yang lain.


"Ngomong-ngomong aku ingin melihat wilayah ini. Apa Anda bisa mengantarku berkeliling, Tuan Fang?" ucap Aksa kemudian. Karena waktu sudah menjelang sore, maka Aksa harus segera buru-buru melihat wilayah tersebut.


"Anda tidak ingin beristirahat terlebih dahulu di dalam? Biar kami siapkan makanan atau minuman untuk Anda sekalian." Fang terlihat menawarkan keramah tamahan sebagai tuan rumah wilayah tersebut.


"Tidak perlu, Tuan Fang. Lagi pula badanku kaku semua karena terlalu lama duduk di dalam Kereta Besi. Aku butuh meregangkan otot-ototku," jawab Aksa seraya menarik kedua tangannya ke atas dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Sebagai gantinya, bisakah Anda menyiapkan masakan hasil laut yang menurut Nyonya Fatima dan Nyonya Arian sangat terkenal di tempat ini? Untuk makan malam kita nanti?" Aksa terlihat tersenyum lebar menatap Fang.


Kemudian mereka mulai berjalan kaki berkeliling desa tersebut sambil membicarakan tentang fasilitas, komoditas, dan juga kendala di wilayah tersebut.


Aksa tidak meminta catatat anggaran atau kependudukan kepada Fang. Karena ia sidah melihatnya saat bersama Fla sebelumnya. Karena pencatatan seluruh wilayah timur itu dipusatkan di Desa Timur.


"Wilayah Perkebunan dan Peternakan yang berada di bibir Hutan Sekai yang tadi Anda lewati, sekarang juga sepenuhnya dikelola oleh para Yllgarian. Dan dilaporkan kepada Kepala Desa Timur, Fla," ucap Fang saat mereka tengah berada di jalanan berpasir menuju ke arah laut.


Lautan sudah terlihat dari garis cakrawala dikejauhan.


"Oh, jadi semakin penting saja bocah itu," celetuk Aksa.


"Sedang wilayah Pertambangan di kaki gunung Sekai itu sekarang dipimpin oleh Tuan Win. Yang melapor langsung kepada Nona Go." Fang melanjutkan penjelasannya.


"Oh, ada pasar ikan? Apa Yllgarian sendiri yang melakukan penangkapan ikan-ikan tersebut?" tanya Aksa yang tertarik saat mereka sudah berada di sebuah area dengan lapak-lapak dari bambu dan daun kelapa yang terlihat berdiri saling berhadapan di pinggiran jalan.

__ADS_1


"Kebanyakan para pelaut adalah manusia. Karena beberapa klan Yllgarian ditempat ini tidak terlalu baik terhadap air." Fang menjelaskan.


"Kudengar ada Yllgarian Kadal yang datang ke tempat ini beberapa tahun lalu?"


"Benar. Dan beberapa dari mereka memang sering melaut. Namun klan Squam bukan jenis Yllgarian yang suka hidup di luar hutan," ucap Fang kemudian. "Mereka sekarang berada di ujung tenggara dari hutan Sekai. Di garis pantai yang jauh dari wilayah ini."


"Oh, begitu ternyata." Aksa terlihat mengangguk paham.


Tak lama kemudian mereka tiba juga di pantai pesisir timur. Tempat itu sekarang berdiri sebuah pos jaga yang berbentuk seperti sebuah benteng dari batu karang, yang menghadap ke arah laut.


Tampak pula sebuah Kapal Besi membuang jangkar di perairan dalam jauh dari pantai. Terlihat sedang berjaga.


Sedang beberapa Kapal Uap dan kapal kecil dari kayu tampak berlabuh di sebuah dermaga sederhana di pantai tepat di sebelah benteng jaga tadi.


Tiba-tiba terlihat Aksa melepas sepatunya dan segera berlari menyerbu ombak yang menghantam bibir pantai tersebut. Yang kemudian disusul oleh Luque, Rafa, dan Trio Pemburu.


Mereka bermain air di tepi pantai tersebut sampai matahari benar-benar sudah tidak terlihat. Kemudian kembali ke rumah Fang untuk bersiap makan malam.


.


Tiba-tiba terlihat Lily muncul saat mereka baru saja hendak memulai makan malam. Beberapa Yllgarian terlihat segera berdiri dan menyambutnya. Kemudian memberikan tempat duduk di meja makan panjang yang muat untuk 14 kursi berjajar saling berhadapan di ruang makan kediaman Fang itu.


"Tepat waktu sekali. Apa pekerjaan yang kau lakukan sudah selesai, Lily?" tanya Aksa begitu Lily sudah duduk di hadapannya.


"Sudah. Setelah ini aku tidak perlu lagi tinggal di dalam hutan," jawab kelinci kecil itu kemudian.


"Kami sudah menyiapkan ranjang untuk Anda di tenda Ceruk Bintang, Nona Lily," sahut Rafa yang terlihat sangat gembira mengetahui bahwa Lily akan tinggal bersama mereka di dasar jurang Ceruk Bintang.


"Terima kasih, Nona Rafa," jawab Lily seraya tersenyum kecil.


.


Kemudian setelah menyelesaikan makan malam dan berbincang, akhirnya rombongongan Aksa pun undur diri untuk kembali ke jurang Ceruk Bintang.

__ADS_1


-


__ADS_2