Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
32. Pembentukan Aliansi II


__ADS_3

"Kenapa jadi pada diem?" Aksa bertanya.


"Wah, itu tadi kejadian paling mengejutkan dan membuatku gugup dalam seumur hidupku. Meski aku sering berada di medan perang." Makari menepuk dadanya pelan.


"Tak kusangka aku akan bertemu Gadis Suci di tempat ini." Hericus tampak masih tak percaya dengan yang baru saja ia alami.


"Sepertinya Primaval cukup terbiasa keluar masuk istana ini." Daniel berucap. Ekspresi pria itu tampak biasa saja.


"Benar. Karena tidak ada tempat yang tidak bisa beliau datangi dalam kerajaan ini." Lucia menjawab.


"Ya, kurasa Yang Mulia benar. Siapa yang dapat melarang beliau." Hericus menimpali.


"Baiklah. Setelah mengalami penundaan yang cukup dramatis tadi, mari kita kembali ke permasalahan kita." Nata memotong untuk memulai kembali pertemuan yang sempat tertunda itu.


"Dari mana tadi pembahasan kita?" tanya pemuda itu kemudian.


"Tentang Kapal Terbang dan Gerbang Pemindah." Alexander berucap.


"Ah, benar. Dengan peralatan tersebut kita akan dapat membalik arah peperangan ini." Nata berucap.


"Tapi apa anda yakin para Elf mau memberikannya pada kita?" Daniel masih terlihat ragu.


"Benar. Mengingat dua hal itu bukanlah sekedar Senjata Mistik atau Bebatuan Arcane saja." Makari ikut menambahi.


"Tak perlu kuatir. Toh, kedua alat sihir itu adalah rancanganku. Kita hanya perlu bahan dan tenaga ahli saja dari para Elf." Aksa menyeletuk.


"Sebentar, Kapal Terbang dan Gerbang Pemindah itu adalah rancangan anda?" Piere seperti sedang memastikan sekaligus terlihat kagum.


Dan Aksa hanya mengangguk. "Aku menamainya Airship dan Gerbang Teleportasi," ucapnya kemudian.


"Apa aku tidak salah dengar? Pemuda ini merancang peralatan sihir yang akan dikerjakan oleh para Elf?" Hericus berucap seolah ada yang salah dengan pendengarannya.


"Tak heran juga bila Kapal Terbang itu adalah buatan anda Tuan Aksa." Piere kembali berucap dengan wajah yang seolah berkata bahwa 'itu adalah hal yang sudah sewajarnya'.


"Oh... Jadi ini pemuda yang disebut-sebut sebagai Pengerajin itu." Kali ini Makari yang menyahut. Ia baru saja memahami sesuatu.


"Wah, apa aku memiliki julukan diluar sana? Luar biasa. Kau dengar tadi Nat?" timpal Aksa kegirangan.


"Benar. Di wilayah Cilum dan beberapa wilayah barat dataran selatan, keberadaan dua pemuda di balik berdirinya kerajaan Rhapsodia ini santer dibacarakan." Salah seorang bawahan Makari, pria Narva paruh baya bernama Igor, berucap.


"Mereka menyebut anda berdua sebagai Penasehat dan Pengerajin." Igor melanjutkan.


"Kenapa julukan Nata lebih keren?" Aksa terlihat tidak terima.


"Maaf, tapi kembali ke pembicaraan kita lagi, berarti tujuan dari pertemuan yang akan kita dilakukan dengan para Elf itu sebenarnya hanya untuk mendapatkan tenaga dan bahan baku?" potong Daniel yang tampak lebih tertarik dengan hal tersebut dibanding julukan Aksa dan Nata.


"Ya, lebih tepatnya mencoba meyakinkan mereka akan niatan baik kita untuk mengakhiri masalah ini dan memenangkan peperangan." Nata membenarkan ucapan Daniel.


"Karena mereka jelas akan memberikan syarat yang harus kita penuhi. Kalau tidak mereka tidak akan meminjamkan terutama tenaga mereka untuk membuatkannya untuk kita." Aksa menimpali.


"Seinginnya saya untuk melakukan perundingan tersebut, namun tetap saja ini hal yang cukup besar untuk dilakukan." Makari terdengar sedikit gamang.


"Rencananya pertemuan tersebut akan diadakan di wilayah Tanah Bebas Azure beberapa minggu lagi." Nata kembali berucap.


"Dan kita tidak memiliki banyak waktu sebelum Bruixeria kembali melakukan agresinya lagi," lanjutnya.


"Ya, kurasa kita memang harus bergegas melakukannya." Lugwin sependapat.


"Lalu apa yang akan kita persiapkan untuk mereka nantinya?" Makari bertanya. Mengharapkan tuntunan dari Nata.


"Untuk itu, nantinya kita akan...."


Dan Nata pun mulai menjelaskan hal-hal yang harus dan tidak boleh dilakukan saat berada di hadapan Elf agar dapat menarik simpati serta memperbesar kesempatan untuk mendapat kesepakatan dalam perundingan nantinya.


-


Tak lama kemudian pertemuan tersebut pun selesai dan para perwakilan wilayah segera diantar kembali menuju ke Gerbang Utara.

__ADS_1


"Maaf bila saya bertanya sesuatu yang aneh Yang Mulia Arcdux, tapi apa benar Yang Mulia menaiki tahta karena pemuda itu?" Hericus terlihat masih penasaran dengan Aksa dan Nata saat mereka masih berada di dalam Kereta Besi menuju Kota Utara.


"Ya, mungkin hanya diketahui beberapa orang saja, tapi aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Tuan Nata lah yang dulu membuatkan strategi untuk mengambil alih Kotaraja Estrinx 8 tahun lalu." Lugwin menjawab tanpa menutup-nutupi.


"Delapan tahun lalu? Berapa usianya saat itu?" Hericus terlihat benar-benar penasaran.


"Mungkin sekitar 15 atau 16 tahun?" Lugwin menjawab setelah mengingat-ingat.


"Itu delapan tahun lalu?" Hericus memastikan.


"Ya, mereka memiliki masalah mereka sendiri," balas Lugwin terlihat malas untuk menjelaskan.


"Dari rumor yang saya dengar memang dua pemuda itu sempat menghilang selama 5 tahun, dan muncul kembali tanpa bertambah tua sama sekali." Bawahan Makari yang satu lagi berucap. Seorang Narva berambut pirang kemerahan bernama George.


"Ya, itu benar. Mereka melompati waktu saat berada di dalam Mahan Staan." Alexander membenarkan.


"Mereka mendapat ijin memasuki Mahan Staan? Aku tidak tahu kalau dua pemuda itu ternyata memiliki posisi penting dalam kerajaan ini." Hericus kembali berkata.


"Itu karena anda tidak pernah mencoba untuk mencari tahu tentang hal tersebut, tuan Hericus. Sudah jadi rahasia umum kalau sebenarnya 2 pemuda itulah yang mendirikan kerajaan Rhapsodia." Kali ini Makari yang berucap.


"Bahkan jauh sebelum itu. Mereka adalah orang dibalik berdirinya kota mewah ini, di tengah-tengah tanah mati." Daniel menambahi.


"Dan kalau boleh saya menambahkan, tuan Aksa dan tuan Nata itu adalah orang yang telah diramal Oracle untuk membawa perubahan di dataran Elder." Piere tampak tidak tahan untuk ikut memamerkan 'pengetahuan'nya tentang Aksa dan Nata.


"Dua legenda perang, nona Lily dan tuan Val itu adalah bukti nyatanya," tambahnya lagi.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau pemuda Morra yang terlihat biasa saja itu adalah figur yang sangat penting bagi daratan Elder." Hericus menggeleng pelan.


"Dan melihat dari pengalamanku sebelumnya, mempercayai arahan mereka adalah keputusan yang paling tepat." Lugwin ikut menambahi.


"Selama kita tidak menjadikan mereka musuh, mereka tidak akan melakukan sesuatu untuk mencelakai kita," tambahnya kemudian.


"Ya, saya mengerti maksud Yang Mulia." Makari menjawab seraya mengangguk paham.


-


Meski tidak banyak pasukan Rhapsodia yang diperbantukan, namun karena dibekali dengan senjata, baju pelindung, serta Kereta Penghancur, kekuatan mereka bisa dinilai 10 kali lipat dari kekuatan pasukan biasa seukurannya.


Diluar hal itu, pembangunan Menara Antena pun mulai dilakukan hingga ke wilayah Estrinx dan juga Cilum.


Yang kini jadi semakin mudah dan cepat karena bantuan dari alat pertukangan sihir milik Aksa yang sudah mulai dibuat masal di Rhapsodia.


Tak ketinggalan juga membagi pengetahuan tentang Radio Komunikasi ke semua kerajaan demi mempermudahkan untuk berkomunikasi.


-


Dua minggu pun berlalu. Dan selama itu Bruixeria tidak melakukan aksi penyerangan yang berarti. Mereka hanya sibuk mengambil alih sisa wilayah Estrinx di ujung utara.


Disamping itu pertemuan antar Elf dan Yllgarian dengan aliansi kerajaan dataran utara, atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Aliansi Utara itu pun tiba.


Pertemuan diadakan di sebuah perkemahan yang sengaja di bangun di tengah sabana di wilayah Tanah Bebas Azure.


Dihadiri oleh seluruh pemimpin aliansi manusia, semua pemimpin Marga Elf, juga perwakilan Bijak dari masing-masing klan Yllgarian Hutan Tua, dan beberapa prajurit dari ketiga belah pihak.


Selain itu masih ada rombongan Aksa-Nata dan rombongan Yvvone yang juga ikut hadir.


.


Terlihat jajaran kursi yang diatur berputar berlapis-lapis tepat di tengah area dengan tenda paling besar yang dibangun di wilayah tersebut. Tenda tersebut hanya dibangun atapnya saja. Jadi hamparan sabana di sekelilinginya masih dapat dilihat. Lengkap dengan hembusan angin yang cukup menganggu.


"Aks, Nat, kemarilah kalian. Aku ingin mengenalkan kalian dengan salah satu Bijak dari klanku." Tiba-tiba Lily meminta Aksa dan Nata untuk mengikutnya begitu pemuda itu turun dari Kereta Besi.


Hanya orang-orang Rhapsodia saja yang datang menggunakan Kereta Besi. Karena memang tempat diselengarakannya pertemuan tersebut tidak cukup jauh dari wilayah perbatasan timur.


Sedang yang lain datang dengan menggunakan Kristal Arcane. Baik itu para pemimpin Aliansi Utara yang lain, Para Elf, dan juga para Yllgarian.


"Wah tumben sekali kau ingin mengenalkan kami ke seseorang. Lagi pula aku juga sangat penasaran ingin melihat klan Lagoom selain Lily. Kita tidak pernah melihatnya kan, selama ini?" Aksa menjawab dengan terlihat antusias.

__ADS_1


"Iya-iya. Sudah jangan heboh begitu. Jaga sikapmu nanti." Nata memperingatkan sahabatnya itu untuk menjaga sikap.


"Aku tahu," balas Aksa dengan sedikit kesal.


"Oh, bukankah ini Lilian? Lama tidak melihatmu, Nak. Kemana saja kau selama ini?"


Terlihat sesosok manusia kelinci berwarna abu-abu yang tak lebih tinggi dari Lily dengan telinga jatuh terkulai ke belakang berucap. Suara tuanya tidak sesuai dengan tubuh mungilnya.


Tubuh yang juga dimiliki oleh beberapa manusia kelinci lain di belakangnya.


"Jadi klan Lagoom itu semua seukuran Lily," bisik Aksa yang tidak dihiraukan oleh Nata.


"Senang bisa bertemu dengan anda lagi, tuan Maja. Maaf tidak dapat datang berkunjung. Selama ini saya berada di ujung utara untuk menemani sang Oracle." Lily menjawab dengan sopan.


"Oh iya, benar juga. Aku turut berduka atas kepergian Nubie." Pria kelinci yang dipanggil Maja itu berucap.


"Dan ijinkan saya untuk memperkenalkan mereka berdua kepada anda." Lily segera menyambung percakapan karena tidak ingin suasana menjadi tidak nyaman.


"Oh...ho, siapa mereka?" Kelinci abu-abu itu sedikit mendongak menatap Aksa dan Nata yang melangkah maju.


"Mereka adalah tuan-tuan baru saya." Lily menjawab.


"Oh... Begitu kah?" Maja mengangguk kecil.


"Perkenalkan saya Nata. Dan yang ini Aksa." Nata berinisiatif mengenalkan diri.


"Perkenalkan aku Aksa." Aksa menambahi.


"Perkenalkan aku Maja. Perwakilan dari Klan Lagoom Hutan Tua." Maja ganti memperkenalkan diri.


"Tapi sepertinya istilah 'Tuan' itu tidak valid untuk kami gunakan. Mungkin lebih tepatnya, anak asuh?" Aksa tiba-tiba berucap.


"Jaga sopan santunmu, Aks." Nata menyenggol pundak Aksa.


"Tapi memang benar bukan? Kita selalu saja diselamatkan Lily. Dan tidak pernah bersikap selayaknya seorang Tuan," balas Aksa yang terdengar tidak terima itu.


"Hahaha..." Tiba-tiba saja Maja tertawa dengan lepas. "Kau selalu memiliki tuan-tuan yang sangat menarik, Nak," ucapnya kemudian kepada Lily.


Sedangkan Lily hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Sayang kita bertemu dalam keadaan yang seperti ini. Aku ingin sekali berbincang lama dengan kalian." Maja terlihat menyayangkan.


"Benar, sangat disayangkan. Semoga kita memiliki waktu untuk berjumpa kembali." Nata menjawab.


"Kalau begitu datanglah berkunjung ke pemukiman kami di ujung barat Hutan Tua setelah semua ini selesai," undang Maja kemudian.


"Wah, kebetulan aku juga sangat ingin melihat seperti apa Hutan Tua itu," sahut Aksa dengan bersemangat.


"Baik akan kami lakukan, tuan Maja." Nata menjawab sopan.


"Kalau begitu, mari kita lanjut ke pertemuan kita." Kelinci pria itu berucap.


"Wah, undangan ke tempat lain lagi. Another quest unlock," ucap Aksa terlihat gembira dengan dunianya sendiri.


.


Dan kemudian perundingan pun dimulai. Meski awalnya berjalan dengan tersendat, namun seiring dengan waktu, kekakuan suasana pun mulai mencair.


Dan pada akhirnya kesepakatan pun tercapai dengan persyaratan bahwa Airship yang akan dibuat nanti adalah milik Elf sepenuhnya. Dan hanya akan dipinjamkan kepada Aliansi Utara selama perang berlangsung.


Bahkan seluruh awak kapal dari Kapal Udara sihir itu nantinya juga akan diisi semuanya oleh para Elf.


Kemudian mereka juga memutuskan untuk membuat Gerbang Teleportasi di tempat pertemuan itu. Karena dirasa tempat yang paling aman dan netral.


Sementara potensi adanya pembangunan Gerbang di tempat lain untuk mempermudah perjalanan jarak jauh di daratan Elder akan dibicarakan setelah perang berakhir.


-

__ADS_1


__ADS_2