
Di kediaman Vistralle, di Kota Dios beberpa waktu setelah surat peringatan dari Rhapsodia tiba.
"Sial!" Vistralle memukulkan tangannya ke meja dalam Ruang Pertemuan di kediamannya. "Mereka benar-benar sudah bertekat mengambil alih wilayah di daratan selatan ini," geramnya kemudian.
Selain Vistralle, terlihat pula beberapa Jendral dan juga bangsawan bawahannya di Ruang Pertemuan tersebut.
"Bukan hanya Ignus. Margrace dan kemudian Lighthill. Tidak lebih dari tiga hari. Benar-benar tidak masuk akal. Apa itu karena dua pemuda itu?" Vistralle terlihat berbicara sendiri dalam kegusarannya, sebelum kemudian menghembuskan nafas panjang seraya memijat pelan pelipisnya.
Tidak ada seorang pun dalam ruangan tersebut yang berani berkata-kata.
"Lalu bagaimana dengan Augra? Apa mereka tidak berniat mengambil kembali wilayah Lighthill?" tanya Vistralle setelah jedah hening yang cukup panjang.
"Pasukan dari wilayah Ravus sudah bergerak menuju Lighthill. Hanya saja mereka kualahan karena Kereta Besi yang berada di wilayah perbatasan," jawab Lucas menjelaskan.
"Kualahan menghadapi Kereta Besi?" Vistralle tampak tidak mengerti mengapa sebuah kereta besi dapat membuat pasukan kualahan.
"Benar, Dux. Kereta Besi itu yang dapat menembakan peluru berimbuh sihir. Kereta Besi yang berhasil menghancurkan Benteng Ignus hanya dengan sekali tembak itu," jelas Lucas kembali.
"Dan kabarnya, tembok benteng Kota Randon peninggalan kaum Elf itu, roboh karena serangan peluru sihir Kereta Besi tersebut," sahut Gall ikut menambahi.
"Pasukan dari wilayah Augra pun tidak dapat memasuki wilayah Lighthill karena Kereta-Kereta Besi tersebut," lanjut Lucas kemudian. "Selain itu mata-mata juga mendengar rumor tentang Kesatria Cahaya yang dapat memanggil burung legenda Berunda di Pegunungan Trava, di perbatasan Saronia dan Ravus. Yang membuat prajurit Augra enggan untuk menyebarang melewati wilayah Ravus."
"Ck, cerita apa lagi itu?" Vistralle terlihat menggeleng pelan. "Bagaimana prajurit kerajaan besar seperti Augra tidak berani melewati wilayah hanya karena sebuah rumor kacangan seperti itu."
"Entahlah, Dux. Saya juga tidak mengerti. Tapi karena alasan-alasan itulah pasukan kerajaan Augra masih belum dapat memasuki wilayah Lighthill sampai saat ini," ucap Lucas kemudian.
"Sepertinya kita harus membiarkan pasukan mereka melewati wilayah Saronia untuk memasuki Ravus." Vistralle seperti sedang berucap pada dirinya sendiri.
"Itu berarti kita harus membuat perjanjian dengan Augra terlebih dahulu," sahut John yang terlihat sedikit kuatir dengan gagasan dari atasannya itu.
"Benar. Eul tidak akan senang kerajaan Augra menginjakan kaki di atas tanah Saronia." Lucas tampak menyetujui ucapan John.
Vistralle terlihat kembali menghembuskan nafas panjang. "Keluarga Saronia memang memiliki masalah menahun dengan kerajaan Augra. Aku jadi semakin pusing dibuatnya," ucapnya sambil kembali memijat pelan pelipisnya. "Lalu bagaimana dengan wilayah Tyrion?"
"Menurut kabar, pasukan Rhapsodia juga telah mengirim kapal-kapal besi mereka ke pesisir pantai utara wilayah Tyrion." Lucas kembali menjawab. "Dan Tyrion sudah mulai menggerakan pasukan mereka ke kota-kota di sekitar pesisir utara tersebut," jelasnya kemudian.
"Ck, Kerajaan Tanah Mati itu sudah mempersiapkannya sampai sebegitu rupa ternyata. Kita kurang cepat menyadari rencana mereka," gerutu Vistralle lagi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Vistralle mulai menegakkan tubuhnya. "Steave, gunakan batu pemindah untuk meminta bantuan kepada Tyrion, Augra, dan bahkan Joren. Katakan pada mereka, bahwa bila Rhapsodia sampai berhasil mengambil alih wilayah kekuasaanku, maka kerajaan itu akan mendapatkan posisi yang kuat di daratan selatan ini. Dan itu berarti giliran wilayah mereka akan diambil alih," perintanya kemudian.
"Siap, Dux," jawab Steace cepat.
"Dan kau, Gall. Kabarkan pada Eul dan Austin untuk segera menggerakan pasukan mereka menuju Margrace. Kita akan mengepung wilayah tersebut dan mengambilnya kembali sebelum terlambat." Vistralle melanjutkan memberi perintah kepada Gall.
"Baik, Dux," jawab pria dengan pakaian kesatria bangsawan itu dengan cepat.
\=
Sementara itu di kediaman Tyrion di kota Hui beberapa saat setelah surat dari Vistralle tiba.
"Apa aku tidak salah mendengarnya? Vistralle kehilangan 2 wilayahnya hanya dalam 2 hari saja?" Tyrion mengangkat wajah dari tumpukan kertas di atas meja kerjanya.
Ada Xiggaz dan seorang Narva mantan Juara yang bernama Agoros dalam ruangan kerja tersebut.
"Belum lagi wilayah Lighthill juga sudah berhasil diambil alih oleh Rhapsodia," sahut Agoros menambahi.
"Jangan pernah sebut orang-orang Tanah Mati itu sebagai sebuah kerajaan, Ag. Mereka hanya pencuri," balas Tyrion dengan ketus.
"Maafkan saya, tuan Tyrion." Dengan segera Agoros meminta.
"Lalu apa nona Joan benar-benar tidak akan melakukan apapun, bahkan setelah melihat kejadian seperti ini?" tanya Agoros kepada Xiggaz.
"Sepertinya dia sudah memutuskan untuk tidak ikut campur dalam peperangan kali ini," balas Xiggaz terlihat sedikit muram.
Tyrion meletakan berat tubuhnya ke sandaran kursi. Seraya melipat tangannya ke depan dada, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Tapi memang benar yang ditulis Vistralle dalam suratnya itu. Bila sampai dia dikalahkan oleh orang-orang Tanah Mati itu, maka posisi mereka di daratan selatan ini akan jadi semakin kuat," ucap Tyrion sambil terlihat memejamkan matanya. "Kita pasti akan kesulitan untuk mengalahkan mereka setelah itu. Mana sekarang Sefier sudah tidak mau mengirikan bantuan apapun kepada kita," lanjutnya dengan keluhan.
"Lalu apa langkah yang akan kita ambil, Tuan Tyrion?" Xiggaz bertanya.
"Kirimkan saja Serikat Petarung Bulan Darah ke Ceodore, untuk membantu menyerang balik wilayah Ignus dan Margrace. Toh, meski Kapal-Kapal Besi mereka sedang menuju ke wilayah kita, tetap saja Yllgarian-Yllgarian itu tidak akan berguna dalam pertempuran laut," ucap Tyrion kemudian memberikan perintah.
"Baik, Tuan Tyrion," jawab Xiggaz cepat.
\=
Sedang di saat yang bersamaan di Kotaraja kerajaan Augra. Terlihat seorang pria Narva dengan potongan rambut rapi ditarik kebelakang tengah berlutut dihadapan singgasana.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau laporkan kali ini, Jarl Ricard? Apakah Pertambangan di Saronia itu sudah berhasil kau ambil alih?" tanya seorang pria Narva setengah baya dengan wajah tegas yang tengah duduk di atas singgasana tersebut. Jubah beludur berwarna biru malam terlihat menjuntai dari pundak kanannya berhias manik-manik permata dan emas.
"Paduka Raja. Maafkan atas ketidak mampuan saya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dan juga maafkan atas kelancangan saya karena harus menghadap Paduka dengan kabar buruk," jawab Jarl bernama Ricard itu masih dengan menunduk.
"Kabar buruk? Kau selalu saja tidak becus saat melakukan sesuatu, Ricard. Apa yang akan dirasakan oleh mendiang kakak mu bila melihat kau yang tidak pernah berubah seperti ini?" Sang Raja terlihat menggeleng dengan wajah pasrah. "Lalu apa kabar buruk itu?" tanyanya kemudian.
"Kemarin malam wilayah Lighthill mendapat serangan dari kerajaan Rhapsodia, dan saat ini wilayah tersebut berhasil diambil alih oleh mereka," jawab Ricard yang telah siap mendengar kemarahan dari sang Raja.
"Apa kau bilang?" Tampaknya tidak hanya Raja yang terkejut, namun beberapa bangsawan dan kesatria yang hadir juga terlihat kaget dengan kabar tersebut.
"Bagaimana bisa?" sahut seorang pria Narva dengan wajah penuh kerutan, yang berdiri di sebelah kiri singgasana.
"Saya tidak tahu bagaimana pastinya, Dux Marge. Karena hubungan kami dengan mata-mata di wilayah itu terpotong," jelas Ricard masih belum mengangkat wajahnya.
"Dan kau tidak bertindak apapun, sebelum datang ke Kotaraja ini?" Pria Narva yang lain, yang terlihat berbadan tegap dengan pakaian kesatria bangsawan yang terlihat mewah, bertanya dengan ketus.
"Saya sudah mengerahkan seluruh pasukan yang ada di wilayah perbatasan untuk menyerang Lighthill. Namun Rhapsodia memasang senjata aneh di benteng perbatasan wilayah, yang dapat menyerang prajurit kita dari jarak yang sangat jauh," jawab Ricard mencoba menjelaskan. "Dan itu menyebabkan pasukan kita tidak dapat mendekat sama sekali."
"Benarkah itu? Kerajaan itu ingin memulai perang dengan kita?" Sang Raja mulai terdengar sedikit geram.
"Lalu bagaimana dengan pasukan di wilayah Ravus?" Pria berpakaian kesatria itu bertanya lagi. Terlihat ia masih belum terima atas alasan dan penjelasan Ricard barusan.
"Pasukan di wilayah Ravus tidak cukup banyak untuk melakukan penyerangan, Jendral Farnir. Dan juga, maaf bila ucapan saya terdengar tidak masuk akal. Tapi saya hanya meneruskan ucapan semua saksi mata yang selamat dari penyerangan di pegunungan Trava, bahwa..." ucap Ricard mulai terdengar meragu.
"Bahwa apa? Sudah jangan bertele-tele, Ricard," sahut sang Raja yang terlihat tidak sabar.
"Maaf Paduka, tapi menurut para saksi tersebut, mereka memiliki Berunda," jawab Ricard setengah tertahan.
"Apa itu?" Kontras dengan yang lainnya yang tampak terkejut, sang Raja terlihat kebingungan.
"Burung legenda, Paduka. Burung Mistik dengan kekuatan sihir Cahaya." Pria yang dipanggil Marge tadi menjelaskan untuk sang Raja.
"Benarkah itu?" Kali ini sang Raja baru tampak terkejut. "Itu tidak masuk akal, Ricard! Dan kau mempercayai hal tersebut?" tambahnya dengan nada marah yang ditahan.
Sementara Ricard sendiri tidak menjawab atau mengeluarkan suara sedikit pun.
"Farnir, ambil alih masalah ini. Dan bila benar semua ini adalah ulah dari kerajaan baru itu, maka habisi saja mereka," perintahnya kemudian kepada pria Narva berpakaian kesatria bangsawan tadi.
__ADS_1
"Baik, Paduka Raja," jawab Farnir kemudian seraya membungkuk tegas ke arah Raja.
-