
"Apa yang dimaksud dengan serangan sihir tingkat tinggi?" Daniel bertanya. Terlihat ketakutan memenuhi raut wajahnya.
"Kita harus segera kembali." Alexander menyahut.
"Sebentar Pangeran Alexander." Nata mencegah. "Kita tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Jadi jangan gegabah untuk langsung kembali. Bisa jadi situasi di sana berbahaya," lanjutnya menambahi.
"Benar kata Nata." Lucia sependapat.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Alexander lagi.
"Kita cari tahu terlebih dahulu situasi dan keadaan di sana." Nata menjawab.
"Kalau begjtu segera kirimkan orang untuk memeriksanya," sahut Daniel memerintah Lessage yang duduk di sebelahnya.
"Kami memiliki cara yang jauh lebih cepat untuk memastikan situasi disana secara langsung, tuan Daniel," Nata memotong.
"Benarkah?"
"Benar. Tapi saya perlu memanggil Aksa terlebih dahulu," jawab Nata.
"Kalau begitu segeralah panggil dia kemari, Nat." Kali ini Lucia yang memerintah.
"Baik Yang Mulia."
.
Nata kemudian menghubungi Aksa untuk memintanya datang bersama Eden beserta tim Pemetaan Wilayah lengkap dengan seluruh peralatannya.
Eden sengaja diminta untuk ikut datang karena ia dan timnya, Tim Pemetaan Wilayah, memang mulai diperbantukan dalam kemiliteran sebagai bagian dari divisi komunikasi untuk peperangan kali ini. Yang tugas tim tersebut adalah mengendalikan Drone Pengawas untuk memastikan kondisi medan secara langsung.
Sedang perlu waktu satu jam menggunakan Kereta Besi untuk berpindah dari tempat dimana Gerbang Teleportasi dibangun ke wilayah Penampungan Pengungsi di perbatasan timur.
Namun hanya memerlukan waktu kurang dari setengah jam saja bila menggunakan Kereta Melayang yang bergerak dengan kecepatan penuh.
Dan tidak sempat untuk lebih dari saling menyapa, Eden dan timnya segera mempersiapkan peralatan mereka begitu tiba di wilayah penampungan pengungsi.
Pengeran ketiga Elbrasta itu sudah mengetahui alasan ia ikut dipanggil bersama Aksa, juga tugasnya.
Terlihat Kandis dan Kurois ingin sekali berbincang dengan Eden karena sudah hampir 6 tahun tidak berjumpa. Namun hanya dengan melihat sosok pemuda yang baru beranjak dewasa itu melakukan sesuatu dengan cekatan dan penuh percaya diri, membuat kedua orang itu merasa bahagia sekaligus bangga.
Butuh sekitar setengah jam untuk menyiapkan semua peralatan sebelum kemudian dua Drone Pengawas diterbangkan menuju ke wilayah utara. Yang satu ke wilayah Cilum dan yang satu lagi ke Lembah Kabut.
Disamping jangkauan pengendalinya yang nyaris tanpa batas, karena menggunakan metode Sihir Penanda seperti yang digunakan dalam Telepon Sihir, Drone itu juga ditenagai oleh Formasi Sihir Aktif yang dapat terus mengambil Aliran Jiwa disekitarnya.
Yang berarti, benda itu dapat terus terbang melakukan perjalanan dengan jarak yang cukup jauh tanpa perlu kuatir akan kehabisan tenaga.
.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Ed?" Alexander datang menyapa setelah mereka hanya tinggal menunggu Drone-Drone tiba di tempat tujuan mereka. Yang perkiraannya sekitar satu jam.
"Aku baik-baik saja, kak," Eden menjawab setelah menyerahkan alat pengendali Drone ke salah satu anggota timnya.
Terlihat kesepuluh anggota Tim Pemetaan Wilayah itu tengah fokus dengan alat pengendali di depan dua buah LED Magic yang dipasang di atas meja di dalam tenda militer tersebut.
"Oh? Nyonya Kandis? Kuro?" ucap Eden sedikit terkejut setelah mendapati dua orang yang lama tidak ia lihat.
"Anda terlihat gagah dan tampan sekarang Pangeran Eden." Kandis berucap dengan bangga.
"Anda bisa saja nyonya Kandis," balas Eden berbasa-basi.
"Maafkan saya karena tidak ada saat anda memerlukan perlindungan saya, Pangeran Eden." Kali ini Kurois yang berucap seraya menunduk malu di hadapan Eden.
"Itu bukan salahmu, Kuro. Jangan pernah menyalahkan diri atas kejadian yang sudah terjadi." Eden membalas permintaan maaf dan rasa bersalah Kurois.
"Anda tumbuh menjadi pemuda yang baik dan bijak, Pangeran," ucap Kandis masih terlihat bangga dan sedikit terharu.
"Ya, karena disini aku belajar dari siapa saja. Mulai dari seorang penjudi sampai Gadis Suci. Dari Yllgarian sampai para Elf," balas Eden apa adanya.
"Tapi saya memang bersalah Pangeran. Saya telah gagal memenuhi perintah terakhir dari Pangeran Grevier untuk menjaga Yang Mulia Ratu Daisy dan anda berdua." Kurois tetap bersikeras.
Sementara Eden hanya terdiam tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kuro sebenarnya diutus oleh kak Grevier untuk melindungi kita saat terjadi serangan Mugger yang merenggut nyawa ibunda tujuh tahun lalu. Namun dia berhasil dikalahkan oleh para Glaive." Alexander tiba-tiba berinisiatif menceritakan hal tersebut kepada adiknya.
"Benar pangeran. Dan setelah itu saya ditawan di sebuah penjara bawah tanah Kotaraja selama hampir 6 tahun. Sampai kemudian Nyonya Kandis tiba juga di tempat tersebut. Dan saya mendapat informasi mengenai apa yang sedang terjadi di luar." Pria Seithr itu menambahkan penjelasannya.
"Benar, Pangeran." Kandis menjawab. "Tapi anda tidak perlu kuatir. Karena kami dapat bertahan dan bahkan melarikan diri dari tempat itu," lanjutnya mencoba merubah suasana.
"Dan kita masih harus terus bertahan dan berjuang. Karena saat ini bukanlah akhirnya." Kali ini Alexander yang berbicara.
"Perkataan Pangeran Alexander benar. Ini bukanlah akhirnya." Daniel menimpali.
"Lalu apa sebenarnya semua peralatan sihir ini, Pangeran Eden? Ini semua peralatan anda, bukan?" Kali ini Lessage yang tiba-tiba saja menyelakan pertanyaan.
"Ya, peralatan ini adalah tanggung jawabku. Jadi pada dasarnya...."
Dan Eden pun mulai menjelaskan tentang peralatan yang dimiliki Tim Pemetaan Wilayah, beserta tugas tim tersebut. Baik saat sebelum perang ataupun setelah diperbantukan dalam kemiliteran.
Percakapan mereka pun terus berlanjut sampai kemudian tanpa sadar satu jam berlalu.
"Pangeran Eden, kedua Drone sudah tiba di tempat tujuan," salah satu anggota Eden berucap, yang memicu tidak hanya Eden, tapi semua orang yang ada di dalam tenda itu untuk mendekat ke papan sihir LED Magic tersebut.
.
Terlihat dari kedua Jendela Sihir yang cukup besar memanjang itu keadaan wilayah utara setelah terkena serangan sihir tingkat tinggi.
__ADS_1
Yang sebelah kiri menampakan pemandangan dari atas wilayah Lembah Kabut, dan yang kanan menampakan garis pantai pesisir selatan dari atas.
Dan semuanya berwarna putih pucat. Hamparan beku yang seolah tanpa batas.
"Apa ini tidak keterlaluan? Sihir itu mampu membekukan pesisir laut barat di sepanjang garis pantai wilayah Cilum?" Aksa menggeleng tidak percaya saat melihat gambaran dari papan sihir tersebut.
"Bagaimana caraku membuat tandingan Senjata Mistik yang memiliki kapasitas dan varian magic skill seperti itu?" tambahnya mengeluh.
"Belum lagi kalau Rangkaian Formasi Sihir penguatnya selesai dibuat." Nata mengingatkan.
"Coba? Kenapa orang-orang dulu bikin peralatan sihir kaya gitu? Apa mereka ga mikir gimana kalau jatuh ke tangan orang jahat?" sahut Aksa menimpali.
"Apa kau juga berpikir seperti itu saat membuat peralatanmu selama ini?" tanya Yvvone tiba-tiba.
Gadis Elf itu baru saja tiba. Menyusul bersama Rafa, Luque, dan Kanna dengan Kereta Besi.
"Tentu saja aku berpikir seperti itu." Aksa membalas dengan nada tidak terima. Karena merasa disamakan dengan orang-orang yang tidak disukainya itu.
"Setidaknya aku tidak membuat peralatanku sempurna. Pasti ada satu-dua kekurangan dan kelemahan yang sengaja ku pasang," lanjutnya kemudian memberikan penjelasan.
"Death Star aja dikasih back door supaya bisa dihancurin, kok," susulnya lagi dengan kata-kata yang tidak dipahami oleh yang lain.
"Untuk saat ini satu-satunya cara menghadapi Alta Larma hanya dengan memisahkan gelang-gelangnya saja." Nata menyahut. Mencoba menghentikan ocehan tidak jelas dari Aksa.
"Tetap saja kita harus mendekat dan melawan penggunanya secara langsung, kan?" Aksa masih sedikit sewot.
"Sedang sihir-sihir yang selama ini digunakan dikeluarkan dari jarak yang sangat jauh. Bagaimana coba?" tambahnya semakin sewot.
"Kita memang memerlukan Gerbang Teleportasi dan juga Pesawat Sihir dengan segera," ucap Nata yang secara tidak langsung setuju dengan ucapan sahabatnya barusan.
"Belum lagi kita juga harus mengambil alih pertambangan Arcane di wilayah Cilum sebelum mereka memiliki cukup persediaan untuk melakukan serangan ke belakang garis perbatasan." Aksa menabahi.
"Untuk Gerbang Teleportasi mungkin selesai dalam beberapa hari lagi paling cepat." Yvvone menjawab.
"Sedang untuk Kereta Terbang nya, kudengar dari tuan Moor sudah ada dua yang jadi. Hanya saja belum coba untuk dijalankan," lanjut Elf mungil itu kemudian.
"Semoga kita tidak kalah cepat dengan mereka." Nata berharap.
-
Dan setelah mengetahui situasi yang tengah terjadi, Lucia pun segera memperingatkan Lugwin akan kemungkinan Estinx yang akan jadi sasaran berikutnya.
Sementara Alexander dan para pengikutnya memutuskan untuk kembali ke Lembah Kabut dengan menggunakan jalur darat dari Rhapsodia. Yang rencananya untuk sekaligus mencari sisa prajurit yang berhasil selamat di sepanjang jalan pulang mereka.
.
Keesokan harinya Lucia menerima kabar bahwa Makari berhasil selamat. Meski hampir setengah pasukannya mengalami luka serius dan bahkan meninggal. Hal serupa yang juga dialami oleh pasukan milik Alexander.
__ADS_1
Dan bersamaan dengan tibanya bantuan obat dan bahan makanan yang dikirim oleh Rhapsodia kepada Alexander dan Makari, Gerbang Teleportasi yang sudah dinanti-nanti pun akhirnya selesai dibuat.
-