Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
29. Percakapan Malam V


__ADS_3

Malam harinya Lucia sengaja mampir ke tenda Aksa dan Nata untuk berbincang sekaligus untuk melihat barang rancangan Aksa yang baru saja selesai dibuat oleh para pengerajin Bintang Timur. Sebuah mebel yang Aksa sebut dengan Sofabed.


Seperti biasa Lucia ditemani oleh Jean dan juga beberapa prajurit yang berjaga di luar tenda.


Tampak Luque sangat menyukai perabot baru tersebut. Sebuah sofa dengan lebar setinggi pria dewasa. Berlapis bantalan beludru yang halus dan empuk.


Dan yang membedakan dari sofa pada umumnya adalah bagian sandarannya yang dapat direbahkan hingga merubah bentuk sofa tersebut menjadi seperti ranjang kecil.


Sofabed itu diletakan di dekat kelambu pembatas antara ruang depan dengan kamar Luque. Berhadap-hadapan dengan sofa yang sudah ada sebelumnya. Dan praktis menambah sempit ruangan tersebut.


"Aku suka sofa-ranjang ini," ujar Luque yang sedang menguling-gulingkan diri di atas sofa tersebut.


"Jangan sampai Anda tertidur di tempat itu, Nona Luque. Anda bisa masuk angin nanti." Rafa yang menghawatirkan Luque terlihat seperti kakak yang sedang menasehati adiknya. Meski kenyataannya peran mereka tertukar.


"Iya-iya, aku tahu itu," ujar Luque yang kemudian mengambil selimut kesayangannya dari dalam kamar.


"Apa kalian tidak mempertimbangkan untuk membangun sebuah rumah? Dengan dinding dan atap yang kokoh?" ucap Lucia dari arah sofa yang lama. Duduk di antara Jean dan Lily. "Bahkan Atelir-Atelir di sekitar tempat ini dibangun dari kayu dan logam," tambahnya kemudian setelah menatap berkeliling ruangan. Yang praktis hanya ada tali logam, pasak kayu, dan kain tenda sebagai penganti dinding dan atapnya.


"Benar. Ini satu-satunya tenda peninggalan dari... berapa? Enam tahun lalu?" Jean menambahi.


Terlihat Nata tersenyum kecil. "Benar. Tapi membangun rumah bukan prioritas kami untuk saat ini," jawabnya masih terlihat menunduk membaca sesuatu di atas meja berhadap-hadapan dengan Aksa yang sedang menggambar.


"Alasan saja," balas Lucia sambil tersenyum kecil. Ia tahu alasan sebenarnya Aksa dan Nata tidak membangun rumah di tempat itu. Karena mereka berdua tidak berencana untuk tinggal.


Dan meski tidak mengatakan apapun, namun Lucia menghormati keputusan mereka. Gadis itu tahu bahwa ia akan berpisah dengan mereka lagi suatu saat nanti. Dan ia siap.


Itu karena pengalamannya pernah kehilangan kedua pemuda itu sebelumnya membuatnya belajar. Ia tidak bisa mengandalkan semua hal pada mereka berdua.


"Tapi kalau Rafa dan Luque ingin tinggal di sebuah rumah yang layak, kita bisa mengusahakannya," ucap Aksa kemudian. Terlihat masih sibuk menggambar. "Area di sekitar kamar mandi itu cukup bagus untuk dibangun sebuah rumah. Ditambah pipa air dan sistem drainase nya sudah terpasang."


"Aku mau tinggal di sini," sahut Luque yang berjalan keluar dari kamarnya sambil membebatkan selimut membungkus tubuh.


"Saya juga memilih tinggal di sini," susul Rafa yang tampak sedang membubuhkan gula dalam teko teh nya.


Sedangkan Lucia yang mendengar jawaban dua perempuan itu hanya bisa menghembuskan nafas pendek. "Baiklah, terserah kalian saja," ucapnya seraya mengambil cangkir teh dari atas meja.


"Kalian memang orang-orang aneh. Lihat bangunan megah yang sudah kalian buat di atas sana. Tapi kalian malah tinggal di dalam tenda di dasar jurang," sahut Jean yang terdengar seperti sedang mencemooh.


"Utusan dewa memang harus tanpa pamrih dan rendah hati seperti itu, Jean. Stereotype nya kan, gitu," balas Aksa cepat.


"Sebentar, siapa yang kau maksud dengan rendah diri atau tanpa pamrih, itu?"


"Apa usia sudah membuatmu pikun, Jean? Jelas akulah orangnya." Kali ini Aksa menjawab sambil menyentuhkan tangan ke arah dada dengan wajah bangga menatap Jean.

__ADS_1


"Ck, bocah ini. Aku berharap aku benar-benar pikun dan memotong lidah kurang ajar mu itu." Jean terlihat jengkel dan geregetan menatap balik ke arah Aksa.


"Maaf. Tapi saya tidak tahan untuk tidak menanyakan hal ini." Tiba-tiba Nata berucap sambil menatap ke arah Lucia.


"Apa? Tanyakan saja," jawab Lucia setelah menyesap teh hangat dari cangkirnya.


Nata masih terlihat diam beberapa saat menatap Lucia, sebelum kesunyiannya menarik perhatian orang-orang yang ada dalam tenda itu.


Perlahan Aksa mengangkat pandangannya ke arah Nata. Begitu pula Luque dan Rafa yang tadinya sedang sibuk melakukan sesuatu.


"Ada apa, Nat? Kau terlihat serius," ucap Lucia yang mulai terlihat kuatir.


"Apa kau butuh waktu untuk berduaan?" Tiba-tiba Aksa berbisik dengan cukup keras hingga semua orang bisa mendengarnya. Yang membuat Nata dan juga suasana menjadi canggung.


"Tidak. Bukan begitu. Tiba-tiba saja saya teringat akan sesuatu. Tapi bukan masalah. Bukan hal yang berhubungan dengan pertanyaan yang akan saya tanyakan," sahut Nata terlihat sedikit panik..


"Sus banget, asli," sahut Aksa menyipitkan mata menatap Nata.


"Jadi apa yang ingin kau tanyakan, Nat?"


"Karena hal ini cukup mendesak, jadi apa Yang Mulia sudah memiliki kandidat untuk mengurus masalah perbekalan para prajurit?" tanya Nata kemudian seraya menutup buku yang tadi ia baca.


"Ya, seperti yang sudah kita kira sebelumnya. Banyak yang bersedia untuk mengambil tugas tersebut, meski tanpa imbalan sekali pun." Lucia menjawab


"Menurut paman Orland, kita akan mengambil beberapa orang sekaligus untuk menanganinya. Karena menurutku tugas ini cukup besar untuk di tanggung oleh satu atau dua orang saja." Terlihat Lucia merubah posisi duduknya. "Seperti halnya masalah obat-obatan. Kita butuh beberapa kelompok orang untuk mengerjakannya, kan?"


"Benar. Saya juga sependapat. Saya rasa memang baiknya dipegang oleh lebih dari satu orang. Jadi siapa yang akan Yang Mulia pilih?"


"Tuan Edward terlihat sangat antusias untuk ikut ambil bagian dalam tugas ini. Jadi kurasa kita akan memilihnya sebagai penanggung jawab lapangan, dibantu oleh beberapa sanak kerabat Tuan Lumire. Sementara paman Orland sendiri yang akan mengambil posisi penanggung jawab penuhnya. Beliau cukup akrab dengan kemilteran dan juga kependudukan. Yang membuat beliau bisa menjadi jembatan untuk para pekerja dan pihak militer." Lucia menjelaskan.


"Wah, Anda sudah mahir melakukan hal-hal seperti ini sekarang, Ratu," puji Aksa yang terlihat terkesan dengan penjelasan Lucia.


"Apa kau meledekku, Aks? Aku menjadi Ratu sudah hampir lima tahun lebih, kau tahu?" timpal Lucia dengan tawa kecil.


"Jaga bicaramu, Bocah! Kau bisa dipenggal dengan tuduhan melecehkan Pemimpin Kerajaan," hardik Jean tegas.


"Maaf-maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," jawab Aksa cepat seraya mengangkat kedua tangannya ke atas seolah sedang menyerah.


"Kemudian juga, Yang Mulia perlu untuk mulai mempertimbangkan melakukan pelayaran ke laut timur. Setidaknya untuk jalur perdagangan langsung dengan wilayah Estrinx," ucap Nata melanjutkan topik pembicaraan.


"Ya, kami sudah memikirkannya. Kami berencana akan melakukannya setelah peperangan ini selesai," jawab Lucia tanpa jedah berpikir. "Lagi pula belum pernah ada orang yang berlayar ke laut timur sebelumnya. Kita akan jadi yang pertama melakukannya. Pelayaran rintis ke laut timur dataran Elder ini."


"Dan kenapa harus menunggu sampai perang selesai? Apakah kita kekurangan orang? Atau kekurangan kapal?" sela Aksa yang terlihat benar-benar penasaran.

__ADS_1


"Benar, bukankah pelayaran ke laut barat tetap dilakukan meskipun perang belum selesai?" Nata ikut menambahi.


"Itu karena disamping berlayar ke timur belum tentu membawa keuntungan untuk wilayah ini, juga karena pihak Elbrasta membangun dermaga di pesisir pantai wilayah Karu tepat di timur laut pelabuhan Mado. Dan be,um lagi Vistralle juga mengisi dermaga kecil bekas wilayah Ignus yang berada di pesisir utara perbatasan tanah bebas Azure, dengan kapal perang." Lucia menjelaskan alasannya. "Dan meski mereka tidak melakukan serangan langsung ke dermaga kita di pesisir timur, namun tidak menutup kemungkinan mereka akan menyerang kapal kita saat berada di laut."


"Apa kapal besi kita tidak bisa mengimbangi kekuatan mereka?" tanya Aksa.


"Mungkin bisa. Tapi untuk tujuan apa kita melakukan peperangan yang tidak perlu seperti itu?" Lucia kembali memberikan alasan yang dirasa paling baik.


"Hm, bila memang masalahnya adalah alasan kenapa harus bersusah payah berayar ke timur, maka sebentar lagi Yang Mulia akan segera mendapatkannya," ujar Nata kemudian.


"Apa kau memiliki rencana, Nat?"


"Benar. Besok akan sekalian saya bicarakan bersama para pemimpin dan parlemen."


"Oh iya. Ngomong-ngomong soal wilayah timur, aku ingin mengajukan proyek lain, Yang Mulia Ratu," sahut Aksa kemudian.


"Proyek lain?"


"Jadi menurut Trio pemburu dan Fla, di lereng gunung Sekai sana ditemukan sumber air belerang."


"Ya benar. Di lereng sebelah selatan kalau aku tidak salah ingat." Terlihat Lucia memperhatikan dengan seksama apa yang akan Aksa katakan.


"Bagaimana kalau kita membuat pemandian di tempat tersebut," ucap Aksa kemudian dengan senyum mengembang.


"Pemandian? Air belerang?" Tidak hanya Lucia yang terlihat terkejut. Jean, Rafa, dan Luque pun terlihat bingung dengan usulan dari Aksa tersebut. Karena dari yang mereka tahu, bau belerang sangatlah menyengat. Dan tidak dapat dibayangkan bagaimana orang akan mandi di tengah bau yang menyengat itu.


"Benar. Kita bisa jadikan itu sebagai semacam tempat rekreasi. Anda bisa menyerahkan pengelolaannya kepada para Yllgarian bila memang mau. Lumayan untuk menambah penghasilan hidup mereka," ujar Aksa.


"Kurasa bukan ide yang buruk. Hal itu juga bisa menambah mata pencaharian untuk para penduduk desa Sekai." Nata terlihat setuju dengan usulan Aksa.


"Bukankah bau belerang itu sangat menyengat? Bagaimana orang akan tahan mandi di tempat itu?" Luque menyela.


"Benar. Dari yang kudengar belerang malah bisa membuat kita sesak kehabisan nafas." Jean ikut menambahi.


"Untuk hal itu, serahkan saja pada Utusan Dewa ini. Bukan hal yang perlu dikuatirkan," balas Aksa dengan nsda angkuh yang biasa ia gunakan.


"Bila menurut kalian baik, mari kita lakukan. Tapi tidak dalam waktu dekat ini," balas Lucia.


"Ya aku tahu. Tapi setidaknya kita bisa mulai membuat jalan yang memadahi untuk menuju ke lereng gunung itu terlebih dahulu." Aksa memberi usulan lagi.


"Dan pengerjaannya bisa dilakukan oleh para penambang atau bantuan dari para Yllgarian. Pokoknya yang tidak sedang sibuk melakukan tugas-tugas utama kita. Jadi begitu kita siap membangun, maka jalanan pun juga sudah siap tersedia," tambah pemuda itu mencoba meyakinkan sang Ratu.


Terlihat Lucia mengangguk setuju. "Baiklah. Besok akan ku beri tahukan kepada paman Orland."

__ADS_1


-


__ADS_2