Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
19. Penyerangan Dimulai


__ADS_3

Sehari setelah pasukan dari Saronia dan Feymarch memulai serangan mereka di perbatasan Wilayah Margrace.


Pasukan Rhapsodia dari Kota Mara yang menghadang dua serangan tersebut tidak merasa terlalu kesulitan meski Kereta Penghancur belum selesai dirakit ulang dan dikirim untuk membantu.


Itu karena mereka berlindung di dalam benteng pertahanan darurat yang dibuat oleh para Pekerja dan Penyihir berdasar dari rancangan Aksa yang bernama Bunker. Yang dibangun 4 buah di wilayah perbatasan Selatan, dan 3 buah di wilayah perbatasan Barat.


Bangunan dengan bentuk silinder seperti benteng yang tidak terlalu tinggi itu membuatnya sulit untuk dijadikan sasaran Alat Pelempar Batu miliki pasukan lawan. Ditambah bidang bangunannya yang tidak terlalu luas, membuat para Penyihir tidak kesulitan untuk membuat Sihir Pelindung di sekitar tempat tersebut.


Sedangkan untuk persenjataan, bangunan itu memiliki Busur Silang yang berukuran cukup besar terpasang di bagian atapnya. Yang mampu menembakan tombak logam sejauh 20 kali tembakan anak panah.


Kemudian tepat di bawah atap tadi, terlihat sebuah jendela memanjang menghadap ke arah lawan. Beberapa senjata yang Aksa sebut dengan Gatling, yang berbentuk seperti Senapan namun dengan laras berjumlah 12 buah yang dapat berputar saat menembakan peluru, terpasang berjajar di tepian jendela tersebut.


Yang membuat prajurit lawan kualahan untuk mendekat, karena hujan peluru yang dibuat oleh senjata tersebut.


Pasukan lawan harus mengerahkan seluruh penyihir mereka untuk membuat Sihir Pelindung saat prajurit mereka hendak bergerak maju. Dan setelah para penyihir pelindung tersebut kehabisan stamina, penyihir tanah mereka akan membangun tembok dari tanah yang kemudian ditutup dengan perisai logam milik para prajurit agar peluru tidak dapat menembus dengan mudah.


Mereka akan menunggu sampai stamina para penyihir mereka pulih, sebelum kembali bergerak maju. Dan begitu seterusnya.


Strategi itu memang terbukti cukup ampuh untuk mengakali serangan Gatling milik Pasukan Rhapsodia. Namun metode itu juga memakan waktu sangat lambat. Dan juga sulit untuk mengirimkan segala keperluan para prajurit dari perkemahan utama mereka.


Berbeda dengan pasukan Rhapsodia. Jalur pengiriman dan perpindahan prajurit mereka berjalan dengan sangat lancar. Hal itu dikarenakan bangunan Bunker tersebut memiliki terowongan yang meski mirip seperti parit, namun menghubungkan ke Bunker-Bunker yang lainnya. Juga tempat perbekalan yang berada cukup jauh dari garis depan perbatasan.


Sedang para mantan Juara masih belum menggunakan Senjata Mistik mereka. Mereka menunggu sampai keadaan benar-benar mendesak, atau pihak lawan yang lebih dahulu menggunakan Senjata Mistik mereka.


-


Sementara itu disaat yang bersamaan rombongan Aksa dan Nata sedang berada dalam Kereta Uap menuju ke Kota Araz, di wilayah Ravus. Meski jalur kereta masih belum selesai sepenuhnya, namun Rel Kereta sudah dibenahi agar dapat dilalui terlebih dahulu.


.


Terlihat Aksa, Nata, Lily, dan Val sedang makan siang di salah satu gerbong bersama beberapa pekerja dan penyihir.


"Kemarin malam Nona Go melaporkan, bahwa menurut informasi dari prajurit yang berjaga di sekitar Pertambangan Trava, Pasukan Augra sudah mulai terlihat di kaki pegunungan tersebut." Nata berucap di tengah acaranya memotong daging asap di atas piring.


"Berarti saatnya kita mengerahkan kembali Pasukan Elit dan Kapal Udara untuk menghadang mereka," balas Aksa yang terlihat sibuk mengunyah daging asapnya.


"Apa kau juga akan ikut menghadang mereka, Aks?" tanya Lily yang duduk di sebelah Nata. Terlihat semangkuk sup hangat terhidang di atas meja di hadapannya.

__ADS_1


Aksa terlihat berpikir dengan serius dan menimbang-nimbang. "Sepertinya akan lebih meyakinkan kalau Kesatria Cahaya ikut serta. Tapi baju zirah itu panas dan berat. Aku malas mengenakannya," ucapnya kemudian.


"Makanya, sudah kubilang jangan menggunakan zirah lengkap seperti itu. Tapi kau tidak mau mendengarnya," timpal Nata dengan ringan.


"Kesatria mana yang tidak menggunakan Zirah, kutanya? Seenaknya saja kau bicara," sewot Aksa menanggapi.


"Iya-iya, tapi sebelum itu kita akan melakukan serangan ke wilayah Saronia dan Feymarch terlebih dahulu," balas Nata mengehentikan perdebatan yang akan terjadi.


"Oh, benar juga. Dengan separuh lebih pasukan mereka yang kini berada di perbatasan Margrace, berarti akan jauh lebih mudah untuk Pasukan Yllgarian mengambil alih kota-kota tersebut." Aksa mengangguk sambil kembali menyuapkan potongan daging asap ke mulutnya.


"Nanti sesampainya di kota Araz aku akan menghubungi pasukan Yllgarian untuk mulai bersiap-siap," ucap Nata kemudian.


-


Dan setelah 2 jam berada di perjalanan, akhirnya Kereta Uap yang mengangkut rombongan Aksa dan Nata itu pun tiba di kota Araz.


Helen dan Pasukan Elit tampak menyambut mereka di Stasiun Kereta yang berada tak jauh dari gerbang utara kota.


Situasi di Stasiun Kereta itu tampak sibuk oleh aktifitas para pekerja dan pengerajin yang mulai menurunkan segala barang yang dibawa oleh kereta tersebut.


"Lama tidak berjumpa Nona Helen, dan juga kalian semua," sapa Nata kepada Helen dan Pasukan Elit begitu rombongannya turun dari Kereta.


"Lama tidak melihat anda sekalian, Tuan Nata, Tuan Aksa, Nona Lily, Tuan Val." Helen menyapa semua orang dengan sopan.


"Senang bisa bertemu anda lagi, Jendral Helen." Lily membalas sapaan Helen. Sementara Val hanya menganggukan kepalanya.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan anda dan kalian semua dalam tugas kali ini," ucap Nata kemudian. Yang dibalas oleh senyuman gembira dan bangga dari para anggota Pasukan Elit.


"Terima kasih, Tuan Nata."


"Dan juga saya ingin meminta maaf karena pasti sangat sulit bagi anda dan para prajurit untuk tinggal di alam terbuka lebih dari seminggu terakhir ini," ucap Nata lagi, yang kali ini meminta maaf.


"Anda tidak perlu meminta maaf segala, Tuan Nata. Kurasa semua itu tidak seburuk kedengarannya," balas Helen dengan cepat. Kesatria wanita yang sekarang ini tengah mengenakan pakaian kebangsawanannya itu terlihat tersenyum.


"Karena dengan peralatan praktis yang telah Anda berdua siapkan, ditambah kemampuan yang telah kita pelajari selama 6 bulan lebih itu, menjadikan hidup di tengah hutan tidak lagi terasa berat," ucap Helen kemudian.


"Oh, jadi selama ini kalian tinggal di dalam hutan? Apa anda dan Pasukan Elit makan Ransum setiap harinya?" tanya Aksa dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Ya. Kami makan perbekalan Ransum dan juga berburu di dalam hutan tersebut." Helen menjawab. "Kami bisa mengetahui posisi sungai dan menentukan tempat yang aman untuk membuat perkemahan, semua itu karena peralatan serta pengetahuan yang telah anda sekalian berikan. Pengetahuan yang kami pikir tidak ada gunanya itu," tambahnya lagi.


"Kenapa anda bercerita seolah sedang melakukan petualangan seru, Nona Helen? Membuatku iri saja," balas Aksa dengan wajah kesal.


"Hahaha... benarkah begitu?" Helen tertawa yang kemudian diikuti oleh anggota Pasukan Elit dengan tawa tertahan.


"Tapi syukurlah kalau memang pengetahuan dan kemampuan yang anda sekalian pelajari bisa berguna." Kali ini Nata yang berucap.


"Sepertinya Anda memang sengaja memberikan kami jenis pelatihan seperti itu, karena anda sudah memperkirakan bahwa kami akan mengalami hal seperti ini di kedepannya, kan?" tanya Helen kemudian.


"Ya, tidak sepenuhnya juga sih," jawab Nata yang kemudian mengakhiri perbincangan di Stasiun Kereta tersebut.


-


"Tuan-tuan, Nona Lily. Maaf baru bisa menyapa anda sekalian," sapa Wedge begitu ia memasuki ruang pertemuan di kediaman pemimpin Kota Araz yang lama. "Saya baru saja melakukan patroli untuk memastikan bahwa prajurit Augra sudah benar-benar tidak ada lagi di wilayah ini," tambahnya yang kemudian duduk di salah satu kursi dalam ruangan tersebut.


Mereka mengadakan pertemuan kecil bersama Helen dan Wedge di tempat itu setelah mereka selesai berkeliling kota.


"Tidak perlu sungkan, Tuan Wedge. Kita semua memiliki tugas masing-masing. Jadi pastikan tugas anda telah selesai semua." Nata menjawab.


"Ya, saya baru saja menyelesaikannya dan melapor kepada Yang Mulia Ratu." Wedge kembali berucap.


"Baguslah. Lalu bagaimana dengan para prajurit yang melarikan diri ke wilayah Saronia?" tanya Nata kemudian.


"Kami tidak mengejar mereka, tuan Nata. Pasukan kita hanya melakukan penyisiran di desa-desa sekitar wilayah ini saja," jawab Wedge menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan wilayah hutan?Bukankah wilayah ini memiliki banyak hutan?"


"Saat ini kami masih belum masuk ke dalamnya. Kami hanya melakukan patroli di sekitar bibir hutan saja. Karena saya yakin mereka tidak akan dapat bertahan terlalu lama di dalam hutan tanpa peralatan dan keahlian seperti yang kita miliki." Wedge kembali menjawab.


"Ya, keputusan yang tepat, Tuan Wedge. Karena saat ini kita membutuhkan tenaga para prajurit untuk hal-bal yang lainnya," balas Nata yang terlihat seperti sedang berpikir. "Berarti setelah ini saya akan menghubungi pasukan Yllgarian untuk membahas tentang penyerangan ke wilayah Saronia dan Feymarch," ucapnya kemudian.


-


-


Malam harinya, atau lebih tepatnya pagi dini hari, hari berikutnya, kedua Kapal Udara Rhapsodia bergerak menuju ke Kota Meso di wilayah Feymarch, dan Kota Ulry di wilayah Saronia. Kota-kota tersebut adalah kota pemerintahan wilayah.

__ADS_1


-


__ADS_2