Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
20. Menuju ke Utara


__ADS_3

Setelah melakukan percakapan ringan mereka pun melanjutkannya dengan makan siang bersama. Tanpa Versica. Karena perempuan harus kembali ke tempat kerjanya.


.


"Dan juga saya tidak pernah melihat Eden dan Alexander kemari selama 2 bulan ini. Apa mereka sedang sibuk?" Hericus bertanya membuat topik pembicaraan baru.


"Bukan karena dilarang, kan?" tanyanya lagi dengan candaan yang semua orang tahu itu bermaksud serius.


"Sudah saya bilang sebelumnya. Pangeran Alexander dan Pangeran Eden sedang sibuk, Tuan Hericus." Orland menjawab dengan sedikit ketus. Terlihat pria botak itu sedang menahan rasa kesalnya terhadap Hericus.


"Ya, tuan Orland benar." Nata segera menimpali. "Saat ini Eden- maksud saya Pangeran Eden sedang memimpin Rencana Kerja memetakan daratan selatan di wilayah tenggara," lanjutnya dengan penjelasan.


"Oh, Pangeran Eden melakukan pekerjaan lapangan?" Hericus terlihat sedikit terkejut dengan jawaban tersebut.


"Benar. Mungkin beliau terpengaruh orang-orang disekitar beliau. Karena seluruh bangsawan di wilayah ini melakukan hal serupa." Nata kembali menjawab.


"Ya.. tentu saja..." ucap Hericus membalas dengan sedikit canggung.


"Sedang Pangeran Alexander saat ini sedang bersama tuan Cedrik dan beberapa pemimpin wilayah Selatan untuk membicarakan tentang masalah pembangunan." Nata melanjut.


"Karena Yang Mulia Ratu memberi beliau tugas untuk mengurusi seluruh pembangunan di wilayah selatan ini."


"Saya rasa Yang Mulia Ratu mempersiapkan Pangeran Alexander dengan cukup baik." Daniel membalas dengan tersenyum. Ada maksud tersembunyi dalam ucapan pria Voryn tersebut.


"Saya rasa demikian," balas Nata mencoba untuk tidak menyadari maksud tersembunyi itu.


"Setelah semua ini berkahir, kita memang akan kembali ke tempat kita masing-masing seperti sedia kala. Bukankah begitu?" ucap Daniel menambahi.


"Anda benar." Nata menjawab dengan senyuman.


Sementara Orland dan Hericus hanya mengangguk dalam diam.


"Jadi setelah ini anda hendak menuju ke Kerajaan Estrinx, Tuan Nata?" tanya Hericus kemudian mencoba kembali mengganti topik pembicaraan.


"Benar, Tuan Hericus."


"Saya rasa anda benar-benar orang yang berdedikasi tinggi, tuan Nata. Sampai rela harus repot-repot datang secara langsung ke sana." Kali ini Daniel yang berucap.


"Apa ini tentang rencana perdagangan dan pelayaran ke laut timur? Sampai anda harus turun tangan meski di tengah kekacauan yang sedang terjadi saat ini," lanjut pria bangsawan itu.


"Apa Rhapsodia hendak melakukan kerjasama dagang dan pelayaran ke laut timur dengan pihak Estrinx?" sahut Hericus yang baru saja tahu tentang hal tersebut.


Sedang Nata hanya tertawa kecil mendengar ucapan dari dua bangsawan utara itu.


"Mungkin akan terdengar seperti sedang menyombongkan diri. Tapi saya dan Arcdux Lugwin memliki cerita di masa lalu. Dan hubungan kami bisa disebut sebagai sahabat," ucap Nata kemudian.


"Ya, saya pernah mendengar tentang hal tersebut." Daniel menimpali.


"Oh, benarkah?" Hericus menyahut.


"Dan sekarang ini beliau sedang mengalami masalah yang cukup pelik. Sebagai sahabat sudah sewajarnya bukan saya mengunjungi beliau?" lanjut Nata lagi seraya tersenyum ramah.


"Ya, benar. Saya mengerti. Sebagai sahabat anda memang sudah sewajarnya mengunjungi beliau," balas Daniel juga dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


"Dan anda hendak menggunakan Kapal Laut untuk ke sana? Bukan dengan Kapal Udara?" tanya Hericus lagi yang terlihat cukup penasaran.


"Ya, meski saya belum pernah melihatnya secara langsung, tapi bukankah akan jauh lebih mudah menggunakan Kapal Udara untuk pergi ke wilayah Estrinx di saat-saat seperti ini?" lanjut pria Ghaltia itu kemudian.


"Kapal Udara masih belum dapat digunakan untuk berpergian sejauh itu, tuan Hericus," jawab Nata berbohong. "Lagi pula semua Kapal Udara saat ini sedang digunakan untuk kepentingan kerajaan," lanjutnya lagi.


Sebenarnya alasan Nata tidak menggunakan Kapal Udara itu tidak sepenuhnya bohong.


Disamping memang seluruh Kapal Udara saat ini tengah sibuk digunakan, alasan lainnya adalah agar keberadaan tentang alat transpotasi itu tidak diketahui oleh banyak orang. Terutama di wilayah utara.


"Oh, begitu rupanya. Sayang sekali. Kapal Udara yang rumornya sangat luar biasa itu ternyata tetap saja memiliki kekurangan," ucap Hericus seraya mengangguk kecil. Seolah baru saja memahami sesuatu.


"Ya, kadang memang seperti itulah rumor, tuan Hericus. Selalu dilebih-lebihkan," balas Nata sambil tertawa kecil.


Dan kemudian perbincangan pun berlanjut ke topik yang tidak terlalu penting, sampai tiba waktu dimana Nata dan Lily pergi.


-


Jam tangan Nata menunjukan pukul 2 siang saat ia dan yang lain sudah berada di atas geladak Kapal Besi di dermaga yang belum memiliki nama itu.


Tak lama kemudian terdengar peluit panjang dari cerobong asap, dan kapal tersebut mulai bergerak menjauh dari lepas pantai.


Perjalanan Nata menuju wilayah Estrinx pun dimulai.


-



-


.


"Apa suatu hari nanti kita akan berlayar kesana," ucap Sigurd menunjuk ke garis cakrawala di ujung timur saat ia dan yang lain sedang berada di geladak seusai sarapan hari berikutnya.


Mereka sedang melakukan kegiatan sambil menikmati udara, setelah semalaman harus terus berada dalam kamar karena kapal tersebut tengah melewati badai.


"Apa menurutmu ada daratan di timur sana?" timpal Loujze dengan pertanyaan.


Tampak trio pemburu sedang membantu awak kapal mengangkat kain terpal dari beberapa tempat.


"Kurasa ada. Karena dunia ini pasti jauh lebih besar dari daratan Elder." Nata menjawab pertanyaan tersebut.


Ia dan Lily tidak melakukan apapun dan hanya menikmati suasana menyandar pada pagar pembatas.


"Memikirkannya saja sudah membuatku merasa takut dan juga bersemangat," sahut Sigurd menambahi. Ia baru saja meletakan sebuah tong kayu di ujung geladak.


Pria itu dan Axel tengah membantu awak kapal memindahkan barang yang sebelumnya sempat dimasukan ke dalam karena badai.


"Semoga dengan alat yang sedang dikembangkan oleh Aksa, kedepannya nanti perjalanan menuju laut timur akan jauh lebih mudah untuk dilakukan," ucap Nata menambahi.


"Apa tuan Aksa sedang membuat sesuatu yang akan berguna bagi kita di Hutan Elf sana?" Sigurd kembali bertanya dengan antusias.


"Apa itu berkaitan dengan sihir?" Kali ini Axel yang bertanya. Anggota Bintang Api itu juga baru saja selesai meletakan tong kayu di sebelah Sigurd.

__ADS_1


"Benar." Nata menjawab cepat.


"Bahkan sekarang kalian yang tidak dapat menggunakan Aliran Jiwa saja sudah bisa membuat Tongkat Sihir." Terdengar suara Ende yang berjalan keluar dari ruangan dalam.


"Apa yang sebenarnya tengah terjadi di dunia ini?" lanjut penyihir mungil itu dengan sedikit kesal.


"Oh, benar. Aku baru saja ingat kalau Tongkat Sihir baru milik Nona Lily itu buatan tuan Aksa," ucap Loujze yang baru saja selesai dengan pekerjaannya.


"Aksa membuatnya berdasar dari arahan Lily dan juga para Elf yang lain," jawab Nata mencoba untuk menjelaskan.


Yang kemudian dibenarkan dengan anggukan kepala dari Lily.


"Tetap saja pemuda itu yang membuatnya. Mengingat hal ini membuatku jadi semakin kesal saja." Ende terlihat mulai sewot tidak jelas. "Kalau bertemu dengannya nanti, akan kuminta dia membuatkan satu untukku."


"Kau itu marah atau tidak sih sebenarnya, En? Pilih salah satu lah," timpal Sigurd mencoba menggoda Ende.


"Tapi apa benar anda berdua mempelajari tentang pengetahuan Runic di Hutan Elf sana?" Axel menyelakan pertanyaannya.


"Benar," jawab Nata singkat.


"Kenapa para Elf itu membiarkan kalian mempelajarinya?" Deuxter juga terlihat tertarik dengan hel tersebut.


"Ceritanya panjang. Tapi yang jelas sih, karena kami mengerti cara membaca Runic tersebut. Sementara para Elf itu tidak," balas Nata jujur namun dengan candaan.


Dan semua pun tertawa.


"Ya, sudah jelas itu," sahut Sigurd menimpali.


"Kalau begitu setelah semua ini selesai ajarkan aku tentang pengetahuan itu juga." Kali ini Ende yang seperti sedang menuntut hak nya.


"Tak perlu kuatir, Nona Ende. Nona Rafa tengah melakukan pencatatan tentang segala hal yang sedang dipelajari Aksa di Hutan Azuar." Nata menjawab.


"Dan rencananya ia akan menggunakan catatan itu sebagai bahan penelitian untuk Serikat Penyihir kita," lanjut pemuda itu bercerita.


"Oh, benarkah?" Wajah Ende pun mulai terlihat cerah setelah mendengar hal tersebut.


"Ya, setidaknya itu yang pernah ia katakan padaku."


"Baiklah-baiklah aku mengerti," balas Ende cepat. Suasana hati penyihir mungil itu sudah berubah lebih baik sekarang.


"Sekarang kau tersenyum, En?" goda Sigurd lagi yang tidak dihiraukan oleh Ende.


-


Genap 3 hari dari semenjak Kapal Besi rombongan Nata itu meninggalkan wilayah Rhapsodia, mereka pun akhirnya mendapati sebuah dermaga di ujung cakrawala.


"Daratan!" Awak kapal berteriak memberi kabar.


"Sepertinya itu Dermaga Gargazu yang ada di tenggara desa Dyms," ucap Huebert terdengar cukup percaya diri.


"Desa itu... sudah lama tidak melihatnya." Nata mulai merasakan nostalgia setelah mendengar nama Dyms disebut. Seperti halnya Lily.


"Bukankah itu desa tempat sang Oracle mengghabiskan sisa hidup beliau?" Sigurd bertanya memastikan.

__ADS_1


"Benar."


-


__ADS_2