Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
13. Kota Varun II


__ADS_3

Terlihat seorang pria Morra baya penuh peluh sedang mengatur nafasnya di depan sebuah rumah di Barat Daya pinggiran Kota Varun.


"Siapa?" Suara seorang perempuan menjawab dari dalam rumah saat si pria baya itu mengetuk pintu.


"Fajar baru telah muncul dari utara," jawab pria baya itu kemudian.


Tanpa adanya balasan, pintu rumah itupun terbuka. Seorang perempuan Narva muda muncul dari baliknya.


"Bapak Abra?! Apa yang tengah terjadi pada Anda?" Perempuan itu terkejut setelah mendapati siapa tamunya. Kemudian dengan segera, membopong pria tua yang terlihat akan terjatuh itu. "Apa anda baru saja berlari kemari?"


"Sudah-sudah, tidak perlu, Amy. Cepat kabarkan saja pada mereka." Pria tua yang di panggil Abra itu menolak bantuan perempuan itu dan dengan gerakan tangan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam.


"Mengabarkan tentang apa?" tanya perempuan yang dipanggil Amy itu mulai terlihat kuatir.


"Prajurit Vistralle akan membakar kota," jawab Abra yang membuat perempuan muda itu menahan nafas.


"Kapan?" tanya Amy yang sudah berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Sekarang," jawab Abra sambil berjalan pelan menyusul Amy masuk.


"Sekarang?" Terlihat jelas rasa tidak percaya di wajah Amy, saat ia sudah siap dengan Mikrofon di tangannya.


Sedang Abra yang sudah berada di ambang pintu hanya mengangguk kecil dengan wajah getir.


\=


Sementar Lucia yang berada di luar Kota Varun sedang melihat bagaimana Caspian dan pasukannya mulai memporak poranda barisan prajurit lawan.


"Sepertinya pasukan Caspian tidak memerlukan bantuan sama sekali," ucap Jean dari samping Lucia.


"Benar. Kurasa karena hanya ada prajurit bayaran di tempat ini," balas Lucia masih terlihat serius mengamati pertempuran hadapannya.


"Sepertinya Vistralle menggunakan pasukan pribadinya untuk mempertahankan wilayah Ceodore." Jean tampak setuju dengan pendapat Lucia.


Ditengah perbincangan tersebut tiba-tiba seorang prajurit berlari dengan tergesa menghadap Lucia.


"Yang Mulia Ratu, kami mendapat laporan dari salah satu informan yang berada di pinggiran kota Varun melalui Radio Komunikasi," lapor prajurit itu dengan cepat dan tegas.


"Apa pesannya?" tanya Lucia yang mulai terlihat kuatir.


"Mereka akan membakar Kota begitu para prajurit penjaga gerbang berhasil dikalahkan," jawab prajurit itu cepat.

__ADS_1


"Apa kau bilang?!" Lucia terlihat membelalakan matanya karena terkejut. Dan tak lama setelah itu terlihat asap hitam mulai membumbung tinggi di atas Kota Varun. "Ck, kurang ajar kau Vistralle!" geram gadis itu. "Perintahkan kepada semuanya untuk segera bergerak maju. Kita akan memasuki Kota Varun sekarang juga!"


"Siap, Yang Mulia." Prajurit itu menjawab dan kemudian berlari untuk menyampaikan perintah Lucia tersebut ke semua pemimpin pasukan.


"Semoga kita tidak terlambat." Lucia berharap lirih saat mulai bersiap untuk memacu kudanya.


-


Sementara Nata yang sedang memantau kondisi peperangan melalui Radio Komunikasi di Kota Tengah itu, segera menghubungi Radio yang terpasang pada Kereta Tempur milik pemimpin Pasukan Penyihir Petarung, untuk berbicara dengan Parpera.


"Ya, Tuan Nata? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Parpera saat mendengar suara Nata memanggilnya dari Pengeras Suara.


Nata menghubungi Parpera di dalam Kereta yang sedang berjalan menuju Kota Varun bersama rombongan besar pasukan Rhapsodia.


"Saya mendengar tentang pembakaran Kota Varun." Ucapan Nata terdengar timbul tenggelam dalam guncangan kereta tersebut.


"Ya. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju kota tersebut," jawab Parpera yang duduk di depan meja kecil di belakang ruang kemudi dimana Radio Komunikasi diletakan.


"Ya, untuk masalah itu saya ingin meminta tolong kepada Anda," ucap Nata.


"Apa Anda memiliki rencana untuk menangani masalah kebarkaran dalam kota tersebut?" Parpera mencoba untuk menebak.


"Baik, Tuan Nata," jawab Parpera singkat.


"Juga gunakan Kereta Besi yang memiliki ukuran paling kecil untuk membawa mereka ke area-area dimana kebarakaran terjadi," lanjut Nata. "Tapi jangan langsung menyebarkan mereka ke pelosok kota. Pusatkan saja pada kebakaran yang terlihat pertama kali saat memasuki kota. Setelah padam baru lanjutkan ke bagian lainnya, dan begitu seterusnya."


"Baik, Tuan Nata saya mengerti. Sesampainya di dalam kota saya akan segera kabarkan ini pada Yang Mulia Ratu dan mulai melakukan apa yang telah anda perintahkan," jawab Parpera tanpa meragukan perintah Nata tersebut.


"Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah, Nona Parpera. Semoga kalian semua selamat," ucap Nata kemudian.


"Terima kasih, Tuan Nata," balas Parpera sebelum mengembalikan Mikrofon pada tempatnya.


-


"Kenapa para penyihir itu harus memadamkan api secara bersamaan di satu tempat? Bukankah akan jauh lebih baik bila para penyihir es menyebar untuk membantu memadamkan lebih banyak tempat?" tanya Orland begitu Nata meletakan Mikrofonnya.


Nata memang memantau jalannya peperangan dari Radio Komunikasi yang dipasang di Ruang Pertemuan kediaman Lucia itu bersama Orland, Cornelius, Amithy, dan Madron.


"Pertama, kita tidak tahu akan sebesar apa api saat mereka tiba di Kota Varun. Yang berarti sudah dapat dipasti bahwa kita akan kehilangan banyak tempat karena api tersebut." Nata menjawab.


"Sedang kobaran api menjalar dengan sangat cepat di antara perumahan penduduk yang rata-rata terbuat dari kayu. Jadi penting untuk kita memotong pergerakannya. Memotongnya dengan cepat," ucap pemuda itu mulai menjelaskan.

__ADS_1


"Maka dari itu dengan kekuatan penyihir yang terpusat, kita bisa dengan cepat menghentikan api menyebar di satu area. Dengan begitu kita bisa menyelamatkan area yang belum terbakar. Syukur-syukur dapat menghentikan kobaran api sebelum bertambah parah," tutup Nata kemudian.


"Jadi yang kau maksud adalah mengutamakan penyelamatan hal yang masih bisa diselamatkan, ya?" Orland mengangguk kecil. "Aku paham sekarang."


"Dan dengan dipastikannya bahwa Kota Varun telah berhasil kita kuasai, berarti besok pagi kita akan mulai mengirimkan para pekerja ke kota tersebut, Tuan Orland." Nata kembali berucap.


"Ya, aku sudah menyiapkan semuanya."


"Dan juga siapkan bahan makanan dan pakaian yang pasti akan dibutuhkan oleh pada penduduk kota itu," tambah Nata mengingatkan.


"Ya, aku juga akan menyiapkannya setelah ini." Orland menjawab.


"Berarti setelah ini giliran pasukan Tuan Vossler dan Tuan Evora yang bergerak," ucap Nata kemudian.


-


Kembali ke gerbang Kota Varun. Tampak pasukan Rhapsodia menerobos kota dengan cukup mudah. Setelah pada akhirnya prajurit penjaga pintu gerbang kota tersebut berhasil disapu bersih oleh pasukan berkuda Caspian.


Prajurit lawan yang tidak sempat melarikan diri juga sudah menyerah dan membuang senjata mereka. Keadaan di depan pintu gerbang itu sudah mulai tenang, saat kepanikan di dalam kota mulai terjadi.


Api yang berkobar tinggi membakar rumah dan bangunan itu terlihat di berbagai tempat di ke empat penjuru kota.


Para penduduk berlarian panik bersama sanak keluarga mereka di jalanan kota menuju ke arah pintu gerbang kota. Sambil terlihat membawa barang-barang yang dapat mereka bawa.


Yang kemudian jadi lebih ketakutan saat mendapati prajurit Rhapsodia muncul dari pintu gerbang memasuki kota.


.


Dan begitu memasuki kota, Parpera dengan segera memberitahukan rencana Nata kepada Lucia, sebelum kemudian mulai memberi perintah kepada Pasuka Penyihir nya untuk segera melakukan pemadaman Api.


Lucia pun memerintahkan kepada sisa pasukannya untuk menyebar ke seluruh penjuru kota dan menyelamatkan para penduduk, serta membantu memadamkan api.


Dan bagi para prajurit Rhapsodia, peperangan mereka yang sesungguhnya adalah saat ini. Mereka harus membahayakan diri mereka untuk menyelamatkan warga yang terjebak dalam kobaran api, atau yang timbunan dibawah puing bangunan yang roboh.


.


Menjelang senja, baru lah seluruh kobaran api berhasil dipadamkan. Namun sayangnya hampir setiap tempat dimana api bermula, tidak dapat diselamatkan.


Delapan area hampir seluas alun-alun kota tampak tinggal puing dan arang. Kebanyakan adalah tempat-tempat penting seperti gedung pemerintahan, pasar, dan juga gudang penyimpanan.


-

__ADS_1


__ADS_2