
Dan setelah perbincangan ringan Nata dan Versica tentang gaya hidup dan hobi untuk mengakrabkan diri, akhirnya mereka pun mulai memasuki pembahasan yang lebih serius.
"Pertama yang harus jadi perhatian Anda adalah Vistralle sudah berhasil mendapatkan cara untuk mengolah logam Dracz. Dan menurut informasi yang saya dapat, sekarang ini mereka sedang membuat pelapis logam pada dinding benteng kota Varun." Versica memulai tema utama pertemuan hari ini.
"Saya sudah mendengar tentang pengolahan logam Dracz itu. Juga tentang tehnik membangun yang umum digunakan oleh wilayah ini." Nata menanggapi. "Apakah pembangunan di wilayah itu berjalan dengan pesat?"
"Cukup pesat. Karena di samping hampir dari separuh pengetahuan dan cara membangun wilayah ini telah ia miliki, Vistralle juga memiliki kemampuan untuk melihat orang-orang berbakat dan memperkerjakan mereka," jawab Versica menjelaskan.
"Benar-benar akan jadi merepotkan bila kita membiarkannya terlalu lama." Nata berguman pada diri sendiri. "Lalu bagaimana dengan teknologi yang lain? Seperti listrik dan alat-alat yang hanya ada di tempat ini. Berapa banyak yang ia ketahui?" tanyanya kemudian.
"Ya, listrik. Sampai saat ini mereka belum terlalu paham bagaimana alat tersebut bekerja. Mereka hanya menggunakan generator-generator itu untuk menyalakan lampu sebagai penerangan. Bahkan mereka masih belum dapat membuat lampu sendiri. Mereka hanya menggunakan yang kerajaan ini tinggalkan." Perempuan Narva itu kembali menjelaskan.
"Kurasa bila hanya cara menggunakan generatornya saja sih, memang cukup mudah. Karena sulit memahami cara kerja medan magnet hanya dari melihat sebuah kumparan saja," celetuk Nata spontan.
"Tapi mereka sudah memahami cara kerja dari mesin uap. Bahkan sudah mulai membuat sendiri mesin-mesin tersebut untuk digunakan sebagai alat pembangun." Versica menambahi.
"Benarkah?" Kali ini Caspian yang terkejut. Ini pertama kalinya ia mendengar informasi itu.
"Benar. Karka memberi kabar tentang hal itu tiga hari yang lalu," jawab Versica. "Mereka memulai pembuatan mesin tersebut di kota kecil bernama Madaor di utara Kota Araz," lanjutnya.
"Tak kusangka akan secepat itu," gumam Caspian seraya meneguk minumannya.
"Piston uap memang tergolong sederhana dan mudah dipahami," ucap Nata seolah mewajarkan pihak lawan menguasai tehnik dan pengetahuan tersebut. "Lalu bagaimana dengan biogas dan bubuk mesiu?"
"Mereka mengerti kegunaan kedua hal tersebut. Sebagai tenaga untuk Senjata Api dan Kereta Besi. Namun hanya sebatas itu saja. Hingga kini mereka masih belum mengetahui cara membuatnya." Versica menjedah ucapannya untuk menyibak rambut yang kembali menutupi mata kirinya. "Tapi menurut informasi yang saya dapat, Vistralle masih menyimpan bubuk mesiu dari sitaan perang sebelumnya. Kabarnya bubuk mesiu itu digunakan sebagai persiapan untuk menghadapi bila kerajaan ini menyarang lagi."
"Benarkah?" Sekali lagi Caspian mendapat informasi baru.
"Entah itu benar atau hanya rumor yang sengaja disebarkan untuk dijadikan gertakan saja, aku tidak dapat memastikannya." Versica mengklarifikasi bahwa ia juga tidak yakin benar tentang hal tersebut.
Sementara Nata hanya mengangguk dalam diam. Terlihat ia mulai tengelam dalam pemikirannya sendiri. "Lalu bagaimana dengan Tyrion?" ucapnya kemudian dengan pertanyaan. "Kurasa dia tidak akan berpikiran sama dengan Vistralle dalam menanggapi teknologi tersebut, kan?"
"Benar. Tyrion lebih mengandalkan apa yang sudah ia miliki. Yaitu pasukan yang kuat. Dan yang saya maksud dengan pasukan yang kuat itu adalah Serikat Petarung Yllgarian. Rawa Darah dan Bulan Darah," ucap Versica menjawab.
"Apa kedua Serikat Petarung itu sangat kuat?" Nata terlihat meragu.
"Terakhir muncul Rawa Darah berhasil memporak-porandakan kota Tengah ini, dan Bulan Darah melibas habis nyaris seluruh pasukan kita di wilayah selatan." Caspian menyela dengan jawaban.
__ADS_1
"Kurasa saya perlu informasi lebih rinci mengenai kedua Serikat Petarung itu setelah ini," pinta Nata yang terlihat kawatir setelah mendengar jawaban dari Caspian tersebut.
"Jangan kawatir. akan saya siapkan," jawab Caspian singkat.
"Tapi Serikat Petarung Yllgarian itu serikat petarung bebas, kan?" tanya Nata lagi memastikan. Yang hanya dijawab anggukan kecil oleh Caspian dan Versica.
"Itu berarti Tyrion menyewa mereka. Lalu dari mana ia mendapatkan dana untuk itu? Apa ada pihak lain yang membantunya?" Nata mengutarakan pemikirannya.
"Sampai sejauh ini, yang saya dan jaringan informan ketahui adalah, suatu hari Tyrion tiba-tiba muncul kembali di wilayah selatan ini sudah dengan 2 serikat petarung tersebut, dan ratusan keping emas yang mungkin setara dengan harga sebuah kastil." Versica mencoba memberi petunjuk.
"Ada dimana dia sebelumnya? Apakah di daratan Utara? Atau di daratan Barat?"
"Kami tidak tahu tentang hal tersebut. Kemungkinan besarnya antara ia berada di Cilum, tempat kediaman keponakannya, atau di Augra, tempat keluarga suami dari adik perempuannya." Versica kembali memberikan informasi yang ia tahu.
Nata terlihat kembali larut dalam pemikirannya. "Lalu bagaimana dengan situasi politik dan penduduk di kedua wilayah itu?" ucapnya kemudian melanjutkan tema pembicaraan.
Kini giliran Versica yang terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Raut wajahnya berubah muram. Seolah ia ragu untuk kembali mengingat hal buruk yang tengah terjadi terhadap para penduduk. "Tidak baik," ucapnya kemudian dengan lesu. "Politik sekarang ini masih terus bergejolak di kedua wilayah tersebut. Karena banyak kubu yang memiliki pandangan berbeda sejak dari awalnya. Terutama yang mengenai kepemilikian wilayah kerajaan Augra dan Jouren," jelasnya kemudian.
Nata kembali mengangguk dalam diam. Terlihat ia serius menyimak penjelasan dari perempuan mantan Juara Urbar itu.
"Sedang untuk kehidupan penduduk di tempat itu sangatlah menyedihkan," lanjutnya lagi dengan nada yang terdengar getir. "Mereka kini terbagi menjadi tiga tingkatan sosial. Yang pertama adalah bangsawan yang dengan segera mendapatkan kembali tanah dan harta mereka yang hilang saat berada dalam kekuasaan Rhapsodia. Kemudian yang kedua adalah kelompok petarung atau prajurit, yang selalu menebar teror dan membuat kondisi merasa tindak nyaman, kemudian yang terakhir adalah rakyat biasa yang semakin lama semakin jatuh terpuruk."
Terlihat Nata hanya mampu menghela nafas panjang mendengar cerita tersebut. Dalam benaknya ia sudah memperkirakan hal seperti itulah yang akan terjadi.
"Bahkan di pinggiran wilayah Eblan yang dikuasai oleh Tyrion, sempat terjadi kelaparan yang mengakibatkan kematian penduduk 1 desa. Belum lagi di bagian timur yang dulunya adalah wilayah Cirrus. Terjangkit wabah dan penyakit yang mengharuskan penutupan wilayah tersebut untuk dikarantina. Puluhan orang meninggal karena hal tersebut. Dan tetap saja Tyrion dan Vistralle tidak perduli," lanjut Versica seolah meminta Nata untuk segera bertindak menolong mereka.
Nata mengangguk paham. "Lalu bagaimana hubungan mereka dengan kerajaan Augra dan Jouren?" ucapnya kemudian mencoba mengganti tema yang tampak tidak cukup nyaman untuk Versica bicarakan.
"Tidak baik, tapi juga bukan musuh." Perempuan Narva itu menjawab cepat. "Selama Tyrion dan Vistralle menepati perjanjian mereka, maka kerajaan Augra maupun Jouren tidak akan mengusik mereka."
"Itu berarti kerajaan-kerajaan itu juga tidak akan membantu bila kita mulai menyerang, bukan?" Nata memastikan.
"Ya, kurasa selama mereka merasa bahwa serangan kita bukan ancaman, kerajaan-kerajaan itu mungkin akan tinggal diam saja." Versica menjawab. "Tapi akan lain ceritanya bila anda berniat menyerang kerajaan-kerajaan itu terlebih dahulu," tambahnya yang seperti disengaja untuk melihat reaksi Nata.
"Oh, Anda sudah mendengar tentang rencana itu?" Nata tampak sedikit terkejut.
"Dia sudah bukan orang luar." Caspian menyahut.
__ADS_1
"Anda tidak perlu mencurigai saya, Tuan Nata." Versica menjawab dengan senyuman.
"Ya, meski pun bocor, rencana seperti itu akan dianggap sebagai lelucon belaka. Dan bila mereka mempercayainya dan membuat persiapan pun tidak akan jadi masalah. Toh mereka tetap tidak akan bisa menahannya," ucap Nata santai sambil meneguk minumannya.
Versica menarik tubuhnya ke belakang. Wajahnya terlihat sedikit terkejut. "Anda benar-benar punya sifat yang unik seperti yang sering diceritakan oleh Nona Margaret," ucapnya kemudian. "Sang Penasehat."
"Sang Penasehat?" tanya Nata tidak mengerti.
"Ya, Penasehat adalah kata yang sering Nona Margaret gunakan saat bercerita tentang Anda."
Nata mengangkat kedua alisnya. "Relevan," ucapnya kemudian. "Baiklah kalau begitu, yang terakhir."
"Apa?"
"Saya ingin tahu tentang jaringan informasi yang anda punya. Juga tentang kelompok-kelompok anti penguasa yang mungkin ada dan potensinya untuk menjadi sekutu kita," ucap Nata kemudian.
"Bila yang anda maksud adalah anggota dari jaringan informasi yang kita punya saat ini, maka secara total ada sekitar 80 orang yang tersebar di segala tempat di wilayah selatan. Namun hanya hitungan jari dari mereka yang dapat bertarung atau memiliki kemampuan bela diri. Karena nyaris sebagian besarnya adalah warga biasa yang hanya membagikan informasi yang mereka tahu disekitar wilayah mereka." Versica menjawab.
"Sedang untuk kelompok anti penguasa, ada cukup banyak. Namun tidak banyak yang memiliki kemampuan melawan atau potensi untuk menjadi sekutu kita," lanjutnya.
"Bisakah anda mengupayakan untuk membuat hubungan dengan kelompok-kelompok yang anda anggap berpotensi itu? Mungkin kita memerlukan mereka di kemudian hari." Nata mengajukan permintaan.
"Akan saya coba."
"Dan satu lagi. Apakah berlebihan bila saya meminta Anda dan jaringan informan untuk membuat peta wilayah beserta situasi politik dan tingkat keamanannya?" Nata mengajukan satu permintaan lagi.
"Mungkin sedikit berlebih. Tapi akan kami usahakan. Jangan berharap terlalu banyak untuk yang ini," jawab Versica mencoba untuk serealistis mungkin.
"Saya mengerti. Terima kasih sebelumnya."
"Anda tidak perlu berterima kasih pada saya dan yang lainnya. Cukup janjikan keberhasilan pada kami."
"Baiklah, saya berjanji akan membuat tanah kelahiran Anda kembali damai dan makmur, Nona Versica."
"Terima kasih."
-
__ADS_1