
Meski tak seramai Kota Tengah, namun Kota Utara ini masih terlihat cukup sibuk. Mulai dari pejalan kaki sampai Kereta Besi dengan berbagai bentuk dan ukuran terlihat berlalu lalang jalanannya.
Hal unik yang paling terlihat dari Kota Utara ini adalah jalanannya yang memiliki pola dengan bentuk yang unik. Seperti persegi enam yang saling bersinggungan. Berbeda dari jalanan di tempat lain yang hanya berupa semen polos saja. Tiang lampu jalan juga terlihat jauh lebih artistik dibanding tempat lainnya. Terdapat tambahan pola bunga yang diukir di bawah penahan lampunya.
Beberapa orang yang berada di pinggir jalan tampak berhenti sebentar dan menunduk memberi hormat saat melihat Kereta Besi milik Lucia itu lewat. Hal yang juga terjadi saat mereka sedang berada di jalanan Kota Tengah sebelumnya.
Hal itu membuat Nata mengerti bahwa penduduk wilayah tersebut mengenali Kereta Besi Lucia, dan juga menghormati Lucia sebagai pemimpin mereka. Dan itu merupakan hal yang bagus menurutnya.
Namun sayangnya mereka tidak bisa mampir atau berlama-lama di Kota Utara tersebut. Karena mereka harus segera menuju ke barat laut ke tempat di mana komplek Garnisun dibangun. Maka dari itu mereka hanya melewati jalan lingkar luar kota tersebut sebelum kemudian keluar melewati gerbang sisi barat.
.
Tak lama kemudian terlihat sosok Helen dan Caspian yang berdiri di depan gerbang komplek Garnisun tersebut untuk menyambut. Itu karena menara jaga mereka sudah melihat dan mengenali Kereta Besi Lucia tepat setelah Kereta Besi itu keluar dari gerbang barat Kota Utara tadi.
Setelah melewati gerbang komplek, Mereka bersembilan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki di temani oleh Caspian dan Helen. Sedang Kereta Besi Lucia ditinggal di sebidang tanah lapang di sebelah kanan gerbang, di antara beberapa Kereta Besi lain.
Mirip seperti komplek Atelir, komplek Garnisun yang berada di barat laut Kota Utara ini terlihat seperti sebuah desa kecil yang memiliki banyak bangunan yang merupakan tempat untuk melatih jenis keahlian tertentu.
Mereka melewati sebuah tanah lapang yang berisi anak-anak berusia 6 sampai 12 tahun yang tengah belajar menggunakan sihir dasar yang tidak untuk menyerang. Karena beberapa pengajar terlihat sedang mengawasi anak-anak itu untuk membuat tembok kecil dari tanah, membakar tungku perapian, membekukan air, atau menyalurkan energi petir dalam generator listrik.
"Oh, jadi itu yang dimaksud dengan pelatihan sihir untuk sehari-hari?" tanya Aksa yang terlihat cukup antusias mengamati bagaimana anak-anak itu berlatih.
"Oh, Anda sudah mendengarnya?" sahut Caspian yang terlihat sedikit bangga. "Memang benar itu adalah pelatihan sihir untuk sehari-hari. Dan itu adalah salah satu pelatihan wajib yang kami terapkan untuk anak-anak wilayah ini selain bersekolah."
"Salah satu dari pelatihan wajib?" Kali ini Nata yang bertanya.
"Benar. Jadi sekarang ini kami juga melatih para warga agar setidaknya mengerti cara menggunakan senjata dan sihir untuk membela diri," jawab Caspian kemudian. "Pelatihan itu tidak termasuk dalam Pelatihan Tempur atau Pelatihan Sihir. Tapi pelatihan yang wajib diikuti oleh warga, setidaknya untuk laki-laki mulai dari usia sepuluh sampai enam puluh tahun."
"Oh, saya mengerti. Jadi ini semacam wajib militer untuk mengantiaipasi serangan mendadak karena kurangnya pasukan jaga?" Nata memastikan ketika mereka melewati tanah lapang lainnya yang berisi beberapa pemuda sedang berlatih fisik.
__ADS_1
"Benar. Dan bila mereka merasa nyaman dan ingin terus berlatih, maka mereka bisa mengikuti Pelatihan Tempur atau Pelatihan Sihir untuk benar-benar menguasainya." Caspian menjawab ketika sosok Vossler bersama beberapa orang dan Yllgarian terlihat mendekat.
Mereka yang mendekat bersama Vossler itu adalah para ksatria dan penyihir yang sudah berada ditempat ini sejak sebelum kerajaan Rhapsodia terbentuk, jadi mereka tahu siapa itu Aksa dan Nata.
Maka dari itu terlihat adanya rasa antusias yang tinggi dari para ksatria dan para penyihir tersebut saat mengambut kedatangan Aksa dan Nata. Karena itu berarti kesempatan mereka untuk menang dalam peperangan sangatlah besar.
"Senang bisa bertemu lagi dengan Anda berdua, Tuan Aksa, Tuan Nata," sambut Vossler setelah sebelumnya ia dan rombongannya memberi hormat kepada Lucia. Kini pria itu terlihat memiliki bekas luka melintang di batang hidung di bawah matanya.
"Selamat datang, Tuan Aksa, Tuan Nata." Para ksatria dan penyihir itu menyapa silih berganti.
"Senang bertemu kalian lagi," balas Nata kemudian.
"Wah, Anda jadi terlihat lebih sangar dengan luka diwajah seperti itu, Tuan Vossler," ujar Aksa yang terlihat sedikit kagum melihat wajah Vossler.
"Kenapa kau malah senang melihat orang lain terluka, Aks?" ujar Nata yang merasa Aksa telah berlaku tidak sopan.
"Anda berdua tidak berubah sama sekali. Bahkan bertambah tua pun tidak." Vossler terlihat menggelengkan kepalanya pelan.
"Itu ada penjelasannya," sahut Nata cepat.
"Lalu di mana Pelatihan Senjata Sihir itu? Aku mau melihatnya," potong Aksa sambil terlihat celingak-celinguk memandang ke segalah arah.
"Oh, Anda ingin kelihat pelatihan Senjata Sihir? Ayo saya antar," ucap Caspian yang kemudian romhongan yang bertambah besar itu mulai kembali berjalan.
Rombongan tersebut jelas menarik banyak perhatian di sepanjang perjalanan mereka menuju Garnisun Pelatihan Senjata Sihir. Semua orang yang tidak tahu tentang Aksa dan Nata terlihat kasak-kusuk mempertanyakan siapa sebenarnya dua pemuda yang berjalan di antara orang-orang penting kerajaan.
Akhirnya mereka memasuki sebuah gedung Garnisun yang cukup besar yang digunakan untuk berlatih Senjata Sihir. Terlihat beberapa prajurit sedang melakukan latih tanding, sementara yang lain terlihat sedang melakukan pemanasan sebelum berlatih.
Dan kedatangan rombongan besar Aksa dan Nata itu segera menarik perhatian orang-orang yang sedang berlatih. Terlihat mereka menghentikan latihan mereka dan memberi hormat saat mendapati keberadaan Lucia di antara rombongan tersebut.
__ADS_1
"Sudah, kembalilah berlatih," perintah Lucia kepada para prajurit yang berada dalam Garnisun tersebut.
"Pelatihan ini tergolong pelatihan tingkat lanjutan setelah Pelatihan Tempur dan Pelatihan Sihir." Caspian mencoba memberi penjelasan setelah para prajurit sudah kembali berlatih.
"Apa maksud dari pelatihan tingkat lanjut itu, Tuan Caspian?" Aksa terlihat mulai bersemangat.
"Itu karena pelatihan Senjata Sihir ini adalah gabungan dari penggunaan senjata dan sihir." Dan Caspian mulai menjelaskan panjang lebar setelah ucapannya tersebut.
"Singkatnya Pelatihan Tempur itu mengajarkan tentang bela diri tangan kosong atau penggunaan senjata seperti pedang, tombak, panah, dan senapan baik yang bertenaga angin maupun yang menggunakan bubuk mesiu.
"Lalu Pelatihan Sihir jelas mengajarkan penguasaan penggunaan sihir. Baik untuk pertarungan ataupun kegunaan yang lainnya.
"Dan untuk mereka yang sudah cukup mahir dengan kedua pelatihan tadi, bisa mulai pelatihan Senjata Sihir mereka seperti Pangeran Alexander dan Pangeran Eden sekarang ini," tutup Caspian kemudian.
"Jadi apa maksudnya pelatihan itu mengajarkan pengguna menggabungkan senjatanya dengan sihir? Atau semacam sihir enhancement yang dulu pernah ditunjukan oleh Rafa?" tanya Aksa dengan mata berbinar-binar.
"Ya kurang lebih konsepnya sama seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya. Menggunakan sihir untuk meningkatkan kemampuan senjata atau pelindung," sahut Rafa menjawab.
"Tapi sebenarnya metode penggunaan sihir seperti ini sudah lama digunakan. Seperti contohnya Nona Jean, yang merapalkan sihir penguat yang pada dasarnya adalah sihir pelindung ke pedangnya agar mampu untuk menebas sebuah baju zirah. Atau Nona Helen yang menggunakan sihir uniknya untuk meringankan baju zirah dan pedangnya agar dapat bergerak dengan cepat," lanjut Rafa memberi penjelasan.
"Oh, aku paham. Jadi bila aku bisa sihir api, aku bisa membuat pedangku menjadi pedang api, begitu kan?" Aksa memberikan kesimpulan dan contoh dari penjelasan yang ia terima.
"Jadi seperti Senjata Mistik versi lemahnya, dong?" Nata menambahi.
"Kurang lebihnya, sih. Karena tidak semua jenis sihir bisa diterapkan seperti itu. Pedang akan cepat hancur dan rusak saat kita mengibuhkan sihir penghancur seperti Api, Es, atau Petir. Saya, Nona Parpera, dan yang lain sudah mencobanya." Kembali Rafa menjawab dengan penjelasan.
"Wow, kau benar-benar melakukan penelitian tentang hal ini, ya?" ujar Aksa terlihat mengangguk puas mendengar jawaban dari Rafa.
-
__ADS_1