Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
34. Peralatan Perang


__ADS_3

"Jadi bagaimana cara untuk mengalahkan orang-orang yang berada dalam pengaruh sihir itu dengan sesedikit mungkin melukai mereka?" Aksa bertanya kepada Yvvone melalui alat komunikasi terbaru miliknya.


Sebuah Jendela Sihir yang ditempatkan di ruang tengah tendanya, yang ia sebut dengan Vidcom.


Menggabungkan cara kerja Telepon Sihir dengan sambungan Drone Sihir ke LED Magic, kini Aksa dan Yvvone dapat berhubungan dengan saling melihat wajah masing-masing melalui Jendela Sihir yang memiliki alat sihir tambahan berbentuk seperti lensa kaca Drone di bagian atas bingkainya. Yang disebut Aksa dengan Go-Magic. Perangkat sihir penangkap gambar.


Alat komunikasi itu memang baru dimiliki mereka berdua saja karena Aksa memang baru menyelesaikannya setelah pertemuan tiga kaum kurang dari seminggu yang lalu.


"Sulit juga. Tapi bila memang menurutmu sihir itu menggunakan media seperti peralatan mistik, yang aku pikir cukup masuk akal mengingat pelakunya tidak perlu menggunakannya berkali-kali ke setiap prajurit, berarti cara paling ampuhnya adalah melepas peralatan mistik tersebut." Yvvone menjawab.


"Ya, kalau yang itu kami juga sudah tahu. Tapi tetap kita harus bertarung untuk melepas perlengkapan tersebut." Aksa merasa sedikit kecewa.


"Ya, karena memang cuma itu satu-satunya cara untuk menghilangkan pengaruh sihirnya. Karena sihir yang mempengaruhi Aliran Jiwa mahluk lain seperti sihir Druid dan Penjinak itu memang tidak mudah untuk dipatahkan." Yvvone menjawab sedikit ketus.


"Sebentar..." Tiba-tiba Aksa memotong ucapannya dan menatap ke arah Nata. Seolah baru saja menemukan sebuah petunjuk.


"Benar." Dan Nata tampaknya juga memiliki pemikiran yang sama dengan Aksa.


Mereka seperti sedang berkomunikasi hanya dengan tatapan saja.


"Hei, apanya yang benar?" Luque terlihat kesal melihat tingkah kedua pemuda itu.


"Sihir serumit apapun, tidak akan berguna bila tidak ada Aliran Jiwanya," ucap Aksa yang alih-alih menjawab pertanyaan Luque.


"Memang benar. Lalu?" Luque bertanya terlihat masih tidak mengerti. "Oh, jangan-jangan maksud kalian..."


"Benar. Nega-Cannon adalah jawabannya." Aksa memotong sebelum Luque sempat menyelesaikan ucapannya.


"Oh, benar. Penghilang Aliran Jiwa." Kali ini Yvvone dari balik Jendela Sihir yang berucap.


"Aku akan coba untuk memodifikasinya supaya mudah dibawa-bawa, dan sekaligus melakukan tuning down agar tetap bisa menyingkirkan Aliran Jiwa pada mahluk hidup, tapi tidak sampai membunuhnya." Aksa kembali berucap. Mencoba menyusun rencana.


"Hanya saja tetap orang yang terkena akan mengalami sensasi kehabisan Aliran Jiwa yang menurut Val dapat meninggalkan kenangan buruk," susulnya kemudian.


"Ya, itu jauh lebih baik dari pada harus melakukan pertarungan yang sia-sia." Nata menanggapi.


"Benar."


Beberapa orang juga terlihat menyetujuinya.


"Kalau begitu aku akan ke tempatmu besok pagi, Von," ujar Aksa kemudian.


"Kalau begitu sekalian kita memerlukan Gerbang Pemindah secepatnya. Sebelum kejutan sihir-sihir lain dari Sefier mulai berdatangan." Nata berucap.


"Ya, akan kulihat apa yang bisa aku lakukan untuk masalah itu setibanya di sana nanti," jawab Aksa kemudian.


-


Pagi harinya Aksa bersama Val, Rafa, dan Luque bertolak menuju tempat dibangunnya Gerbang Teleportasi di tanah bebas Azure.


Sementara Nata dan Lucia membahas tentang masalah Sihir Pengendali pada prajurit Bruixeria dengan pemimpin kerajaan lain melalui Radio Komunikasi.


Yang kemudian diputuskan untuk menahan serangan terlebih dahulu sampai Aksa menyelesaikan pembuatan alat untuk menghilangkan Sihir Pengendali tersebut.


.

__ADS_1


Dan kemudian sorenya Nata menghubungi Aksa yang sudah berada di tempat pembangunan Gerbang Teleportasi.


"Sepertinya kita punya masalah, Nat?" ucap Aksa begitu panggilan diterima.


Mereka menggunakan Telepon Sihir untuk melakukan perbincangan kali ini. Karena Nata melakukan panggilan dari tempat Lucia.


"Apa masalahnya?" Nata bertanya.


"Karena kita memerlukan energi yang cukup besar untuk mengaktifkan Nega-Cannon itu, maka tidak akan mungkin untuk dibuat sekecil pistol tanpa memasang Formasi Sihir Aktif di dalamnya." Aksa menjelaskan.


"Oh, bila ditambahkan Formasi Sihir Aktif senjata itu akan jadi seperti senjata anehmu itu, ya?" Nata bertanya memastikan.


"Hei, jangan sebarangan menyebut The Omnipotence sebagai senjata aneh," sewot Aksa tidak terima. "Tapi memang benar. Formasi Sihir Aktif berpotensi mempengaruhi Aliran Jiwa penggunanya." lanjutnya membenarkan.


"Jadi apa solusi yang kita punya?" tanya Nata kemudian.


"Ukurannya masih mungkin untuk dikecilkan bila kita memisahkan antara meriam dan sumber energinya." Aksa memberi jawaban.


"Berarti tidak akan mobile, kan?" Nata kembali memastikan.


"Benar. Kecuali kita pasangkan pada sebuah tank." Aksa menyahutkan gagasan yang lain.


"Tapi tetap saja kendaraan itu juga tidak terlalu gesit untuk melakukan pemburuan dalam medan tempur," balas Nata yang merasa gagasan tersebut bukanlah pilihan yang tepat.


"Bagaimana kalau kita buat semacam Tank Hover?" Aksa kembali memberi ide yang lain.


"Tank Hover? Maksudmu kau mau memodifikasi Kereta Penghancur dengan alat anti-gravitasi itu?" tanya Nata memastikan rencana sahabatnya itu.


"Benar. Aku bisa mengatur batasan penggunaan Aliran Jiwa agar tidak melayang cukup tinggi, dan tidak memerlukan banyak energi bila kita harus memasang generator Aliran Jiwa. Jadi cukup ramah lingkungan." Aksa berucap dengan cukup antusias dan penuh percaya diri.


"Mulailah kirim tank-tank itu kemari secepatnya. Dan juga kelompok pengerajin sihir yang ada disana." Aksa menjawab.


"Aku akan meminta bantuan Elf untuk masalah bahan materialnya. Dan akan ku coba menyelesaikannya bersamaan dengan estimasi selesainya versi mini dari Nega-Cannon itu," lanjut pemuda itu terdengar optimis.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan membicarakannya dengan Yang Mulia Ratu setelah ini," balas Nata kemudian.


"Oke. Eh, apa Lucia ada bersamamu sekarang? Kenapa memanggilnya begitu formal?" tanya Aksa seraya menurunkan volume suaranya.


"Benar. Yang Mulia Ratu sedang bekerja di meja kerjanya sekarang." Nata menjawab.


"Oh, begitu. Apa kalian hanya berdua saja? Apa Li,y juga ada?"


"Lily sedang berada di luar saat ini. Kenapa?"


"Oh... Jadi begitu. Apa kalian sudah saling panggil Aku-Kamu saat sedang berduaan seperti sekarang?"


"Oke, bye!"


Dan panggilan pun terputus.


"Eh, dasar si Nata itu." Aksa tampak kesal Nata menutup panggilan secara mendadak.


"Kenapa, Aks?" tanya Luque yang baru saja memasuki tenda mereka di tempat pembangunan Gerbang Teleportasi itu.


Memang tenda tersebut dibangun untuk rombongan Aksa sekaligus. Untuk Aksa, Val, Rafa, dan juga Luque. Dengan ranjang yang diatur rapi di setiap sisi dari ruang tengahnya.

__ADS_1


"Itu si Nata. Selalu ga bisa kalau dibercandain soal Lucia. Apa dia sebegitu takutnya kalau Lucia akan marah dan memberinya hukuman?" Aksa menceritakan alasan dari kekesalannya pada Luque


Sedang setelah mendengarnya Luque hanya mampu menghembuskan nafas panjang. Dan dengan tatapan malas berucap, "Aku kasihan dengan Nona Rafa yang harus berurusan denganmu yang seperti ini."


"Eh, apa maksudnya itu? Apa hubungannya Nata dan Lucia dengan Rafa dan aku?" Aksa tidak mengerti maksud dari ucapan gadis itu.


"Sudahlah, itu tadi nona Yvvone mencarimu," balas Luque yang enggan memperpanjang tentang hal tersebut.


"Oh, benar. Aku juga ada yang harus dibicarakan dengannya." Dan Aksa pun bergegas keluar tenda mencari Yvvone.


.


"Bagaimana, Aks?" tanya Yvvone saat Aksa sudah menemukannya.


"Besok akan ada orang baru yang datang untuk membantu. Dan sepertinya aku perlu bahan material untuk alat anti-gravitasi lagi." Aksa berucap langsung pada intinya. Tanpa berbasa-basi.


"Apa kau ingin aku menggunakan Kristal Arcane lagi untuk memasok material tersebut dari Hutan Azuar?" tanya Yvvone memastikan.


Yang hanya dijawab Aksa dengan anggukan cepat.


"Tapi ini sudah melebihi penggunaan yang telah dijanjikan. Aku sudah memakai persediaan Kristal Arcane ku untuk 10 tahun ke depan, kau tahu?" Gadis Elf itu tampak mengeluh dan tidak terima.


"Ayolah, Von. Sebagai gantinya, aku akan membuatkan alat sihir yang setara dengan 10 tahun Kristal Arcane. Tidak, tapi lebih dari itu." Aksa mencoba untuk merayu Yvvone.


"Tidak, aku tidak ingin alat berbahaya darimu." Yvvone menolak mentah-mentah.


"Tidak, alat itu tidak akan berbahaya. Aku akan membuatkan Alat Mistik yang akan mendukung identitasmu sebagai Elf dari Marga Aeron. Aku berjanji kau tidak akan kecewa." Aksa masih mencoba untuk merayu dan meyakinkan gadis Elf itu.


"Benarkah? Alat itu bisa mendukung identitasku sebagai seorang Aeron?" Yvvone mulai tertarik dan penasaran.


"Kapan coba aku pernah berbohong. Kau ingat aku ini Utusan Dewa. Kunci dari dunia ini." Aksa segera membalas.


"Alat seperti apa itu?" tanya Yvvone lagi.


"Rahasia dong. Kalau ku kasih tahu sekarang tidak akan greget saat menerimanya nanti. Pokoknya ada hubungannya dengan Sihir Pemindah," balas Aksa kemudian.


Yvvone terlihat mulai menaruh minat dan cukup antusias dengan alat yang akan dibuatkan Aksa untuknya itu. Namun ia mencoba untuk berpura-pura tidak tertarik dan jual mahal.


"Baiklah kalau begitu. Lagi pula aku juga harus membantu orang yang membutuhkan," balas Yvvone kemudian dengan wajah datar.


"Ya, itu benar," sahut Aksa cepat.


"Ah... aku jadi iri. Apa tuan Aksa tidak perlu bantuanku yang setara dengan alat buatannya?" Solas berucap dari kejauhan setelah mencuri dengar percakapan Aksa dengan Yvvone.


"Aku sebenarnya juga ingin mendapatkan peralatan sihir dari pemuda itu," timpal Kanna di sebelahnya.


.


Keesokan paginya 20 Kereta Penghancur berarak dari wilayah Rhapsodia menuju ke tanah bebas Azure.


Bersamaan dengan itu datang juga 35 pengerajin yang tergabung dalam kelompok Pengerajin Sihir Wilayah Pusat. Ditambah rombongan Tim Pemetaan Wilayah milik Eden, dan kelompok pekerja yang dipimpin oleh Versica.


Nata memang mengerahkan sebanyak mungkin bantuan untuk mempercepat pekerjaan Aksa.


Dan hanya butuh waktu sampai sesorean saja, untuk merubah wilayah yang tadinya hanya sebuah perkemahan biasa menjadi sebuah pemukiman sementara.

__ADS_1


-


__ADS_2