Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
30. Project Sihir II


__ADS_3

Setelah para Elf dibuat tercengang oleh penemuan LED Magic yang kemudian lebih dikejutkan lagi dengan kemampuannya menampilkan gambaran yang ditangkap secara langsung oleh kamera Drone Sihir, Nata merasa waktu untuk mengajukan pembuatan senjata sihir kepada para pemimpin Elf telah tiba.


"Tapi meski begitu peralatan seperti Montior sihir dan Drone sihir itu adalah peralatan yang berada di ambang antara berguna bagi kehidupan, atau bisa jadi sebuah senjata perang." Nata membuka percakapan dengan berbasa-basi.


"Senjata perang? Papan kaca itu?" Symmré bertanya sedikit heran dengan cara Nata menilai sesuatu.


"Ya, tidak benar-benar berupa senjata. Melainkan instrumen atau peralatan perang." Nata kembali menjawab. Dengan sedikit penjelasan.


"Peralatan perang?" Elf wanita itu masih tidak begitu paham dengan maksud dari ucapan Nata.


"Benar peralatan perang. Dan berhubung kita tengah membicarakan perihal tersebut, maka saya ingin sekalian membahas tentang peralatan perang yang hendak kami buat." Nata merubah tema pembicaraan dengan cepat.


"Apa maksudmu yang untuk menandingi Alta Larma?" Pemimpin Marga Rhafie bertanya.


"Bukan. Bukan yang itu." Nata menjawab cepat.


"Karena disamping kami masih kurang mendapat informasi tentang Alta Larma, sehingga sangat sulit untuk membuat tandingannya, membuat senjata tandingan juga berpotensi membuat siklus yang dapat berulang," lanjut pemuda itu menjelaskan dengan panjang lebar.


"Lalu apa yang kau maksud dengan peralatan perang yang ingin kalian buat itu, bila bukan senjata?" Kali ini Reiré, pemimpin Marga Realn yang bertanya. Terlihat cukup penasaran.


"Dan apa peralatan perang itu kau buat untuk digunakan kerajaan kaummu?" Tama, pemimpin Marga Vaelum menebak.


"Benarkah? Kalian ingin membuatkan senjata untuk manusia?" Pemimpin Marga Rhafie terlihat sedikit tidak percaya.


"Jujur, kami memang berencana seperti itu. Tapi ijinkan saya menjelaskan tujuan saya melakukan hal tersebut." Nata buru-buru menjawab dan meminta waktu untuk menjelaskan.


"Melihat kebijaksanaan yang kau miliki, aku penasaran dan ingin mendengar alasan apa yang mendasari keputusanmu ini." Tama menjawab. Setuju memberi waktu pada Nata untuk menjelaskan.


"Ya, coba jelaskan pada kami." Kali ini Galvatr yang berucap. Perempuan Elf itu juga memiliki pemikiran yang sama seperti Tama.


"Jadi menurut saya, yang pertama adalah, kita tidak boleh menciptakan senjata yang benar-benar setara atau bahkan lebih hebat dari Alta Larma, karena bila senjata itu berhasil mengalahkan Alta Larma, maka senjata itu akan menjadi 'Alta Larma' yang berikutnya. Dan kemungkinan suatu hari juga akan digunakan untuk hal seperti sekarang ini. Menjadi lingkaran yang tak berujung." Nata mulai berbicara panjang lebar.


"Benar, kami juga sependapat dengan itu. Lalu apa solusimu?" Xorzio menanggapi.

__ADS_1


"Nah, karena itulah saya berencana membuat peralatan perang tersebut. Karena cara lain untuk mengalah sesuatu yang lebih hebat bila tanpa kekuatan sebanding adalah dengan jumlah." Nata kembali menjelaskan.


"Jadi intinya, kau mencoba mengalahkan pemiliki Alta Larma itu dengan banyak orang begitu?" Xorzio mencoba menarik kesimpulan.


"Ya, kurang lebih. Dengan cara memenangkan peperangan yang saat ini sedang terjadi di wilayah utara," balas Nata.


"Saya percaya cara tersebut adalah cara terbaik yang kita punya untuk melawan pengguna Alta Larma saat ini," lanjutnya lagi mencoba meyakinkan pendengarnya.


"Dan seperti apa senjata yang akan kau buat untuk para manusia itu?" Symmré kembali bertanya. Perempuan Elf itu terlihat waspada dan berhati-hati mengenai hal tersebut.


"Kemudian bagaimana setelah perang selesai? Bagaimana kau mempertanggung jawabkannya?" susul perempuan Elf itu lagi.


"Benar. Bagaimana kau bisa memastikan senjata itu tidak digunakan untuk menyerang kaum lain?" Raner, pemimpin Marga Shuuran ikut bertanya.


"Mengenai permasalahan itu saya ingin mengajukan pertemuan antara kerajaan kami dengan anda sekalian dan juga para Yllgarian bila memungkinkan. Untuk membahasnya." Nata menjawab tanpa jeda. Pemuda itu sudah mengantisipasi pertanyaan ini.


"Kita bisa membuat perjanjian tentang apa yang akan dilakukan setelah kerajaan Bruixeria dikalahkan. Tentang informasi dan peralatan mana yang dirasa boleh untuk tetap digunakan, dan mana yang perlu dijauhkan dari peradaban. Ya, pembahasan tentang hal-hal yang seperti itu," lanjut pemuda itu menjelaskan.


Para pemimpin Marga beserta beberapa Elf yang ikut hadir terlihat memikirkan hal tersebut.


"Ada beberapa yang sudah kami kerjakan sebagai purwa-rupa nya," sahut Aksa mengambil alih.


"Kalian sudah mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi?" Raner bertanya tak percaya seolah Aksa telah melakukan sebuah kejahatan.


"Bukan sembunyi-sembunyi atau sengaja disembunyikan, pemimpin." Talos menyahut. "Saya ikut dalam pengerjaannya," lanjut Elf yang memiliki gaya berpakaian esentrik itu kemudian.


"Kau ikut membantu mengerjakannya?" Pemimpin Marga Shuuran itu memastikan. Yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Talos.


"Kami tidak mengerjakannya dengan sembunyi-sembunyi atau diam-diam. Tapi memang karena dasaran konsepnya sama seperti peralatan yang kubuat tadi, jadi ya sekalian saja aku buat." Aksa ikut menambahi dengan penjelasan.


"Sama saja. Apa kau sudah merencanakan semua ini sebelumnya? Apa kalian akan tetap melakukannya bila tidak mendapat persetujuan dari kami?" Kali ini Symmré yang berucap tidak terima.


"Kami hanya ingin menunjukan bentuk jadinya saja agar lebih mudah untuk anda sekalian pahami. Dibanding hanya konsep atau teori dari ucapan kami saja." Nata menyahut mencoba merespon ketidak terimaan perempuan Elf itu.

__ADS_1


"Dan anda pasti juga sudah menyadarinya bahwa mustahil bagi kami untuk membuatnya sendiri secara diam-diam. Karena yang pertama, kami tidak memiliki Aliran Jiwa, dan yang kedua, kami juga tidak memiliki bahan serta peralatan untuk membuatnya. Apa lagi secara masal," lanjut pemuda itu mencoba menyakinkan Symmré dengan fakta tentangnya dan Aksa.


"Kurasa mereka jujur tidak memiliki niatan seperti itu, Sy." Kali ini Xorzio yang berucap.


"Dan lagi bocah-bocah yang ikut membantu pembuatan perlatan itu tidak akan tinggal diam bila pemuda-pemuda ini tetap melakukannya tanpa persetujuan dari kita," lanjutnya sambil melirik ke arah Yvvone dan rombongannya.


Yang hanya dibalas dengan senyuman canggung oleh kelompok Elf muda itu.


Sedang Symmré hanya terdiam terlihat masih belum terima.


"Sudah-sudah, lebih baik kita lihat dulu seperti apa peralatan perang yang disebut bukan senjata itu?" Moor kembali mencoba menengahi dengan mengganti tema pembicaraan.


"Ya, tunjukan pada kami," sahut Symmré masih terdengar ketus.


"Baiklah. Dan ingat ini hanya prototype nya saja ya," ucap Aksa menyahut.


"Apa itu prototaip?"


Dan tanpa memperdulikan kebingungan yang lain, Aksa segera mengambil Telepon Sihir yang sudah ia siapkan di ujung meja.


"Nona Luque, giliranmu." Aksa berbicara dengan Luque yang memang absen dalam acara pengenalan peralatan tersebut dari Telepon Sihirnya.


"Tunggu sebentar. Luque akan membawanya kemari," lanjut pemuda itu yang kali ini ditujukan kepada para Elf.


Dan tak lama kemudian terdengar suara dengung yang cukup mengganggu dari kejauhan. Yang semakin lama semakin keras terdengar.


"Ah, itu dia," sahut Aksa sambil memincingkan mata menatap langit di ujung timur.


Dan tak berjeda lama sesuatu yang terlihat seperti sebuah gerbong kereta meluncur cepat di angkasa. Mendekat ke tempat mereka berkumpul.


Para pemimpin Elf terlihat mendongak dengan wajah tak percaya saat benda seperti gerbong kereta uap dengan beberapa tambahan benda berbentuk setengah lingkaran dengan garis-garis yang menyala biru terang itu mengambang tepat di atas mereka.


Kemudian terlihat dari jendela paling depan kereta melayang itu sosok Luque yang melongokan kepalanya keluar sambil melambai.

__ADS_1


"Halo semua!" seru gadis itu tampak kegirangan dengan bandanan dan sebuah kaca pelindung mata, yang Aksa sebut sebagai Goggles.


-


__ADS_2