Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
12. Kota Selatan I


__ADS_3

Pagi-pagi benar tenda Aksa dan Nata sudah ramai di datangi tamu. Bahkan matahari masih belum terlihat dari dasar jurang tersebut.


Tamu itu adalah Huebert, Deuxter, dan Loujze yang datang bersama beberapa Yllgarian dan Shyam anggota dari Bintang Api.


Kedatangan mereka memaksa Aksa dan Nata untuk bangun.


"Kenapa kalian tidak sopan bertamu pagi-pagi seperti ini?" Terlihat Aksa sedikit kesal saat ia dan Nata sudah duduk di sofa bersama tamu-tamu mereka.


"Sulit dipercaya, ini benar-benar kalian." Loujze tampak mengucek matanya dengan punggung tangan.


"Ya, ini kami. Kami kembali," sahut Nata dengan senyuman.


"Kami sempat tak percaya saat pertama kali di beri kabar oleh bibi Go," ucap Huebert.


Tamu-tamu itu tampak duduk di kursi tambahan yang telah disiapkan oleh Rafa sebelum ia dan Luque keluar meninggalkan tenda.


"Benar. Semalam setelah kembali dari penyusuran hutan di lereng gunung, kami mendengar kabar mengenai kedatangan kalian," imbuh Deuxter.


"Maka dari itu kami tidak sabar menunggu pagi untuk segera datang kemari memastikan." Kali ini Loujze yang menabahi.


"Anda berdua benar-benar kembali. Senang bisa bertemu dengan Anda berdua lagi," ucap Shyam kemudian.


"Senang juga bisa bertemu dengan kalian lagi." Nata menjawab.


"Selamat datang kembali, Tuan Nata, Tuan Aksa." Huebert menyambut mereka.


"Yah, setidaknya kalian tidak mengecewakan sebagai karakter Time Skip," sahut Aksa yang terlihat cukup puas melihat penampilan Trio Pemburu dan Shyam yang ada di hadapannya.


Empat pemuda itu mengenakan pakaian dengan bahan yang sama seperti seragam yang dikenakan oleh para prajurit, hanya saja mereka merancangnya ulang menjadi pakaian yang biasa di gunakan oleh para pemburu.


Pelindung tubuh hanya terpasang pada bagian-bagian tertentu saja, seperti di bagian lengan kanan, pundak kiri, atau bagian punggungnya saja. Tidak terlihat simetris kiri-kanannya. Begitu juga sabuk yang melilit pundak, pinggang, dan paha dengan beberapa kantong terpasang.


Hal yang serupa dari mereka berempat adalah sarung pistol dan sarung pisau dari kulit yang tampak menggantung di bagian belakang pinggang mereka.


Sedang dalam kasus Shyam pakaian yang dikenakan memiliki corak warna yang seragam dengan pakaian anggota Bintang Api kebanyakan. Yaitu Merah dan Jingga.

__ADS_1


Kemudian yang terlihat cukup mencolok dan membedakan mereka adalah, senjata yang mereka bawa.


Shyam tampak menenteng sebuah pedang dipinggang kirinya. Sedang Huebert terlihat mencangklong senjata api laras panjang di pundaknya. Kemudian Deuxter terlihat menggantung busur silang berukuran sedang di belakang punggungnya, sekaligus tabung berisi anak panah di sebelahnya. Dan terakhir yang terlihat tidak membawa senjata adalah Loujze. Pemuda Getzja itu hanya mengenakan sarung tangan yang terpasang listrik pengejut.


"Apa maksudnya? Taim skip?" Loujze tidak mengerti dengan ucapan Aksa barusan.


"Sudah lupakan saja, apa kalian lupa bagaimana tabiatnya?" sahut Nata mengingatkan.


"Oh, benar juga. Lama tidak bertemu sampai lupa," jawab Loujze seraya menepukan tangannya ke kepala. Dan semua orang tertawa.


Tampak kemudian Rafa datang bersama Luque dengan sekeranjang kecil roti gantum dan teko berisi teh hangat lengkap dengan beberapa gelas.


Dan setelah menerima makanan dan minuman dari Rafa, mereka pun melanjutkan perbincangan mereka tentang bagaimana, mengapa, dan kemana Aksa dan Nata pergi selama ini. Tema perbincangan yang mulai membosankan untuk mereka berdua.


.


Kemudian menyikapi dari pembicaraan yang mereka lakukan dengan Lily kemarin malam, hari ini Nata berencana membagi tugas dengan Aksa. Ia akan menuju ke Kota Tengah untuk segera menyusun rencana menyelesaikan masalah yang ada di wilayah kerajaan ini, sementara Aksa akan berkeliling untuk memastikan perkembangan dan situasi setiap wilayah secara rinci.


.


Aksa bersama Rafa, Luque, dan Trio Pemburu melakukan perjalanan mereka hari ini. Yang di mulai dari Kota Selatan. Sementara Shyam dan para Yllgarian lain kembali ke wilayah Timur.


Sedangkan Nata sendirian menuju Kota Tengah untuk bertemu Lucia, Orland, dan para pemimpin bidang terkait guna membahas tentang rencana yang akan dibuat.


.


"Oh, jadi karena itu kau tidak kembali ke tanah suci? Kau membawa Tanah Suci ke tempat ini?" ucap Aksa ditengah perbincangannya dengan Luque saat mereka sudah berada di dalam Kereta Besi menuju ke timur ke Celah Terusan.


Mereka berenam menggunakan Kereta Besi terbuka milik Matyas yang biasa di gunakan untuk mengangkut barang. Karena Kereta Besi Aksa di tinggal di depan stasiun Gondola bagian atas.


"Setahun setelah pasukan gabungan Tyrion menyerang wilayah selatan, kami yang sudah kualahan dan tidak dapat lagi melindungi wilayah tersebut, akhirnya memutuskan untuk menyelundupkan para penduduk ke Kota Selatan dan mengosongkan Kota Nezarad. Sebelum kemudian kami juga mundur meninggalkannya." Rafa memberikan penjelasan.


"Siapa yang membuat rencana itu?" tanya Aksa.


"Aku," sahut sahut Luque sambil nunjuk diri sendiri. "Cerdik kan, aku?"

__ADS_1


"Iya. Kau cerdik sekali, Luq," jawab Aksa yang membuat Luque langsung tersenyum lebar.


"Lalu bagaimana hasilnya? Apakah mereka baik-baik saja meninggalkan tanah yang sudah bertahun-tahun mereka tempati?" tanya Aksa lagi.


"Ya, meski sekarang wilayah tempat tinggal mereka tidak sebesar Kota Nezarad, tapi tinggal dalam gugus bersama lima suku lainnya membuat mereka jadi lebih hidup," balas Luque bercerita.


"Di samping cukup banyak dari penduduk Kota Selatan yang menganut kepercayaan Tanah Suci, yang membuat mereka sangat diterima di tempat ini, juga karena sang Gadis Suci ada bersama dengan mereka lagi," imbuh Rafa.


"Benar. Kami juga membangun altar kuil Suci di tempat ini." Luque menyahut.


"Syukurlah, kau sudah memiliki rumah yang baru, Luq." Terlihat Aksa merasa senang untuk Luque.


"Rumahku kan, bersama denganmu, Aks," timpal Luque cepat yang membuat tidak hanya Aksa saja yang merasa malu mendengarnya, tapi juga Rafa dan Trio Pemburu.


.


Setelah melewati Celah Terusan yang kini terlihat seperti sebuah jalan besar dengan pagar dinding tebing yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanannya, akhirnya mereka memasuki wilayah Kota Selatan.


Mereka langsung disambut dengan pemandangan kota yang terlihat di kelilingi oleh tembok tebing, begitu keluar.


Tembok tebing itu di sisi timurnya adalah bukit yang merupakan terusan dari bukit Dinding Sekai. Kemudian di sisi baratnya adalah lanjutan dari jajaran bukit sisi barat. Sedangkan di sisi selatannya berdiri tembok beteng Gerbang Selatan, dan di sisi utaranya adalah dinding dataran tinggi yang kini di sebut dengan area Stasiun Atas. Tempat kediaman Amithy dan beberapa komplek perkemahan Penyihir dan kesatria.


Kereta Besi mereka mulai memasuki jalan menuju ke arah pusat kota.


Kota Selatan itu terlihat sudah banyak berkembang dari yang pernah di lihat Aksa 5 tahun lalu. Yang paling kentara adalah tumbuhannya. Meski udara di wilayah itu masih terasa panas dan sedikit kering, namun setidaknya terdapat satu pohon dalam jarak tertentu yang terlihat saling-silang dengan tiang lampu jalan, yang membuatnya terasa sedikit lebih sejuk.


Bentuk bangunan dan pakaian yang dikenakan orang-orang yang berada di jalanan itu sangat beragam. Tidak seperti Kota Tengah dan Kota Utara yang rata-rata memiliki bentuk bangunan dan cara berpakaian yang serupa.


Tak lama kemudian Kereta Besi Aksa mulai memasuki jalanan yang sangat ramai. Mereka memasuki wilayah yang terlihat seperti komplek pemukiman yang disebut dengan Gugus.


Terlihat rumah-rumah penduduk yang berdiri beragam mengapit jalanan. Tampak di pinggiran jalannya, orang-orang sedang memasak sesuatu di sebuah kuali besar di atas tungku perapian, sebelum kemudian terlihat di ujung jalan sebuah bangunan megah dengan bentuk yang Aksa kenali sebagai altar kuil Suci.


Mereka hendak menuju ke tempat dimana penduduk Tanah Suci tinggal. Yang kini disebut sebagai Gugus Tanah Suci Baru.


-

__ADS_1


__ADS_2