
Bersamaan dengan digelarnya pertemuan antara Elf, Yllgarian, dan Aliansi Utara, Bruixeria pun melakukan serangan mendadak ke setiap perbatasan di masing-masing kerajaan.
Seolah tahu akan rencana pertemuan tersebut dan memanfaatkan ketidak hadiran para pemimpin kerajaan utara, pasukan Bruixeria berhasil mengambil alih beberapa benteng pertahanan lawan di garis depan.
Namun meski para pemimpin bergegas kembali dengan batuan Arcane setelah mendengar berita tersebut, tetap serangan mendadak itu berhasil memberi kerusakan yang cukup besar pada pasukan mereka.
Dan menanggapi akan serangan tersebut, pengerjaan pembangunan Gerbang Teleportasi pun segera dimulai keesokan harinya. Yang diestimasi selesai dalam kurun waktu 3 minggu.
.
Dua hari kemudian berdasarkan arahan dari Nata, pasukan Aliansi Utara mulai bergerak untuk melakukan serangan balasan ke pasukan Bruixeria.
Dan bersamaan dengan itu resmi pecah lah perang besar pertama di daratan utara setelah 100 tahun dalam kedamaian. Perang yang dikenal dengan nama Perang Suci.
-
Beberapa hari kemudian.
"Jendral! Jendral!"
Terdengar teriakan dari luar tenda Vossler di perkemahan barat pasukan utama Rhapsodia di luar kota Zeraza.
"Siapa itu?" Vossler yang tengah membahas strategi dengan Jean merasa terganggu.
Tak lama masuk dengan setengah berlari seorang prajurit yang bila dilihat dari pakaiannya adalah pemimpin regu.
"Ada berita penting Jendral Vossler, Jendral Jean," ucap prajurit itu sambil mencoba mengatur nafas.
"Kenapa kau berlarian seperti itu? Apa yang terjadi?" Jean bertanya penasaran.
"Itu... Anu..." Prajurit itu kesulitan mengutarakan maksudnya.
"Tenanglah dulu. Apa yang terjadi?" Vossler mencoba menenangkan prajurit tersebut.
"Kami menangkap prajurit lawan." Dan akhirnya prajurit itu berhasil berkata-kata.
"Lalu kenapa dengan itu?" Vossler bertanya tidak paham. Karena menangkap prajurit lawan dalam peperangan bukanlah sesuatu yang luar biasa.
"Me-mereka bukanlah prajurit, Jendral," lanjut prajurit itu masih terlihat sedikit kebingungan.
"Sebentar, tenang kan diri dulu. Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan?"
"Maksud saya, para prajurit yang berhasil kami tangkap itu bukan lah seorang prajurit. Mereka adalah rakyat biasa." Prajurit itu akhirnya bisa menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
"Hah, rakyat biasa? Bagaimana mungkin?" Vossler terlihat mengernyitkan dahinya tak percaya.
"Mereka bergerak dan bertarung seperti seorang prajurit, kan?" Jean menambahi. "Jadi mustahil mereka rakyat biasa."
"Benar. Atau jangan-jangan mereka hanya mengaku sebagai rakyat biasa agar bisa lolos dari penangkapan?" Vossler membalas.
"Bukan seperti itu, Jendral. Mereka benar-benar seorang rakyat biasa. Anda sekalian akan mengetahuinya bila melihatnya secara langsung."
"Kalau begitu, ayo antar kami ke prajurit lawan itu."
Dan tanpa menunggu lagi, Vossler dan Jean bergegas mengikuti prajurit tadi menuju tempat prajurit lawan ditawan.
-
"Apa ini masuk akal?" Jean seolah mencoba untuk mengingkari apa yang baru saja ia saksikan.
Mereka sudah berada di sebuah barak sederhana tempat dimana para tawanan perang itu ditahan. Dan juga sudah mengintrogasi banyak prajurit lawan mengenai perkara tersebut. Yang hasilnya cukup mengejutkan.
"Jadi kau merasa tidak berpikiran jernih setelah mengenakan pelindung kepala ini?" Vossler memastikan sambil mengangkat sebuah pelindung kepala yang terbuat dari logam berwarna tembaga mengkilat.
"Dan tubuhmu bergerak seolah menguasai seni beladiri setelah mengenakan pakaian tempur ini?" lanjutnya sambil menyentuh sebuah pelindung dada yang ada di atas meja.
Pelindung dada itu memiliki lambang seperti siluet sebuah pohon dengan dahan tanpa daun dan akar yang posisinya cukup simetris.
"Saya dipaksa untuk mengenakannya oleh beberapa prajurit dengan pakaian yang sama sekitar 3 bulan yang lalu, tuanku." Pria itu lanjut menjelaskan.
"Sihir ini... Biadab sekali mereka." Jean tampak geram mengetahui hal tersebut.
"Kalau memang benar seperti ini, maka keganjilan dari jumlah pasukan Bruixeria itu terjawab sudah. Mereka menggunakan warga sebagai prajurit mereka." Vossler mencoba menyimpulkan.
"Kurasa kita harus segera menghubungi pusat. Yang Mulia Ratu dan dua bocah itu harus mengetahui hal ini secepatnya." Jean memberikan usulan.
"Kau benar. Segeralah hubungi mereka. Aku akan memberitahukan kepada pasukan bahwa prajurit lawan bisa jadi adalah rakyat biasa. Jadi kita harus lebih berhati-hati melakukan serangan." Vossler memerintah.
"Baik."
Dan dua Jendral itu berjalan meninggalkan barak ke arah yang saling berlawanan.
.
Terlihat Lucia memijat pelipis di atas alisnya dengan resah. Sedang Nata terlihat sedang memikirkan sesuatu dalam diam.
Dua orang itu tengah berada di ruang kerja Lucia dan baru saja menerima laporan dari Jean melewati Radio Komunikasi.
__ADS_1
"Kenapa pria itu kejam sekali?" desah Lucia penuh emosi yang tertahan.
"Saya memang merasa ada yang janggal dengan jumlah pasukan yang dimiliki Bruixeria. Hanya saja saya benar-benar tidak terpikir akan hal ini." Nata menjawab dengan nada kesal. Karena gagal memprediksinya.
"Itu karena kau memang tidak mengetahui jenis sihir yang ada di dunia ini." Lucia menjawab.
"Benar. Padahal sebelum ini saya sudah pernah gagal sekali memprediksi adanya campur tangan sihir. Dan tampaknya saya tidak belajar sama sekali." Nata berucap.
Pemuda itu merasa kesal karena hal ini harusnya sudah masuk dalam perhitungannya, setelah yang sebelumnya ia kecolongan.
"Jangan menyalahkan dirimu, Nat." Lucia membalas. "Dan meski kau menjawab bahwa kau tidak sedang menyalahkan diri sendiri, tapi aku tahu kau pasti menyalahkan dirimu atas segala hal yang terjadi," lanjutnya lagi sebelum Nata sempat membalas.
Nata pun membuang nafas berat. "Saya rasa, saya perlu berkonsultasi dengan Aksa dan mereka yang tahu benar tentang jenis sihir seperti ini. Agar kita bisa segera menemukan solusinya," ujar pemuda itu kemudian.
Lucia menatap Nata dengan perasaan campur aduk. Iba, simpati, dan juga bersalah setiap kali mendapati pemuda itu mencoba untuk menanggung semuanya sendiri. Dan terasa lebih menyakitkan karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong.
"Baik, pergilah," ucap perempuan itu kemudian.
"Kalau begitu saya permisi Yang Mulia."
Dan Nata pun meninggalkan ruang kerja Lucia.
-
"Sepertinya itu sejenis Sihir Pengendali. Sihir yang sudah lama tidak terdengar karena dilarang untuk digunakan dan dianggap sihir sesat tak berperasaan," ujar Luque di tenda di dasar jurang Ceruk Bintang setelah mendengar cerita dari Nata tentang prajurit Bruixeria.
"Lalu bagaimana Sefier bisa menguasainya? Dari mana dia mempelajarinya?" Aksa terlihat cukup penasaran.
"Entahlah. Setahuku hanya para Elf yang mungkin masih memiliki kemampuan tersebut. Karena mereka hidup cukup lama," balas Luque sambil melirik Val yang tengah duduk di kursi di ujung ruangan.
"Benar. Kemungkinan besar ada beberapa Elf yang masih menguasai sihir tersebut. Karena pada dasarnya sihir itu adalah pengembangan tidak lazim dari Sihir Penjinak." Val menanggapi.
"Bagaimana kalau Yllgarian? Mereka juga berumur panjang bukan?" Aksa kembali bertanya. Mencari kemungkinan lainnya.
"Untuk yang sihir ini, kau bisa mengeluarkan Yllgarian dari kemungkinannya." Luque membalas.
"Benar. Itu karena setiap Yllgarian terlahir dengan insting dan panca indra yang sangat tajam. Dan jenis Sihir Pengendali itu memiliki dampak sampingan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh sasaran dari sihir tersebut. Dan Yllgarian tidak akan mampu menerima dampak sampingan tersebut tanpa menjadi gila." Lily menambahkan dengan penjelasan.
"Jadi memang hanya Elf saja kandidat paling besarnya?" Aksa mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Kalau begitu kita hubungi Yvvone dan yang lain," sahut Nata kemudian.
-
__ADS_1