Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
09. Burung Legenda


__ADS_3

Terlihat Aksa kembali mengangkat tangannya ke atas, dan sorotan-soratan cahaya yang mengelilingi pasukan Augra itu pun menghilang satu persatu.


Sihir Cahaya yang tiba-tiba dimiliki oleh Aksa itu sebenarnya adalah rangkaian dari beberapa muslihat.


Sorotan cahaya itu berasal dari lampu Senter yang dipasang pada senapan udara, yang digunakan oleh pasukan Yllgarian Macan Kumbang dari tempat persembunyian mereka di tebing-tebing sekitar tempat itu.


Menggunakan kelebihan dari warna bulu mereka yang gelap, keberadaan Yllgarian tersebut tidak disadari oleh pasukan Augra. Mereka membaur dengan sempurna dalam kegelapan bayang-bayang.


Sedang untuk peluru ajaib yang tidak meninggalkan jejak itu karena memang peluru-peluru tersebut dibuat dari air yang dibekukan oleh para penyihir. Yang tak perlu waktu lama untuk mencair setelah bersarang dalam tubuh.


Dan hal itu juga yang menjadi alasan kenapa Aliran Jiwa disekitar tempat itu terasa cukup sesak. Karena para penyihir terus menggunakan sihir mereka untuk membuat peluru-peluru tersebut.


.


"Ini kesempatan kedua kalian. Kaburlah kalian selagi masih sempat!" seru Aksa kemudian.


Dan secara perlahan cahaya di atas gerbang tadi mulai meredup, dan bersamaan dengan itu zirah yang Aksa kenakan mulai terlihat seolah bersinar dengan pendaran putih kebiruan saat terkena cahaya Ultraviolet yang dipasang tepat di bawah tempatnya berdiri. Garis hijau pada zirahnya juga terlihat menyala terang yang menampakan sebuah motif burung di bagian dadanya.


Sedang bagi pasukan Augra yang tidak mengenal tentang Fluorescence dan Phosphor, akan melihatnya seperti sihir penguat yang biasa digunakan oleh para kesatria pada zirah mereka.


"Apa dia sedang merapal sihir yang lain?" tanya Jendral pasukan Augra kepada Cart si penyihir Seithr.


"Aku tidak dapat merasakan Aliran Jiwa pria itu," jawab Cart yang terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Ini kesempatan kita, Jendral. Ayo kita segera pergi dari tempat ini sebelum terlambat." Kesatria yang berdiri di depan sang Jendral memberi saran dengan suara bergetar karena takut.


"Jangan tertipu. Bisa saja mereka hanya sedang menggertak," jawab sang Jendral. "Para penyihir, bersiagalah kalian," tambahnya memberi perintah.


.


"Kalian semua sudah kuperingatkan. Jangan salahkan aku bila nyawa kalian melayang," ucap Aksa yang kemudian mencabut pedang di hadapannya itu dan menghunuskannya ke atas. Bilah pedang itu terlihat bersinar kuning kemerahan.


"Champions from beyond the rift, heed my call. The time has come to deliver your brethren from darkness. My heart's soul desire is a world free from sorrow. Join with me in hope and prayer for the salvation of all." Ocehan Aksa tersebut dibarengi dengan suara aneh dari atas langit, yang terdengar seperti teriakan beberapa binatang saling tumpang tindih yang membuat bulu kuduk merinding.

__ADS_1


Kemudian disusul dengan suara seperti retakan ranting yang keras dan berulang-ulang ditambah cahaya kilat yang menyambar cepat di balik awan.


"Larilah kalian semua dari kemurkaan Berunda!" teriak Aksa yang kemudian terlihat cahaya menyilaukan dari balik awan, yang menampakan siluet samar seekor burung raksasa.


"Ap-apa itu?" teriak salah seorang prajurit Augra saat melihat bayangan burung besar di balik awan tersebut.


"Burung Cahaya? Apakah itu benar-benar Burung Legenda Berunda?" sahut prajurit yang lain yang terlihat mulai panik.


"Semuanya tenang, jangan panik!" teriak sang Jendral memberi perintah.


Namun tanpa peringatan sebelumnya, tiba-tiba sebuah pilar cahaya menerobos turun dari balik awan dan menghancurkan tenda perkemahan pasukan Augra.


Dan pada detik itu juga baik sang Jendral maupun para prajurit Augra menyadari bahwa ucapan Aksa tadi bukanlah sekedar gertakan. Hal itu membawa mereka pada satu-satunya pilihan yang mereka punya, yaitu melarikan diri bila mereka tidak ingin mati di tempat itu.


Sementara pilar cahaya masih terlihat menembak ke berbagai tempat, suara pekik binatang dan juga kilatan petir di atas awan terus bergerak maju searah dengan jalur pasukan Augra melarikan diri. Hal tersebut membuat para prajurit itu tidak lagi memperdulikan apapun selain berlari menjauh secepat mungkin dari tempat itu.


Dan di tengah-tengah kepanikan, barulah Pasukan Elit menggunakan kesempatan untuk menyerang prajurit Augra dengan menembakinya menggunakan peluru logam dari tempat persembunyian mereka.


.


"Benar-benar pertunjukan yang luar biasa," puji Huebert yang duduk sedikit lebih jauh di depan beberapa saklar tempat lampu-lampu berkaki di sekitar tempat itu dikendalikan.


"Terima kasih," jawab Aksa masih dengan senyum terkembang.


"Bagaimana Anda membuat petir dan suara mengerikan itu, Tuan Aksa?" Kali ini Loujze yang bertanya dari sebelah Deuxter.


Memang selama pertunjukan Trio Pemburu itu berada bersama Aksa untuk membantunya dengan peralatan juga meneruskan perintah dan arahan kepada yang lainnya.


"Bagaimana, meyakinkan bukan?" Aksa berjalan dengan susah payah dalam balutan zirah yang ia kenakan.


"Benar. Saya masih tetap merinding mendengar suara pekikan tadi, meski sudah tahu itu adalah Kapal Udara. Suara apa itu tadi?" tanya Loujze yang terlihat membantu membawakan pedang yang Aksa sebut dengan Pedang Fosfor itu.


"Itu adalah suara teriakan beberapa Yllgarian secara bersamaan," jawab Aksa kemudian.

__ADS_1


"Yllgarian?"


"Benar. Karena menurut catatan yang ku baca tentang burung Berunda itu, teriakannya seperti puluhan pekik burung. Ya, jadi kuminta saja beberapa Yllgarian Burung Hantu untuk berteriak bersamaan di depan mikrofon yang langsung disambunkan ke Pengeras Suara yang terpasang di Kapal Udara itu," jelas Aksa seraya bersandar pada tembok benteng untuk mengistirahatkan pundaknya yang lelah karena berat zirahnya.


"Suara teriakan Klan Strigi bisa terdengar seperti itu?" Kali ini Huebert yang bertanya memastikan. Karena ia yang sudah cukup lama tinggal di dalam Hutan Sekai dan mengenal para Yllgarian itu terlihat tidak mengenali suara pekikan tadi.


"Ya, untuk menyamarkannya agar tidak dikenali, sekaligus untuk membuatnya terdengar lebih mengerikan, aku juga meminta beberapa Yllgarian Kelelawar dan Macan Kumbang untuk ikut berteriak bersamaan. Jadi hasilnya seperti tadi. Pekikan, teriakan, dan lolongan terdengar campur aduk," tambah Aksa membenarkan keraguan Huebert.


"Oh, pantas saya tidak bisa mengenali suara hewan apa itu tadi," ucap Huebert yang mulai terlihat kembali percaya diri.


"Lalu yang petir tadi? Bukankah kita hanya membawa Penyihir Tanah, Es, dan Api saja saat datang kemari." Loujze melanjutkan pertanyaannya.


"Ya, petir itu diciptakan oleh Tesla Coil." Aksa menjawab singkat.


"Oh, tiang logam yang dipasang di haluan kapal itu?" Loujze memastikan.


"Benar. Dan sebelum kau bertanya 'bagaimana bisa?' Maka aku akan menjelaskannya untuk kalian." Aksa terlihat kembali memasang wajah antusias setiap kali hendak menjelaskan cara kerja suatu alat.


"Jadi sederhananya kumparan itu mendapatkan tenaganya dari Generator listrik. Dan ketika kumparan yang paling atas sudah menampung cukup banyak tenaga listrik, tenaga itu akan melompat keluar dari gelang-gelang di bagian atas tiangnya untuk mencari ground. Alias turun menyambar ke tanah," jelas pemuda itu yang terlihat mulai berkeringat karena kegerahan dengan zirah yang ia pakai.


"Jadi dengan kata lain, Anda membuat sihir petir dari aliran listrik?" Deuxter mencoba memberi kesimpulan.


"Dan dalam sekala besar?" sahut Huebert menambahi.


"Tidak juga, sih. Soalnya sambaran petirnya tidak bisa dikendalikan. Energi itu akan mencari cara tercepat untuk sampai ke tanah," jawab Aksa. "Itulah kenapa Tesla Coil itu ku pasang di paling ujung geladak, dan meminta orang-orang untuk tidak berdiri di sekitarnya saat alat itu dinyalakan," jelas pemuda itu kemudian. "Sambarannya setara dengan sambaran petir alami. Hanya saja yang ini lebih lama karena mendapat energi terus menerus dari Generator."


"Berbahaya sekali." Deuxter terlihat kuatir akan bayangannya sendiri.


"Ya, biasanya alat itu memang dibuat kecil dan dipasangi tabung kaca di bagian atasnya. Disamping supaya aman, juga agar terlihat cantik saat petirnya menyambar-nyambar," jawab Aksa yang tidak dapat diikuti oleh yang lain. "Nanti kapan-kapan kubuatkan. Namanya Bola Plasma," tambahnya yang kemudian dipotong oleh teriakan Helen dari kejauhan.


"Tuan Aksa."


"Oh, sepertinya panggilan untuk tugas terakhirku sudah tiba," ucap Aksa kemudian. "Aku permisi dulu, tuan-tuan," pamitnya seraya berjalan tidak nyaman menuju ke arah Helen.

__ADS_1


-


__ADS_2