Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
18. Kembali Ke Utara


__ADS_3

Sementara itu situasi di Dataran Utara tidak semakin membaik untuk Kerajaan Estrinx.


Beberapa garnisun di sekitar desa kecil di sisi timur wilayah Elbrasta yang pernah ditemukan oleh Constine sebelumnya, ternyata adalah strategi dari Sefier untuk melakukan penyeranga kejutan ke wilayah Estrinx dari beberapa tempat secara bersamaan.


Dan alhasil berhasil menyudutkan pasukan Arcdux Lugwin ke utara.


Sementara pasukan Elbrasta di wilayah Cilum dikabarkan mulai menduduki beberapa kota strategis dan tambang mineral berharga di wilayah tersebut.


Sementara pasukan pemberontak Kerajaan Cilum yang masih terus mencoba untuk melakukan perlawanan tidak dapat berbuat banyak karena kurangnya kekuatan tempur yang mereka punya.


Sementara nyaris bersamaan 2 pesan tiba di Wilayah Pusat, yang ditujukan untuk Lucia. Satu dari pemimpin pasukan pemberontak Cilum, yang satu lagi dari Arcdux Kerajaan Estrinx.


.


"Jadi itu alasan Sefier mengambil alih wilayah Cilum. Untuk mendapatkan pertambangan mineral mentah batuan Arcane?" ucap Caspian seolah sedang membuat kesimpulan.


Lucia bersama petinggi militer dan anggota parlemen sedang mengadakan pertemuan membahas perihal masalah kedua surat tersebut.


"Begitulah yang ditulis Tuan Makari dalam surat beliau." Lucia membenarkan.


"Apa mereka hendak melakukan serangan langsung ke dalam garis pertahanan wilayah lawan secara besar-besaran?" Entah kenapa Caspian terlihat kesal mendengar kabar tersebut. "Seperti yang pernah para Mugger lakukan pada wilayah ini 6 tahun lalu?"


"Mungkin saja. Keresahaan itu juga lah yang membuat Tuan Makari mengirim surat pada kita," ucap Lucia menanggapi.


"Dengan adanya bebatuan Arcane itu membuat pergerakan pasukan Sefier jadi sulit untuk dibaca." Kali ini Vossler yang berucap menyampaikan penilaiannya.


"Dan hanya wilayah pusat ini saja yang memiliki Formasi Sihir penangkal Sihir Pemindah. Aku bisa membayangkan kekuatiran mereka." Oland menambahi.


"Lalu apa keputusan Yang Mulia tentang permintaan tuan Makari tersebut?" Kini gilaran Cornelius yang bertanya.


"Untuk saat ini kita tidak bisa berbuat banyak. Kita hanya bisa menjanjikan penampungan terhadap para pengungsi. Itu saja," jawab Lucia.


"Ya, saya juga sependapat Yang Mulia. Mereka masih memiliki keluarga kerajaan asli yang kini berada di wilayah kerajaan Durahan. Jadi kita tidak harus membantu mereka dengan kekuatan tempur." Cornelius tampak setuju dengan keputusan Lucia.


"Dan bertolak belakang dari surat sebelumnya, surat dari Lugwin malah tidak meminta bantuan kekuatan tempur sama sekali," ucap Lucia kemudian melanjut pembicaraan.


"Seperti yang diperkirakan Nata. Tampaknya Lugwin hanya ingin meminta kita menerima dan melindungi beberapa pengungsi yang mungkin akan datang kemari di kedepannya," tambah ratu muda itu.


"Mereka tidak meminta bantuan kekuatan?" Orland tampak tidak mengira.


"Kurasa Lugwin mengerti kondisi yang tengah kita hadapi sekarang," jawab Lucia. "Kita masih belum benar-benar duduk sekarang ini," lanjutnya dengan perumpamaan.


"Mana kedua bocah itu mengundurkan kepulangan mereka," sahut Jean menimpali.

__ADS_1


"Mereka hanya mengundurkannya beberapa hari saja. Jangan kuatir mereka pasti kembali tepat waktu," balas Lucia kemudian.


-


Malam harinya di Hutan Azuar, Aksa dan Nata tengah berbincang membicarakan rencana selanjutnya dalam kamar mereka.


"Jadi ini list alat-alat sihir yang perlu kita prioritaskan terlebih dahulu." Nata menyerahkan secarik kertas ke Aksa.


"Yang Telpon Sihir ini mungkin hanya bisa kita gunakan dalam kalang tertutup dengan memasukan beberapa tanda pengenal telpon lain secara permanen," ucap Aksa setelah membaca sekilas isi kertas tersebut. "Ya, meski akan sedikit delay, tapi masih bisa ditolerir lah," lanjutnya menambahi.


"Kalau soal itu sih tidak terlalu masalah. Yang berbahaya itu bila sampai alat tersebut jatuh ke tangan orang luar," ucap Nata menyampaikan kekuatirannya. "Itu berarti seluruh percakapan kita bisa terbongkar karena tanda pengenal tiap alat tersimpan secara permanen."


"Benar. Tapi itu tidak bisa dihindari. Kalau menunggu sampai kita mendapatkan solusi pengganti frekuensi, mungkin akan jauh lebih lama." Aksa menjawab.


"Aku tahu. Aku hanya kuatir saja," ucap Nata menanggapi. "Lagi pula prioritas kita sekarang adalah cara menangani Alta Larma dan beberapa peralatan untuk membantu kita melawan pasukan Elbrasta. Jadi masalah frekuensi itu akan kita urus belakangan," tambahnya.


"Jadi kau sudah pasti akan kembali besok?" tanya Aksa kemudian.


"Ya. Kurasa tidak efisien juga aku berada di tempat ini. Aku akan menuju ke wilayah Estrinx dan berusaha mengulur waktu selama mungkin sementara kau menyelesaikan semua peralatan itu." Nata menjelaskan alasannya.


"Jangan kuatir. Tuan Moor dan para pemimpin Elf lainnya sudah berjanji akan membantu membuatkan kita peralatan tersebut secara masal," ucap Aksa terdengar cukup percaya diri. "Asal juga bermanfaat untuk mereka," susulnya kemudian.


"Kurasa mesin bertenaga Aliran Jiwa aktif itu akan sangat bermanfaat untuk mereka."


"Sudah jelas. Lihat saja tatapan mereka yang berbinar menginginkan pengetahuan tentang mesin itu."


"Maksudmu senjata pamungkas kita?" Aksa bertanya memastikan dengan antusias. "Jangan kuatir, sekarang hanya Val, Yvvone, dan rombongannya saja yang tahu. Kami juga akan mengerjakannya secara diam-diam di tempat ini," jawabnya kemudian.


"Berhati-hatilah. Karena kau berada di tempat mereka. Mereka akan lebih mudah mencium gelagat yang mencurigakan." Nata kembali memberi peringatan.


"Kau anggap apa aku?" Aksa terlihat tidak terima atas peringatan sahabatnya itu. "Kalau mereka mulai curiga, aku tinggal alihkan saja dengan pengetahuan lain seperti hologram sihir atau apa lah yang terlihat Wah, pasti mereka ter-distract," lanjutnya dengan asal.


"Terserah kau saja lah." Nata mengibaskan tangannya seraya beranjak menuju tempat tidur. "Dan jangan pernah membuat Mecha Sihir sebelum alat rahasia kita selesai dibuat," tambahnya dengan peringatan yang lain lagi.


"Tenang saja. Mecha Sihir bisa menunggu."


-


-


Keesokan paginya hanya Nata dan Lily saja yang kembali ke Wilayah Pusat bersama Berunda. Aksa, Rafa, Luque, dan sisa Elf yang lain tetap tinggal di Hutan Azuar. Membuat beberapa peralatan sihir untuk mendukung rencana Nata sebelumnya.


-

__ADS_1


Nata dan Lily menemui Lucia di kediamannya beberapa saat setelah mereka tiba di Wilayah Pusat. Pemuda itu menceritakan semua hal yang terjadi selama mereka berada dalam Hutan Azuar.


"Apa kau bilang? Aksa membuat peralatan sihir sekarang?" Lucia terlihat mengejapkan matanya beberapa kali mencoba memastikan dirinya tidak sedang tertidur.


"Benar. Ini salah satu alatnya." Nata meletakan alat yang resmi disebut Telepon Sihir itu di atas meja di hadapan Lucia.


"Apa ini? Radio Komunikasi?" tanya Lucia yang mengenali kemiripan dari alat tersebut dengan Radio Komunikasi.


"Semacam itu. Aksa bersikeras ingin mengebutnya Telepon Sihir." Nata memberi tambahan informasi yang tidak terlalu penting.


"Telepon Sihir?" Kali ini Jean yang juga berada bersama mereka bertanya seraya memperhatikan benda itu dengan lebih teliti.


"Benar. Kegunaannya sama seperti Radio Komunikasi. Hanya saja alat ini tidak memerlukan jaringan kabel atau Menara Antena untuk berkomunikasi."


"Oh, benarkah?" Terlihat baik Lucia maupun Jean terkejut mendengar penjelasan Nata tentang Telepon Sihir tersebut.


"Ya, mirip dengan Sihir Penanda. Alat ini bisa digunakan dimanapun kita berada. Hanya dengan memilih tanda pengenal dari alat yang lain dan kemudian menyalurkan Aliran Jiwa untuk memulai panggilan," jelas Nata seraya menunjuk beberapa tombol di bagian belakan Telepon Sihir itu dengan urutan angka tertoreh di atasnya.


"Ya, ini memang seperti alat buatan bocah aneh itu." Jean merespon saat Lucia memeriksa bagian belakang alat tersebut.


"Saya akan meninggalkannya satu untuk Yang Mulia Ratu," ucap Nata kemudian.


"Jadi Yang Mulia bisa tetap berkabar dengan saya maupun Aksa dari tempat ini," lanjutnya.


"Wah, alat itu benar-benar sangat berguna sekali." Lucia tidak dapat menutupi rasa gembira dan bahagianya mendapat alat itu di saat yang tepat seperti sekarang.


"Jadi rencananya kau akan menuju ke Estrinx menggunakan Kapal Besi melewati pesisir laut timur?" Jean bertanya mengalihkan perhatian Lucia dari Telepon Sihir.


"Hanya itu cara paling tidak beresiko yang bisa saya tempuh. Meski mungkin akan memakan waktu sedikit lebih lama," jawab Nata menjelaskan.


"Aku mengerti. Jadi Trio Pemburu juga akan ikut bersama kalian?" Kali ini Lucia yang bertanya.


"Benar, Yang Mulia. Mereka berasal dari wilayah itu. Jadi akan sangat membantu bila ketiga pemburu itu ikut sebagai pemandu arah disana." Nata menjawab. "Disamping itu Tuan Axel, Tuan Sigurd, dan Nona Ende juga akan ikut," tambahnya kemudian.


"Ya, itu karena Kapal Besi mereka lah yang akan kalian gunakan nantinya. Dan Tuan Cedric memberitahukan padaku bahwa ketiga orang itu tidak terima bila mereka dikecualikan dalam perjalanan kali ini." Lucia membalas.


"Saya rasa mereka adalah tambahan kekuatan yang sangat membantu. Saya jadi merasa lebih aman berpergian bersama mereka," respon Nata yang malah bersyukur tiga anggota Bintang Api itu mau ikut bersamanya.


"Baiklah kalau begitu. Hari ini Paman Orland dan Kak Cornelius sedang mempersiapkan semua yang kau butuhkan untuk perjalanan tersebut di pelabuhan baru tempat para pengungsi berada." Lucia kembali berucap.


"Oh, benar. Saya belum sempat mengunjungi tempat penampungan pengungsi itu sejak dibangun."


"Ya, sekalian lihatlah. Tempat itu sudah seperti kota kecil saja sekarang." Lucia sedikit menggeleng dengan wajah lesu.

__ADS_1


Bukan karena tidak senang harus mengurusi banyak orang di saat Wilayah Selatan masih berada dalam masa pembangunan, namun merasa sedih mengingat banyaknya orang yang terusir dan harus pergi dari tempat tinggal dan tanah kelahiran mereka.


-


__ADS_2