Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
34. Progress I


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya Aksa dan Cornelius mulai mencari orang untuk diberi tugas melakukan pembuatan peta wilayah. Karena meskipun Aksa sangat ingin melakukannya sendiri, namun pemuda itu masih memiliki banyak pekerjaaan lain yang sudah menunggunya.


Eden, sepupu termuda Lucia, adik Alexander, tampak menunjukan ketertarikannya terharap Drone tersebut saat Aksa menerbangkannya di Garnisun Utara untuk membuat peta tempat itu. Dan ternyata pemuda berusia 15 tahun itu cukup terampil mengendalikan benda terbang tersebut saat Aksa memintanya untuk mencoba.


Maka, pada akhirnya di putuskan bahwa Eden bersama grup kecil di bawah tanggung jawab Constine, yang akan berkeliling wilayah Rhapsodia untuk melakukan pemetaan.


Bersamaan dengan itu Nata juga mulai sibuk menyiapkan rencana untuk melakukan pelayaran ke laut timur. Beberapa tukang kapal pun mulai dikirim ke pantai Sekai di pesisir timur untuk mulai membuat Galangan Kapal baru.


Pembangunan jalan dan prasarana di lereng gunung Sekai pun juga dimulai hampir di saat yang bersamaan. Fang mengambil tanggung jawab atas tugas tersebut. Dikerjakan oleh para pekerja dari Desa Timur dan para Yllgarian yang tidak sedang melakukan tugas menyiapkan bahan untuk membuat obat-obatan.


Sedang kelompok yang dipimpin oleh Dirk, yang bertugas mengurusi penyediaan bahan untuk obat dan juga Ransum itu, kini sudah mulai bisa sedikit bersantai, setelah produksi obat dan Ransum sudah berjalan. Trio Pemburu yang juga bagian dari kelompok itu, sekarang sudah bisa mengunjungi tenda Aksa dan Nata. Dan mencoba peralatan-peralatan baru yang dibuat Aksa khusus untuk mereka bertiga.


Sementara kelompok pekerja lain di bawah tanggung jawab Amithy mulai melakukan pemasangan alat komunikasi Telephone di berbagai tempat, sekaligus memastikan jaringannya berfungsi dengan baik.


Tak lupa, Nata juga meminta Fla untuk memproduksi kertas dengan komposisi bahan yang baru, yang kemudian Fla menunjuk sahabatnya James dan Luke untuk melakukannya. Itu kerena mereka jauh lebih berpengalaman dari siapapun di wilayah itu bila berurusan dengan pembuatan kertas.


Dan Aksa sendiri setelah itu mulai sibuk bersama Val dan Marco untuk memperkenalkan peralatan listrik dan cara baru untuk membuat barang, kepada para pengerajin.


.


Selisih satu hari kemudian, alat Elektrolisis Air di pinggiran Jurang Besar akhirnya memiliki cukup Hydrogen untuk melakukan percobaan.


Kali ini percobaan tersebut hanya dihadiri oleh Lucia, orang-orang yang berkepentingan, dan mereka yang tidak sedang sibuk.


Rencananya Aksa akan mengisikan Hydrogen tersebut pada sebuah balon yang berukuran lebih kecil dari yang akan dipasang di Kapal Udara.


Dan untuk mencoba kekuatan balon dan mengukur jumlah tekanan gas yang diperlukan, Aksa memasang sebuah kereta tanpa roda yang tak lebih besar dari kereta kuda, tepat di bawah balon tersebut.


.


"Jadi kalian akan menaiki kereta itu dan kemudian terbang dengan bantuan dari bolan tersebut?" Lucia bertanya saat Aksa tengah sibuk menyambungkan pipa ke tabung logam yang memiliki tanda huruf 'H' besar dibagian sisinya, dan Nata yang sedang sibuk memastikan ikatan tali pada sebuah pasak di sebelah kereta yang dimaksud Lucia.


"Benar. Tapi bukan terbang. Hanya melayang naik ke atas." Nata menjawab.

__ADS_1


"Tujuan percobaan kali ini adalah untuk mengukur tekanan Hydrogen dan volume balon terhadap beban yang mampu diangkatnya," sahut Aksa memberi penjelasan.


"Apa kalian yakin ini tidak berbahaya?" Lucia terlihat sedikit kuatir.


"Apa Anda juga ingin naik bersama kami, Ratu?" ucap Aksa memberi tawaran saat ia sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Ikut naik ke dalam kereta itu?" Lucia memastikan. Terlihat ia sedang menimbang tawaran Aksa tersebut.


"Pikirkan kembali Yang Mulia. Benda ini masih dalam uji coba. Kita tidak tahu apakah benar-benar aman atau tidak, Yang Mulia." Jean segera menyela saat ada indikasi Lucia mungkin akan menerima tawaran tersebut.


"Sekarang sudah mendekati senja. Tidak terlalu panas, dan angin juga tidak berhembus dengan kencang. Jadi tidak akan terlalu beresiko," sahut Aksa memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecemasan Jean. "Dan lagi, kita juga tidak akan naik terlalu tinggi. Satu kilo mungkin sudah cukup?" tambahnya kemudian.


"Tapi tetap ini pertama kalinya benda ini digunakan. Kita tidak akan tahu apakah benda ini benar-benar bekerja dengan semestinya." Jean masih tetap kukuh mempertahankan pendapatnya.


"Ada apa dengan sifat penuh keraguanmu itu, Jean? Aku saja akan menaikinya. Itu berarti aku yakin bahwa semua ini aman." Aksa terlihat sedikit jengkel dengan sifat keras Jean. "Kau pikir aku mau mati konyol di planet antah berantah seperti ini?"


"Tidak apa, biar kami berdua saja yang naik." Nata segera menyahut menghentikan pertengkaran sebelum dimulai.


Jean terlihat menatap sinis ke arah Aksa setelah mendengar ucapannya tersebut.


"Tidak apa, Jean. Aku percaya dengan mereka." Ratu mereka sudah memutuskan, dan semua orang yang tidak setuju atas keputusan tersebut hanya dapat terdiam dengan cemas.


.


Setelah memastikan ikatan tali dari kereta itu ke arah balon dan tiang pasak yang difungsikan sebagai jangkar itu terikat dengan erat, balon yang ada di atasnya pun mulai diisi dengan Hydrogen.


Aksa yang pertama memasuki kereta tersebut saat balonnya sudah mulai mengambang di udara. Disusul oleh Nata dan kemudian Lucia.


Terlihat wajah cemas Jean, Caspian, Orland, dan beberapa prajurit dan orang-orang yang hadir saat Lucia memasuki kereta tersebut.


Tak lama kemudian kereta tersebut mulai melayang, tidak lagi menyentuh tanah. Meski hanya setengah jengkal saja. Dan itu adalah tanda untuk pekerja menghentikan pengisian Hydrogen pada balon tersebut.


"Oke, semua siap?" seru Aksa setelah pipa dilepas dari balon. "Ayo keluarkan semua pemberat ini," perintahnya kemudian.

__ADS_1


Aksa dan Nata mulai membuang bebatuan yang dibungkus kain yang berfungsi sebagai pemerat itu keluar dari kereta. Dan semakin berkurangnya pemberat, semakin tinggi balon mengangkat kereta tersebut.


Dan ketika pemberat itu sudah tidak tersisa lagi, kereta balon itu sudah berada di ketinggian empat kali tinggi tembok benteng Elbrasta. Tampak tali yang terikat pada pasak yang menancap di tanah tadi, menegang menahan kereta balon tersebut untuk tidak naik lebih tinggi lagi.


Sementara orang-orang terlihat kuatir dan cemas menatap kereta balon itu dari bawah, ketiga orang yang ada di dalamnya dibuat terpana oleh pemandangan garis cakrawala dari ketinggian tersebut. Ditambah matahari yang mulai tenggelam terlihat jelas dan sangat indah di ujung laut barat.


"Indah sekali." Lucia terpana dengan pemandangan di hadapannya. "Kita nyaris bisa melihat keseluruhan wilayah kerajaan dari posisi ini."


"Benar, pemandangan yang mankjubkan. Aku jadi rindu melihat pemandangan dari Rooftop gedung Akademi," ucap Nata yang juga terpesona dengan apa yang sedang ia lihat.


"Kau sering melihat pemandagan dari ketinggian seperti ini di dunia mu?" Lucia memastikan dugaannya.


"Ya, di tempat kami banyak bangunan setinggi ini," balas Nata kemudian.


"Benarkah?"


"Ya, hanya saja pemandangannya tidak bisa dibandingan dengan yang ini," jawabnya sambil menatap Lucia yang sedang tersenyum bahagia.


"Apa sebaiknya aku turun saja? Aku merasa jadi obat nyamuk di sini," celetuk Aksa kemudian.


"Obat Nyamuk? Apa itu?"


.


Dan setelahnya balon itu mulai menarik perhatian banyak orang dari Kota Tengah dan mereka yang tanpa sengaja melihatnya saat dalam perjalanan menggunakan kereta uap. Karena memang balon itu sengaja diwarnai dengan warna merah yang cukup mencolok. Terlihat tidak lazim, melayang di atas Jurang Besar.


Beberapa saat kemudian, mereka pun turun dengan bantuan dari para prajurit yang menarik tali pasak tadi ke bawah. Membuat kereta balon itu perlahan-lahan menurunkan ketinggian.


Lucia terlihat sangat bersemangat setelah keluar dari kereta tersebut. Ia mengusulkan untuk menggunakan balon dengan kereta tersebut sebagai pengganti Menara Jaga yang akan dipasang di perbatasan wilayah kerajaan.


Nata menyetujui usulan Lucia tersebut. Namun dengan syarat harus mengutamakan keselamatan orang yang akan berjaga di tempat tersebut. Dan hal itu membuat Lucia bertambah gembira.


.

__ADS_1


__ADS_2