
Sementara itu 300 pasukan yang langsung dibawah pimpinan Lucia sudah mulai bergerak memasuki wilayah Damcyan. Bersama mereka ikut serta 5 Kereta Penghancur dan beberapa Kereta Tempur kecil.
Sedang di perbatasan Kota Nezarad dan wilayah Raygod, pasukan dari Kerajaan Joren dan Kerajaan Augra juga mulai melakukan penyerangan. Namun beruntungnya dapat dengan mudah dihadang oleh pasukan Caspian dengan Kapal Udara.
Dan kemudian seperti yang telah diperkiraan oleh Nata sebelumnya, tak lama berselang pasukan dari beberapa tempat di seluruh wilayah Tyrion yang masih tersisa mulai bergerak menuju Kota Hui. Yang menyebabkan Harbring dapat dengan mudah diambil alih oleh pasukan Anna karena kurangnya penjagaan.
Sementara jumlah keseluruhan dari pasukan Tyrion saat semuanya berkumpul mencapai seribu lima ratus prajurit. Termasuk para Mugger dan Serikat Petarung lepas lainnya.
-
"Tak bisa dipercaya Tyrion masih memiliki sebegitu banyak prajurit," ucap Jean menanggapi laporan dari prajurit pengintai dalam pertemuan yang diadakan sebelumnya.
"Tapi kalau kita perhatikan meski dalam jumlah sebanyak itu, pasukan mereka tetap tidak sebanding dengan pasukan kita," sahut Aksa dari seberang meja.
Kini mereka sedang makan siang bersama Lucia dan para pemimpin pasukan lainnya di sebuah sabana di pinggiran wilayah Damcyan. Membuat perkemahan sementara untuk beristirahat.
Aksa dan Nata juga ikut dalam penyerbuan kali ini, karena mereka ingin menyaksikan sendiri saat Tyrion ditangkap. Namun hanya Lily saja yang ikut untuk menjaga mereka saat ini. Karena Val masih berada di Wilayah Pusat untuk membuat benda rancangan Aksa yang baru.
"Seratus dari mereka adalah prajurit bayaran dari Serikat Petarung lepas. Dan dua ratus lainnya adalah warga yang terpaksa mengikuti wajib militer. Jadi untuk loyalitas dan semangat tempur, mereka tidak akan bisa diandalakan," ucap Nata yang mencoba menjelaskan maksud dari ucapan Aksa sebelumnya.
Versica, Karka, dan Guanna yang juga ikut dalam acara makan bersama itu terlihat mengangguk samar. Mereka mulai sedikit paham dengan maksud dari penjelasan Nata.
"Ya, itu benar," sela Parpera yang duduk di sebelah Biggs. "Bahkan dari kabar yang saya terima, dari seratus lima puluh penyihir dan penyembuh yang mereka punya, hanya tiga puluh orang saja yang memiliki pengalaman dalam medan perang," lanjutnya ikut membagi informasi. "Jadi sudah jelas bahwa sisanya tidak akan mampu bergerak dengan efektif dalam medan tempur."
"Belum lagi kurangnya dasar kemiliteran yang mereka terima, hal itu akan mengurangi kecekatan dalam menerima dan menjalankan sebuah perintah. Yang mana adalah hal penting dalam sebuah peperangan besar," lanjut Nata ikut menambahi.
"Jadi kau tidak perlu terlalu kuatir, Jean. Lagi pula pakaian pelindung kita cukup kuat untuk menghadang pedang dan sihir para prajurit lawan," tambah Aksa seraya menyantap kentang rebusnya dengan lahap.
"Ya, bukannya aku merasa kita akan kalah atau bagaimana dalam menghadapi mereka," balas Jean terlihat sedikit jengkel dengan ucapan Aksa tersebut.
Dan ketika Aksa hendak membalasnya lagi, tiba-tiba datang dengan sedikit tergesa, seorang prajurit melapor kepada Lucia.
"Lapor, Yang Mulia." Prajurit itu berlutut sedikit jauh dari tempat Lucia terduduk.
"Ada apa prajurit?"
__ADS_1
"Pasukan lawan terlihat mendekat dari arah barat. Menurut prajurit pengintai, mereka berjumlah 800 orang, Yang Mulia. Dan ada Mugger juga di antara mereka," lapor prajurit itu kemudian.
Semua orang terlihat segera berdiri dan menghentikan acara makan mereka begitu mendengar laporan dari prajurit tersebut.
"Sepertinya mereka tahu benar cara merusak jam makan siang seseorang," celetuk Aksa dengan wajah sedikit kesal.
"Terima kasih, prajurit. Kau boleh pergi," ucap Lucia memberi perintah.
"Delapan ratus prajurit saja? Kenapa mereka tidak sabar untuk menunggu kita tiba dan menyerang dengan kekuatan penuh mereka?" sahut Jean seraya meletakan sedok dan pisau potongnya ke atas piring.
"Dengar baik-baik, semuanya. Bersiaplah pada posisi kalian masing-masing sekarang," perintah Lucia yang juga sudah membereskan piring makannya.
"Siap, Yang Mulia." Semua pemimpin pasukan yang berada di tempat itu menjawab perintah Lucia dengan serempak.
"Mereka mengirim Mugger ke padang ilalang seperti ini? Pasti mereka sudah kehilangan akal," terdengar celetukan Karka saat ia dan yang lain mulai menuju ke posisi mereka masing-masing.
"Sepertinya Tyrion memang sudah kehilangan akalnya saat ini," timpal Versica.
-
Dan seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, dengan cukup mudah pasukan Lucia mengalahkan prajurit Tyrion tersebut, meski mereka berjumlah 2 kali lipat lebih banyak. Yaitu 800 orang.
-
Dan tidak menunggu lagi, Pasukan Lucia tersebut langsung melanjutkan arak-arakan mereka menuju Kota Hui.
Tak lebih dari 2 jam kemudian, ratusan prajurit mulai terlihat berbaris tepat di depan pintu gerbang Kota Hui. Tampak pula 6 Juara Urbar di antara mereka.
Sebuah Sihir Pelindung tingkat tinggi yang dihasilkan dari Peralalatan Sihir juga terlihat dipasang mengelilingi seluruh kota tersebut. Membuatnya aman dan terlindung dari serangan udara.
.
Tak lama kemudian suara Lucia mulai terdengar lantang melewati Pengeras Suara yang dipasang di atas atap setiap Kereta Tempur yang ikut serta.
"Aku, Lucia Eleanor, Ratu Kerajaan Rhapsodia, memberi perintah kepada kalian semua untuk menyerah demi keselamatan nyawa kalian." Suara Lucia terdengar hingga ke dalam kota. "Dan Tyrion! Serahkan dirimu sekarang juga untuk diadili," tutup ratu muda itu kemudian yang masih meninggalkan gema di sekitar tempatnya berdiri.
__ADS_1
Dan setelah beberapa menit tidak mendapat jawaban dan tanggapan dari pihak lawan, Lucia pun akhirnya mengeluarkan perintah untuk melakukan serangan.
Ratusan prajurit beserta Penyihir Petarung pun mulai berlari maju dengan serempak menyerbu begitu mendengar perintah dari ratu mereka.
.
.
Namun sayangnya kali ini prajurit Rhapsodia menghadapi lawan yang cukup berat. Itu karena perbedaan jumlah pasukan yang ditambah dengan bantuan dari Senjata Mistik milik para Juara.
"Kalau terus seperti ini, pasukan kita tidak akan bertahan. Kita perlu meriam sihir untuk menghancurkan gerbang kota itu secepatnya," ucap Biggs yang sedang membidikkan Senjata Api nya ke prajurit lawan. Kali ini ia mendapat tugas untuk memimpin pasukan utama, langsung di bawah Lucia.
Pertempuran telah berlangsung lebih dari 15 menit. Dan sampai saat ini pasukan lawan masih terus berusaha menekan, meski jumlah mereka terus berkurang menghadapi senjata dari Pasukan Rhapsodia.
"Percumah saja. Karena saat ini Sihir Pelindung masih terpasang mengelilingi kota. Meriam kita akan kesulitan untuk menembusnya," jawab Parpera yang tengah merapal sesuatu di sebelah Biggs. "Butuh banyak penyihir dan rapalan yang cukup panjang untuk membatalkan sihir tingkat tinggi itu. Dan kita tidak bisa melakukannya saat ini. Tidak dengan para Juara yang masih berjaga seperti sekarang," lanjutnya lagi memberikan penjelasan.
"Ah, benar. Enam Juara dengan Senjata Mistik itu benar-benar sangat merepotkan. Bahkan Pasukan Senjata Api kita kesulitan untuk menghadapinya," balas Biggs dengan sedikit mengeluh.
"Kami akan menghadapi mereka," sahut Versica tiba-tiba dari kiri Parpera. Terlihat gadis itu baru saja menghabisi prajurit yang hendak menyerang Parpera dari belakang secara diam-diam.
"Apa kau yakin, Nona Versica? Mereka adalah teman-teman kalian sesama Juara," tanya Biggs yang terlihat sedikit ragu.
"Ya, karena itulah saya berani mengatakannya. Jangan menguatirkan kami, Jendral. Kami akan menghentikan para Juara itu," sahut Versica dengan penuh percaya diri.
"Baiklah kalau begitu. berhati-hatilah kalian." Biggs menjawab cepat. Ia mempercayai Versica dan teman-temannya.
"Ayo, teman-teman. Kita ada reuni untuk dihadiri," seru Versica sebelum kemudian berlari menembus pertempuran menuju ke tempat para Juara berada.
"Hei, tunggu aku." Terlihat Karka berlari menyusul Versica dan Guan, setelah menangkap kembali kapak api yang sebelumnya ia lemparkan.
"Karena mereka hanya bertiga, dan lawan mereka berenam, sepertinya aku juga akan membantu mereka," sahut Parpera kemudian. "Kuserahkan tempat ini padamu, Biggs," tambahnya seraya mengarahkan sihir yang sedari tadi ia rapal itu ke arah Biggs.
Sihir itu adalah sihir pelindung tingkat menengah yang diimbuhkan secara langsung ke seluruh pelindung yang dikenakan oleh Biggs.
Dan setelah selesai melakukan hal tersebut, Parpera segera mengambur pergi.
__ADS_1
"Eh? Tunggu sebentar, Nona Parpera. Bagaimana aku bisa... Ah, Penyihir Bulan itu memang merepotkan," ucap Biggs yang kemudian mengambil Senjata Api laras pendeknya dari belakang pinggang, dan mulai bergerak maju menghadang lawan dari jarak dekat.
-