
Seminggu kemudian, setelah jaringan Komunikasi Jarak Jauh sudah selesai dibangun, pemeriksaan ulang mengenai segala persiapan untuk penyerangan ke Pegunungan Trava pun dilakukan.
Aksa mendapat tugas memastikan perbekalan obat dan makanan untuk para prajurit sudah siap dan benar. Juga memeriksa kembali kesiapan baik itu peralatan, para Pekerja, dan juga Penyihir Pembangun yang akan segera menyusul begitu penyerbuan berhasil.
Sedangkan Nata bertugas melakukan tinjauan ulang, sekaligus mengingatkan kembali segala aturan yang telah ia buat untuk kelompok prajurit yang baru. Yang berdasar dari usulan Aksa, kelompok tersebut kemudian diberi nama Pasukan Elit.
.
Nata bersama petinggi militer dan tiga puluh anggota Pasukan Elit itu sedang berada di tanah lapang di Garnisun Utara. Terlihat Nata sedang memberikan arahan kepada mereka semua.
"Jadi setiap prajurit yang telah selesai melakukan tugas, diwajibkan mengembalikan semua peralatan yang mereka gunakan dan mencatat ulang apa saja yang kurang. Baik jumlah peluru yang terpakai, atau peralatan yang rusak dan hilang di tengah tugas," ucap Nata yang berdiri di hadapan tiga puluh prajurit layaknya seorang komandan yang sedang memberi arahan. "Rutinitas ini diperlukan untuk menjaga kualitas peralatan, sekaligus untuk memastikan tidak ada peralatan yang hilang saat hendak digunakan. Sehingga tidak akan ada kesalahan yang dapat membahayakan nyawa, dan juga tugas kalian."
"Apa kalian mengerti?!" sahut Helen memastikan para prajurit mendengar dan memahami ucapan Nata tersebut.
"Siap, mengerti." Serempak tiga puluh prajurit itu menjawab dengan seruan.
"Dan jangan lupa bahwa kalian harus memeriksa peralatan-peralatan itu sendiri. Jangan percayakan kepada orang lain. Karena saat di medan perang, kalian sendirilah yang bertanggung jawab atas keselamatan kalian," tambah Nata kemudian.
"Siap, mengerti." Kembali ketiga puluh prajurit itu berseru secara bersamaan.
"Kerja keras kalian selama pelatihan akan terbayar dalam tugas penyerangan kali ini. Kalian pasti akan terkejut setelah mendapati bahwa pengetahuan dan keahlian yang telah kalian pelajari selama inilah yang akan menyelamatkan kalian dari situasi yang paling buruk, dan membantu menyelesaikan tugas ini tanpa kendala yang berarti," ucap Nata lagi mencoba untuk memberi lebih banyak kata-kata kepada para prajurit itu. "Ya. Itu saja, sih. Aku tidak terlalu pandai untuk berbicara seperti ini di depan orang banyak, kalau tidak sedang membawakan presentasi," tambahnya dengan senyum canggung.
Melihat hal tersebut, Helen yang selaku komandan Pasukan Elit tersebut segera mengambil alih. "Baiklah kalau begitu. Prajurit, bubar," perintah ksatria perempuan itu kemudian.
Dan para prajurit itu pun mengangkat kaki kemudian memutar tubuh secara harmonis, sebelum berjalan memecah barisan.
"Tuan Ev.. maksud saya, Jendral Evora," ucap Nata saat mereka sedang berjalan memasuki gedung pertemuan tak jauh dari tanah lapang tersebut.
"Ya, Tuan Nata? Anda tidak perlu berbicara formal seperti itu," jawab Evora kemudian.
__ADS_1
"Saya harus ikut aturan saat berada di area militer ini, kan?" jawab Nata dengan sedikit bergurau. "Saya ingin memberikan ini pada Anda." Kemudian Nata mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.
Terbuat dari logam dengan bentuk seperti telur berwarna hitam mengkilap. Terdapat rongga-rongga kecil berjajar rapat di bagian sampingnya. Ukurannya tak lebih besar dari genggaman tangan.
"Benda apa ini, Tuan Nata?" Evora menerimanya.
"Buatan Aksa, tapi masih dalam percobaan. Bila kita tekan bagian yang ini maka benda ini dapat mengeluarkan suara bising yang mengganggu," jelas Nata sambil menunjuk bagian atas yang terlihat memiliki warna lebih terang.
Yllgarian burung hantu itu mengamati benda dan bagian yang ditunjuk Nata tadi dengan seksama. "Apakah benda ini berbahaya?" tanyanya kemudian.
"Tidak. Hanya mengganggu pendengaran saja," jawab Nata.
"Lalu apa yang anda ingin saya lakukan terhadap benda ini?" Evora bertanya lagi.
"Sebenarnya saya ingin Nona Helen mencobanya dalam medan perang saat melakukan serangan nanti. Tapi karena ini berhubungan dengan suara berfrekuansi cukup tinggi, jadi saya rasa akan jauh lebih baik bila anda dan para Yllgarian mencoba mendengar suara itu terlebih dahulu," jelas Nata kemudian.
"Mencoba mendengarkannya?" terlihat Evora belum menangkap maksud dari ucapan Nata.
"Saya mengerti maksud anda, Tuan Nata. Jadi sebelum menggunakannya dalam medan perang, anda ingin memastikannya terlebih dahulu apakah benda ini memiliki dampak yang lebih buruk terhadap kita ketimbang terhadap lawan. Begitu, kan?"
"Benar sekali, Tuan Evora. Saya akan meminta Aksa untuk melakukan penyesuaian atau mencarikan solusi bila memang berbahaya terhadap para Yllgarian, setelah mendengar laporan dari anda mengenai hal ini," ucap Nata yang terlihat lega Evora memahami maksud ucapannya.
"Saya akan segera memberikan laporan begitu kami selesai mencobanya," jawab Evora tanpa keraguan.
"Oh, dan juga siapkan pelindung telinga saat hendak mencobanya," sahut Nata mengingatkan.
"Baik, akan saya lakukan." Evora menyimpan benda tersebut di kantong di balik bajunya.
"Lalu bagaimana dengan Pasukan Udara sendiri? Apakah mereka sudah siap?" tanya Nata mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
"Meski kami tidak ikut langsung dalam menyerbuan tambang tersebut, namun sekarang baik para Yllgarian maupun para Penyihir, semua sudah bersiap untuk terbang melaksanakan tugas," jawab Evora dengan tegas dan terlihat antusias.
"Saya doakan semoga anda sekalian selamat," ucap Nata dengan tulus.
"Terima kasih, Tuan Nata."
.
Dan tepat seminggu kemudian, pasukan yang terdiri dari 30 Prajurit Elit, 20 Penyihir Petarung, 10 Penyembuh, dan 40 Yllgarian Burung Hantu itu berangkat dengan Kapal Udara Bherunda yang sudah sedikit mendapat perubahan bentuk.
Kini baling-baling di lambung kapal tersebut telah digantikan dengan 2 buah sayap dari lembaran kulit berwarna putih kusam yang kerangkanya terbuat dari logam dan dapat bergerak untuk membantu Kapal Udara tersebut melakukan manuver di udara.
Sedang baling-balingnya sendiri kini diletakan di bagian kerangka logam tepat di bawah balon.
Bentuk di bagian geladaknya masih tidak terlalu berbeda dari sebelumnya. Hanya saja kini ruang anjungannya dibuat lebih besar hingga menutupi area roda kemudi.
Juga tampak senapan pelontar harpun bertenaga tekanan udara terpasang berjajar di sepanjang lambung kapal bagian bawah.
Semua perubahan itu sesuai seperti yang telah Aksa rancang, kecuai bagian lampunya yang masih dalam pembuatan. Karena Aksa ingin lampu yang dapat menyorot dengan terang dari ketinggian. Dan jelas lampu pijar tidak akan mampu melakukannya.
-
Lucia berdiri di sebuah mimbar kecil di pinggiran Jurang Besar menghadap ke arah Kapal Udara yang sedang melayang rendah di atas sungai, siang itu. Dari atas geladak Kapal Udara tersebut, para prajurit yang hendak berangkat melakukan penyerangan, tampak berdiri berjajar menghadap ke arah Ratu mereka.
"Aku atas nama kerajaan Rhapsodia, memberikan doa dan restu kepada kalian semua. Semoga para dewa selalu melindungi kalian, dan menghantarkan pada jalan kemenangan." Lucia berucap lantang meski di depan Mikrofon. Semangat dan kesungguhannya terpancar dalam nada suara yang bergema di seantero wilayah Rhapsodia.
Kemudian Lucia dengan cepat menarik pedang dari sarungnya dan menghunuskan ke atas, seraya berseru, "Demi kejayaan Rhapsodia!"
"Demi kejayaan Rhapsodia!" Puluhan orang berseru mengulangi ucapan Lucia dengan penuh semangat.
__ADS_1
Yang sekaligus mengiringi Kapal Udara tersebut melayang tinggi dan kemudian menghilang di balik awan.
-