Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Antology Story : Aksi Reaksi


__ADS_3

Di sebuah kastil di wilayah kerajaan Augra. Tampak 5 orang tengah mengadakan sebuah pertemuan darurat.


"Aku masih tidak habis pikir. Hanya dalam waktu semalam, 100 lebih pasukan sisa 50 orang saja? Dalam satu malam? Luar biasa sekali, Gez," ucap seorang pria Narva dengan potongan rambut rapi ditarik ke belakang.


"Maafkan saya, Jarl. Tapi situasinya memang sangat kacau saat itu. Belum lagi sihir aneh yang dikeluarkan oleh pria yang mengaku sebagai Kesatria Cahaya itu." Pria Narva lain yang dipanggil Gez itu menjawab.


Pria Narva yang dipanggil Jarl itu menghembuskan nafas panjang. "Dan apa kau yakin itu adalah pasukan Rhapsodia? Bukan akal-akalan Vistralle?" tanyanya kemudian.


"Saya kurang begitu yakin juga. Tapi pria yang mengaku sebagai Kesatria Cahaya tadi berkata demikian. Lagi pula menurut para penambang, prajurit yang menyerang benteng kemarin lusa, semuanya menggunakan senjata yang serupa dengan Senjata Api milik Rhapsodia. Hanya saja tidak mengeluarkan suara ledakan," jawab Gez menjelaskan.


Pria berstatus Jarl tadi terlihat mulai memijat pelipisnya perlahan setelah mendengar penjelasan tersebut. "Baiklah, anggap saja itu benar. Lalu bagaimana pasukan Rhapsodia itu bisa berada di dalam tembok benteng? Apa mereka menggunakan batu Arcane?"


"Hal itu tidak mungkin, Jarl. Alat Formasi Sihir masih menyala, bahkan di saat kita menyerang benteng itu kemarin malam. Harusnya dengan adanya pengacau Aliran Jiwa itu Kristal Pemindah tidak akan bisa digunakan di dalam benteng." Kali ini pria Seithr dengan pakaian seorang penyihir yang menjawab.


"Lalu apa ini ulah pasukan Yllgarian mereka? Yang kudengar mereka memiliki pasukan dari Klan Strigi. Apakah mereka menyeberangi tembok melalui udara?"


"Kemungkinan besarnya memang mereka memasuki benteng dari atas. Tapi bukan dengan bantuan Yllgarian." Gez kembali mengambil alih pertanyan dari atasannya itu. "Penjaga di menara benteng akan langsung menyadari kehadiran mereka dari kejauhan. Karena Yllgarian tidak dapat terbang dengan cepat atau terbang lebih tinggi dari awan," tambahnya memberi penjelasan.


"Jadi apa maksudmu?"


"Seperti yang telah dikabarkan para saksi yang telah melihatnya secara langsung. Mereka memiliki burung legenda Berunda, Jarl."


"Apa kalian sudah gila? Bagaimana mungkin seekor burung yang hanya pernah kita dengar dari dongeng dan catatan kuno tiba-tiba ada di tempat itu?"


"Sihir cahaya turun dari balik awan dan menghancurkan perkemahan kami, Jarl. Saya tidak berbohong tentang hal tersebut. Semua prajurit yang selamat juga melihatnya." Terlihat Gez mencoba untuk meyakinkan atasannya itu.


"Tapi tetap saja hal itu tidak masuk akal."


"Itu adalah alasan paling masuk akal yang kita punya sekarang ini, Jarl."


Jarl yang terlihat baru memasuki usia ke 40 tahun itu terlihat kembali menghembuskan nafas. "Bagaimana menurutmu, Merl?" tanyanya kemudian kepada seorang pria Narva tua dengan pakaian seorang Penyihir Kerajaan yang duduk tepat di sebelahnya. "Dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang kau miliki, apakah menurutmu burung leganda itu nyata?"


"Sosok Berunda menurut yang tertulis pada gulungan kuno adalah, memiliki sayap berlapis kulit seperti sayap kelelawar, dengan ukuran yang jauh lebih lebar dari sayap burung mistik pada umumnya. Bahkan lebih lebar dari sayap Hurracun. Suaranya terdengar seperti puluhan pekik burung pada umumnya, dan selalu datang bersama dengan badai." Pria yang dipanggil Merl itu menjelaskan apa yang ia ketahui tentang burung legenda tersebut. "Dan menurut yang saya dengar dari para saksi mata, meski samar, namun hampir semua orang menggambarkan hal yang sama, Jarl," tambahnya kemudian.


"Benar, kilat dan guntur juga muncul bersamaan dengan munculnya burung legenda itu." Gez ikut menambahi.


"Apakah tidak mungkin kalau awan petir itu muncul secara kebetulan saja?" Pria berstatus Jarl itu terlihat tidak mau mempercayai cerita Gez.

__ADS_1


"Awan petir itu bukan sesuatu yang alami seperti yang pernah kita lihat sebelumnya. Awan itu berjalan dan berputar dengan cepat mengejar kami." Kali ini penyihir Seithr yang angkat bicara mencoba untuk menyakinkan sang Jarl.


"Benarkah?"


"Anda bisa pastikan kepada saksi yang lain, Jarl. Dan meski saya tidak melihat dengan jelas bentuk dari burung tersebut, namun saya masih dapat mengingat suara pekikannya. Seperti suara teriakan dari puluhan kelelawar bercampur dengan lolongan yang mengerikan. Sekarang saja saya masih merinding saat mengingatnya."


"Kalau begini bagaimana aku harus melaporkan masalah ini kepada Paduka Raja," keluh sang Jarl dengan menghembus nafas panjang untuk kesekian kalinya. "Nado, coba cari tahu apakah hal ini ada hubungannya dengan Vistralle," perintahnya kemudian kepada seorang Narva yang sedari tadi diam di ujung ruangan.


"Baik, Jarl. Akan segera saya laksanakan." Pria yang dipanggil Nado itu menjawab tegas.


"Akan jauh lebih mudah bila semua ini adalah ulah Vistralle yang bersekongkol dengan pihak Rhapsodia," gerutu sang Jarl.


"Itu berarti kita juga harus mulai waspada bila memang benar Rhapsodia sudah bergerak," ucap pria Narva berambut panjang yang duduk di sebelah Jarl itu kemudian. "Karena kemungkinan besar sasarannya adalah semua bekas wilayah kerajaan Urbar yang dulu mereka akui saat mendirikan kerajaan itu."


"Benar. Yang berarti kemungkinan besar Ravus dan Lighthill juga adalah sasaran mereka," ucap Gez menyahut.


"Aku jadi semakin pusing. Kalau begitu, kau ikut dengan ku, Gez. Kita ke Kotaraja untuk menjelaskan semua ini pada Paduka Raja," perintah sang Jarl sebelum menutup pertemuan tersebut.


-


-


"Alat ini benar-benar luar biasa, Ver. Kemarin peta dengan detail yang sangat akurat. Dan sekarang ini. Sebenarnya dari mana mereka memperoleh semua barang-barang itu?" Pria Morra dengan potongan rambut cepak yang dikenal sebagai Karka itu tampak terkagum-kagum setelah mencoba menggunakan Radio Komunikasi.


"Apakah semua peralatan tersebut buatan dua pemuda aneh itu?" tanya pria Narva berbadan kekar yang dikenal sebagai Guanna itu kemudian.


"Benar." Versica mengangguk.


"Siapa sebenarnya dua orang itu?" Karka bertanya-tanya.


"Entahlah? Aku juga tidak tahu. Nona Joan saja tidak dapat menemukan apapun mengenai masa lalu dua pemuda itu," jawab Versica.


"Benarkah?"


"Sudah-sudah, kita tidak punya banyak waktu sekarang ini. Jadi langsung saja, bagaimana rencananya, Ver?" potong Guanna yang tidak ingin membuang waktu.


"Serangan akan dilakukan malam nanti." Versica pun juga tidak lagi berbasa-basi. "Kita tidak perlu ikut serta dalam penyerangan itu. Kita hanya perlu mengabarkan situasi yang terjadi di tempat-tempat itu sebelum penyerangan dimulai," jelasnya kemudian.

__ADS_1


"Jadi mereka akan menyerang tempat-tempat penting yang tidak memiliki penjagaan ketat?" tanya Guanna memastikan.


"Kurang lebih seperti itu."


"Kurasa rekan-rekan kita sudah siap untuk itu," ucap Karka menyahut. "Lalu tempat mana saja yang akan kita serang?" tanyanya kemudian.


"Caspian memberikan keputusan untuk memilih tempat-tempat itu kepada kita. Mereka akan menyerang berdasarkan informasi yang kita berikan," jawab Versica.


"Benarkah? Bukankah itu berarti mereka meminjam pasukan mereka kepada kita? Apa kau yakin?" Karka mencoba memastikan ucapan Versica.


"Ya, memang seperti itulah yang diinginkan oleh pemuda yang disebut sebagai sang Penasehat itu. Ia memang ingin kita ikut serta dalam peperangan merebut kembali tanah kita."


"Benarkah?"


"Pemuda itu memang cukup pintar menggunakan kita untuk memperbesar kesempatan memenangkan perang ini." Kali ini Guanna yang berucap mengutarakan pemikirannya.


"Benar. Tapi tidak jadi masalah buatku. Karena hal itu tidak merugikan kita sama sekali," ucap Versica menaggapi.


"Ya, kau benar. Lalu apa yang akan mereka lakukan dalam perang ini, kalau semua diserahkan kepada kita?" Karka kembali bertanya.


"Pihak Rhapsodia sendiri akan memulai penyerangan mereka besok pagi ke wilayah Ignus terlebih dahulu. Untuk mengambil alih Kota Varun." Versica menjawab.


"Oh, sekarang aku paham apa yang sedang mereka rencanakan. Mereka ingin memecah kekuatan Vistralle." Karka terlihat mengangguk kecil seolah baru saja memahami sesuatu yang penting. "Tapi bagaimana bila Tyrion ikut campur dalam perang ini? Atau Augra?" tanya pria Morra itu kemudian terlihat sedikit kuatir.


"Benar. Bukankah pertambangan di Pegunungan Trava sudah berhasil dikuasai oleh pasukan Rhapsodia?" Guanna ikut bertanya. "Bisa gawat kalau Augra benar-benar ikut dalam peperangan ini."


"Aku yakin pihak Rhapsodia pasti sudah memperhitungkannya. Sang Penasehat itu pasti sudah memperhitungan hal tersebut." Versica menjawab. "Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah penyerangan nanti malam. Karena ini adalah kesempatan kita," ucapnya kemudian.


"Ya kau benar, kurasa memang sudah saatnya untuk kita mulai bergerak." Karka membalas.


"Dan bila serangan kali ini berhasil, maka jaringan pemberontak di wilayah kekuasaan Tyrion akan mulai menyadari bahwa kita masih memiliki harapan," ujar Versica memberikan semangat dan harapan kepada rekannya yang lain.


"Akhirnya penantian kita berakhir juga. Setelah sekian lama kita berjuang," ucap Karka dengan wajah lega.


"Benar." Versica mengangguk setuju.


-

__ADS_1


__ADS_2