Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
09. Informasi Baru


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah kejadian Kembang Api tersebut. Kini Kembang Api yang lain sedang diproduksi secara masal untuk acara Pasar Raya nantinya.


Nata, Aksa, Rafa, Luque, dan Lily baru saja selesai menghadiri pertemuan bulanan bersama Lucia dan para anggota parlemen, saat rombongan Yvvone tiba di Kota Tengah.


Tujuan dari kedatangan Yvvone di Wilayah Pusat kali ini adalah disamping hendak memberi kabar tentang hal yang sedang mereka selidiki, yaitu tentang para pengumpul gelang Scion, juga karena Yvvone sendiri ingin mengambil Smartphone yang kini sudah selesai diperbaiki oleh Aksa.


Mereka bertemu di stasiun kereta karena rombongan Yvvone datang dari Pelabuhan Barat. Dan karenanya mereka pun sekalian melakukan pertemuan di bar milik Pietro yang masih belum buka.


.


Kali ini adalah kali pertama Aksa dan Nata bertemu dengan Elf Marga Vaelum. Salah satu teman Yvvone yang sebelumnya mendapat tugas memberi kabar ke Hutan tempat Marga Azuar tinggal. Yang bernama Kanna.


Perempuan Elf berkulit putih berambut hitam lurus itu memiliki pupil mata berwarna perak mengkilat yang membuatnya tampak anger, meski kepribadiannya sangat ramah, dan senyumnya cukup manis menurut Aksa.


.


"Sekarang jelas sudah hubungan antara orang-orang yang sedang mengumpulkan Alta Larma itu dengan Kerajaan Elbrasta," ucap Yvvone yang duduk bersama Lily, Nata, dan Talos mengelilingi salah satu meja kecil di ujung ruangan.


"Dan kemungkinan besar mereka jugalah yang mengirim Glaive ke tempat ini 5 tahun lalu," sahut Talos menambahi.


"Glaive? Apa maksudmu prajurit terkuat dari masa Perang Api Hitam?" Aksa yang duduk di meja sebelahnya bersama Rafa, Luque, dan Morgana bertanya dengan nada sedikit antusias.


"Ya, benar. Mereka sempat menghadang kami beberapa bulan lalu saat kami berada di wilayah utara. Kami sempat menjatuhkan 3 dari mereka sebelum kemudian mereka mundur," jawab Yvvone menjelaskan.


"Kalian berhadapan dengan mereka lagi?" Kali ini Lily yang terlihat sedikit terkejut.


"Benar. Sihir kegelapan itu sangat merepotkan. Kami terpaksa harus menggunakan kekuatan penuh kami untuk menghadapi mereka," sahut Solas yang duduk bersama Murrel dan Kanna di meja bartender.


"Mereka berani menyerang 6 Elf secara sekaligus?" Lily terlihat masih tidak percaya.


"Ya, sepertinya tuan mereka mulai merasa risau dengan keberadaan kami," balas Ymone yang duduk bersama Ares di belakang meja empat Getzja Azorgia duduk.


"Apa kalian memiliki bayangan siapa yang mungkin memerintah para Glaive itu?" tanya Nata kemudian.


"Tebakan paling masuk akalnya adalah putra raja Elbrasta yang sekarang." Solas yang menjawab pertanyaan tersebut.


"Karena sama seperti Ratu kerajaan ini yang memiliki Clypeus di sisinya karena darah asli keturunan Elbrasta," lanjutnya menambahi.

__ADS_1


"Benar. Karena hanya keturunan dari raja-raja era Perang Api Hitam lah yang dapat memerintah kedua kelompok prajurit tersebut," timpal Yvvone kemudian.


"Dari yang saya tahu, keturunan Elbrasta hanya mewarisi pengabdian dari Pelindung Cahaya. Dan bukan Pisau Kegelapan," ucap Luna yang sedang mengeringkan gelas di balik meja pesan mengungkapkan hal yang ia ketahui.


"Entahlah. Tapi hanya itu satu-satunya petunjuk yang kita punya sekarang. Karena sudah tidak ada lagi keturunan raja-raja manusia era Perang Api Hitam saat ini kecuali keturunan Elbrasta," ucap Solas menanggapi perkataan Luna.


"Lalu apa rencana kalian setelah ini? Apa menurut kalian mereka sudah berhasil menyatukan gelang-gelang itu?" Nata bertanya lagi.


"Rencananya setelah ini kami akan memperingatkan setiap Marga tentang hal ini. Dan meminta mereka mengadakan pertemuan untuk mencari jalan keluarnya," ucap Yvvone menjawab.


"Karena anggap saja mereka sudah berhasil menyatukan Alta Larma, berarti hanya tinggal beberapa bulan lagi sampai mereka berhasil melakukan penyelarasannya," tambahnya menjelaskan.


"Penyelarasan?" Nata kembali bertanya.


"Benar. Alta Larma perlu diselaraskan terlebih dahulu antara gelang satu dengan yang lainnya. Agar bisa digunakan secara bersamaan," Yvvone kembali menjawab. "Dan waktu yang diperlukan tergantung dari seberapa lama bagian-bagian itu dipisahkan."


"Dan untuk yang kali ini menurut perhitunganku mungkin mereka butuh waktu antara 6 sampai 8 bulan." Kali ini Solas yang menjawab.


"Berarti memang tak banyak waktu lagi." Nata terlihat sedikit gelisah mendengar hal tersebut.


"Benar." Yvvone membenarkan ucapan Nata yang membuat suasana dalam bar jadi penuh kekuatiran.


"Festival?" Morgana yang duduk di hadapan Aksa bertanya dengan sedikit bingung.


"Perayaan. Pasar Raya. Pertunjukan. Pokoknya bakalan meriah," jawab Aksa mencoba untuk menjelaskan maksud Festival kepada perempuan rubah itu. "Tiga hari lagi di wilayah Eblan," tambahnya kemudian.


"Oh, jadi itu Pasar Raya yang dibicarakan banyak orang? Kami mendengarnya saat tiba di pelabuhan barat tadi," ucap Yvvone mengangguk paham.


"Benar yang itu," sahut Aksa membenarkan ucapan Yvvone.


"Ya, rencananya sih kami memang akan tinggal di tempat ini setidaknya 3 hari. Jadi tidak ada salahnya untuk memundurkannya sehari lagi," jawab Yvvone kemudian. Yang tampak disetujui oleh anggota rombongannya yang lain.


Tak lama setelah itu tampak Edward memasuki bar tersebut bersama istrinya dan Siegfried dengan membawa hidangan makanan dari kedainya di seberang jalan.


Dan setelah itu sembari mereka makan, tema pembicaraan pun beralih lebih ringan membahas tentang festival.


"Dan apa itu alat musik untuk pertunjukan di Pasar Raya nanti?" tanya Yvvone saat melihat sebuah alat musik petik dengan bentuk tabung yang cukup besar berdiri di sebuah penyangga di sudut bar tersebut.

__ADS_1


"Seperti alat musik petik para pedagang Nomad dari tanah Azure," ucap Moye, gadis Azorgia yang biasa menggunakan dua pedang saat bertarung.


"Ya, kurang lebih memang mirip," jawab Aksa kemudian. "Yang ini namanya gitar. Punya senar lebih banyak dibanding alat musik petik pedagang Nomad itu," lanjutnya.


"Lalu yang seperti meja itu apakah juga alat musik, tuan Aksa?" Kali ini Solas yang bertanya karena penasaran melihat seperti sebuah meja, hanya saja memiliki 3 kaki, yang berada di sebelah Gitar tadi berdiri.


"Benar. Ini juga alat musik. Dan juga menggunakan senar sebagai media suaranya. Hanya saja cara kerjanya sedikit berbeda. Namanya Piano." Aksa menjawab seraya berjalan mendekati alat bernama Piano itu. "Kalian mau ku tunjukan cara mainnya?"


"Iya, tunjukan pada kami." Solas menjawab mewakili semua orang yang ada di tempat itu. Termasuk Edward dan istrinya yang masih tinggal dan ikut berbincang setelah mengantar makanan.


Setelah mendengar ucapan dari Solas, Aksa pun mulai duduk di kursi di depan jajaran balok-balok kecil berwarna putih-hitam yang tertata rapi dalam pola tertentu, tepat di bagian ujung dari benda serupa meja tersebut.


Dan setelah itu Aksa pun mulai menekan balok-balok tadi dengan pola berirama, yang kemudian terdengar suara keluar dari bagian belakang alat tersebut yang sedikit terbuka. Tempat dimana puluhan senar berada.


Semua orang terlihat sedikit terkejut dan terkesima dengan alunan suara indah yang dihasilkan alat musik yang belum pernah mereka dengarkan sebelumnya itu.


Dan karenanya, banyak orang-orang yang berada di luar bar ikut tertarik, dan kemudian mencari tahu asal dari suara tersebut.


.


"Bagaimana?" tanya Aksa setelah ia selesai memanikan alat musik itu selama kurang lebih 1 menit.


"Luar biasa, Aks. Musik apa itu tadi? Aku belum pernah mendengar suara yang begitu menyayat hati, namun juga terasa begitu megah disaat yang bersamaan," sahut Luque yang terlihat sama antusiasnya dengan Rafa setelah mendengar pemainan musik Aksa tersebut.


"Itu tadi Moonlight Sonata punya Beethoven. Memang ada kisah cinta tak berbalas di balik terciptanya lagu ini." Aksa memberi penjelasan yang tidak dapat dimengerti oleh yang lain.


"Karya yang luar biasa," ucap Solas yang setuju dengan Luque, dan tidak memperdulikan tentang penjelasan yang baru saja Aksa berikan.


"Benar. Ada juga yang sedikit lebih ceria," balas Aksa sambil kembali bersiap memamerkan keahliannya memainkan alat musik tersebut.


Dan kali ini meski suara yang mengalun keluar masih dalam tempo pelan dan mendayu, namun nadanya jauh lebih ceria dibanding sebelumnya.


"Ini tadi Nocturne Op 9 punya Chopin." Aksa menyebutkan judul dari lagu yang baru saja ia bawakan dengan cukup singkat itu.


"Luar biasa Tuan Aksa. Apakah anda bersedia mengajarkan saya cara bermain alat musik itu?" Solas terlihat sangat antusias dengan cara Aksa menghasilkan alunan musik tersebut. "Marga Briefir pasti akan terkejut melihat alat musik ini," ucapnya lagi pada diri sendiri.


"Tentu saja," sahut Aksa cepat.

__ADS_1


Dan perbincangan mereka pun berlanjut.


-


__ADS_2