Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
31. Kembali ke Peradaban II


__ADS_3

Esok paginya Nata dan Aksa menghadiri pertemuan dengan Lucia dan petinggi kerajaan lainnya, untik membahas tentang rencananya yang hendak mengadakan perundingan dengan Elf dan Yllgarian dari Hutan Tua.


Sekaligus memperkenalkan peralatan sihir baru buatan Aksa dan memulai pembentukan kelompok pekerja yang akan bertugas untuk memperbanyak peralatan-peralatan tersebut.


Sementara di saat yang bersamaan di Hutan Azuar, pembuatan purwa-rupa transportasi udara bernama Airship dalam ukuran aslinya pun dimulai.


Yang pengerjaannya dipimpin oleh Yvvone dan rombongannya karena memang sudah memiliki rancangan dan mengerti tentang cara kerja bagian-bagiannya secara lebih rinci.


-


Sedang setelah semua tugas dan keperluan Aksa juga Nata telah selesai dilakukan, sore harinya mereka berdua bersama Lily, Val, Rafa, Luque, dan juga Couran menuju ke Laboratorium untuk mencoba peralatan baru yang Aksa buat selama berada di Hutan Azuar berdasar dari rumus yang mereka dapatkan dari masa depan.


.


"Meski dengan bantuan dari Val dan beberapa Elf yang ahli di bidang mineral dan logam yang sempat datang ke hutan, kita masih tetap tidak bisa membuat ulang Carbon-alloy sesempurna yang ditinggalkan keturunan kita dari masa depan itu." Aksa berucap saat mereka tengah mulai menyiapkan perlengakap untuk menyalakan Alat Pemecah Partikel.


"Yang kita punya saat ini adalah yang paling mendekati. Karena baik aku maupun Elf yang lain tidak berhasil menemukan 2 jenis logam campuran yang terakhir." Val ikut berucap.


"Bahkan aku saja juga tidak mengetahuinya. Jadi asumsiku itu adalah material atau elemen yang baru akan ditemukan di masa depan nanti," sahut Aksa menimpali.


"Tapi tidak perlu kuatir. Dengan kondisi Carbon-alloy yang kita punya sekarang ini saja sudah cukup untuk membuatnya menjadi transistor berbasis Aliran Jiwa untuk kita sambungkan pada Alat Pemecah Partikel," lanjut pemuda itu menambahi.


"Tapi apakah aman untuk menyalakan alat ini, Aks?" Kali Luque yang bertanya. Terlihat kuatir memastikan.


"Benar, Bagaimaba kalau kalian atau bahkan kita semua terlempar ke waktu yang lain?" Couran tampak sependapat dengan Luque.


"Menurut beberapa aturan alam dari Aliran Jiwa saat aku mempelajari Runic di Hutan Azuar kemarin, lompatan waktu itu mungkin terjadi karena adanya tekanan Aliran Jiwa yang kacau dan saling tumpang tindih dan terpusat pada suatu tempat." Aksa mulai menjelaskan.


"Jadi secara teori, transistor sihir itu memang dibutuhkan untuk menahan terjadinya kelebihan muatan yang terpusat pada Alat Pemecah Partikel saat diaktifkan?" Nata mencoba memberikan dugaannya.


"Benar. Jadi dengan adanya Transistor Sihir itu kita bisa menyalakan alat ini tanpa takut kelebihan muatan hingga melompati waktu seperti sebelumnya." Aksa menjawab dengan cukup percaya diri.


"Sepertinya kau sangat yakin, Aks?" Nata bertanya memastikan.


"Ya, aku sangat yakin." Aksa menjawab masih dengan penuh percaya diri.


"Baiklah kalau begitu, coba nyalakan sekarang," ucap Nata kemudian.


"Baiklah. Kita nyalakan," balas Aksa sambil menekan tombol untuk mengaktifkan alat besar bercincin tersebut.


Dan seperti biasa mesin itu mulai mendengung untuk melakukan pemanasan. Namun belum sampai cincin-cincinnya bergerak, alat tersebut kembali berhenti.


"Kenapa lagi sekarang?" Nata bertanya dengan sedikit jengkel.


"Entahlah? Apa karena kekurangan tenaga?" Aksa mencoba memeriksa beberapa tempat pada layar monitor di hadapannya.


"Bukankah kita sudah menggunakan Generator Listrik bertenaga Aliran Jiwa untuk menyuplai tenaganya?" Nata bertanya seolah tidak percaya.


"Ya, sepertinya itu saja tidak cukup?" balas Aksa menggantung. Yang kini terlihat sibuk mengutak-atik alat di hadapannya.


"Dengan inputan sebesar ini masih tidak cukup? Lalu mau seberapa banyak Generator Listrik yang kita butuhkan?" balas Nata masih dengan sedikit kesal berjalan menuju tambang-tambang berlapis karet di ujung ruangan.


"Kalau lebih besar dari yang sekarang, atau kita menggunakan lebih banyak Generator lagi, maka kita bisa merusak ekosistem tempat ini karena telah menguras habis Aliran Jiwa yang ada disekitar." Aksa menjawab dengan penjelasan.

__ADS_1


"Itu berarti kita menemukan penghalang baru lagi?" Nata tampak melepas beberapa tambang berlapis karet itu dari Generator Listrik.


"Jadi sekarang masalah yang perlu kita selesaikan adalah sumber tenaganya?" lanjut pemuda itu bertanya namun dengan nada pasrah.


"Benar-benar merepotkan."


Dan suasana ruangan pun berubah menjadi sedikit suram.


"Baiklah, dari pada muram seperti itu bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke kota untuk makan bersama. Kudengar ada rumah makan baru di dekat Stasiun Kota. Aku ingin mencobanya." Tiba-tiba Luque berucap di tengah keheningan.


"Ya, saya ikut," sahut Rafa menimpali.


Melihat dua perempuan yang mencoba untuk menceriakan suasana itu, Nata pun merubah wajah serius dan jengkelnya.


"Baiklah. Ayo kita pergi. Sudah lama juga kita tidak makan di restoran bersama," ucapnya kemudian.


"Kurasa memang tidak akan ada hasilnya memikirkan hal ini berlarut-larut." Aksa membalas. "Kalau begitu, ayo. Anda juga ikut kan, tuan Couran?" tambahnya lagi.


"Baiklah. Saya juga akan ikut," balas Couran dengan tersenyum.


Dan pada akhirnya lebih banyak yang ikut karena Couran mengajak beberapa orang yang tanpa sengaja ia temui di tengah jalan saat hendak menuju pusat kota.


Seperti Haldin dan Matyas yang memang tinggal di Atelir mereka di dasar jurang Ceruk Bintang. Dan dari mereka, datang juga Ellian dan Katarina yang mereka hubungi menggunakan Radio Komunikasi di tempat tinggal mereka di Desa Waduk.


Memang kini penggunaan Radio Komunikasi sudah seperti barang sehari-hari di wilayah Rhapsodia. Orang saling berhubungan tanpa batasan jarak.


Dan kemudian lebih banyak lagi orang yang datang setelah mereka sudah tiba di rumah makan.


Yang ujung-ujungnya rumah makan itu harus tutup karena telah dipesan untuk acara temu kangen orang-orang dengan Aksa, Rafa, dan Luque. Yang memang sudah meninggalkan wilayah Rhapsodia hampir 2 bulan lamanya.


-


-


Yang berisi tentang ajakan membentuk aliansi untuk melawan kerajaan Bruixeria.


Dan hanya dalam waktu 1 hari saja, balasan sudah diterima kembali, yang menyatakan bahwa mereka akan menghadiri undangan tersebut.


Tak heran juga karena dua diantara undangan itu adalah Alexander dan Lugwin. Yang mewakili Elbrasta dan Estrinx.


Sementara untuk pihak Cilum, pemimpin pemberontakan yang juga adalah keponakan dari raja sebelumnya lah yang akan datang untuk mengikuti pertemuan tersebut.


-


-


Dan tiga hari setelahnya, pertemuan itu pun digelar. Di Aula Pertemuan kediaman Lucia di wilayah pusat.


.


"Baru pertama kali aku melihat wilayah ini secara langsung." Seorang pria Narva dengan wajah penuh brewok dan rambut panjang dianyam ke belakang berucap saat melihat jalanan di Kota Utara setelah melewati Gerbang Utara.


Pria itu adalah Makari. Pemimpin pemberontakan kerajaan Cilum.

__ADS_1


Terlihat pula di sebelah Makari 2 pria Narva bawahannya yang juga terlihat sama kagumnya menatap jalanan.


"Ternyata kabar tentang wilayah ini yang memiliki kebudayaan sangat tinggi itu ternyata memang benar," lanjut pria itu tampak terkesan.


Makari saat ini tengah berada dalam Kereta Besi panjang Kerajaan Rhapsodia bersama tamu undangan yang lain.


Karena kereta itu memang satu-satunya Kereta Besi yang mampu memuat 9 orang namun masih tetap menyisakan ruang yang cukup lega dan nyaman.


Ada pun 9 orang yang berada di dalamnya adalah perwakilan dari ketiga kerajaan. Yang masing-masing membawa serta dua orang. Sesuai dengan yang sudah dituliskan dalam surat undangan sebelumnya.


"Meski aku sudah pernah mendatangi tempat ini sebelumnya, tapi sekarang jadi jauh lebih bagus. Aku tetap tidak habis merasa kagum." Kali ini Piere yang berucap.


"Jalannya, prasarananya, lingkungannya, semua benar-benar sudah jauh berubah. Jadi lebih rapi dan teratur," lanjutnya menambahi.


"Ya, aku juga setuju." Hans menjawab.


"Apakah kita juga bisa melihat Kapal Udara di wilayah ini?" Tiba-tiba Hericus, paman Alexander dari keluarga sisi ibunya, berucap dengan setengah berharap.


"Ya, bila beruntung anda sekalian akan melihat Kapal Udara. Karena kita akan melewati tempat pembuatannya." Constine berucap dari tempat duduk di sebelah pengemudi.


"Benarkah? Apakah kita bisa berhenti untuk melihatnya dengan lebih jelas?" Hericus berucap lagi dengan terlihat memohon.


"Sayangnya untuk hal tersebut mustahil dilakukan," balas Constine menolak permintaan Hericus.


"Ah, sayang sekali. Tapi bukannya bila kita membentuk sebuah aliansi, kita juga akan diperbolehkan untuk menggunakan Kapal Udara itu untuk keperluan perang, bukan?" Hericus terlihat masih memiliki harapan.


"Kita akan membahasnya di perundingan nanti, paman." Kali ini Alexander yang menjawab.


"Ya, aku juga tidak sabar ingin melihat Kapal yang kabarnya dapat melayang itu." Makari menyahut menambahi.


Dan di saat mereka tengah memperbincangkan tentang hal tersebut, Kereta Besi itu pun melewati jembatan Jurang Besar.


"Ya, di sisi kanan jembatan itulah tempat pembuatan Kapal Udara." Tiba-tiba Contine memotong.


"Oh, benarkah? Mana-mana?" Hericus buru-buru melongokan kepalanya keluar jendela.


Dan hampir seluruh orang yang ada dalam Kereta Besi itu juga penasaran dengan Kapal Udara tersebut. Meski tidak mereka tunjukan sekentara Hericus.


"Tapi bukankah itu hanya seperti Galangan Kapal pada umumnya?" Makari berucap saat hanya sebuah tempat pembuatan kapal biasa yang dapat ia lihat di pinggiran sungai.


"Sepertinya anda sekalian belum beruntung. Karena tampaknya tidak ada Kapal Udara yang sudah selesai, atau yang sedang berlabuh untuk melakukan pemeliharaan." Constine berucap dengan santai.


"Ah... Sayang sekali." Hericus menjatuhkan tubuhnya dengan lemas.


"Tapi ngomong-ngomong soal Kapal Udara, Pangeran pernah melihat Kapal Udara itu, bukan? Atau jangan-jangan malah sudah pernah menaikinya?" lanjutnya kemudian saat menatap ke arah Alexander.


"Ya. Aku pernah menaikinya." Alexander menjawab tanpa ekspresi.


"Benar kah? Bagaimana rasanya?" Hericus terlihat bersemangat menantikan jawaban dari keponakannya itu.


"Ya seperti menaiki kapal hanya saja di udara," jawab Alexander lagi.


"Ah, penjelasan itu tidak membantu pangeran." Hericus pun membuang muka kecewa.

__ADS_1


"Maaf."


-


__ADS_2