
Malam harinya terlihat pasukan Augra mulai memasang perkemahan sederhana mereka di depan benteng yang berjarak dua tembakan panah dari pintu gerbang. Jarak aman yang umum digunakan pada setiap Pengepungan.
"Menurut laporan, mereka berjumlah 125 orang. Yang terdiri dari 80 prajurit, 25 penyihir, dan 20 pemanah. Mereka juga hanya membawa kereta Ram saja untuk mendobrak pintu gerbang. Tidak terlihat adanya menara pelontar batu," lapor Evora disaat ia bersama Aksa dan Helen tengah berada di atas tembok benteng untuk memantau keadaan luar.
"Jumlah yang ideal untuk melakukan pengepungan benteng seukuran ini," ucap Aksa seraya menurunkan teropongnya.
Dari atas tembok benteng itu kegiatan di perkemahan pasukan Augra dapat terpantau dengan cukup jelas. Disamping karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, juga karena sinar bulan setengah purnama membuat wilayah tersebut menjadi terlihat cukup terang.
Pasukan Augra terlihat mulai memasang pagar kayu penghalang di tengah jalan tak jauh dari pintu gerbang benteng. Dan juga mulai merakit kereta Ram.
"Mereka pasti berencana melakukan serangan saat dini hari nanti." Kali ini Helen yang berucap.
"Ya, tapi sayangnya kita bukan orang baik yang akan menunggu dan membiarkan mereka beristirahat terlebih dahulu." Aksa terlihat menggeleng kecil menatap perkemahan yang baru saja dibangun itu.
"Jadi anda ingin melakukannya sekarang?" Helen bertanya untuk memastikan.
"Benar. Karena malam ini bulan belum sempurna," jawab Aksa dengan alasan yang tidak dimengerti oleh Helen. "Minta semua orang bersiap diposisi mereka masing-masing, Nona Helen. Sekarang lah saatnya jagoan Isekai ini beraksi," tambahnya dengan senyuman yang terlihat seperti seringai, sebelum kemudian berjalan memasuki benteng.
-
Terlihat jam tangan Aksa menunjukan pukul 9 malam saat ia mulai menyalakan Pengeras Suara yang dipasang 4 buah di depan gerbang benteng. Hanya selang beberapa waktu saja setelah pasukan Augra selesai membangun tenda.
Terdengar suara mendenging keras saat Pengeras Suara itu dinyalakan.Yang jelas mengejutkan para prajurit Augra dan membuat mereka bergegas mengenakan peralatan tempur mereka kembali dan bergerak mendekat ke arah pintu gerbang dalam posisi siap menyerang.
"Suara apa itu tadi?" tanya seorang pria Seithr berambut sepanjang punggung yang tampak mengenakan seragam Penyihir Kerajaan Augra.
"Entahlah? Tapi suara itu berasal dari atas gerbang benteng," jawab pria Narva yang terlihat mengenakan zirah kesatria bangsawan dengan corak biru langit di beberapa tempat, ciri khas kesatria Kerajaan Augra.
Dan belum percakapan itu berlanjut, tiba-tiba terdengar lagi, yang kali ini adalah suara seseorang yang menggaung dari arah benteng.
__ADS_1
"Wahai para prajurit Augra. Tempat ini sudah kembali ke pemilik sahnya, Kerajaan Rhapsodia." Suara Aksa terdengar mengejutkan para prajurit Augra.
"Apa dia bilang Rhapsodia?" Pria Seithr tadi terdengar tidak percaya.
"Benar, tapi bagaimana mungkin?" Pria Narva berzirah juga terlihat ragu.
"Dan oleh karena itu, aku akan berbaik hati untuk meminta kalian pergi sekarang juga dari tempat ini. Dan jangan pernah kembali lagi kemari, kecuali kalian ingin merasakan kemarahan dari Dewa Pelindung Rhapsodia," tambah Aksa lagi dengan suara yang dibuat semengancam mungkin.
Terlihat kesatria Narva tadi melangkah mendekat ke arah benteng. "Siapa sebenarnya kau? Dan apa maksud dari tempat ini adalah milik Rhapsodia?" teriaknya kemudian.
"Aku adalah reinkarnasi dari Kesatria Cahaya yang akan menegakan keteraturan di atas Daratan Elder ini," jawab Aksa bersamaan dengan munculnya cahaya di atas gerbang benteng dengan begitu saja.
Yang jelas membuat para prajurit Augra kembali terkejut dan terlihat semakin waspada.
Terlihat di antara cahaya yang sebenarnya berasal dari lampu yang dipasang di bagian atas gerbang benteng tersebut, sosok Aksa berdiri tegap di depan sebuah pedang yang menancap ke bawah dengan pose kedua tangan bertumpu pada bagian atas gagang pedang tersebut. Mengenakan zirah lengkap berwarna putih terang, dengan aksen hijau dibeberapa bagian, yang membuatnya tampak seperti seorang kesatria bangsawan.
Karena melihat adanya kesempatan, beberapa prajurit Pemanah Augra mulai bergerak mendekat dan bersiap membidik ke arah Aksa.
Namun di saat yang hampir bersamaan, terlihat beberapa sorotan cahaya yang tidak lebih besar dari lingkar pasak tenda, muncul begitu saja dari bagian gelap di sekitar tempat Aksa berdiri. Sorotan cahaya itu mengarah ke setiap Pemanah yang terlihat di depan gerbang benteng tersebut.
Hal aneh itu membuat para Pemanah berhenti melakukan bidikan dan mengamati cahaya apa yang sedang menyorot ke arah tubuh mereka itu. Sampai kemudian dengan suara desing angin yang menggaung, dan para Pemanah yang sudah ditandai oleh sorotan cahaya itu mulai terjatuh satu persatu.
Kejadian aneh itu membuat kepanikan mendadak pada pasukan Augra. Mereka bergegas memasang formasi bertahan dengan para prajurit bertameng bergerak maju ke depan diikuti para penyihir dengan Sihir Pelindung bersiap di belakang mereka.
Sedang kini sorotan cahaya itu mulai mengarah ke tameng dan pelindung sihir yang mulai bermunculan di sisi depan pasukan Augra tersebut. Sementara suara desing angin masih terus terdengar.
"Serangan apa ini? Apakah semua itu anak panah? Atau peluru besi dari Senjata Api milik Rhapsodia?" tanya Kesatria Narva tadi yang sudah berlindung di balik sihir rekannya.
"Anak panah tidak meninggalkan suara seperti pecahan batu saat menghantam tameng, Jendral," sahut kesatria yang lain yang berada di depan pria Narva yang dipanggil Jendral itu. "Dan saya juga tidak melihat apapun berserakan di tanah, bila memang mereka menggunakan sebuah peluru," tambahnya memberi informasi.
__ADS_1
"Apa kau melihat sesuatu yang menghantam Pelindung mu, Cart?" tanya sang Jendral yang kali ini kepada pria Seithr yang berdiri memasang Sihir Pelindung di hadapannya.
"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi yang aku tahu, Senjata Api Rhapsodia itu akan menimbulkan suara ledakan yang cukup keras saat menembakan peluru," sahut pria Seithr yang dipanggil Cart itu menjawab.
"Jadi apa semua ini sihir?" tanya kesatria yang berada di depan sang Jendral.
"Aku juga tidak yakin. Sekarang ini Aliran Jiwa di tempat ini terasa sangat..." Cart menjedah untuk mencari kata yang tepat untuk diucapkan.
"Sangat apa, Cart?" Kali ini sang Jendral yang bertanya. Terlihat tidak sabar.
"Sangat sesak? Entahlah aku tidak dapat menjelaskannya. Seperti banyak sekali Penyihir yang sedang menggunakan sihir secara bersamaan," jawab Cart saat kemudian suara desing angin itu berhenti.
"Kalian sudah kuperingatkan. Itu tadi adalah sihir Cahaya milik ku. Dan jangan merasa bahwa perisai logam dan sihir pelindung itu bisa melindingi kalian dari Sihir Suci ini," ancam Aksa yang terlihat sangat meyakinkan itu sambil kemudian mengangkat tangan kanannya ke udara.
Dan dengan segera muncul lebih banyak sorotan cahaya di setiap sudut dari tebing yang mengelilingi tempat itu. Dan semuanya mengarah ke tempat para prajurit Augra itu berada.
Belum sempat prajurit-prajurit itu mencerna situasi yang tengah terjadi, Aksa terlihat mengarahkan tangannya ke depan. Dan puluhan desing angin kembali terdengar di setiap sudut perbukitan itu.
Kepanikan semakin menjadi karena area yang sekarang harus mereka lindungi bertambah luas. Sorotan cahaya itu muncul hampir dari segala arah di sekeliling mereka.
"Pasukan Tameng, merapat!" perintah sang Jendral dengan seruan panjang.
Dan meski setelah dengan bersusah payah mereka berhasil merapatkan perlindungan, namun tidak sedikit prajurit yang tumbang karena sihir aneh itu.
Kebanyakan adalah para Pemanah dan Penyihir yang tidak menggunakan pelindung tubuh selengkap para Prajurit.
Rata-rata mereka terluka di bagian-bagian vital, seperti kepala, leher, dan juga perut. Dan anehnya lagi luka-luka tersebut tidak meninggalkan jejak peluru sama sekali.
-
__ADS_1